Simple Life

Sabtu, 26 Oktober 2013

The Flat 2

II
                Aku tiba di cafe tempat janjianku dengan Yoon Ah. Butuh satu jam dari tempat tinggal baruku untuk sampai di pusat kota ini. Yon Ju, kau benar-benar ingin aku mati ya? Aku segera masuk ke dalam cafe dan mencari kawanku itu. Nah, itu dia. Calon arsitek dengan wajah mirip salah satu anggota girlband itu sedang menyeruput kopinya. Aku melambai ke arahnya.
“Ha Na!!” teriaknya. Aku mendekat dan kupeluk dia.
“Bagaimana dengan flat barumu? Kau suka?” tanyanya saat kami sudah duduk masing-masing.
“Menurutmu?” tanyaku.
“Oh Ha Na....” katanya sambil meremas tanganku. “Aku tahu ini pasti terbaik yang manajemen buat untukmu,” katanya menguatkan. Aku terseyum kecut.
“Setidaknya aku masih punya niat untuk jadi penulis terkenal, jadi aku mau menjalankan ide gilanya itu,” kataku lalu kami berdua tertawa.
“Kau memang penulis terkenal Ha Na,” ujarnya. Benarkah? Ya, dulu.
                Aku ingat saat pertama kali bertemu dengan Yoon Ah. Saat kami masih menjadi mahasiswa baru di Universitas Korea. Mahasiswa baru wajib tinggal di asrama selama tahun pertama mereka. Dia adik kelas Yong Hwa saat masih SMA di Busan. Kami sama-sama dari luar kota dan itu memperkuat persahabatan kami. Bahkan Yoon Ah yang memperkenalkanku dengan Yong Hwa.
Saat tahu aku menjadi teman sekamarnya, ia girang bukan main. Ia mengaku sebagai fans-ku. Dan pada malam pertama kami sekamar, yang kami bicarakan adalah bagian dari novel-novelku yang tidak ia sukai. Mulai dari endingnya, pasangan dari peran utamanya, dan sebagainya. Entahlah sekarang. Sejak masa-masa kejatuhanku, kami membicarakan hal di luar karya-karya gagalku. Kurasa Yoon Ah sudah bosan membaca karyaku yang hampir mirip konsep ceritanya. Konsep Cinderella.
Kami langsung pergi begitu kopi Yoon Ah habis. Aku tak ingin menghabiskan sesenpun hanya untuk minum kopi. Aku langsung mempraktekkan instruksi Yon Ju. Tapi aku ragu karena alasan itu atau karena perutku yang memang sedang bergejolak saat ini. Aku akan bertemu dengan Yong Hwa nanti. Dan aku belum siap.
                Aku berada di tempat seorang fashion stylist favoritku, Jung Ji Sung. Aku menengok arlojiku. Sudah tiga jam aku di sini. Masih dua jam lagi kira-kira waktu untuk membuat semuanya beres. Mempersiapkan tubuhku –spa, pijat refleksi, dan sebagainya-  rambutku, dan juga busanaku. Lima jam. Sebenarnya butuh waktu lebih lama untuk persiapan seperti ini di hari-hari sebelumnya, bisa tujuh sampai delapan jam.
“Sayang, apa yang kau pikirkan? Lihat wajahmu, begitu tegang. berhentilah cemberut. itu akan membuatmu cepat tua. Santailah sedikit,” ujar Ji Sung saat mulai menata rambutku.
“Oh ya? Meanhe oppa, kukira ekspresiku biasa-biasa saja,” kataku. Ia membelai rambutku dengan halus dan tersenyum kepadaku melalui kaca. Lalu melanjutkan lagi pekerjaannya.
 Oh, di mana laki-laki itu? aku sebenarnya tak ingin peduli dengannya, tapi aku tahu masih ada sedikit sayang di dalam hatiku. Yong Hwa. Aku masih menyukaimu.  Aku tersentak ketika hapeku bunyi. Pesan dari Yong Hwa akhirnya.
Jantungku berdegup cepat. Adrenalinku meningkat. Tepat sekali ia mengirimkan pesan di saat aku memikirkan dia. Lalu kubuka.
‘Ha Na, aku sudah sampai di bandara. Aku tak bisa langsung ke tempat hyung. Akan kujemput kau nanti untuk ke pesta. Aku harus ke suatu tempat. Urusan penting. Sampai jumpa jam tujuh. Ich liebe dich‘
                Aku gemetaran membaca pesan yang diakhiri emoticon hati itu. Kuletakkan dengan kasar hapeku di atas meja rias. Setengah kubanting. Oh, siapa yang peduli kau pergi? aku teringat pertengkaran terakhir sebelum ia ke Moskow. Aku tak ingin membuat pertengkaran lain. Aku bertekad akan akur dengannya hari ini, besok, dan seterusnya. Aku tak mau kehilangan dia walau aku tahu, hanya ada bulir-bulir kecil cintaku padanya. Dan aku benci karena masih ada yang tersisa untuknya.
“Sayang, kenapa kau?” tanya Ji Sung terdengar khawatir.
“Tidak apa-apa oppa. Yong Hwa tak jadi ke sini,” jawabku sambil membuka mata pelan-pelan. Kudapati diriku tersenyum di kaca. Senyum dipaksakan yang cukup mengerikan.
                Aku berdiri di depan kaca. Berputar-putar. Ji Sung dan Yoon Ah mengamatiku sambil berdecak kagum. Aku berusaha menghilangkan ekspresi aneh itu, tapi ia tetap saja ada di sana. Yang kubutuhkan saat ini adalah teriak! Yoon Ah tak jauh elegannya dariku. Ia menggunakan gaun dan aksesoris yang dipilihkan sendiri oleh Ji Sung
                Perhatian kami teralih dari kaca saat pintu berderit dan seseorang masuk. Kami menoleh ke arahnya dan mendapati Yong Hwa berdiri dengan setelan tuksedonya. Ia tersenyum sambil menunjukkan bunga. Yoon Ah dan Ji Sung yang melihatku terdiam, mendorongku pelan-pelan sampai aku berada satu meter di hadapan Yong Hwa. Aku langsung menghambur ke pelukannya
“Berani-beraninya kau.....” kataku.
“Maaf. Kau cantik sekali,” ia mempererat dekapannya. Aku balas memeluknya. Tak seerat pelukan dua tahun yang lalu.
                Kami berangkat bersama-sama ke pesta pesta bosku. Yong Hwa yang menyetir, serta Yoon Ah dan Ji Sung duduk di belakang. Mobil kami melaju mulus di jalanan ibu kota sambil bersenda gurau di dalamnya. Yong Hwa bercerita tentang pengalamannya selama di Moskow. Perjalanan itu merupakan perjalanan dinas pertamnya dan duta besar Korea langsung tertarik dengan pesona Yong Hwa untuk membantu menjalin kerja sama di antara kedua negara. Tak heran karir Yong Hwa meroket di usianya yang masih muda. Ia adalah anak diplomat senior yang sedang bertugas di Uzbekistan.
Lalu topik berpindah ke masalah Yoon Ah, kawanku yang juga model itu.
 “Entahlah, laki-lak banyak yang takut padaku,” katanya sambil tertawa.
Dan selanjutnya kami berada dalam diam. Aku menatap Yong Hwa yang sedang menyetir. Banyak yang berubah selama dua tahun ini.
“Ladies, kita sampai,” kata Yong Hwa ketika mobil kami berada di depan hotel bintang empat itu.
                Seperti pesta-pesta lainnya, pesta direktur Cho –nama bosku- adalah wahana berkumpulnya kaum atas industri hiburan Korea. Para aktris dan aktor yang tampan-tampan itu, para produser, model, pemilik manajemen artis, beberapa pejabat pemerintahan, anak-anak dari para pejabat pemerintahan, pasangan-pasangan mereka, dan tentu saja penulis-penulis papan atas negeri ini. Termasuk aku tentunya.
                Yong Hwa menyebut pesta seperti ini sebagai show room. Orang-orang datang untuk mempertunjukkan kekuasaannya, hartanya, ketampanan dan kecantikan mereka, bahkan tubuh mereka. Ya, sudah menjadi rahasia umum kalau persaingan industri hiburan Korea sangat kejam. Memperoleh kemasyuran tidaklah mudah, apalagi mempertahankannya. Mereka berbakat dan menarik. Tapi ada yang lebih berbakat dan lebih menarik. Bahkan ada yang sangat berbakat dan sangat menarik! Dan tidak heran beberapa pelakon industri ini melakukan hal-hal yang menurunkan derajat mereka sebagai seorang manusia.
Kau tak akan heran jika melihat para manajer artis berkeliling ruangan menawarkan artis mereka yang susah bersaing kepada bos-bos gendut itu. Dan memang benar, akhirnya mereka akan nampang di televisi, memainkan satu atau dua drama, atau iklan, atau menelurkan album musik, namun mereka akan membayar dengan sangat mahal. Setahuku perbudakan sudah sangat ditentang di seluruh dunia, tapi tidak dengan dunia gemerlap ini. Aku berani bertaruh, artis-artis itu, yang manajernya sedang sibuk berkeliling ruangan untuk menawarkan mereka, akan berakhir di ranjang malam nanti bersama bos-bos itu jika mereka telah mencapai kesepakatan.
Aku sudah hampir setengah jam menelusuri ruangan ini. Bertegur sapa dengan orang-orang, terlibat percakapan singkat dengan beberapa orang, lalu kembali berjalan menikmati keriuhan. Aku berpisah dengan mereka yang datang bersamaku. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Kulihat Yong Hwa sedang ayik ngobrol dengan seorang anggota parlemen. Oh, tidak di sini oppa kalau kau mau membahas masalah politik negeri ini. Lalu di tengah ruangan kulihat Yoon Ah sedang berdansa dengan Jun Gae Suk yang katanya sedang dekat dengannya. Yoon Ah tak pernah mau mengaku setiap aku bertanya. Kami hanya teman, itu jawabannya. Ji Sung? Aku tak tahu di mana orang nyentrik itu.
Aku sedang mencari direktur Cho, dan pasti direktur sedang mencariku juga. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku masih menghormatinya sejak rapat pimpinan penerbitan yang banyak menghasilkan statement pedas tentang diriku. Dan aku menunjukkannya dengan kehadiranku ini.
“Ha Na!!!” suara direktur Cho memanggil. Aku berbalik.
“Kim Ha Na! Kukira kau tak akan hadir!” ia terlihat sumringah di tengah kerumunan orang-orang. Ia pantas bahagia. Kedatangan direktur Cho diikiuti dengan istrinya, lalu seseorang yang tak pernah kukenal.
“Direktur Cho! Aku mencarimu dari tadi. Wow, 30 tahun! Pasti tak mudah untuk mencapai usia pernikahan sepanjang itu!” kataku sambil tertawa. “Nyonya Cho,” sapaku sambil menjabat tangan perempuan cantik itu.
“Kurasa strategi Yon Ju berhasil. Baru hari pertama dan apa yang kulihat! Kau makin luar biasa sayang,” kata direktur Cho. Ia memandangku dengan mata kebapakannya. Aku tersenyum. Ia tahu aku. Ia pikir aku tak akan hadir karena rapat itu.
“Hahaha, kuharap seperti itu juga direktur,” aku sadar ada nada sarkastik dari kalimat itu. Namun aku segera mengendalikan suasana “Yon Ju tak bisa hadir, ia tak enak badan,” sambungku.
“Ya, di sudah mengabariku. Well, langsung saja, aku ingin memperkenalkanmu dengan tuan Lee Yong Ik. Dia adaah salah satu editor di penerbit Amerika terkenal, Arthur A. Levine Books. “
“Kim Ha Na,” kataku sambil menjabat tangannya.
“Lee Yong Ik,” katanya sambil tersenyum.
“Ha Na, semua orang tahu tentang dirimu, tak terkecuali tuan ini, hahaha. Jika kau mau, dia bisa membantumu menembus industri sastra dunia!”
“Aku tahu bakatmu nona Kim. Aku telah lama memantaumu. Aku sempat menyukai karya-karyamu dan aku menanti karya besar lagi darimu,” ujarnya. Aku menggaris bawahi kalimat sempat menyukai karya-karyamu. Aku menjawabnya dengan senyuman.
“Oke tuan Lee, kurasa Ha Na ingin melanjutkan lagi pestanya, ayo kita pindah. Aku ingin mengenalkanmu pada Yo Yeong Seong,” katanya. Sebelum beranjak, ia sempat berbisik padaku “Ingat anakku, kau punya kesempatan satu setengah tahun di mulai dari sekarang. Dunia sedang menunggu karyamu nak. Kau akan sejajar dengan J.K. Rowling jika kau mau,” ia menepuk pundakku, lalu pergi.
                Sejajar dengan J.K. Rowling? Apa kau gila? Sekarang saja buku-bukuku tak laku di pasar Korea. Kekagetanku belum reda benar ketika ada yang memanggilku lagi. Perempuan itu. Han Chae Young. Dia salah satu bentuk keberhasilan promosi manajer kepada bos-bos gendut itu. Dia adalah penulis milik penerbitan yang menjadi rival penerbitan milik direktur Cho. Tapi tidak dengan perempuan ini. Ia terlalu rendah untuk bisa kupanggil rival. Yang berhasil ia lakukan hanyalah menulis sampah dan memperbesar payudara. Entah kenapa ia selalu datang mengganggu.
“Menikmati pesta Ha Na?” tanyanya.
“Kurasa begitu,” jawabku asal.
“Hm, aku lupa menyampaikan beberapa hal kepada Yong Hwa oppa. Aku suka sekali tas dari rusia itu. Aku sampai tak enak hati, ia langsung mengantarkannya ke apartemenku begitu sampai di Korea. Kau tak keberatan kan meyampaikan itu padanya?” tanyanya dengan suara dimanis-maniskan.
“Dengan senang hati,” aku tak tahu ekspresi apa yang kutampakkan saat ini. Yang kutahu hanyalah aku ingin memberikan senyum paling busuk yang pernah dilihat orang.
“Terima kasih,” katanya sambil lalu.
                Aku berjalan sambil membentuk tinju di tanganku. Kukepalkan kuat-kuat. Aku mengatupkan rapat-rapat mulutku. Aku ingin teriak, tapi tak di sini. Kepalaku berdenyut sakit. Aku tahu kemarahan ini menyulut sarafku untuk membuat aliran darah semakin cepat dan jantung tak mau kalah bersaing dengan aliran darah itu. Kau harus bisa menahannya Ha Na, kata suara dalam kepalaku. Ingat image-mu. Aku mencari pintu keluar dari ruangan ini. Aku mau pulang.
                Namun siapa sangka orang yang menjadi subyek pembicaraanku dengan wanita jalang itu muncul dihadapanku. Yong Hwa dengan girangnya menirukan posisi orang berdansa. Ia ingin mengajakku menikmati alunan musik Waltz yang mengalun. Tapi aku tak bisa melawannya, tak bisa. Tinjuku sudah kuayunkan sekuat-kuatnya ke perut Yong Hwa. Air mataku tumpah.
                Ruangan riuh melihat insiden itu. Yong Hwa berlutut sambil memegangi perutnya yang kesakitan habis kena tonjokan. Aku berlari meninggalkan ruangan. Terus berlari sepanjang lorong hotel dan berhenti sebentar untuk menangis.
“Ha Na...” aku kaget saat mendengar suaranya. Aku berhenti tidak sebentar rupanya. Ternyata cukup lama sampai Yong Hwa pulih dari kesakitan dan mengejarku.
“Apa yang terjadi?” tanyanya menuntut penjelasan.
“Apa yang terjadi? Tanya dirimu apa yang terjadi. Kau mau semua ini berakhir? Tak masalah, akhirilah. Kalau kau lebih memilih mengantarkan oleh-olehmu untuk perempuan itu dari pada bertemu denganku, lakukanlah,” kataku sambil menunjuk dada dan mendorongnya. Ia tampak bingung.
“Aku tak mengerti,” ujarnya berusaha mengehentikanku. Aku berbalik dan menatapnya menantang.
“Oh satu hal lagi. Ia suka tasnya... oppa,” kataku dengan nada mengejek saat menyebut oppa. Yong Hwa terdiam.
***
22.30
                Aku tak tahu apa yang akan dikatakan Yon Ju saat mengetahui aku pulang sendiri selarut ini ke pinggiran Seoul yang tak seramai bagian lain kota. Aku sudah berhenti menangis saat menaiki taksi. Satu setengah jam yang lalu. Aku malu kepada supir taksi. Bayangan-bayangnya saat mengejarku, permintaanya agar aku tinggal dan mendengar penjelasannya, hal-hal itu yang terus bermain di otakku. Oh Yong Hwa, kau brengsek. Dan aku benci karena terus memikirkannya sampai taksiku tiba di depan rumah susun murah itu.
                Aku memasuki lobi setelah memperbaiki gaun malamku. Berusaha menghapus jejak-jejak tangisan di wajahku, walau mungkin untuk menghilangkan maskara agak sedikit susah. Ada lima orang yang sedang menunggu lift. Dua dari lima orang lelaki itu mabuk. Lalu dua temannya berusaha menyokong mereka. Lelaki yang satu lagi sepertinya bukan bagian dari kelompok itu karena ia tak ikut dalam kesibukan. Enam orang ditambah aku.
                Lift sangat penuh saat kami masuk. Kami membentuk tiga baris dalam lift. Aku berada di baris kedua, di samping pria yang sedang menahan temannya yang mabuk di depannya. Kukira hanya perasaanku saja sampai kudapati memang benar pria di sampingku melirik ke arah dadaku sejak kami masuk. Dia mengalihkan pandangannya saat tahu aku sadar.
“Nona, kau mau bertukar tempat denganku?” tanya pria yang bukan dari kelompok itu. Aku menurutinya dan pindah ke belakang, di samping seorang pria teler. Pria yang tadi di sampingku menatap pria yang berganti posisi denganku dengan kecewa.
                Lift telah sampai di lantai 3, kelompok itu segera keluar dengan susah payah. Bau minuman keras menghilang dari dalam lift juga, menyisakan aku dan pria yang bertukar posisi denganku.
“Aku tak akan berkeliaran selarut ini dengan gaun malam seseksi itu kalau aku jadi wanita,” ujarnya datar. Aku tersinggung. Aku tak suka caranya meremehkanku dan aku berusaha melawan.
“Hahahaha,”aku tertawa “kalau kau mau, kau bisa ikut melihatnya, tampan,” godaku dengan tatapan nakal. Pandangan pria itu tetap ke depan.
“Aku pantas mendapatkan lebih dari sekedar melihat itu. Aku hanya ingin permintaan maaf,” katanya. aku bingung maksud perkataannya.
“Memangnya apa yang telah kuperbuat padamu oppa? Apakah aku mengenalmu?”  tanyaku manja.
“Sekarang belum. Tapi kita akan saling mengenal nanti, tetangga,” ujarnya saat pintu lift terbuka dan ia langsung keluar meninggalkanku. Tetangga? Aku mengikutinya dari belakang dan melihat ia masuk ke flat nomor 36. Ia adalah pria yang kutabrak tadi pagi.

***

Jumat, 25 Oktober 2013

The Flat 1

Mobil ini terus saja melaju di jalanan  Seoul yang becek sejak tiga puluh menit yang lalu. Aku tak tahu mau dibawa ke mana. Hari ini mendung. Begitu pula hatiku, karirku, dan masa depanku. Kami baru saja pulang dari kantor penerbitan, aku dan wanita yang menyetir di sebelahku ini. Wanita 45 tahun yang selama dua belas tahun ini kuanggap sebagai ibuku, namun tidak lagi sejak vonis hukuman itu dijatuhkan tepat tiga puluh menit sebelum mobil kami melaju.
“Kau tidak bisa melakukan ini padaku,” kataku sambil menatapnya dingin. Ia diam saja.
“Kau dengar aku?” tuntutku. Ia masih diam. Aku tak tahan lagi. Kugenggam tanganku dan kugedor kaca jendela mobil sekeras-kerasnya. Air mataku jatuh dan emosiku meluap.
“KALAU BEGITU PUTUSKAN SAJA KONTRAKNYA!!!! APA KAU MAU MEMBUATKU GILA DENGAN MENGISOLASIKU DI PINGGIRAN KOTA!!!” 
Yes, kata-kataku manjur. Ia segera menepikan mobilnya dan memelototiku. Aku membalasnya dengan tatapan tak kalah murka. Dadanya naik turun cepat sekali. Kutahu ia marah. Tapi dengan cepat ia mengendalikan diri, memandang ke depan sebentar, menari napas, lalu menghadapiku lagi. Mukanya jauh lebih tenang.
“Dengarkan aku. Aku sedang berusaha menyelamatkanmu sekarang, menyelamatkan karirmu! Ha Na, kau sudah mengenalku selama dua belas tahun ini sejak aku menjadi mentormu. Kau tak perlu pusing-pusing memikirkan pemutusan kontrakmu karena mereka akan segera melakukannya setahun lagi jika kau tak berubah! Kau terlalu binal kata mereka dan tulisanmu terlalu biasa selama dua tahun ini. Nak, kau punya potensi, aku tahu. Namun sayang, sekarang kau minim inspirasi,” katanya sambil menatapku teduh. Tangannya mengelus pundakku. Aku tahu, masa pengasinganku tiba. Aku terisak.
***
                Kami tiba di depan rumah susun sewa itu. Lima lantai dengan dinding bata merah yang tak diplester. Kuamati jalan di hadapannya. Tak banyak lalu lalang seperti bagian lain di kota ini. Tak ada pencakar langit.
“Ayo masuk,” ajak mentorku. Aku mengikutinya.
                Kami memasuki ruangan kecil yang mentorku sebut sebagai lobi. Tak salah juga, karena memang ada meja resepsionis dengan wanita bermuka menyenangkan yang kutebak sebagai resepsionisnya. Ada sofa dengan mejanya. Tangga terletak di belakang meja resepsionis dan ada lift! Kuanggap semua ini terlalu berlebihan untuk ukuran rumah susun sewa dengan harga semurah ini.
“Selamat datang nona,” katanya sambil tersenyum ramah.
“kamarnya sudah disiapkan nyonya Lee? Ha Na yang akan menempatinya,” kata mentorku sambil tersenyum.
“Tentu saja sudah kusiapkan. Kamar itu memiliki pemandangan yang paing bagus di antara yang lain, hahaha. Nona, anak-anakku suka sekali membaca novelmu,” lanjutnya.
“Terima kasih,” jawabku seadanya.
                Kami memutuskan untuk lewat tangga saja sambil melakukan orientasi terhadap tempat tinggalku yang baru. Rumah ini terdiri dari dua sayap. Masing-masing sayap memiliki empat kamar alias flat di tiap lantai sehingga terdapat empat flat. Sepanjang perjanan kami sempat bertemu dengan beberapa penghuni. Ada beberapa yang mengenalku dan berjingrat-jingkrat, ada yang tersenyum saja, ada yang tak memberikan respon. Mungkin tak mengenalku. Aku sempat mengumpat dalam hati karena flat ku terletak di lantai paling atas. Lantai lima.
“Selamat datang di rumahmu yang baru! Kau mungkin mau berkeliling sebentar?” tanyanya.
                Aku berjalanan meyusuri ruang tamu. Ada ruang tivi lengkap dengan sofa dan mejanya. Dekat ruang tamun terdapat jendela transparan besar yang jika digeser, terdapat balkon yang mengarah ke belakang rumah. Di sisi lain ada dapur beserta perlengkapannya dan meja makan. Aku mengecek keran cuci piring, airnya mengalir. Aku menuju ke bagian paling vital rumah bagiku, kamar. Oke, cukup baik. Flat ini kecil, tapi cukup nyaman.
“Panas sekali. Apa mereka tak memasang ac di sini?” tanyaku.
“Kalau kau mau kau bisa memasangnya sendiri nak. Dan kau mesti menambah biaya listriknya,” dahiku berkerut, alisku menyatu. Mentorku tertawa melihatnya. Aku sudah cukup miskin dengan pembatasan uang yang dilakukan mentorku itu.
“Kau bisa menempati flat ini besok. Sebelum ke pesta ulang tahun pernikahan direktur pastikan barang-barangmu sudah siap semua di sini. Mulai dari awal hidupmu. Lebih sederhana, pahami hidup. Buatlah image baru tentangmu. Kau bisa nak, kau punya potensi. Hanya butuh sedikit inspirasi,” katanya sambil menyibakkan rambut di depan mataku. Aku memeluknya.
“Kau tak akan menahan mobiku kan?” tanyaku dengan tatapan memohon.
“Kurasa kita harus memakirkan si merah di garasiku dulu,” jawabnya sambil tersenyum.
“Tapi....”
“Jalur bis di sini lancar. Kau harus menghemat karena aku akan memotong uang bulananmu. Barangkali kau bisa meminta oppa mu menjemput? Bukankah ia akan senang?” godanya. Aku mendengus panjang.
***
                Nomor 35 dari kuningan menandai nomor flatku. Aku baru saja selesai membereskan barang-barangku sampai yang tersisa hanya foto-fotoku dengan Jung Yong Hwa. Aku sempat menggantungya di ruang tivi tadi. Tapi kulepas. Entahlah, aku hanya tak ingin menggantungnya. Aku menatap gambarnya. Jung Yong Hwa. Aku tak pernah berhubungan selama ini dengan laki-laki, kecuali dengannya. Lima tahun. Dan kali ini ia tak cukup bisa memberi Kim Ha Na –penulis yang karirnya mulai redup ini- inspirasi.
                Namaku Kim Ha Na. Dunia menulisku sudah dimulai sejak aku masih TK. Masih amatiran. aku tak bisa menghitung berapa banyak karyaku. Jika kau mengunjungi rumahku di Incheon, maka kau akan mendapati selemari penuh piala lomba menulis sejak TK-SMA. Namun bintangku mulai bersinar saat aku menelurkan novelku yang pertama. Dua belas tahun lalu. Novel tentang keluarga, cinta, dan persahabatan. Novel berjudul ‘Embrace’ yang berhasil terjual satu juta kopi di seluruh Korea. Novel yang berhasil mengantarkanku menerima penghargaan dari Cheong Da Wae alias Blue House. Novel yang mengantarkanku ke puncak popularitas. Novel yang mempertemukanku dengan Bae Yon Ju, mentorku itu.
                Lalu kenapa aku bisa sampai di Seoul? Sebenarnya kalau bukan demi karir, aku tak akan mau pergi dari Incheon. Penerbit memintaku untuk meanjutkan kuliah di Jurusan Sastra dan Literatur Korea. Mereka ingin membentukku menjadi penulis yang di masa depan dapat menjadi seorang maestro. Seorang professor. Yang nanti akan menjadi peraih nobel sastra. Mungkin. Dan Be Yon Ju adalah salah satu senjata mereka. Almamaternya sama denganku, Universitas Seoul. Dari jurusan yang sama pula. Dan ia diutus untuk memolesku menjadi penulis yang handal sejak aku menandatangani kontrak pertamaku dengan penerbit terbesar di Korea itu.
Dan sekarang apa yang telah diatur untukku akan hancur  kalau aku tak mengubah sifatku. Well, kurasa itu fase yang normal dalam kehidupan manusia. Fase remaja, fase pergolakan. Kuliahku belum selesai, aku sering jadi bahan gosip di media, tukang pesta, dan yang jadi masalah terbesarku adalah kualitas tulisanku yang semakin menurun!
Aku inga kata-kata bos penerbitku saat itu:
“Ha Na, aku merasa ada sesuatu yang salah denganmu. Selama 2 tahun terakhir penjualan bukumu turun dan kualitas tulisanmu sangat buruk. Kami ingin kau berhenti menulis cerita tentang cinta remaja tanggung dan mengubahnya ke topik yang lebih berbobot. Kau seorang wanita muda sekarang bukan seorang remaja yang sibuk dengan kisah asmara terus! Kami mengharapkan kau dapat menjadi sastrawan besar nanti, bukan seorang tukang pesta dengan tempramen mengerikan! Ada banyak bibit penulis hebat di luar sana, dan jika kau tidak bisa membuktikan bakatmu selama satu tahun ke depan, kami bisa menendangmu,”
Kalimat itu masih terus ternginang di telingaku. Aku merinding. Kubuka bungkusan baru rokok, menyalakan satu batang, dan menghisap dalam-dalam. Kupejamkan mata menikmati asap yang mengepul dalam mulut. Yang kupikirkan sekarang adalah lelaki itu. Ayah. Ayah yang sejak umur 8 tahun tak kulihat lagi. Aku menghembuskan asap pelan-pelan bersama kenangan tentangnya. Memori terakhir tentangnya yang dapat kuingat adalah ayah memukul ibu, lalu terdengar tangisan adikku yang masih berumur 2 tahun. Ibu menjerit dan ayah pergi begitu saja. Aku tak pernah kenal siapa lelaki itu,kecuali tempramennya, tak beda jauh dariku.
Aku kaget ketika hapeku berdering. Yoon Ah. Astaga, aku lupa telah janjian dengannya.
“Anyeonghaseyo. Ne. Aku akan segera ke sana. Tunggu oke?  Bye,”
                Sial, kenapa aku sampai lupa? Kuganti pakaianku. Dan kuambil langkah seribu. Aku keluar dari flatku dengan tergesa-gesa, menguncinya , mulai berlari ketika pintu di depanku terbuka dan aku menabrak pemilik flat di samping flatku.....
PRAAANGG!!!

                Mangkok yang dipegangnya jatuh ke lantai. Aku tak memiliki banyak waktu, jadi langsung kutinggal saja ia. Toh aku tak sengaja. Aku terus belari sampai di belokan menuju lift aku berbalik untuk melihat keadaannya. Pria itu mematung dengan mata melotot ke arahku. Aku tak peduli dengannya, lagi pula itu kecelakaan, siapa suruh tak melihat orang yang sedang terburu-buru?

Sabtu, 23 Februari 2013

Cinta atau Tidak



Cinta...
Tidak cinta...
Cinta...
Tidak...
Kalau aku cinta, kamu mau bilang apa?
Kalau aku tidak cinta, kamu mau bikin apa?
Kalau aku cinta kamu, apa  kamu juga cinta aku?
Kalau aku tidak cinta kamu, apa kamu juga masih cinta aku?
Semarang, 15 Februari 2013 15.53

Siapa yang Mengetuk Malam-Malam?




Siapa yang mengetuk malam-malam?
Kamu?
Bukan?
Lalu siapa?
Siapa yang mengetuk malam-malam?
Saat hujan turunnya deras
Saat hari terasa lebih gelap dari hitam
Saat kilat menyambar
Apakah dia?
Bukan juga?
Lalu siapa?
Siapa yang mengetuk malam-malam?
Saat guntur dan ketulian yang terasa
Saat lolongan anjing membahana
Saat ternyata listrik padam
Suasana senyap
Dan terdengar...
Tok..tok...tok...
Aku?
Bukan?
Lalu siapa?
Siapa yang mengetuk malam-malam?
Semarang, 15 Februari 2013 16.18

Puisi ini terinspirasi dari pengalaman di manokwari dulu. Saat itu di kompleks kami (manokwari secara umumnya) sering terjadi  pemadaman listrik bergilir. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di umur tiga tahun, pemadaman listrik merupakan hal yang paling menyebalkan dan menakutkan.  Pada saat itu kami sekeluarga akan menyalakan lilin yang hanya berukuran 15 cm. Lalu muncul berbagai lilin dengan model dan ukuran yang menjadi primadona di antara tetangga kompleksku disusul dengan kepopuleran lampu emergensi kotak yang bis di-recharge (papa pernah mengomeli tetangga kami yang tak terlalu dekat dengan kami karena menjual lampu emergensi, lampu itu baru beberapa kali dipakai dan langsung rusak. Mahal bro di zaman itu, sekitar tahun 2003), setelahnya, muncul lampu  emergensi lebih kecil dan lebih murah dari sebelumnya (ini favorit papa. Karena sejak mengenal lampu ini, setiap ia, atau anggota keluarga lain yang ke jawa, selalu menyuruh untuk membeli benda itu. Sekitar tahun 2008). Keluargaku sih hanya ikut arus (seringnya tidak). Dan di saat pemadaman itu, terkadang aku dan kawan-kawan kecil bermain di luar. Lari-lari ke sana ke mari, main cina buta (dulu aku ingin sekali terus memainkan permainan ini, karena selalu belum puas bermain lantaran terlambat bergabung, main jadi-jadian, dan sebagainya. Yah, masa kecilku. Lalu saat kami mulai lelah dan listrik belum juga menyala, malamku mulai menyeramkan.  Di rumah, kami sekeluarga berkumpul di depan tv, ngobrol, menyanyi bersama, dan tertawa-tawa gak jelas (pasti kedengaran tetangga -_-). Terkadang sambil makan lesehan di lantai dengan penerangan lilin (nah, inlah yang namanya candle light dinner, haha =D). Setelah itu aku dan kedua adiku akan bermain dengan lilin tersebut. Menyeberangkan jari melewati lilin, melapisi kuku kami dengan lelehan lilin, menjadikannya seperti kuteks, membuatnya semakin tebal dan semakin panjang, lalu saling beradu. Kadang malah lebih ekstrem, yaitu menggunakan sisi jari di bagian telapak tangan, sehingga jika kamu melapisi jarimu, maka syaraf-syaraf di bagian itu akan mentransmisikan rasa panas ke bagian otak, yang akan merangsangmu untuk menarik tanganmu sebagai bentuk pertahanan diri (masih ingat kan nama reseptor panas di kulit? Yap, ruffini :D). Kemudian kami satu-satu jatuh tertidur dengan lilin yang tetap menyala di lantai, yang di pagi hari menyisakan lelehan lilin yang telah membeku kembali (mama sering kali mengomeli kami, karena jika kamu mencabut lelehan yang telah membeku kembali itu, maka akan tersisa bekas berwarna putih di lantai yang sulit sekali dibersihkan).
Ya, itulah sebagian sisi romantis pemadaman lampu di masa kecilku. Tetapi akan mengerikan jika lampu mati terjadi bersamaan dengan hujan deras, makin lama lilin mengecil lalu habis, dan yang paling parah adalah saat ada seorang atau lebih anggota keluargamu yang tidak ada di rumah. Yang terakhir ini akan membuatmu menanti dengan was-was, takut terjadi apa-apa dengan mereka, ataupun karena kamu tak mampu beraktivitas di rumah sendiri karena kurangnya orang. Kemudian kamu akan menambah kesensitifan indra pendengaranmu terhadap setiap suara di luar, mulai suara mobil, motor, orang berjalan, ketukan di pintu, sampai ucapan salam yang beradu dengan suara gemuruh hujan. Dan saat orang yang dirindu muncul, kamu akn mengucapkn syukur, lalu berharap mereka tidak akan meninggalkanmu lagi di malam yang kelam karena pemadaman listrik, kamu akan selau berharap keluargamu utuh, hahaha :D. Lalu saat terdengar suara guntur, disusul dengn lolongan anjing, kamu dan saudara-saudaramu, bahkan orangtuamu, akan saling berpelukan saling menghangatkan, sampai akhirnya jatuh tertidur. Yah, pemadaman lampu, akan membuat dirimu merasa betapa berharganya orang di setiap waktu hidupmu, di setiap detiknya. Bahkan berharganya orang tak dikenal yang kita temui begitu saja di jalanan, aku baru sadar, bahwa kita saling berbagi kehidupan. Dan moment-moment kecil dalam hidupku dimasa muda (hah? Apaan nih -_-), moment-moment itu adalah harta karun, aku jadi menyesal kenapa dulu (sampai sekarang sih)tidak  menulis buku harian (seharusnya pelajaran bahasa indonesia harus membiasakan dan memaksimalkan keterampilan ini, karena dengan menulis buku harian, bisa menambah kemampuan mengingat kita).
Yaa Allah, jagalah keutuhan keluarga kami, kami saling menyayangi satu sama lain. Mudahkanlah papa, mama, riko, dan ragil. Jagalah mereka, sayangilah mereka. Aku baru sadar bahwa mereka adalah orang-orang terpenting di hidupku, sangat berarti. Setiap moment dengan mereka adalah saat-saat terindah. Aku ingin bersama mereka, di dunia dan di surga kelak. Aku menyayangi dan mencintai mereka. Jagalah Yaa Allah. Aamiin J



Kamis, 14 Februari 2013

Burjo Boim

Aku tersentak saat berbelanja di supermarket. Uangku sisa Rp20.000,00. Keningku mengernyit. Semenjak libur ini aku belum mengecek kalender di kamar kos lagi, tapi bisa kutebak sekarang tanggal 28. Ya, dan aku benar. Semenjak menjadi anak rantau, aku beradaptasi di segala aspek kehidupan, terutama dalam mengisi perut. Sebenarnya bukan aku sih yang beradaptasi, tapi dompetku, dia tak pernah menjadi lebih tebal seperti dulu. Dan tempat pelarian dalam krisis seperti ini biasanya adalah burjo. Sebenarnya makan di burjo dulu hanya dalam khayalanku saja, ternyata aku salah. Tapi kupikir makan di burjo sama saja, tak lebih murah dari makan di warteg biasa. Jika kamu pikir kamu bisa selamat dari godaan untuk jajan, mungkin kamu memang bisa lebih hemat. 

Sepulang dari supermarket, aku tak langsung pulang, tapi kuputar motorku ke arah yang lain. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk menjalin silaturahmi kembali dengan kakak sepupuku. Namanya Boim. Dia satu kota denganku, tapi jarang aku menemuinya, bukan jarang sih, aku berkunjung berdasarkan periode waktu, yaitu di saat-saat seperti ini. Saat di mana uangku tak ikhlas keluar dari dompet, tapi kebutuhan gizi memang harus dipenuhi. Masih di  khayalanku, dulu aku percaya bahwa tidak seorang pun anggota keluargaku akan bermain dalam bisnis burjo, dan sekarang aku salah lagi.

Boim. Aku yakin semua orang yang mengenalnya akan terkaget-kaget ketika mengetahui usaha abangku itu. Anak urakan yang menurut khayalanku dulu pasti tak akan bisa berdiri di kakinya sendiri, yang akan menggelantung di lengan ibunya untuk minta jajan seperti benalu, sekarang memikul tanggung jawab besar yang diberi ibunya. Sebenarnya yang aku heran kenapa budeku itu berani-beraninya menyerahkan warung bermodal awal 20 juta itu padanya, dan kenapa Boim yang kepala batu dan bisanya cuma main saja itu akhirnya sadar, bahwa ia punya kehidupan sendiri. Tapi yang paling membuatku penasaran, kenapa nama burjo Boim begitu konyol? Seperti tak ada nama yang lain saja. Namun sepertinya, memang ada sesuatu di balik nama itu: 'Monalisa Esmeralda'

Dan sekarang Boim melepas napas panjang sambil duduk di atas kursi plastik merek *****. Kelihatannya ia bertambah gendut, dengan perut yang mulai membucit. Ia tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa ia mulai tua. Asap rokok mengepul keluar dari mulut, hidung, dan telinga. Kemudian ia menatapku yang sedang menyantap intel buatannya. Pandangannya teduh penuh arti ketika kuberi ia pertanyaan yang membuatku bingung itu.

"Hah, aku belum pernah menceritakan ini sebelumnya. Tapi karena kau orang pertama yang menanyakan ini, maka akan aku jawab. Sejak pertama kali merantau..."
"Uhuk..uhuk.. bagaimana mungkin kau sebut tinggal sejauh 20 km dari mamimu itu merantau????" tanyaku tak setuju. Ia mengernyit.
"Hei, tinggal sendiri seperti ini jauh dari mami dan, aakkhh, lupakan. Itu benar-benar menyesakkan. Aku rindu padanya siang dan malam. Kamu tahu betapa sakitnya itu? Dan berdasarkan buku yang kubaca, itu adalah karakteristik orang merantau!!" jawabnya sambil melotot. Aku hanya diam sambi mengusap bulir-bulir liurnya yang sampai di wajahku.
"Mau dengar tidak?" tanyanya. Aku mengangguk. Dan sepanjang ia bercerita. aku tak sadar telah menitikkan air mata. Siapa nyana, Boimku ternyata memiliki kisah yang begitu menyayat hati....

****
 Boim, pemuda tanggung berbadan bidang, tinggi tegap dengan wajah rupawan ini adalah atlet bulu tangkis di sekolahnya. Dalam sistem kasta di sekolah, ia termasuk dalam golongan Ksatria, mungkin bisa saja Brahma jika pada saat itu ia cukup gila untuk memakzulkan kepala sekolah. Siapa yang tak kenal dia? Anggota elite OSIS ini pintar bersilat lidah, tak heran banyak siswi yang berjejer di belakangnya, memohon kemurahan hati, bahkan sampai-sampai menjatuhkan diri di hadapannya untuk diangkat sebagai kekasih. Melihat remaja flamboyan dengan dandanan parlente ini pasti dengan mudah ditebak bahwa ia telah menjatuhkan hati pada gadis yang tak kalah populernya. Monalisa.

Monalisa, gadis manis berlesung pipi, berambut hitam panjang tergerai, adalah ahli perbintangan di kota tempat jalannya cerita Boim ini. Ia adalah wakil kotanya dalam olimpiade sains bidang astronomi tingkat nasional. Konon katanya, keberhasilan Monalisa menjerat Boim tidak jauh-jauh dari keahliannya dalam astronomi. Suatu malam saat mereka selesai belajar kelompok, keduanya duduk di teras sambil memandangi bintang. Monalisa mengungkapakan bahwa zodiak mereka cocok satu sama lain, dan ini merupakan hal yang besar bila mereka bisa bersama. Sejak saat itu, mereka berdua bagai sepasang merpati yang sulit sekali dipisahkan, dan tak bisa dielakkan lagi bahwa mereka memang saling jatuh cinta.

Ayah Monalisa adalah seorang politisi lokal terkenal yang pada saat itu menjabat sebagai ketua parlemen setempat (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah). Ayahnya secara kebetulan adalah teman baik papi Boim yang merupakan pejabat tinggi militer di kota mereka. Sehingga terdengar desas-desus di antara teman-teman sekolah Boim jika jalan menuju pelaminan bagi mereka berdua sudah terbuka lebar, mengingat kedua keluarga papan atas di kota itu sudah saling mengenal.

Angin politik pada tahun 90-an tak menentu. Demo di mana-mana. Orang-orang yang menyebut diri mereka mahasiswa itu  berteriak-teriak di jalan, menuntut presiden yang berkuasa lebih dari tigapuluh tahun untuk  mundur. Kekusutan politik mulai berhumbus sejak ketidakpastian ekonomi menggoncang negeri ini. Kata orang-orang pintar, hutang kita melonjak, IMF menjebak. Kabarnya, orang-orang dalam lingkar kekuasaan menggerogoti  daging saudara sendiri: korupsi besar-besaran terjadi. Dan yang Boim dengar pada saat itu adalah negara dalam kondisi darurat, ada yang mengatakan: akan chaos

Boim melihat papinya sibuk bukan main. Rapat ini itu. Bahkan sekarang hampir tidak pernah lagi sempat menatapnya sambil berkata bangga: 

"Lihat mukamu, tubuhmu, mirip aku sekali. Kelak kau pasti akan jadi jenderal hebat, seperti presiden kita, bintangnya ada lima, hahaha" 

Boim tersenyum jika mengingatnya. Indonesia memang kacau pada saat itu, tapi Boim tak terlalu peduli. Selama tim Indonesia masih bisa memenangkan piala Thomas, apa yang perlu dikhawatirkan? Dan selama masih ada Monalisa, jiwaku mash tetap utuh, begitu pikirnya. Monalisa, wanita lain yang berbagi tempat dengan mami Boim dalam hati lelaki itu. Tak ada yang lain, hanya mereka berdua, dua hawa yang paling dicinta Boim. 

Semakin lama, keadaan semakin kacau. Orang yang demo itu makin gila-gilaan. Papi semakin sering rapat. Pernah Boim mendengar papinya berkata pada maminya: "Aku harus apa? Melindungi rezim atau mengabaikan anak bangsa sendiri?" 

Benar, kedaan memang makin memburuk, karena Monalisa ikut-ikutan bicara politik, bahwa keadaan makin tidak aman. Mereka sedang berjalan-jalan di tepi pantai ketika Boim melihat Monalisa begitu rapuh saking takutnya. Boim meraih tangannya, kemudian mengenggamnya, menguatkan kekasihnya. 
"Keluargaku terancam, ayahku adalah anggota partai berkuasa sekarang, bukan tidak mungkin ia akan diserang orang demo yang makin barbar itu, hiikkkss.. Kamu tahu, ia pernah diancam orang.." Monalisa tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Tak perlu takut. Kita aman. Papiku adalah pejabat militer yang genius. Percayalah padaku" kata Boim. Ia menatap lekat-lekat wajah cantik itu. Monalisa sesenggukan, lalu mengangguk.

Gelombang mahasiswa masih belum mereda. Bahkan sekarang Boim tak begitu yakin pada stabilitas negeri ini, bahkan pada papinya. Mami terlihat khawatir saat papi pergi. Monalisa menelopon Boim siang itu, minta bertemu. Saat sekolah tadi, Monalisa menghindarinya. Entah mengapa. Dan saat di kelas Boim mencuri pandang ke arahnya, didapatinya Monalisa juga sedang memandang padanya. Ketika akhirnya mereka bertemu di tempat yang dijanjikan, Boim tersadar itu akan menjadi pertemuan yang terakhir. Monalisa berurai air mata. Ia bertanya pada Boim apa yang harus dilakukannya, tapi Boim diam. Boim tahu, mereka tak bisa melakukan apa-apa. Mereka akan terpisah. Keluarga Monalisa tak sanggup menahan ancaman orang tak dikenal. Monalisa akan ke Amerika besok.

Boim berbaring merana di kamarnya. Separuh jiwanya pergi. Boim tak ingin mengingat kejadian tadi siang, ia yakin mereka akan bertemu kembali. Ya, Boim ingin melupakan perpisahan itu kecuali sentuhan lembut bibir Monalisa pada bibirnya tadi siang. Kecupan pertama dan terakhir yang pernah Boim alami.

Siapa yang harus disalahkan? Siapa yang harus di salahkan untuk setiap kejadian tragis dalam hidupnya? Untuk kepergian Monalisa! Bahkan untuk kepergian ayahnya sekarang!  Beberapa minggu yang lalu saat Boim pikir kakinya masih menginjak tanah. Pada hari naas itu, di pertengahan maret, ketika kerusuhan sudah mulai merangsek sampai kota Boim, papinya menghilang! Lusanya ketika Boim pulang sekolah, yang didapati di rumahnya adalah susunan kursi dan tenda, serta bendera putih. Papinya telah dihabisi orang.  Entah siapa. Entah orang-orang di belakang presiden tua itu, entah mereka yang teriak-teriak minta reformasi. Yang Boim pikir saat itu adalah: sekarang ini titik kehancuran hidupnya. 

Boim tak tahu lagi alasan apa untuk dia hidup. Untuk bersama Monalisa menghitung banyaknya bintang tiap malam, atau untuk jadi jenderal hebat berbintang banyak seperti pinta ayahnya. Pastinya bukan untuk keduanya sekarang. Dan ketika kamu menjauhkan diri dari cahaya, lalu mulai masuk dalam kegelapan, kamu benar-benar tersesat. Ya, Boim melangkah terlalu jauh sekarang, dan dunianya berhias lampu disko kelap-kelip, serta butir-butir obat kecil. Jika ada reformasi untuk negeri ini, tentu ada reformasi untuk dirinya, begitu pikir Boim tiap malam. Reformasi yang ditandai dengan tato di sekujur tubuhnya. Di saat maminya berusaha membangun kembali hidup mereka, Boim meruntuhkannya.

Mami Boim tak pernah meyakini bahwa roda itu berputar, ia selalu berpikir bahwa keuarganya selalu berada di atas puncak. Tapi siapa yang bisa menolak sekarang? Ketika akhirnya mahasiswa dan orang-orang itu berteriak puas, dan si presiden tua akhirnya lengser, itu tak membawa perubahan apa-apa baginya keculi kemerosotan kehidupan dan suaminya yang telah tiada. Atau Jangan-jangan, putra semata wayangnya juga ikut berubah? Begitulah kata orang-orang terdekatnya. Boimnya sering pulang malam, sekolahnya berantakan. Tapi mami begitu naif dengan menyangka bahwa memang itulah yang terjadi pada remaja seusia Boim yang kehilangan papi. Bahwa tidak mengenal putranya sendiri merupakan fase yang harus dilewati setiap orang tua. Maminya harus bekerja keras untuk menyokong hidup mereka, untuk terus bertahan dalam kehidupan borjuis mereka yang dulu, untuk terus mendukung anak satu-satunya yang selalu butuh uang lebih untuk alasan yang maminya tak tahu. Sampai pada suatu titik di mana mami Boim sadar, bahwa mereka bangkrut. Dan kebangkrutan itu membuka mata mami Boim, anaknya bukan Boim yang dulu, melainkan  seorang berandal.

Ya, reformasi memang merubah segalanya. Boim dan maminya menjalani hidup yang berbeda. Dan yang terjadi setiap mereka satu meja makan di rumah yang kecil itu adalah pertengkaran. Pertengkaran yang terakhir terjadi menyebabkan Boim minggat. Ia tak pulang sampai tiga hari dan mami rindu. Ia selalu berharap pintu depan rumah akan diketok anaknya, tapi harapan itu selalu meleset. Begitu pun setelah shalat ashar ini, seusai berdoa, dibukanya pintu depan dan yang didapati bukan Boim, tapi beberapa temannya. Muka mereka gusar.
"Ada apa?" tanya mami.
"Boim tante, overdosis.."

Mami berjalan cepat sekali. Langkahnya panjang-panjang, dan sudah beberapa kali menabrak orang. Cukup sudah dengan kepergian suaminya, kali ini jangan anaknya. Mami menyusuri lorong rumah sakit, mencari kamar putranya, membukanya, dan mendapati Boim terbaring lemah di ranjang. Ia masih sempat tersenyum menyambut maminya yang berjalan semakin dekat dan Boim tahu, mami pasti sedang menahan tangis. Sampai pada ujung ranjangnya, Boim kaget ketika mami mengayunkan tas tangannya tepat ke kepala, badan, dan segala bagian lain dari Boim yang dapat ia jangkau.
"DASAR!! APA YANG KAMU PIKIRKAN, BRENGSEK KAU???!!!" kata mami sambil terus menghajar Boim.
"Aduh.. aduh.. apaan sih mam?"
"KAMU HANYA BISA BIKIN BEBAN SAJA!!! KAMU TAHU BERAPA UANG YANG HARUS KUKELUARKAN UNTUK BIAYA RUMAH SAKIT INI HEH???" mami masih menghajar anaknya, tidak peduli pasien lain yang terheran-heran, tak pedulli beberapa perawat dan teman Boim yang menghalanginya memukuli pemuda itu . Anak ini, memang harus diberi peajaran.

Kedua anak-beranak itu hanya dalam diam sejak tadi. Mami duduk di kursi di pinggir ranjang Boim, pandangannya lurus melewati anaknya. Mami muak betul melihat muka Boim. Boim sesekali melirik maminya. Ahh, badannya masih ngilu bekas dipukuli mamiunya sendiri.

"Mam," kata Boim akhirnya, "Maaf" mami masih tak bergeming.

"Mamm...."

"Apa lagi sekarang? Masih belum puas setelah hampir mampus karena narkoba heh?" mami memalingkan muka dari Boim lagi. Boim menunduk. Mereka diam sampai mami mulai berkata lirih:

"Sudah lima tahun sejak reformasi, dan aku baru tahu putraku seperti ini, haha," mami seperti meledek dirinya sendiri. "Apa kau jadi begini karena kepergian Monalisa dan papi?" tanyanya lagi. Boim diam.

"Kau begitu sedih. Apa kau pikir aku tidak?" mami menarik ingusnya, "Apa kau pikir aku akan rela jika akhirnya aku kehilangan dua pria penting dalam hidupku?" mami berhenti sebentar mengatur emosi. Boim memandangnya tajam.

"Apa kau tak punya alasan lain untuk hidup 'nak? Bagaimana dengan aku? Jika aku memang tak sepenting itu, mungkin baik untukku bila Tuhan mengambilku sekarang," ia berhenti bicara. Bahunya naik turun karena menangis. Boim tak kuat lagi. Ia raih lengan mami, dan merangkulnya. Mereka berpelukan lama sekali. Dan Boim pikir ia telah sembuh dari narkoba. Ia pikir optimisme mami adalah penawarnya. Ia punya alasan untuk tetap hidup, setidaknya untuk mami. Ia sudah sembuh.

Dan seiring berjalannya waktu, reformasi terus bertambah tua, perubahan memang terjadi, tapi status negara ini tak lekas beranjak dari 'negara berkembang'. Nelayan masih miskin, petani juga. Namun hubungan Boim dan maminya membaik. Boim tak bisa menghilangkan begitu saja image berandalan dari dirinya di hadapan masyarakat sekitar, apalagi di keluarga besarnya. Keduanya hidup sederhana, dan pada saat itu, Boim yang menganggur terkadang membantu lelaki pemilik burjo tempat biasa ia nongkrong. Kadang mencuci piring, membuat kopi, sampai memasak mie.

Mami yang risih melihat anak perjakanya hidup tak jelas, mulai cerewet menyuruhnya mencari kerja atau setidaknya membuka usaha.
"Apa yang akan dikatakan Monalisa kelak jika ia kembali ke tanah air dan didapatinya engkau hanya sebagai pemuda pecinta burjo?" begitu selalu ocehnya. Dan selalu dijawab kesal Boim dengan:
"Kalau aku punya banyak uang, maka aku akan nongkrong di Starbuck!!!"

Boim terlalu lelah dengan kecerewatan mami sampai suatu hari ia menimpali ocehan mami itu dengan:
"Oke, kalau begitu beri aku modal, maka akan kubuka burjo!!!"tentu saja itu hanya celetukan Boim. Ia tak serius. Tapi mami yang menatapnya tajam berpikir lain. Saat melihat ekspresi Mami, Boim segera mengatupkan mulutnya. Ia yakin, Mami sedang berpikir masak-masak tentang ide itu. Boim menepok jidatnya.


***

"Nah, begitulah ceritanya. Teman Mami menawarkan lahan kosongnya untuk dibangun burjo di sini, membuatku harus tinggal jauh darinya. Tapi kuakui, bisnis burjo memang menguntungkan," ujar Boim bangga sambil mengelus jambangnya. Aku sesekali mengusap air mataku, ingin kusembunyikan isakan darinya. Abangku Boim menyimpan begitu banyak kenangan sendu ternyata.

"Lalu bagaimana dengan Monalisa? Bagaimana kabar terakhir tentangnya?" kupikir aku telah menanyakan hal yang salah begitu melihat air muka Boim yang berubah.

"Dia baik. Sebulan lalu aku bertemu dengannya saat ia mengunjungi Mami," Boim berhenti sebentar, "Haha, akhirnya aku bertemu dengannya lagi. Ia datang dengan kedua anak bulenya. Monalisa sudah menikah dengan pengusaha asing dari Belanda dan aku...," ia berhenti. Kuusap bahu Boim.

"Dan aku tetap menyisakan tempat untuknya di sini," ia menunjuk dada kirinya, "Kurasa ia melakukan hal yang sama untukku, haha. Hah, tapi mau bagaimana lagi, hidup memang harus berjalan 'kan?" Boim tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Aku lalu memeluknya. Oh Boimku! Pantas bocah ini begitu menyayangi bude dibalik kesan sangar dari penampakannya yang besar, bertato dan brewokan. Sekarang aku tahu kenapa nama burjo ini adalah Monalisa Esmeralda. Sebentar, tapi Esmeralda? Apakah itu nama panjang Monalisa?

"Oh, bukan, itu judul telenovela favorit Mami," ujarnya datar. Astaga, anak beranak ini... 








Keterangan (bagi yang belum tahu):

Burjo: Warung yang biasanya dikelola Aa' sunda. Jualannya bubur kacang ijo, nasi telur, berbagai olahan mie instan, dan sebagainya. Bertebaran di mana-mana, di segala penjuru kompleks yang banyak kosan mahsiswa. Ramai saat musim paceklik (saat kiriman orangtua belum sampai).
Intel: Salah satu menu yang ada di burjo. Kepanjangan dari indomie telur. Enak sekali. 
Esmeralda: Telenovela ini benar-benar ada. Diproduksi pada 1997. Sempat booming di Indonesia. 






Selasa, 12 Februari 2013

TARI AND HALLYU

Tik..tok...tik...tok...
Mata Tari memerah, entah karena radiasi layar laptopnya, entah karena tak sanggup menahan air mata ini lagi. Ingin menangis sesenggukan, ia menengok sebentar ke arah jam dinding. Pukul 1.45. Sial, kalau segala emosinya tercurah saat ini, seisi rumah akan terbangun. Aaakkhh, perih, tapi tak seperih hatinya saat melihat si putri dalam drama itu menunggu pangerannya. Episode yang ke empat belas. Tiga episode lagi dan tari tak perlu merana penasaran menantikan akhir cerita cinta putri dalam drama korea itu.

***

Tari berjalan gontai memasuki kelas. Ya, kata temannya sudah sejak dua minggu ini Tari melemah, ia kehilangan kekuatannya dalam segala hal, terutama dalam mengerecoki teman-temannya yang mulai menggunakan bahasa aneh-aneh. Oppa oppa, eonni, gomawo, aahhkkk, kata-kata itu hanya membuatnya sakit kepala saja. Cukup sudah dengan trigonometri dan logaritma, itu sudah membuat kalian sinting bukan main, kenapa sekarang harus menambah bahasa planet seperti itu? Tari. Seorang perfeksionis yang mencintai matematika dan ilmu alam, yang menjunjung tinggi undang-undang dasar dan pancasila, pengamat ekonomi yang baik, yang menghormati hak asasi manusia, yang taat menjalankan sila pertama dengan takwa, yang patuh pada orang tua, yang peduli sesama dan penyayang binatang. Orator ulung dan seorang humanis, bunga dalam kelasnya itu, siap pasang badan bila bertemu dengan: Korean lovers.

Tari duduk di bangkunya. Obrolan tentang dunia hiburan di semenanjung Korea itu terhenti sejenak. Pikiran para ABG tanggung itu berjalan, bukan, tapi berlari, siap-siap memberikan teori balasan jika singa betina itu mulai berceloteh. Tapi setelah ditunggu sepuluh menit, Tari tak merespon. Tari merebahkan kepalanya di atas meja. Ternyata saudara-saudara, ia ngantuk. Dan sekarang sambil menutup mata, ia mulai mengkhayalkan sesuatu. Menyebalkan, semalam suntuk sudah kuhabiskan untuk menonton sisa episode drama itu, dan apa yang kudapatkan? Tidak seharusnya faktanya terungkap bahwa sang putri ternyata adalah putri dari kaisar sendiri, sehingga putri tak bisa menikah denngan putra sang kaisar yang ternyata adalah putra mahkota, sehingga pada akhirnya sang putri harus berakhir sebagai biarawati!!! Kenapa kisahnya begitu absurd, membuatnya tak bisa tidur sampai saat ini, dan kenyataan bahwa ia belum mengerjakan PR biologi harus dibayar mahal dengan mentraktir Lala sebungkus nasi kuning di kantin sekolah agar ia bisa menyalin essai milik temannya itu, serta bayangan dari raut muka Reno yang tertawa kesenangan karena ia mulai menjilat ludahnya sendiri, dan  rasa nyeri tidak nyaman pada punggungnya ini benar-benar mengganggu...

"BISAKAH KAU BERHENTI...!!!!" Tari meraung memecah kegaduhan kelas, yang berarti kelas sunyi senyap (jika kau membayangkan nabi Musa membelah laut merah, seperti itulah mungkin keadaannya. entahlah, kau bisa mencernanya sendiri). Bonbon hanya berdiri membisu, seperti patung. tangannya masih dalam posisi saat menyodok gadis itu, tetapi sudah menjauh semeter. Telunjuknya gemetar, kemudian ia memutar badannya dan mengarahkannya pada Reno. Pria itu pura-pura tak tahu, lalu membalikkan badan,  tersenyum jahil, dan Tari membatin: payah kau, sok romantis, trik itu sudah kulihat di drama Princess Minutes dalam episode yang ke-7.

Mereka sudah tak bicara selama hampir tiga minggu. Ya, tiga minggu dan itu membuat Tari tak bisa makan, minum, nyuci, dan sebagainya. Ia memandang ke cermin dan mencari kesalahannya. Memangnya apa yang salah darinya? Penampilannya menarik saat mereka jalan berdua di tengah kelap-kelip kota. Belum pernah sekali pun mereka bergandengan tangan, dan saat Tari bertanya mengapa, lelaki itu menjawab sambil tersenyum bahwa ia belum cukup modal untuk melakukannya. Tari bangga betul dengan cowoknya itu, yang tahu bagaimana menghargai wanita, begitu romantis, setidaknya itu yang ada di kepala Tari. Tak ada keriki-kerikil yang menghambat jalan mereka, karena memang jalannya tak berkrikil, tak ada masalah di antara mereka berdua sebelumnya, tak ada permasalahan negara, tak ada masalah  tentang partai apa yang akan dipilih orang tua mereka dalam pemilu 2014, tak ada masalah percintaan ABG tanggung lain, tak ada apa-apa kecuali film yang saat itu dipilih Reno.

Ia terpana saat memandang tiket yang diserahkan Reno. Tertulis di situ judulnya 'I AM'. Matanya menjelajah ruang tunggu bioskop dan mendapatkan poster film yang judulnya sama dengan tiket yang dipegangnya. Kumpulan wajah asia timur, lelaki yang mirip wanita, Tari bergidik.
"Kau mau mulai perang ya?" tanya Tari sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Berisik. Ini giliranku menraktir," ia tersenyum simpul.
"Tapi kita sudah sepakat untuk tidak menyentuh ke daerah yang sensitif untuk kita berdua,"
"Lalu mau bagaimana lagi? Aku sudah beli tiketnya loh," Reno menatap sambi berseringai. Sial, ingin dia rontokkan deretan gigi kekasihnya itu.

Dan sampailah mereka pada kursi 11 A dan 11 B. Tari sesekali melirik ke arah Reno yang kelihatan bersemangat sekali menanti pemutaran film itu.
"Ini pemutaran perdana. Kamu tahu? Aku mesti berdesakan untuk mendapatkan tiketnya," kata Reno sambil tak berhenti tersenyum. Tari tak tahu apakah harus bersimpati dengan ikut-ikutan ceria, atau menertawakan pilihan pria itu. Tetapi sepertinya keinginan untuk menertawakan jauh lebih besar. Tari ingat saat pertama kali mereka jadian, seluruh teman-temannya heboh. Bagaimana mungkin seorang anti hallyu sepertinya bisa menerima kehadiran pencinta SNSD seperti Reno? Tari sendiri tak tahu kenapa, tapi selalu dijawab dengan bijak. Begitulah cinta, menyatukan segalanya dan tak butuh kualifikasi apapun.

Sepanjang pemutaran film, lelaki itu terus mengoceh. Ia sudah membaca sinopsis tentang film itu yang menceritakan bagaimana para artis korea yang sudah sukses dibawah SM Manajemen seperti Super Junior, SNSD Girls Generation, SHINee, f(x), EXO, dan BoA. I AM  menceritakan bagaimana perjalanan karir para artis dibawah asuhan SM Manajemen mulai dari proses audisi serta perjalanan karir mereka sampai dengan terkenal saat ini.  Bagaimana kita dapat melihat rahasia-rahasia para bintang-bintang terkenal Korea dibawah SM Manajemen mengenai kehidupan mereka sehari-hari ketika tidak sedang berakting ataupun konser.

Dan suaranya makin bersemangat saat SNSD muncul. Mereka cantik, bertalenta, sangat sempurna. Ia bercerita betapa kagumnya ia pada Luna, bukan, Moona, bukan, ah siapalah namanya, oh ya, Yoona. Bagaimana awal debut Yoona, proses seleksi menjadi anggota SNSD, bahwa akting adalah kelebihannya.
"Kamu tahu, Yoona dijuluki Him Yoona yang artinya Yoona kuat, hahaha," Reno tertawa. Tak ada jalan lain bagi Tari selain ikut tertawa juga meski ia tak mengerti apa yang dibicarakan.
"Hahaha, kamu tahu, aku sudah jatuh cinta padanya, ia begitu cantik. Dan yang paling penting, ia tinggi dan kakinya, uuuuhhh, panjang, hahahaha.... ehem, maaf'," Reno berhenti tertawa. ia melirik ke arah air muka Tari yang sudah berubah. Ia salah karena telah masuk ke area sensitif kekasihnya, yaitu tentang tinggi badan dan panjang kaki. Dan inilah awal perang dunia ketiga.

Mereka nonton dalam diam. Wajah Tari masih mengerut dan matanya tajam menonton film, dan Reno sadar itu.
"Jadi, apa yang kamu lihat dalam film ini?" Reno berbisik.
 "Aku..." Tari tak bisa menyembunyikan kekakuan suaranya, "Sejauh ini, aku hanya melihat badut-badut konyol. Lihatlah cara mereka berdandan, cih" Reno hanya bisa mengelus dada menahan cobaan.
"Mereka laki-laki apa perempuan sih? Mulus amat mukanya, oh iya, operasi ya?Jangan-jangan mereka maho. Haha, lihat mereka nari! Konyol amat! Dengar suara mereka, paraahhh. Cara bicara mereka, dibikin-bikin. Mereka seperti tidak hidup di dunia nyata, tapi hidup seperti boneka. Apakah benar seperti ini hidup mereka? Ckck, inilah industri hiburan dan penikmatnya, hahaha.."
"Berhentilah, kamu bisa diamuk orang satu bioskop," kata Reno dengan muka merah.
"Apa kamu juga akan ikut mengamuk?"
"Kalau tak suka, keluarlah,"
"Apa aku bilang aku akan suka?"
"Keluarlah! Pergi saja nonton Shireen Sungkar sana! Ocehan yang sering kamu sebut kritik itu benar-benar tidak bermutu! Objektif!"
"Mending nonton Trio Macan panas-panas di tengah pasar dengan iringan orkes dangdut yang suara bassnya membahana. Pacaran sana dengan Yoona. Aku keluar!!!" mata-mata memandang ke arah mereka. Dasar. Laki-laki itu beraninya keroyokan.

Memori tiga minggu yang lalu terbawa sampai saat ini. Saat Tari merasa kulitnya menghitam dengan keringat yang mengucur. Parahnya, alunan musik dangdut, dengungan bass yang membahana, dan suara cempreng Trio Macan masih terngiang di telinganya. Sial, kenapa ia harus mengantar Bik Sing berbelanja di siang bolong, dan celakanya mereka harus bertemu gerombolan pembuat polusi suara. Tapi hal ini tidak mungkin terjadi kalau si idiot Reno itu tidak teledor mengungkit hal yang sensitif baginya. Ya, tinggi badan dan panjang kaki telah menjadi mimpi buruk sejak Tari ditolak masuk SMA bergaya militer yang terkenal se-antero Indonesia, padahal ia sudah belajar mati-matian untuk itu. Ia kurang tiga centi lagi.

Dan mungkin benar kata Reno, ia begitu objektif. Tanpa mengetahui dulu apa yang dikomentari, ia terancam menjilat ludahnya sendiri, dan yang paling parah, sekarang hubungannya dengan Reno di ujung tanduk. Desas-desusnya, Reno sedang dekat dengan ratu Hallyu di kelas mereka, Sunny namanya. Ia terlalu gengsi untuk bertanya langsung pada Reno, dan ia akan merebut kembali lelaki itu dengan caranya sendiri. Meskipun harus mendobrak prinsipnya, ia tak bisa mengelak bahwa ia mencintai lelaki itu, dan ia berusaha untuk sedikit menjadi apa yang disukai lelaki itu: menjadi sedikit bergaya 'Korea'.

Maka Tari memulainya dengan menonton K-Drama. Mempelajari cara bicara mereka yang centil-centil gimana gitu, mempelajari cara jalan mereka yang imut-imut gimana gitu, cara bagaimana mereka menjadi genit-genit gimana gitu, mempelajari beberapa istilah, gaya busana dan tata rambut. Hatinya mungkin tak sejalan dengan gaya-gaya Korea itu, tapi otaknya mencari pembenaran: 'Apa aku berasal dari zaman batu? Menjadi seperti itu merupakan proses pendewasaan di abad 21'.Selintas revolusi radikal yang dipikirkannya muncul saat ia melewati tv di ruang tengah yang sedang memutar iklan produk korea: peninggi badan dan pemanjang kaki instan. Mata Tari berbinar. Tari pikir ia mungkin sudah mengorbankan setengah hidupnya selama tiga minggu ini untuk mempelajari sekelumit Korea melalui drama.

Ya, dia sudah menonton puluhan judul drama sampai larut malam. Dan sekarang Tari mengeluarkan beberapa keping DVD drama yang tadi dibelinya dipasar. Tangan Tari gemetar saat mengeluarkan film pamungkasnya, film yang dibintangi pujaan hati kekasihnya, film yang dibintangi Im Yoona. Tari menelan ludah.

Itulah mungkin jawaban di setiap keheranan Reno belakangan ini. Gossip di antara teman-temannya bahwa terkadang Tari bersenandung, dan lagunya adalah milik SNSD. Halah, itu hanya tahayul, pikir Reno. Ada juga yang bilang cara berbicara Tari berubah. Lebih manis dan centil. Hah? Mana mungkin? Terkadang terdengar bahasa-bahasa Korea yang keluar dari mulutnya. Ingat! Tari adalah seorang nasionalis sejati! Dan yang menghebohkan adalah pernah ada yang melihat Tari seperti sedang nge-dance ala Wonder Girls!!! Yang mengatakan itu pasti sinting.

Nah, begitulah, sekarang Reno sedang berada di balkon sekolah. Memandang pemandangan di sekitarnya. Rambutnya berhembus terkena tiupan angin. Reno mengalihkan pandangannya ke arah hembusan angin, dan yang didapatkannya adalah Tari. Tapi, ada apa dengan wanita itu? Penampilannya, kenapa rambutnya seperti tokoh di salah satu drama Korea? Reno mengusap wajahnya, tapi Tari tak berubah, she is still the same. Tari mendekat dan berdiri di sampingnya. Kenapa Reno merasa agak pendek?

"Ada apa denganmu?" tanya Reno.
"Ada apa apanya?"
"Kau berubah,"
"Berubah apanya? Xixixi," Tari cekikikan. Sejak kapan perempuan ini menutup mulutnya saat tertawa? "Aku merasa sudah melewati salah satu tahap pendewasaan," lanjut Tari. Alis Reno terangkat, sepertinya rumor selama ini...
"Ehem, kamu tahu, aku kena skors," ujar Reno sok serius.
"Aigoo...."
"Ahaaa, benar kan kau berubah? Berhentilah menjadi sok ke-korea-korea-an!!"
"Sok ke-koreaan? Ini bukan sok ke-koreaan, ini adalah fase perubahan menjadi dewasa!!!"
"Dewasa? Menjadi kayak badut gini kau bilang dewasa?"
"Badut?" Tari tersinggung, "Aku berusaha dengan keras menjadi seperti Yoona dan kau bilang aku kayak badut???!!" Tari tak bisa menahan air matanya lagi. Ini adalah tangisan dari kesedihannya saat ini, dan akumulasi tangisan tiap malam saat menonton drama. Reno diam. Ia tak tahu bagaimana membendung tangisan yang pertama kali dilihatnya dari seorang Tari. Yang ada hanya isakan Tari.
"Aku berusaha untuk menjadi yang kau suka. Aku takut... hiikkss... aku takut kau diambil Sunny, wajahnya oriental banget, kayak personel cherrybelek, hiiikkss..." astaga, ia heran kenapa ia bisa semelankolis ini. Memalukan, pikir Tari. Mereka berdiri dalam diam lagi.
"Tar.." kata Reno memecah keheningan, kedua tangan Reno meraih pundak Yoona, dan mereka saling berdiri berhadapan,"Tidak peduli berapa banyak Yoona di dunia ini, hatiku hanya mengenal kamu. Aku suka kamu, kamu yang seperti biasa. Kamu adalah Yoona-ku," pikiran Tari melayang. Biasanya pada kondisi ini, yang terjadi pada drama adalah kedua insan berpelukan, dan ciuman panas meluncur. Tapi bayangan itu lenyap, berganti dengan tatapan murka ayahnya yang siap dengan tali gantungan. Glek, sial, sejak kapan laki-laki ini pandai menggombal.

Berikutnya terjadi seperti biasanya, seperti tiga minggu yang lalu. Mereka mulai pulang bersama naik bis kota. Tapi dalam diam. Mereka sesekali bertemu pandang, kemudian tersenyum. Reno mengambil secarik kertas di atas bis yang melaju, menulis:
'Apa yang kamu pelajari?'
Kemudian menyerahkannya ke Tari sambil malu-malu. Tari mendengus, lalu tersenyum menyambut kertasnya:
'Em, aku belajar untuk tidak menilai segalanya dari pandanganku. Masih banyak sudut lain yang bisa ditelaah, dan itu menimbulkan nilai yang mungkin berbeda untuk direnungkan dan dicari benang merahnya. Aku belajar menghargai diriku sendiri  dan mencintainya. Dan... Aku belajar tentang kamu'
Tari menyodorkannya kembali sambil meringis. Reno tertawa renyah. Dan mereka kembali diam dalam sisa perjalanan, sampai tiba-tiba Tari berkata:
"Ren, kayaknya ada sedikit masalah,"
"Hmm?"
"Aku mulai mencinta Lee Dong Wook..."
"AAAPAAAA????!!!!!"






Yogyakarta, 12 Pebruari 2013 03.50