Simple Life

Sabtu, 23 Februari 2013

Siapa yang Mengetuk Malam-Malam?




Siapa yang mengetuk malam-malam?
Kamu?
Bukan?
Lalu siapa?
Siapa yang mengetuk malam-malam?
Saat hujan turunnya deras
Saat hari terasa lebih gelap dari hitam
Saat kilat menyambar
Apakah dia?
Bukan juga?
Lalu siapa?
Siapa yang mengetuk malam-malam?
Saat guntur dan ketulian yang terasa
Saat lolongan anjing membahana
Saat ternyata listrik padam
Suasana senyap
Dan terdengar...
Tok..tok...tok...
Aku?
Bukan?
Lalu siapa?
Siapa yang mengetuk malam-malam?
Semarang, 15 Februari 2013 16.18

Puisi ini terinspirasi dari pengalaman di manokwari dulu. Saat itu di kompleks kami (manokwari secara umumnya) sering terjadi  pemadaman listrik bergilir. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di umur tiga tahun, pemadaman listrik merupakan hal yang paling menyebalkan dan menakutkan.  Pada saat itu kami sekeluarga akan menyalakan lilin yang hanya berukuran 15 cm. Lalu muncul berbagai lilin dengan model dan ukuran yang menjadi primadona di antara tetangga kompleksku disusul dengan kepopuleran lampu emergensi kotak yang bis di-recharge (papa pernah mengomeli tetangga kami yang tak terlalu dekat dengan kami karena menjual lampu emergensi, lampu itu baru beberapa kali dipakai dan langsung rusak. Mahal bro di zaman itu, sekitar tahun 2003), setelahnya, muncul lampu  emergensi lebih kecil dan lebih murah dari sebelumnya (ini favorit papa. Karena sejak mengenal lampu ini, setiap ia, atau anggota keluarga lain yang ke jawa, selalu menyuruh untuk membeli benda itu. Sekitar tahun 2008). Keluargaku sih hanya ikut arus (seringnya tidak). Dan di saat pemadaman itu, terkadang aku dan kawan-kawan kecil bermain di luar. Lari-lari ke sana ke mari, main cina buta (dulu aku ingin sekali terus memainkan permainan ini, karena selalu belum puas bermain lantaran terlambat bergabung, main jadi-jadian, dan sebagainya. Yah, masa kecilku. Lalu saat kami mulai lelah dan listrik belum juga menyala, malamku mulai menyeramkan.  Di rumah, kami sekeluarga berkumpul di depan tv, ngobrol, menyanyi bersama, dan tertawa-tawa gak jelas (pasti kedengaran tetangga -_-). Terkadang sambil makan lesehan di lantai dengan penerangan lilin (nah, inlah yang namanya candle light dinner, haha =D). Setelah itu aku dan kedua adiku akan bermain dengan lilin tersebut. Menyeberangkan jari melewati lilin, melapisi kuku kami dengan lelehan lilin, menjadikannya seperti kuteks, membuatnya semakin tebal dan semakin panjang, lalu saling beradu. Kadang malah lebih ekstrem, yaitu menggunakan sisi jari di bagian telapak tangan, sehingga jika kamu melapisi jarimu, maka syaraf-syaraf di bagian itu akan mentransmisikan rasa panas ke bagian otak, yang akan merangsangmu untuk menarik tanganmu sebagai bentuk pertahanan diri (masih ingat kan nama reseptor panas di kulit? Yap, ruffini :D). Kemudian kami satu-satu jatuh tertidur dengan lilin yang tetap menyala di lantai, yang di pagi hari menyisakan lelehan lilin yang telah membeku kembali (mama sering kali mengomeli kami, karena jika kamu mencabut lelehan yang telah membeku kembali itu, maka akan tersisa bekas berwarna putih di lantai yang sulit sekali dibersihkan).
Ya, itulah sebagian sisi romantis pemadaman lampu di masa kecilku. Tetapi akan mengerikan jika lampu mati terjadi bersamaan dengan hujan deras, makin lama lilin mengecil lalu habis, dan yang paling parah adalah saat ada seorang atau lebih anggota keluargamu yang tidak ada di rumah. Yang terakhir ini akan membuatmu menanti dengan was-was, takut terjadi apa-apa dengan mereka, ataupun karena kamu tak mampu beraktivitas di rumah sendiri karena kurangnya orang. Kemudian kamu akan menambah kesensitifan indra pendengaranmu terhadap setiap suara di luar, mulai suara mobil, motor, orang berjalan, ketukan di pintu, sampai ucapan salam yang beradu dengan suara gemuruh hujan. Dan saat orang yang dirindu muncul, kamu akn mengucapkn syukur, lalu berharap mereka tidak akan meninggalkanmu lagi di malam yang kelam karena pemadaman listrik, kamu akan selau berharap keluargamu utuh, hahaha :D. Lalu saat terdengar suara guntur, disusul dengn lolongan anjing, kamu dan saudara-saudaramu, bahkan orangtuamu, akan saling berpelukan saling menghangatkan, sampai akhirnya jatuh tertidur. Yah, pemadaman lampu, akan membuat dirimu merasa betapa berharganya orang di setiap waktu hidupmu, di setiap detiknya. Bahkan berharganya orang tak dikenal yang kita temui begitu saja di jalanan, aku baru sadar, bahwa kita saling berbagi kehidupan. Dan moment-moment kecil dalam hidupku dimasa muda (hah? Apaan nih -_-), moment-moment itu adalah harta karun, aku jadi menyesal kenapa dulu (sampai sekarang sih)tidak  menulis buku harian (seharusnya pelajaran bahasa indonesia harus membiasakan dan memaksimalkan keterampilan ini, karena dengan menulis buku harian, bisa menambah kemampuan mengingat kita).
Yaa Allah, jagalah keutuhan keluarga kami, kami saling menyayangi satu sama lain. Mudahkanlah papa, mama, riko, dan ragil. Jagalah mereka, sayangilah mereka. Aku baru sadar bahwa mereka adalah orang-orang terpenting di hidupku, sangat berarti. Setiap moment dengan mereka adalah saat-saat terindah. Aku ingin bersama mereka, di dunia dan di surga kelak. Aku menyayangi dan mencintai mereka. Jagalah Yaa Allah. Aamiin J



Kamis, 14 Februari 2013

Burjo Boim

Aku tersentak saat berbelanja di supermarket. Uangku sisa Rp20.000,00. Keningku mengernyit. Semenjak libur ini aku belum mengecek kalender di kamar kos lagi, tapi bisa kutebak sekarang tanggal 28. Ya, dan aku benar. Semenjak menjadi anak rantau, aku beradaptasi di segala aspek kehidupan, terutama dalam mengisi perut. Sebenarnya bukan aku sih yang beradaptasi, tapi dompetku, dia tak pernah menjadi lebih tebal seperti dulu. Dan tempat pelarian dalam krisis seperti ini biasanya adalah burjo. Sebenarnya makan di burjo dulu hanya dalam khayalanku saja, ternyata aku salah. Tapi kupikir makan di burjo sama saja, tak lebih murah dari makan di warteg biasa. Jika kamu pikir kamu bisa selamat dari godaan untuk jajan, mungkin kamu memang bisa lebih hemat. 

Sepulang dari supermarket, aku tak langsung pulang, tapi kuputar motorku ke arah yang lain. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk menjalin silaturahmi kembali dengan kakak sepupuku. Namanya Boim. Dia satu kota denganku, tapi jarang aku menemuinya, bukan jarang sih, aku berkunjung berdasarkan periode waktu, yaitu di saat-saat seperti ini. Saat di mana uangku tak ikhlas keluar dari dompet, tapi kebutuhan gizi memang harus dipenuhi. Masih di  khayalanku, dulu aku percaya bahwa tidak seorang pun anggota keluargaku akan bermain dalam bisnis burjo, dan sekarang aku salah lagi.

Boim. Aku yakin semua orang yang mengenalnya akan terkaget-kaget ketika mengetahui usaha abangku itu. Anak urakan yang menurut khayalanku dulu pasti tak akan bisa berdiri di kakinya sendiri, yang akan menggelantung di lengan ibunya untuk minta jajan seperti benalu, sekarang memikul tanggung jawab besar yang diberi ibunya. Sebenarnya yang aku heran kenapa budeku itu berani-beraninya menyerahkan warung bermodal awal 20 juta itu padanya, dan kenapa Boim yang kepala batu dan bisanya cuma main saja itu akhirnya sadar, bahwa ia punya kehidupan sendiri. Tapi yang paling membuatku penasaran, kenapa nama burjo Boim begitu konyol? Seperti tak ada nama yang lain saja. Namun sepertinya, memang ada sesuatu di balik nama itu: 'Monalisa Esmeralda'

Dan sekarang Boim melepas napas panjang sambil duduk di atas kursi plastik merek *****. Kelihatannya ia bertambah gendut, dengan perut yang mulai membucit. Ia tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa ia mulai tua. Asap rokok mengepul keluar dari mulut, hidung, dan telinga. Kemudian ia menatapku yang sedang menyantap intel buatannya. Pandangannya teduh penuh arti ketika kuberi ia pertanyaan yang membuatku bingung itu.

"Hah, aku belum pernah menceritakan ini sebelumnya. Tapi karena kau orang pertama yang menanyakan ini, maka akan aku jawab. Sejak pertama kali merantau..."
"Uhuk..uhuk.. bagaimana mungkin kau sebut tinggal sejauh 20 km dari mamimu itu merantau????" tanyaku tak setuju. Ia mengernyit.
"Hei, tinggal sendiri seperti ini jauh dari mami dan, aakkhh, lupakan. Itu benar-benar menyesakkan. Aku rindu padanya siang dan malam. Kamu tahu betapa sakitnya itu? Dan berdasarkan buku yang kubaca, itu adalah karakteristik orang merantau!!" jawabnya sambil melotot. Aku hanya diam sambi mengusap bulir-bulir liurnya yang sampai di wajahku.
"Mau dengar tidak?" tanyanya. Aku mengangguk. Dan sepanjang ia bercerita. aku tak sadar telah menitikkan air mata. Siapa nyana, Boimku ternyata memiliki kisah yang begitu menyayat hati....

****
 Boim, pemuda tanggung berbadan bidang, tinggi tegap dengan wajah rupawan ini adalah atlet bulu tangkis di sekolahnya. Dalam sistem kasta di sekolah, ia termasuk dalam golongan Ksatria, mungkin bisa saja Brahma jika pada saat itu ia cukup gila untuk memakzulkan kepala sekolah. Siapa yang tak kenal dia? Anggota elite OSIS ini pintar bersilat lidah, tak heran banyak siswi yang berjejer di belakangnya, memohon kemurahan hati, bahkan sampai-sampai menjatuhkan diri di hadapannya untuk diangkat sebagai kekasih. Melihat remaja flamboyan dengan dandanan parlente ini pasti dengan mudah ditebak bahwa ia telah menjatuhkan hati pada gadis yang tak kalah populernya. Monalisa.

Monalisa, gadis manis berlesung pipi, berambut hitam panjang tergerai, adalah ahli perbintangan di kota tempat jalannya cerita Boim ini. Ia adalah wakil kotanya dalam olimpiade sains bidang astronomi tingkat nasional. Konon katanya, keberhasilan Monalisa menjerat Boim tidak jauh-jauh dari keahliannya dalam astronomi. Suatu malam saat mereka selesai belajar kelompok, keduanya duduk di teras sambil memandangi bintang. Monalisa mengungkapakan bahwa zodiak mereka cocok satu sama lain, dan ini merupakan hal yang besar bila mereka bisa bersama. Sejak saat itu, mereka berdua bagai sepasang merpati yang sulit sekali dipisahkan, dan tak bisa dielakkan lagi bahwa mereka memang saling jatuh cinta.

Ayah Monalisa adalah seorang politisi lokal terkenal yang pada saat itu menjabat sebagai ketua parlemen setempat (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah). Ayahnya secara kebetulan adalah teman baik papi Boim yang merupakan pejabat tinggi militer di kota mereka. Sehingga terdengar desas-desus di antara teman-teman sekolah Boim jika jalan menuju pelaminan bagi mereka berdua sudah terbuka lebar, mengingat kedua keluarga papan atas di kota itu sudah saling mengenal.

Angin politik pada tahun 90-an tak menentu. Demo di mana-mana. Orang-orang yang menyebut diri mereka mahasiswa itu  berteriak-teriak di jalan, menuntut presiden yang berkuasa lebih dari tigapuluh tahun untuk  mundur. Kekusutan politik mulai berhumbus sejak ketidakpastian ekonomi menggoncang negeri ini. Kata orang-orang pintar, hutang kita melonjak, IMF menjebak. Kabarnya, orang-orang dalam lingkar kekuasaan menggerogoti  daging saudara sendiri: korupsi besar-besaran terjadi. Dan yang Boim dengar pada saat itu adalah negara dalam kondisi darurat, ada yang mengatakan: akan chaos

Boim melihat papinya sibuk bukan main. Rapat ini itu. Bahkan sekarang hampir tidak pernah lagi sempat menatapnya sambil berkata bangga: 

"Lihat mukamu, tubuhmu, mirip aku sekali. Kelak kau pasti akan jadi jenderal hebat, seperti presiden kita, bintangnya ada lima, hahaha" 

Boim tersenyum jika mengingatnya. Indonesia memang kacau pada saat itu, tapi Boim tak terlalu peduli. Selama tim Indonesia masih bisa memenangkan piala Thomas, apa yang perlu dikhawatirkan? Dan selama masih ada Monalisa, jiwaku mash tetap utuh, begitu pikirnya. Monalisa, wanita lain yang berbagi tempat dengan mami Boim dalam hati lelaki itu. Tak ada yang lain, hanya mereka berdua, dua hawa yang paling dicinta Boim. 

Semakin lama, keadaan semakin kacau. Orang yang demo itu makin gila-gilaan. Papi semakin sering rapat. Pernah Boim mendengar papinya berkata pada maminya: "Aku harus apa? Melindungi rezim atau mengabaikan anak bangsa sendiri?" 

Benar, kedaan memang makin memburuk, karena Monalisa ikut-ikutan bicara politik, bahwa keadaan makin tidak aman. Mereka sedang berjalan-jalan di tepi pantai ketika Boim melihat Monalisa begitu rapuh saking takutnya. Boim meraih tangannya, kemudian mengenggamnya, menguatkan kekasihnya. 
"Keluargaku terancam, ayahku adalah anggota partai berkuasa sekarang, bukan tidak mungkin ia akan diserang orang demo yang makin barbar itu, hiikkkss.. Kamu tahu, ia pernah diancam orang.." Monalisa tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Tak perlu takut. Kita aman. Papiku adalah pejabat militer yang genius. Percayalah padaku" kata Boim. Ia menatap lekat-lekat wajah cantik itu. Monalisa sesenggukan, lalu mengangguk.

Gelombang mahasiswa masih belum mereda. Bahkan sekarang Boim tak begitu yakin pada stabilitas negeri ini, bahkan pada papinya. Mami terlihat khawatir saat papi pergi. Monalisa menelopon Boim siang itu, minta bertemu. Saat sekolah tadi, Monalisa menghindarinya. Entah mengapa. Dan saat di kelas Boim mencuri pandang ke arahnya, didapatinya Monalisa juga sedang memandang padanya. Ketika akhirnya mereka bertemu di tempat yang dijanjikan, Boim tersadar itu akan menjadi pertemuan yang terakhir. Monalisa berurai air mata. Ia bertanya pada Boim apa yang harus dilakukannya, tapi Boim diam. Boim tahu, mereka tak bisa melakukan apa-apa. Mereka akan terpisah. Keluarga Monalisa tak sanggup menahan ancaman orang tak dikenal. Monalisa akan ke Amerika besok.

Boim berbaring merana di kamarnya. Separuh jiwanya pergi. Boim tak ingin mengingat kejadian tadi siang, ia yakin mereka akan bertemu kembali. Ya, Boim ingin melupakan perpisahan itu kecuali sentuhan lembut bibir Monalisa pada bibirnya tadi siang. Kecupan pertama dan terakhir yang pernah Boim alami.

Siapa yang harus disalahkan? Siapa yang harus di salahkan untuk setiap kejadian tragis dalam hidupnya? Untuk kepergian Monalisa! Bahkan untuk kepergian ayahnya sekarang!  Beberapa minggu yang lalu saat Boim pikir kakinya masih menginjak tanah. Pada hari naas itu, di pertengahan maret, ketika kerusuhan sudah mulai merangsek sampai kota Boim, papinya menghilang! Lusanya ketika Boim pulang sekolah, yang didapati di rumahnya adalah susunan kursi dan tenda, serta bendera putih. Papinya telah dihabisi orang.  Entah siapa. Entah orang-orang di belakang presiden tua itu, entah mereka yang teriak-teriak minta reformasi. Yang Boim pikir saat itu adalah: sekarang ini titik kehancuran hidupnya. 

Boim tak tahu lagi alasan apa untuk dia hidup. Untuk bersama Monalisa menghitung banyaknya bintang tiap malam, atau untuk jadi jenderal hebat berbintang banyak seperti pinta ayahnya. Pastinya bukan untuk keduanya sekarang. Dan ketika kamu menjauhkan diri dari cahaya, lalu mulai masuk dalam kegelapan, kamu benar-benar tersesat. Ya, Boim melangkah terlalu jauh sekarang, dan dunianya berhias lampu disko kelap-kelip, serta butir-butir obat kecil. Jika ada reformasi untuk negeri ini, tentu ada reformasi untuk dirinya, begitu pikir Boim tiap malam. Reformasi yang ditandai dengan tato di sekujur tubuhnya. Di saat maminya berusaha membangun kembali hidup mereka, Boim meruntuhkannya.

Mami Boim tak pernah meyakini bahwa roda itu berputar, ia selalu berpikir bahwa keuarganya selalu berada di atas puncak. Tapi siapa yang bisa menolak sekarang? Ketika akhirnya mahasiswa dan orang-orang itu berteriak puas, dan si presiden tua akhirnya lengser, itu tak membawa perubahan apa-apa baginya keculi kemerosotan kehidupan dan suaminya yang telah tiada. Atau Jangan-jangan, putra semata wayangnya juga ikut berubah? Begitulah kata orang-orang terdekatnya. Boimnya sering pulang malam, sekolahnya berantakan. Tapi mami begitu naif dengan menyangka bahwa memang itulah yang terjadi pada remaja seusia Boim yang kehilangan papi. Bahwa tidak mengenal putranya sendiri merupakan fase yang harus dilewati setiap orang tua. Maminya harus bekerja keras untuk menyokong hidup mereka, untuk terus bertahan dalam kehidupan borjuis mereka yang dulu, untuk terus mendukung anak satu-satunya yang selalu butuh uang lebih untuk alasan yang maminya tak tahu. Sampai pada suatu titik di mana mami Boim sadar, bahwa mereka bangkrut. Dan kebangkrutan itu membuka mata mami Boim, anaknya bukan Boim yang dulu, melainkan  seorang berandal.

Ya, reformasi memang merubah segalanya. Boim dan maminya menjalani hidup yang berbeda. Dan yang terjadi setiap mereka satu meja makan di rumah yang kecil itu adalah pertengkaran. Pertengkaran yang terakhir terjadi menyebabkan Boim minggat. Ia tak pulang sampai tiga hari dan mami rindu. Ia selalu berharap pintu depan rumah akan diketok anaknya, tapi harapan itu selalu meleset. Begitu pun setelah shalat ashar ini, seusai berdoa, dibukanya pintu depan dan yang didapati bukan Boim, tapi beberapa temannya. Muka mereka gusar.
"Ada apa?" tanya mami.
"Boim tante, overdosis.."

Mami berjalan cepat sekali. Langkahnya panjang-panjang, dan sudah beberapa kali menabrak orang. Cukup sudah dengan kepergian suaminya, kali ini jangan anaknya. Mami menyusuri lorong rumah sakit, mencari kamar putranya, membukanya, dan mendapati Boim terbaring lemah di ranjang. Ia masih sempat tersenyum menyambut maminya yang berjalan semakin dekat dan Boim tahu, mami pasti sedang menahan tangis. Sampai pada ujung ranjangnya, Boim kaget ketika mami mengayunkan tas tangannya tepat ke kepala, badan, dan segala bagian lain dari Boim yang dapat ia jangkau.
"DASAR!! APA YANG KAMU PIKIRKAN, BRENGSEK KAU???!!!" kata mami sambil terus menghajar Boim.
"Aduh.. aduh.. apaan sih mam?"
"KAMU HANYA BISA BIKIN BEBAN SAJA!!! KAMU TAHU BERAPA UANG YANG HARUS KUKELUARKAN UNTUK BIAYA RUMAH SAKIT INI HEH???" mami masih menghajar anaknya, tidak peduli pasien lain yang terheran-heran, tak pedulli beberapa perawat dan teman Boim yang menghalanginya memukuli pemuda itu . Anak ini, memang harus diberi peajaran.

Kedua anak-beranak itu hanya dalam diam sejak tadi. Mami duduk di kursi di pinggir ranjang Boim, pandangannya lurus melewati anaknya. Mami muak betul melihat muka Boim. Boim sesekali melirik maminya. Ahh, badannya masih ngilu bekas dipukuli mamiunya sendiri.

"Mam," kata Boim akhirnya, "Maaf" mami masih tak bergeming.

"Mamm...."

"Apa lagi sekarang? Masih belum puas setelah hampir mampus karena narkoba heh?" mami memalingkan muka dari Boim lagi. Boim menunduk. Mereka diam sampai mami mulai berkata lirih:

"Sudah lima tahun sejak reformasi, dan aku baru tahu putraku seperti ini, haha," mami seperti meledek dirinya sendiri. "Apa kau jadi begini karena kepergian Monalisa dan papi?" tanyanya lagi. Boim diam.

"Kau begitu sedih. Apa kau pikir aku tidak?" mami menarik ingusnya, "Apa kau pikir aku akan rela jika akhirnya aku kehilangan dua pria penting dalam hidupku?" mami berhenti sebentar mengatur emosi. Boim memandangnya tajam.

"Apa kau tak punya alasan lain untuk hidup 'nak? Bagaimana dengan aku? Jika aku memang tak sepenting itu, mungkin baik untukku bila Tuhan mengambilku sekarang," ia berhenti bicara. Bahunya naik turun karena menangis. Boim tak kuat lagi. Ia raih lengan mami, dan merangkulnya. Mereka berpelukan lama sekali. Dan Boim pikir ia telah sembuh dari narkoba. Ia pikir optimisme mami adalah penawarnya. Ia punya alasan untuk tetap hidup, setidaknya untuk mami. Ia sudah sembuh.

Dan seiring berjalannya waktu, reformasi terus bertambah tua, perubahan memang terjadi, tapi status negara ini tak lekas beranjak dari 'negara berkembang'. Nelayan masih miskin, petani juga. Namun hubungan Boim dan maminya membaik. Boim tak bisa menghilangkan begitu saja image berandalan dari dirinya di hadapan masyarakat sekitar, apalagi di keluarga besarnya. Keduanya hidup sederhana, dan pada saat itu, Boim yang menganggur terkadang membantu lelaki pemilik burjo tempat biasa ia nongkrong. Kadang mencuci piring, membuat kopi, sampai memasak mie.

Mami yang risih melihat anak perjakanya hidup tak jelas, mulai cerewet menyuruhnya mencari kerja atau setidaknya membuka usaha.
"Apa yang akan dikatakan Monalisa kelak jika ia kembali ke tanah air dan didapatinya engkau hanya sebagai pemuda pecinta burjo?" begitu selalu ocehnya. Dan selalu dijawab kesal Boim dengan:
"Kalau aku punya banyak uang, maka aku akan nongkrong di Starbuck!!!"

Boim terlalu lelah dengan kecerewatan mami sampai suatu hari ia menimpali ocehan mami itu dengan:
"Oke, kalau begitu beri aku modal, maka akan kubuka burjo!!!"tentu saja itu hanya celetukan Boim. Ia tak serius. Tapi mami yang menatapnya tajam berpikir lain. Saat melihat ekspresi Mami, Boim segera mengatupkan mulutnya. Ia yakin, Mami sedang berpikir masak-masak tentang ide itu. Boim menepok jidatnya.


***

"Nah, begitulah ceritanya. Teman Mami menawarkan lahan kosongnya untuk dibangun burjo di sini, membuatku harus tinggal jauh darinya. Tapi kuakui, bisnis burjo memang menguntungkan," ujar Boim bangga sambil mengelus jambangnya. Aku sesekali mengusap air mataku, ingin kusembunyikan isakan darinya. Abangku Boim menyimpan begitu banyak kenangan sendu ternyata.

"Lalu bagaimana dengan Monalisa? Bagaimana kabar terakhir tentangnya?" kupikir aku telah menanyakan hal yang salah begitu melihat air muka Boim yang berubah.

"Dia baik. Sebulan lalu aku bertemu dengannya saat ia mengunjungi Mami," Boim berhenti sebentar, "Haha, akhirnya aku bertemu dengannya lagi. Ia datang dengan kedua anak bulenya. Monalisa sudah menikah dengan pengusaha asing dari Belanda dan aku...," ia berhenti. Kuusap bahu Boim.

"Dan aku tetap menyisakan tempat untuknya di sini," ia menunjuk dada kirinya, "Kurasa ia melakukan hal yang sama untukku, haha. Hah, tapi mau bagaimana lagi, hidup memang harus berjalan 'kan?" Boim tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Aku lalu memeluknya. Oh Boimku! Pantas bocah ini begitu menyayangi bude dibalik kesan sangar dari penampakannya yang besar, bertato dan brewokan. Sekarang aku tahu kenapa nama burjo ini adalah Monalisa Esmeralda. Sebentar, tapi Esmeralda? Apakah itu nama panjang Monalisa?

"Oh, bukan, itu judul telenovela favorit Mami," ujarnya datar. Astaga, anak beranak ini... 








Keterangan (bagi yang belum tahu):

Burjo: Warung yang biasanya dikelola Aa' sunda. Jualannya bubur kacang ijo, nasi telur, berbagai olahan mie instan, dan sebagainya. Bertebaran di mana-mana, di segala penjuru kompleks yang banyak kosan mahsiswa. Ramai saat musim paceklik (saat kiriman orangtua belum sampai).
Intel: Salah satu menu yang ada di burjo. Kepanjangan dari indomie telur. Enak sekali. 
Esmeralda: Telenovela ini benar-benar ada. Diproduksi pada 1997. Sempat booming di Indonesia. 






Selasa, 12 Februari 2013

TARI AND HALLYU

Tik..tok...tik...tok...
Mata Tari memerah, entah karena radiasi layar laptopnya, entah karena tak sanggup menahan air mata ini lagi. Ingin menangis sesenggukan, ia menengok sebentar ke arah jam dinding. Pukul 1.45. Sial, kalau segala emosinya tercurah saat ini, seisi rumah akan terbangun. Aaakkhh, perih, tapi tak seperih hatinya saat melihat si putri dalam drama itu menunggu pangerannya. Episode yang ke empat belas. Tiga episode lagi dan tari tak perlu merana penasaran menantikan akhir cerita cinta putri dalam drama korea itu.

***

Tari berjalan gontai memasuki kelas. Ya, kata temannya sudah sejak dua minggu ini Tari melemah, ia kehilangan kekuatannya dalam segala hal, terutama dalam mengerecoki teman-temannya yang mulai menggunakan bahasa aneh-aneh. Oppa oppa, eonni, gomawo, aahhkkk, kata-kata itu hanya membuatnya sakit kepala saja. Cukup sudah dengan trigonometri dan logaritma, itu sudah membuat kalian sinting bukan main, kenapa sekarang harus menambah bahasa planet seperti itu? Tari. Seorang perfeksionis yang mencintai matematika dan ilmu alam, yang menjunjung tinggi undang-undang dasar dan pancasila, pengamat ekonomi yang baik, yang menghormati hak asasi manusia, yang taat menjalankan sila pertama dengan takwa, yang patuh pada orang tua, yang peduli sesama dan penyayang binatang. Orator ulung dan seorang humanis, bunga dalam kelasnya itu, siap pasang badan bila bertemu dengan: Korean lovers.

Tari duduk di bangkunya. Obrolan tentang dunia hiburan di semenanjung Korea itu terhenti sejenak. Pikiran para ABG tanggung itu berjalan, bukan, tapi berlari, siap-siap memberikan teori balasan jika singa betina itu mulai berceloteh. Tapi setelah ditunggu sepuluh menit, Tari tak merespon. Tari merebahkan kepalanya di atas meja. Ternyata saudara-saudara, ia ngantuk. Dan sekarang sambil menutup mata, ia mulai mengkhayalkan sesuatu. Menyebalkan, semalam suntuk sudah kuhabiskan untuk menonton sisa episode drama itu, dan apa yang kudapatkan? Tidak seharusnya faktanya terungkap bahwa sang putri ternyata adalah putri dari kaisar sendiri, sehingga putri tak bisa menikah denngan putra sang kaisar yang ternyata adalah putra mahkota, sehingga pada akhirnya sang putri harus berakhir sebagai biarawati!!! Kenapa kisahnya begitu absurd, membuatnya tak bisa tidur sampai saat ini, dan kenyataan bahwa ia belum mengerjakan PR biologi harus dibayar mahal dengan mentraktir Lala sebungkus nasi kuning di kantin sekolah agar ia bisa menyalin essai milik temannya itu, serta bayangan dari raut muka Reno yang tertawa kesenangan karena ia mulai menjilat ludahnya sendiri, dan  rasa nyeri tidak nyaman pada punggungnya ini benar-benar mengganggu...

"BISAKAH KAU BERHENTI...!!!!" Tari meraung memecah kegaduhan kelas, yang berarti kelas sunyi senyap (jika kau membayangkan nabi Musa membelah laut merah, seperti itulah mungkin keadaannya. entahlah, kau bisa mencernanya sendiri). Bonbon hanya berdiri membisu, seperti patung. tangannya masih dalam posisi saat menyodok gadis itu, tetapi sudah menjauh semeter. Telunjuknya gemetar, kemudian ia memutar badannya dan mengarahkannya pada Reno. Pria itu pura-pura tak tahu, lalu membalikkan badan,  tersenyum jahil, dan Tari membatin: payah kau, sok romantis, trik itu sudah kulihat di drama Princess Minutes dalam episode yang ke-7.

Mereka sudah tak bicara selama hampir tiga minggu. Ya, tiga minggu dan itu membuat Tari tak bisa makan, minum, nyuci, dan sebagainya. Ia memandang ke cermin dan mencari kesalahannya. Memangnya apa yang salah darinya? Penampilannya menarik saat mereka jalan berdua di tengah kelap-kelip kota. Belum pernah sekali pun mereka bergandengan tangan, dan saat Tari bertanya mengapa, lelaki itu menjawab sambil tersenyum bahwa ia belum cukup modal untuk melakukannya. Tari bangga betul dengan cowoknya itu, yang tahu bagaimana menghargai wanita, begitu romantis, setidaknya itu yang ada di kepala Tari. Tak ada keriki-kerikil yang menghambat jalan mereka, karena memang jalannya tak berkrikil, tak ada masalah di antara mereka berdua sebelumnya, tak ada permasalahan negara, tak ada masalah  tentang partai apa yang akan dipilih orang tua mereka dalam pemilu 2014, tak ada masalah percintaan ABG tanggung lain, tak ada apa-apa kecuali film yang saat itu dipilih Reno.

Ia terpana saat memandang tiket yang diserahkan Reno. Tertulis di situ judulnya 'I AM'. Matanya menjelajah ruang tunggu bioskop dan mendapatkan poster film yang judulnya sama dengan tiket yang dipegangnya. Kumpulan wajah asia timur, lelaki yang mirip wanita, Tari bergidik.
"Kau mau mulai perang ya?" tanya Tari sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Berisik. Ini giliranku menraktir," ia tersenyum simpul.
"Tapi kita sudah sepakat untuk tidak menyentuh ke daerah yang sensitif untuk kita berdua,"
"Lalu mau bagaimana lagi? Aku sudah beli tiketnya loh," Reno menatap sambi berseringai. Sial, ingin dia rontokkan deretan gigi kekasihnya itu.

Dan sampailah mereka pada kursi 11 A dan 11 B. Tari sesekali melirik ke arah Reno yang kelihatan bersemangat sekali menanti pemutaran film itu.
"Ini pemutaran perdana. Kamu tahu? Aku mesti berdesakan untuk mendapatkan tiketnya," kata Reno sambil tak berhenti tersenyum. Tari tak tahu apakah harus bersimpati dengan ikut-ikutan ceria, atau menertawakan pilihan pria itu. Tetapi sepertinya keinginan untuk menertawakan jauh lebih besar. Tari ingat saat pertama kali mereka jadian, seluruh teman-temannya heboh. Bagaimana mungkin seorang anti hallyu sepertinya bisa menerima kehadiran pencinta SNSD seperti Reno? Tari sendiri tak tahu kenapa, tapi selalu dijawab dengan bijak. Begitulah cinta, menyatukan segalanya dan tak butuh kualifikasi apapun.

Sepanjang pemutaran film, lelaki itu terus mengoceh. Ia sudah membaca sinopsis tentang film itu yang menceritakan bagaimana para artis korea yang sudah sukses dibawah SM Manajemen seperti Super Junior, SNSD Girls Generation, SHINee, f(x), EXO, dan BoA. I AM  menceritakan bagaimana perjalanan karir para artis dibawah asuhan SM Manajemen mulai dari proses audisi serta perjalanan karir mereka sampai dengan terkenal saat ini.  Bagaimana kita dapat melihat rahasia-rahasia para bintang-bintang terkenal Korea dibawah SM Manajemen mengenai kehidupan mereka sehari-hari ketika tidak sedang berakting ataupun konser.

Dan suaranya makin bersemangat saat SNSD muncul. Mereka cantik, bertalenta, sangat sempurna. Ia bercerita betapa kagumnya ia pada Luna, bukan, Moona, bukan, ah siapalah namanya, oh ya, Yoona. Bagaimana awal debut Yoona, proses seleksi menjadi anggota SNSD, bahwa akting adalah kelebihannya.
"Kamu tahu, Yoona dijuluki Him Yoona yang artinya Yoona kuat, hahaha," Reno tertawa. Tak ada jalan lain bagi Tari selain ikut tertawa juga meski ia tak mengerti apa yang dibicarakan.
"Hahaha, kamu tahu, aku sudah jatuh cinta padanya, ia begitu cantik. Dan yang paling penting, ia tinggi dan kakinya, uuuuhhh, panjang, hahahaha.... ehem, maaf'," Reno berhenti tertawa. ia melirik ke arah air muka Tari yang sudah berubah. Ia salah karena telah masuk ke area sensitif kekasihnya, yaitu tentang tinggi badan dan panjang kaki. Dan inilah awal perang dunia ketiga.

Mereka nonton dalam diam. Wajah Tari masih mengerut dan matanya tajam menonton film, dan Reno sadar itu.
"Jadi, apa yang kamu lihat dalam film ini?" Reno berbisik.
 "Aku..." Tari tak bisa menyembunyikan kekakuan suaranya, "Sejauh ini, aku hanya melihat badut-badut konyol. Lihatlah cara mereka berdandan, cih" Reno hanya bisa mengelus dada menahan cobaan.
"Mereka laki-laki apa perempuan sih? Mulus amat mukanya, oh iya, operasi ya?Jangan-jangan mereka maho. Haha, lihat mereka nari! Konyol amat! Dengar suara mereka, paraahhh. Cara bicara mereka, dibikin-bikin. Mereka seperti tidak hidup di dunia nyata, tapi hidup seperti boneka. Apakah benar seperti ini hidup mereka? Ckck, inilah industri hiburan dan penikmatnya, hahaha.."
"Berhentilah, kamu bisa diamuk orang satu bioskop," kata Reno dengan muka merah.
"Apa kamu juga akan ikut mengamuk?"
"Kalau tak suka, keluarlah,"
"Apa aku bilang aku akan suka?"
"Keluarlah! Pergi saja nonton Shireen Sungkar sana! Ocehan yang sering kamu sebut kritik itu benar-benar tidak bermutu! Objektif!"
"Mending nonton Trio Macan panas-panas di tengah pasar dengan iringan orkes dangdut yang suara bassnya membahana. Pacaran sana dengan Yoona. Aku keluar!!!" mata-mata memandang ke arah mereka. Dasar. Laki-laki itu beraninya keroyokan.

Memori tiga minggu yang lalu terbawa sampai saat ini. Saat Tari merasa kulitnya menghitam dengan keringat yang mengucur. Parahnya, alunan musik dangdut, dengungan bass yang membahana, dan suara cempreng Trio Macan masih terngiang di telinganya. Sial, kenapa ia harus mengantar Bik Sing berbelanja di siang bolong, dan celakanya mereka harus bertemu gerombolan pembuat polusi suara. Tapi hal ini tidak mungkin terjadi kalau si idiot Reno itu tidak teledor mengungkit hal yang sensitif baginya. Ya, tinggi badan dan panjang kaki telah menjadi mimpi buruk sejak Tari ditolak masuk SMA bergaya militer yang terkenal se-antero Indonesia, padahal ia sudah belajar mati-matian untuk itu. Ia kurang tiga centi lagi.

Dan mungkin benar kata Reno, ia begitu objektif. Tanpa mengetahui dulu apa yang dikomentari, ia terancam menjilat ludahnya sendiri, dan yang paling parah, sekarang hubungannya dengan Reno di ujung tanduk. Desas-desusnya, Reno sedang dekat dengan ratu Hallyu di kelas mereka, Sunny namanya. Ia terlalu gengsi untuk bertanya langsung pada Reno, dan ia akan merebut kembali lelaki itu dengan caranya sendiri. Meskipun harus mendobrak prinsipnya, ia tak bisa mengelak bahwa ia mencintai lelaki itu, dan ia berusaha untuk sedikit menjadi apa yang disukai lelaki itu: menjadi sedikit bergaya 'Korea'.

Maka Tari memulainya dengan menonton K-Drama. Mempelajari cara bicara mereka yang centil-centil gimana gitu, mempelajari cara jalan mereka yang imut-imut gimana gitu, cara bagaimana mereka menjadi genit-genit gimana gitu, mempelajari beberapa istilah, gaya busana dan tata rambut. Hatinya mungkin tak sejalan dengan gaya-gaya Korea itu, tapi otaknya mencari pembenaran: 'Apa aku berasal dari zaman batu? Menjadi seperti itu merupakan proses pendewasaan di abad 21'.Selintas revolusi radikal yang dipikirkannya muncul saat ia melewati tv di ruang tengah yang sedang memutar iklan produk korea: peninggi badan dan pemanjang kaki instan. Mata Tari berbinar. Tari pikir ia mungkin sudah mengorbankan setengah hidupnya selama tiga minggu ini untuk mempelajari sekelumit Korea melalui drama.

Ya, dia sudah menonton puluhan judul drama sampai larut malam. Dan sekarang Tari mengeluarkan beberapa keping DVD drama yang tadi dibelinya dipasar. Tangan Tari gemetar saat mengeluarkan film pamungkasnya, film yang dibintangi pujaan hati kekasihnya, film yang dibintangi Im Yoona. Tari menelan ludah.

Itulah mungkin jawaban di setiap keheranan Reno belakangan ini. Gossip di antara teman-temannya bahwa terkadang Tari bersenandung, dan lagunya adalah milik SNSD. Halah, itu hanya tahayul, pikir Reno. Ada juga yang bilang cara berbicara Tari berubah. Lebih manis dan centil. Hah? Mana mungkin? Terkadang terdengar bahasa-bahasa Korea yang keluar dari mulutnya. Ingat! Tari adalah seorang nasionalis sejati! Dan yang menghebohkan adalah pernah ada yang melihat Tari seperti sedang nge-dance ala Wonder Girls!!! Yang mengatakan itu pasti sinting.

Nah, begitulah, sekarang Reno sedang berada di balkon sekolah. Memandang pemandangan di sekitarnya. Rambutnya berhembus terkena tiupan angin. Reno mengalihkan pandangannya ke arah hembusan angin, dan yang didapatkannya adalah Tari. Tapi, ada apa dengan wanita itu? Penampilannya, kenapa rambutnya seperti tokoh di salah satu drama Korea? Reno mengusap wajahnya, tapi Tari tak berubah, she is still the same. Tari mendekat dan berdiri di sampingnya. Kenapa Reno merasa agak pendek?

"Ada apa denganmu?" tanya Reno.
"Ada apa apanya?"
"Kau berubah,"
"Berubah apanya? Xixixi," Tari cekikikan. Sejak kapan perempuan ini menutup mulutnya saat tertawa? "Aku merasa sudah melewati salah satu tahap pendewasaan," lanjut Tari. Alis Reno terangkat, sepertinya rumor selama ini...
"Ehem, kamu tahu, aku kena skors," ujar Reno sok serius.
"Aigoo...."
"Ahaaa, benar kan kau berubah? Berhentilah menjadi sok ke-korea-korea-an!!"
"Sok ke-koreaan? Ini bukan sok ke-koreaan, ini adalah fase perubahan menjadi dewasa!!!"
"Dewasa? Menjadi kayak badut gini kau bilang dewasa?"
"Badut?" Tari tersinggung, "Aku berusaha dengan keras menjadi seperti Yoona dan kau bilang aku kayak badut???!!" Tari tak bisa menahan air matanya lagi. Ini adalah tangisan dari kesedihannya saat ini, dan akumulasi tangisan tiap malam saat menonton drama. Reno diam. Ia tak tahu bagaimana membendung tangisan yang pertama kali dilihatnya dari seorang Tari. Yang ada hanya isakan Tari.
"Aku berusaha untuk menjadi yang kau suka. Aku takut... hiikkss... aku takut kau diambil Sunny, wajahnya oriental banget, kayak personel cherrybelek, hiiikkss..." astaga, ia heran kenapa ia bisa semelankolis ini. Memalukan, pikir Tari. Mereka berdiri dalam diam lagi.
"Tar.." kata Reno memecah keheningan, kedua tangan Reno meraih pundak Yoona, dan mereka saling berdiri berhadapan,"Tidak peduli berapa banyak Yoona di dunia ini, hatiku hanya mengenal kamu. Aku suka kamu, kamu yang seperti biasa. Kamu adalah Yoona-ku," pikiran Tari melayang. Biasanya pada kondisi ini, yang terjadi pada drama adalah kedua insan berpelukan, dan ciuman panas meluncur. Tapi bayangan itu lenyap, berganti dengan tatapan murka ayahnya yang siap dengan tali gantungan. Glek, sial, sejak kapan laki-laki ini pandai menggombal.

Berikutnya terjadi seperti biasanya, seperti tiga minggu yang lalu. Mereka mulai pulang bersama naik bis kota. Tapi dalam diam. Mereka sesekali bertemu pandang, kemudian tersenyum. Reno mengambil secarik kertas di atas bis yang melaju, menulis:
'Apa yang kamu pelajari?'
Kemudian menyerahkannya ke Tari sambil malu-malu. Tari mendengus, lalu tersenyum menyambut kertasnya:
'Em, aku belajar untuk tidak menilai segalanya dari pandanganku. Masih banyak sudut lain yang bisa ditelaah, dan itu menimbulkan nilai yang mungkin berbeda untuk direnungkan dan dicari benang merahnya. Aku belajar menghargai diriku sendiri  dan mencintainya. Dan... Aku belajar tentang kamu'
Tari menyodorkannya kembali sambil meringis. Reno tertawa renyah. Dan mereka kembali diam dalam sisa perjalanan, sampai tiba-tiba Tari berkata:
"Ren, kayaknya ada sedikit masalah,"
"Hmm?"
"Aku mulai mencinta Lee Dong Wook..."
"AAAPAAAA????!!!!!"






Yogyakarta, 12 Pebruari 2013 03.50

Jumat, 17 Agustus 2012

PENCARIAN DIMULAI :)


Hm, sodara-sodara tidak terasa sudah em, sejak dari bulan april, em, sekitar tiga bulan sudah saya berada di tanah leluhur yang tidak pernah saya bayangkan akan begini kenyataannya. Terlahir dari pasangan suami istri aseli Jawa, saya harus belajar 'memulai' menjadi Jawa dari saat ini. Setelah bertahun-tahun menghabiskan umur dan menghisap 'susu' dari tanah orang, akhirnya saya kembali. Walaupun mungkin papa saya juga nasibnya seperti saya -Jawa yang hampir kehilangan identitas- tapi mama saya yang masih bergelar Roro mendonorkan dengan meyakinkan passion seorang Jawa yang mengalir dalam nadi ini.

Saya ini seperti domba garut berbulu hijau yang berada di tengah-tengah domba garut lainnya dengan lampu yang menyorot tepat pada saya. Terasing. Terasing dengan bahasa, etika, kebiasaan, persepsi, dan macam-macam lainnya. Satu hal lagi, saya malu. Seperti hari kemarin saat saya mau berangkat dari Purworejo menuju Jogja. Bude saya yang mengerti betul bagaimana tabiat orang macam saya yang sudah terkontaminasi serpihan budaya Indonesia Timur, khusunya Papua yang dianggapnya tidak terlalu klop dengan budaya ngih-ngih orang Jawa berpesan:
"Kalo ketemu sama orang-orang langsung disalami ya. Terus kalo mau keluar rumahnya ******, jangan serta-merta langsung berbalik, kamu harus mundur dulu sampai keluar pintu, baru membalikkan badan."
Saya hanya bisa nyegir sambil garuk-garuk kepala. Astaga, sudah sejauh inikah ketidaktahuan saya atas etika orang jawa? Belum lagi waktu saya bertemu bapak kos saya:

"Nak arta orang apa?"
"Orang jawa"
"Bisa ngomong jawa?"
"Gak bisa pak"
"Lah, kalo begitu bukan orang jawa namanya, hehe"

#garukgarukkepalalagi

Yah, setelah melewati berbagai kejadian saya jadi menyesal kenapa tidak meladeni dengan perhatian penuh sambil menganggukkan kepala setiap si emak nyerocos menggunakan bahasa jawa. Sudah seharusnya saya bangga dengan identitas saya. Yah, saya ini orang Jawa dengan potongan puzzle yang hilang. Ya, kehilangan jati diri walau saya tidak bisa mnenyangkal bahwa sesuatu dari diri saya berbisik: saya juga orang Papua tanpa rambut kriting :). Dan jika suatu hari saya melanjutkan hidup di negeri orang, saya tidak mau kehilangan jati diri lagi. Kali ini jati diri sebagai seorang Indonesia. Hm, saya terdengar begitu chauvinis, macam Hitler saja ya? hehehe :).  

Senin, 09 Juli 2012

KOMANDAN DANPUTRNYA


Masih jam setengah tiga pagi dan aku terbangun bukan karena alarm yang kupasang, tetapi karena suara membahana suamiku. Jerit mengerikannya kukhawatirkan akan membangunkan tetangga. Kususul suamiku dengan susah payah bangkit dari tempat tidur. Kuseret kaki yang berat sampai kutemukan dia di halaman belakang. Wajahnya kelihatan shock dan pucat. Ia hanya berdiri terpaku dengan pakaian jogging yang lengkap. Aku juga kaget melihat pemandangan di hadapanku. Kuusap punggung suamiku sebelum derajat kemarahannya naik sampai ubun-ubun. Tapi aku terlambat.
“Siapa yang berani melakukan ini pada Maxi?????!!!!!” raungnya marah. Matanya melotot melihatku. Kemudian beralih pada anjing gembala jermannya yang kejang-kejang sambil mengeluarkan busa dari mulutnya. Anjing kesayangannya keracunan.
“Bangunkan anak itu”perintahnya sambil menahan amarah.
“Ini masih jam setengah tiga.....”
“Bangunkan,”
Aku tak berani membantahnya. Jika aku berani membuat sang komandan mengulang perintahnya sampai tiga kali, aku yakin dia sendiri yang akan membangunkan putri kami dengan cara yang membuat gadis itu tambah berulah. Dan rumah tanggaku akan lebih ribut dengan argumen dua manusia keras kepala yang tak pernah akur.
Aku sendiri tak memikirkan pelaku lain selain anakku, karena aku tahu mereka adalah musuh bebuyutan. Musuh dalam taruhan pemenang piala eropa kemarin, musuh dalam menentukan pesanan pizza, sampai musuh dalam menentukan warna cat dinding. Namun aku tahu, suamiku itu sayang benar padanya. Aku hanya bisa mengomel dalam hati.
Aku mengahampiri anakku yang tertidur dalam posisi yang menurutku bukan kebisaannya. Aku duduk ditepi tempat tidurnya dan membelai rambutnya yang hitam panjang. Rambut dan wajahku, tapi wataknya milik suamiku.
“Ibu tahu kamu tak tidur,”bisikku.
“Lihatlah apa yang sudah kamu lakukan pada Maxi, ayahmu marah besar,”lanjutku. Ia tak bisa menyembunyikan senyumnya.
“Aku lagi tidur bu. Hari ini ada ulangan, daripada mengomeliku, bawa saja Maxi ke dokter Jaelani sebelum Maxi mencret-mencret. Baru setelah itu, ayah bisa memarahiku,”  jawabnya santai. Ia tahu benar apa yang telah dilakukannya.
“AKU MAU KE DOKTER JAELANI!!!! MAXI MULAI MENCRET-MENCRET!!! ANAK ITU, AWAS SAJA DIA!!!!” teriak suara suamiku dari lantai bawah. Aku melirik putriku yang tertawa puas.
Ayah mengacaukan segalanya, begitu jawabnya saat kutanya mengapa ia senekat itu meracuni maxi. Baru kusadari gadisku telah beranjak dewasa. Kemarin ada teman prianya yang  main ke rumah kami. Katanya ia hanya datang untuk belajar bersama, tapi putriku tahu ia ingin menyatakan perasaannya. Mereka belajar seperti biasa di teras rumah walau putriku menahan perasaan gembira, sampai katanya dadanya sakit. Waktu yang di nanti putriku tiba saat pembicaraan mereka beralih dari persamaan trigonometri ke permasalahan cinta. Tapi semuanya berantakan ketika suamiku pulang dari kantornya dengan pakaian dinas lengkap. Ia ikut nimbrung di antara mereka berdua. Lalu ia ngobrol dengan teman pria putriku. Obrolan yang menurut putriku lebih mirip investigasi.
“Dan sesekali ayah mengusap pistol dan kumisnya,” tambahnya.
Suamiku bertanya terus sampai pada bagian yang membuat semuanya gagal total. Ayahnya menanyakan kembali soal trigonometri yang baru dijelaskan putri kami pada teman prianya itu. Tapi ia tak bisa menjawab sama sekali. Keluarlah kata-kata keras dari mulut sang komandan.
“Ngapain kamu di sini kalau gitu? Otakmu masih sama kosongnya seperti saat kau datang. Pulang sana bantu orang tuamu. Regina, MASUK!!!!” kata putriku menirukan ayahnya. Kami diam beberapa saat. Sekarang hampir setengah enam. Ia lupa akan keinginnnya untuk tidur, malah bercerita panjang lebar.
“Padahal dia belum bilang sesuatu, Bu,” katanya sambil menahan isak.
“Lalu kulihat Maxi yang menggonggong padaku seperti mengejek, langsung saja kuberi obat pencahar pada makanannya yang sudah disiapkan Bi Sing,” akunya dengan nada bersalah.
Aku hanya bisa membelainya. Di saat seperti ini jika aku jadi dirinya, aku akan menangis tersedu-sedu. Tapi putriku terlalu gengsi untuk menangis. Putriku ini kaku seperti ayahnya. Tak mudah mengungkapan perasaan.
Sang komandan pulang ketika putriku sudah berangkat sekolah. Ia menggendong Maxi yang lemas ke kandangnya.
“Anak itu, akan kuberi dia pelajaran nanti,” katanya sebelum berangkat kerja. Tapi menurutku ancaman itu hanya sekadar ancaman. Sang komandan tak sampai hati menghukum putrinya. Ia menggunakan baret kebanggaan lalu berkaca. Hari ini ia akan berpidato di hadapan para prajurit batalyonnya.
 Aku kasihan pada Maxi yang menjadi pelampiasan putriku. Aku masih ingat konflik lain antara putriku dan ayahnya yang mengorbankan Maxi. Saat putriku kalah main PS dari ayahnya, dan mereka adu mulut kenapa ia sampai kalah. Aku masih bisa mendengar suara kecil putriku saat berumur sembilan tahun bahwa Maxi yang sedari tadi menggonggong benar-benar mengganggunya. Selanjutnya ia mengambil air seember dan menyiram Maxi.
Maxi mendengking kecil. Sepertinya lapar. Kutengok jam. Seharusnya putriku sudah pulang saat ini. Biasanya ia tak mau melewatkan waktu memberi makan Maxi. Kubelai Maxi, ia menatapku manja. Tapi tiba-tiba pintu menjeblak terbuka dan suamiku muncul dengan mukanya yang tak berekspresi. Ia menyeret tangan putriku yang meronta sambil menangis sesenggukan.
“Ada apa ini?” tanyaku khawatir.
“LEPASKAN AKU!!!! AYAH, LEPASKAN!!!!” jeritnya.
“Sudah berapa kali kubilang, aku tak suka kau bergaul dengan anak itu,” suamiku menggumam.
“AYAH, LEPASKAN!!!!!”putriku meronta lebih keras sampai pegangan suamiku terlepas. Pergelangan tangannya merah.
“APA YANG AYAH INGINKAN LAGI DARIKU????!!!!! AYAH MENGHANCURKAN SEGALANYA!!!!” tuntutnya.
“AKU TAK SUKA MENEMUKANMU BERBONCENGAN DENGAN BERANDALAN ITU!!!!!” suamiku tak mau kalah.
“KALAU BEGITU AKU HARUS BERBONCENGAN DENGAN SIAPA KALAU SEMUA TEMAN PRIAKU AYAH SEBUT BERANDALAN???!!! BAHKAN TAK ADA TEMAN PRIAKU YANG BERANI MENDEKATIKU BEGITU MENGETAHUI AYAHKU ADALAH AYAH!!!! AKU SUDAH TUJUH BELAS TAHUN, BIARKAN AKU MEMILIH!!!!!” wajah putriku bercucuran air mata. Mukanya merah. Wajah suamku tak kalah merahnya. Aku juga gemetar. Kucoba mendekati suamiku dan mengusap pundaknya, tapi ia mengelak.
“APA JUGA MAUMU JALAN DENGAN LAKI-LAKI YANG PURA-PURA DATANG KE RUMAH UNTUK BELAJAR PADAHAL ISI KEPALANYA TETAP KOSONG????!!! CARI YANG LAIN SANA!!!!” sang komandan ngotot.
“APAKAH AYAH BERANI MENJAMIN, BEGITU ADA LAKI-LAKI LEBH BAIK YANG INGIN MENDEKATIKU, AYAH AKAN MEMBIARKANNYA?????” suamiku tak menjawab.“DARI ANAK OLIMPIADE FISIKA SAMPAI OLIMPIADE KIMIA, DARI YANG TAMPAN SAMPAI YANG SANGAT TAMPAN,  AYAH SELALU BILANG ADA KURANGNYA!!! MEMANG APA MAU AYAH???? INGIN AKU JADI PERAWAN TUA?????!!!........”
“DIAAAAMMMM!!!!!” bentak sang komandan sambil menodongkan pistol ke arah kepala putrinya. Tangannya bergetar. Aku kaget setengah mati dan langsung menyusur ke kakinya untuk menghentikan tindakan konyol itu.
“Jangan.... jangan segila ini Ben....” aku mengiba sambil menangis. Kulihat di sudut ruangan Bi Sing tampak menangis ketakutan.
“AYO YAH!!! KENAPA GAK DITARIK PELATUKNYA?????? AKU JUGA UDAH CAPE HIDUP DENGAN ORANG CEREWET MACAM AYAH YANG LEBIH SAYANG ANJINGNYA DIBANDING ANAKNYA SENDIRI!!!!” tantangnya. Aku memandang  putriku, memohon padanya untuk diam. Kemudian semuanya terjadi begitu saja. Suamiku meninggalkan putriku yang menangis sesenggukan dan aku yang tergeletak di lantai berurai air mata. Ia masuk ke ruang kerjanya.
Aku tak percaya apa yang terjadi tadi. Suamiku ingin menghabisi nyawa putrinya hanya gara-gara ia dekat dengan laki-laki tolol? Bi Sing berusaha menenangkanku. Tapi aku masih tak bisa berdiri, kakiku masih gemetar. Kusuruh saja ia menyiapkan makan malam, walau kutahu tak akan ada yang mau menyentuhnya. Sejak kejadin tadi, malam ini rumah kami sunyi senyap. Tak ada tawa putriku, dan tak ada ocehan suamiku. Setelah kudapati separuh nyawaku, kucoba menghampiri putriku di kamarnya. Kutemukan ia masih menangis, tapi begitu melihatku, ia mengusap air matanya.
“Ayahmu bermaksud baik, Nak,” ujarku berusaha menghilangkan nada ketakutan dalam  suaraku sambil menunggu respon. Tapi ia tak menjawab. Aku memainkan rambutnya. Mencari topik yang bisa mendinginkan hati putriku.
“Kamu tahu, ketika ibu masih muda, jika kakek tak menghentikan ibu berpacaran dengan seorang pria, ibu tak akan jadi dengan ayahmu. Dan kamu tahu, ternyata pria itu sekarang udah lima kali kawin cerai, hahahaha....” kembali aku menunggu respon darinya, tapi tak dibalas. Kami diam sebentar.
“Hah, tapi ayahmu menyenangkan kan?” ia masih tak merespon, tapi aku yakin ia sedang berusaha menahan senyumnya.
“Ibu ingin kau minta maaf pada ayahmu nanti” tambahku sambil mencium keningnya sebelum keluar dari kamar.
Begitu kukeluar, kutemukan suamiku berjalan ke arah kamar putriku, tapi karena melihatku, ia berbalik. Aku jengkel benar dengan orang ini. Saat aku berjalan melewatinya, ia berdehem untuk menghentikanku.
“Kamu tidak benar-benar ingin menembaknya kan?”tanyaku.
“Tentu aku ingin,” pipinya berkedut.
“Kamu bohong, itu hanya amarahmu. Kamu tak akan sesinting itu,” aku berhenti sebentar ingin melihat reksinya, “ Apa yang membuatmu menjadi sekolot ini sampai ia bergaul dengan laki-laki saja kau khawatir? Regina tahu yang mana yang benar dan yang buruk,”kataku. Ia mendesah.
“Bukan itu maksudku. Aku hanya... Aku hanya belum siap jika....” ia berhenti lagi, “....jika cintanya untukku dibagi kepada laki-laki lain,” katanya berterus terang. Aku terpana mendengarnya. Kulihat air mata mengalir di sudut matanya. Setelah pernyataan cintanya padaku, ini adalah ungkapan perasaan pertama yang keluar dari mulut salah satu lulusan terbaik Akabri ini.
 “Tapi Regina sudah besar, Ben. Ia sama ngototnya sepertiku waktu dulu. Jika  aku tak ngotot pada Romo untuk  jalan denganmu, mana mungkin kita bisa berdiri di sini sekarang?” ia tak menjawab.
“Aku mau kamu minta maaf padanya nanti,” kataku sambil berlalu meninggalkannya. Tapi tangannya menahanku.
“Hei, pistolku tadi, em, tak ada pelurunya,” ujarnya kaku. Aku tersenyum lagi mendengar pengakuan pria yang tak mudah mengungkapkan perasaan ini.
Esoknya, kedua musuh itu bertemu di ruang makan. Berpapasan, saling mengucapkan maaf, kemudian sarapan dalam diam. Keributan antara ayah-anak tak terdengar hari ini, besok, dan besoknya lagi. Ini adalah keganjilan dalam rumah tanggaku. Tapi yang kusyukuri adalah saat Bi Sing cerita padaku tentang kejadian tadi sore. Putriku pulang lagi-lagi dengan ekspresi menahan tangis. Karena aku tak ada dan yang ditemukannya hanyalah ayahnya, maka ia menghambur ke arahnya. Memeluknya, kemudian menangis tersedu-sedu. Bi Sing mendengar sebagian curhatan putriku yang dibalas dengan belaian lembut ayahnya. Putriku dikhianati oleh teman prianya yang datang untuk belajar tempo hari. Ia hanya menggunakan putri sang komandan sebagai ajang taruhan.
Setelah kejadian itu, rumahku normal kembali. Mereka saling ledek dan kata-kata ketus nan cuek suamiku pada putriku terdengar lagi. Ramai seperti semula. Sampai tiba saat kami harus melepas putri kami yang melanjutkan studi di salah satu universitas terkenal di Jerman melalui  jalur beasiswa.
“Aku mau jadi dokter biar bisa ngobatin darah tinggi ayah,” canda putriku. Kami tersenyum.
 Lalu saat putriku menaiki pesawat, air mataku tak henti-hentinya mengalir sambil melambaikan tangan yang dibalas oleh putriku dengan lambaian juga. Kutengok suamiku. Ia hanya tersenyum bangga, tapi dari pipinya yang berkedut itu, aku yakin ia menahan tangis. Dan keganjilan di rumahku terjadi lagi.
Dua bulan berikutnya putriku menelepon. Kuliah perdananya berjalan lancar. Dan ia bilang padaku agar tak usah membongkar rahasia bahwa ia berhasil menggaet kakak tingkatnya. Tapi kuyakinkan ia untuk jujur pada ayahnya. Saat kuberikan telepon pada suamiku, ia menolak. Katanya nanti saja ia akan menelepon setelah mengajak Maxi berjalan-jalan. Begitu juga telepon beriutnya,ia selalu menolak. Sampai suatu malam kupegoki sang komandan yang menelepon diam-diam.
“Benarkah? Apa ayah lebih tampan dibanding dia? Hahahaha... Oh, menurutku....” ia berhenti sebentar, “ekhm, menurut perasaan ayah, ia cocok untukmu,” kemudian ia diam beberapa lama.
Aku kaget ketika mendengarnya terisak. Dan lebih kaget lagi saat  mendengarnya mengatakan ini:
‘Nak, Ayah kangen berantem sama kamu’




SEND A COMMENT PLEASE....

Minggu, 01 Juli 2012

SENYUM 100 WATT

Ia masuk kelas sambil tersenyum lebar sekali. Ia memamerkan deretan gigi dari gigi taring yang satu ke yang lain. jika bisa, ia ingin tersenyum juga sampai terlihat gigi gerahamnya.Tidak ada sapaan selamat pagi atau basa-basi semacamnya. Orang ini pemalu betul. Saya heran dengan orang ini, tapi saya suka padanya. Memang tak ada yang dengan baik ia lakukan selain tersenyum. Gigi putih itu tersusun rapi dalam mulutnya, dengan pigura bibir tebalnya. Saya yakin gigi itu disikat setiap lima kali sehari. Meski wajahnya sama sekali tak menarik, tetapi senyum itu membuatnya berlipat-lipat lebih tampan. Sungguh kombinasi yang ciamik ditambah dengan pandangan matanya yang terlalu polos, sangat berbeda dengan saya dan kawan-kawan lain yang giginya merah-merah karena noda pinang. sudah menjadi tradisi bagi kami untuk makan pinang, katanya sih biar gigi kami kuat, tapi gigi seri saya yang di depan akhirnya patah juga kok karena kecelakaan. Untuk hal mengunyah pinang, ia sangat anti. Katanya hanya mengotori gigi saja. Laki-laki ini, namanya Mathias, duduk di depan saya awal semester ini. rambutnya yang keriting baru saja dicukur rapi, jadi saya tak tersiksa duduk di belakangnya. Dan sekarang ia hanya duduk saja dalam diam. Saya ingat semester lalu saat Mathias bermain sepakbola. Ia dan kawan-kawannya tidak sengaja memecahkan kaca ruang guru. Setiap orang diinterogasi dan mendapat ciuman rotan di pantat mereka, tetapi tidak dengan Mathias. Dengan sedikit pembelaan dan memperbanyak senyuman, ia selamat. Mathias terlihat egois ya? tapi ternyata ia tidak seperti itu. saya dan teman-teman yang lain sering mendapat keuntungan karena kehadirannya di kelas. Apalagi saat hari hujan. Hari hujan bagi kami adalah saat-saat paling gelap dalam kehidupan. Hal-hal seperti ini yang akhirnya mempergelap wawasan, masa depan, dan daerah kami. Entahlah, mungkin kulit kami yang gelap ini juga karena kurangnya lampu di mana-mana, terutama di kelas kami. Jadi daripada mengharapkan agar orang-orang yang bertanggungjawab atas pendidikan kami memasang lampu, lebih baik kami mengharapkan kehadiran Mathias yang membawa sugesti hadirnya cahaya seterang dan sehangat matahari saat ia tersenyum yang akhirnya membuat kami bisa membaca setidaknya tulisan dari kapur di papan tulis. Suatu hari Mathias memanggil saya. Ingin mengajak ngobrol ia rupanya. Suatu hal yang jarang ia lakukan selama dua tahun saya menjadi teman sekelasnya di SMA. Sebagai permulaan obrolan ini, ia tersenyum. Kali ini lebih berkilau dan hangat. Reflek, saya membalas senyumnya. Senyam-senyum setelah beberapa saat, saya pikir saya yang harus angkat bicara, “Ada apa,” “Em, saya bisa minta tolong?” “Tolong apa” tanya saya. Ia celingak-celinguk sebentar, melihat saya, ia tersenyum lagi, kemudian ia memberi isyarat pada saya agar saya mendekat, dan ia mulai berbisik. “Bisa, kan?” tanyanya. Saya tertawa. “Untuk hal semacam ini kenapa kamu sampai berbisik-bisik,” “Saya malu. Saya tidak punya hape berkamera maupun email,” katanya sembari tersenyum. Orang ini, sungguh humoris. Saya sangat suka padanya. Sore itu sesuai janji, ia datang ke rumah saya. Saya mengajaknya duduk di ruang tengah yang ada tivi empatbelas inch-nya. Ia nampak canggung tetapi kemudian masuk. Karena biasanya ia hanya sampai di teras saja saat menemani bapanya menjual hasil kebun ke rumah kami. Saya bingung mau menyuguhinya apa. Tidak ada makan atau minuman seperti saat natal. Maklum, rumah ini jarang kedatangan tamu, bukan seperti rumah pejabat yang setiap hari dikunjungi orang. Tapi saya rasa singkong goreng dan segelas teh cukup untuk dia. Ia memakannya dan kembali tersenyum, tetapi kali ini saya agak tersinggung dengan senyumnya mengingat apa yang saya suguhkan. “Saya tahu singkong ini. kamu kemarin beli di bapa saya kan?” “Ya. kenapa?” tanya saya heran. “Kalau apa yang kita lakukan sukses, saya akan beri singkong se-kebun bapa saya padamu. Singkong-singkong itu ditanam bapa dengan keringat dan doa di tanah yang berkah ini. saya yakin rasanya berbeda. Kamu mau, kan?” katanya sambil tersenyum dengan rasa bangga yang meluap-luap. Saya mengangguk kuat-kuat dan senyum saya kembali mekar terangsang keoptimisan di wajah hitam itu. Jadi, kami memulai rencana kami dengan menonton tivi. Menanti setiap menit sampai iklan yang ditunggu muncul. Saya pandangi dia. Ia duduk manis menikmati tayangan meskipun itu hanya iklan. Saya bilang padanya agar sering-sering datang ke rumah saya, karena mama saya juga suka pada senyumnya. Kata mama, senyum Mathias bisa membuatnya ikut tersenyum meski ia habis dimarahi oleh bosnya di kantor. Iklan sebuah produk pasta gigi dengan seorang pria tampan yang jadi peran utama akhirnya muncul. Saya dan Mathias menyimak dengan seksama setiap perintah yang dikatakan pria itu. di akhir iklan, si pria tersenyum. Tapi ketika saya membandingkan dengan Mathias yang tersenyum pada saat yang sama, si pria sepertinya tidak terlalu bertalenta memainkan iklan itu. senyumnya tak semenarik Mathias. Jadi saya simpulkan, Mathias punya potensi. Saya tersenyum menguatkannya. Sebulan bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah penantian. Dalam sebulan itu saya berdoa agar Mathias lolos seleksi dan senyumnya bisa tampil di setiap koran, majalah, ataupun tivi. Berkali-kali saya buka email saya tapi belum satupun ada pemberitahuan dari kontes yang Mathias ikuti. Padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00. harusnya hasilnya sudah keluar. Sudah dua jam saya berada di warnet. Sampai pegal pantat saya. Belum lagi tarif yang terus berjalan sekarang menembus angka Rp13.000,-. Tunggu sebentar, ini dia, ada email yang baru masuk. Oh ayolah, untuk saat ini saya mohon dengan sangat agar koneksi internetnya sedikit lebih cepat, ayolah. Ini dia, mata saya mengikuti setiap kalimat sampai kepada bagian paling penting: Mathias, selamat, anda terpilih menjadi bintang iklan. Saya mendengar langkah kaki tak sabaran di luar. Kemudian pintu menjeblak terbuka tanpa diketok sebelumnya. Mathias ngos-ngosan di depan pintu dengan keringat yang bercucuran. Bajunya basah. Matanya melotot. Senyumnya lebar sekali. Berlari-lari dari rumahnya sampai kesini pasti membuatnya lelah. Tapi rasa lelah itu dikalahkan adrenalin yang membuncah menanti kepastian nasibnya. Tepat sekali ia datang. “Bagaimana? Bagaimana? Mana? Mana?” tanyanya bersemangat. “Lihatlah di komputer ini,”. Ia langsung menyerobot membaca pengumuman itu. saya bisa mendengar setiap helaan napasnya. Saling kejar-mengejar, sambung-menyambung, jangan sampai putus kalau tidak si empunya napas tidak bisa bernapas lagi karena saking senangnya. “Besok saya pastikan singkong-singkong itu akan sampai di rumahmu untuk siap diolah. Terima kasih Hannah, saya tidak tahu mau membalas apalagi untuk semua bantuanmu. Terima kasih Hannah, kau sudah membantu saya untuk setidaknya membuat saya dan keluarga saya bisa makan nasi lebih sering. Terima kasih Hannah…” “Cukup terima kasihnya. Orang-orang memandang ke arah kita. Jangan sampai nanti kita diusir dari sini,” saya bercanda. Seperti prakiraan cuaca di RRI, hari ini cerah. Tapi saya sudah lebih dulu memprediksikannya. Hari ini di lebih cerah dari biasanya. Bagaimana tidak? Intensitas senyuman Mathias berpuluh kali lebih banyak dan lebih terang. Saya sampai mengira warna kulit saya dan teman-teman lain lebih putih dari kulit orang kaukasoid. Saya ingin hari ini hujan saja. Setiap orang ingin bicara dengannya, mewawancarainya, dan meminta oleh-oleh sepulangnya nanti ia dari Jakarta. Saya membuka file berisi foto senyumannya dari hape. Foto yang diambil dua bulan yang lalu saat ia datang ke rumah saya. Foto yang saya kirim untuk audisi iklan itu. Senyum ini, kenapa saya berpikir tak akan bisa lagi melihatnya lagi dalam waktu dekat. Astaga, saya tepis perasaan itu jauh-jauh. Senyum ini tidak boleh hilang begitu saja, kalau tidak, ruang kelas kami akan suram dan gelap saat hari hujan. Kata Mathias, hadiah yang ia dapat dari kontes itu banyak sekali, bahkan mungkin terlalu banyak untuk dirinya. Sehabis pengumuman pemenang, beberapa orang dari Jakarta langsung datang ke rumahnya. Orang-orang itu membawa lima puluh juta katanya. Bapanya langsung lemas ketika melihat uang sebanyak itu, dan mamanya yang cerewet tak bisa berkata apa-apa lagi. mereka menyodorkan kertas yang kata Mathias adalah kontrak. “Hah? Kau dikontrak setahun?” tanyaku kaget. Ia hanya tersenyum. “Selama itu kau di Jakarta?” ia mengangguk. “Mereka bilang saya aset. Mereka akan memindahkan saya dari sekolah. Mereka akan memasukkan saya ke sekolah yang lebih bagus di Jakarta,” ia tersenyum lebar. Tapi kali ini saya tak suka senyumnya. Jika ia pergi, bagaimana dengan kami? Kami tidak bisa belajar apa-apa di sekolah jika hari hujan. Saya meninggalkannya dengan senyumnya yang menjengkelkan. Ia begitu egois. Ini kelima kalinya saya membuat keripik singkong, tetapi tumpukan singkong ini tidak habis-habis juga. Saya sampai bosan sendiri melihatnya. Tapi rasa singkong ini memang lain dari singkong kebanyakan. Hari ini saya sengaja membuat keripik singkong untuk menyaksikkan iklan Mathias yang tayang perdana, sesuai pesannya sebelum pergi dua minggu yang lalu. Tidak lama ditunggu, iklan itu muncul. Jingle pasta gigi itu mengalun, kemudian si pria tampan yang sama mulai beraksi. Saya kira pria itu hanya menjadi peran pendukung, tetapi saya salah. Pria itu tetap menjadi peran utamanya. Saya bingung dan khawatir menunggu Mathias yang belum terlihat. Kemudian pada sebuah bagian ditampilkan seulas senyum tanpa diperlihatkan wajah pemiliknya. Walau hanya beberapa detik, terlihat dari bibirnya yang tebal dan deretan gigi yang rapi itu, tidak salah lagi, senyum milik Mathias. Tapi tunggu, kenapa ada yang aneh? Senyum Mathias di iklan itu berbeda sekali. Meski sepintas sama, tapi terlihat lain bagi saya. Senyum itu tidak bahagia dan tidak tulus. Senyum itu, senyum Mathias kali ini, terlalu dibuat-buat. Begitu terpaksa. Senyum yang tidak mencerminkan jiwa empunya. Tapi paling tidak, senyum itu lebih bagus dari senyum si pria. Tiba-tiba saja hape saya berbunyi. Ada pesan dari nomor tak dikenal. Kira-kira begini isinya: ‘Saya yakin saat ini kamu pasti sedang menonton iklan saya ‘kan? Saya mau cerita sesuatu padamu. Saya tidak suka sekali ada di sini. Mereka terlalu mengatur saya. Saya tidak boleh ini dan itu. Dan juga harus begini dan begitu. Kamu tahu, saya sangat heran dengan maksud mereka sebagai sekolah yang bagus. Mereka menyebutnya home schooling. Tetapi di sekolah itu saya hanya seorang diri tanpa teman. Gurunya pun hanya satu. Bagaimana saya bisa belajar? Saya sangat heran dengan mereka. Apakah mereka membohongi saya? Dan yang paling membuat saya tidak tahan adalah saat mereka bilang senyum saya sebelumnya tidak terlalu bagus, jadi mereka mengaturnya agar terlihat menarik. Itu membuat hati saya sakit. Sepertinya saya tidak akan bisa tersenyum untuk waktu yang lama. Saya sangat menyesal ikut kontes ini. Saya mau pulang. Mathias.’ Ternyata dari Mathias. Jadi sekarang dia punya hape. Pesan yang panjang itu masuk sepotong-sepotong sampai bisa menjadi utuh. Saya tak tahu bagaimana membalasnya. Saya rasa saya sudah kehilangan Mathias dan senyumnya. Mungkin saya sudah tidak menyukainya lagi. Dan kelas saya akan kehilangan terangnya di kala hujan. SEND A COMMENT PLEASE………