Simple Life

Sabtu, 02 November 2013

The Flat 4

IV
Aku terbangun saat mendengar suara orang terburu-buru di luar kamarku. Aku berada di dalam kamarku dengn pintu yang tak ditutup, kemudian sadar apa yang terjadi semalam. Aku buru-buru keluar kamar untuk memastikan  Hyong Ju tak kabur lagi. Tapi aku tak bisa teriak dan memilih berjalan terpincang-pincang. Sesampainya aku di ujung kamarku, ku dengar pintu flat ditutup. Aku terlambat. Kemudian aku berjalan ke arah sofa dan mendapati kertas bertuliskan:
‘Aku berangkat sekolah dulu. Pulang jam 7 malam. Semalam Yoon Ah eonni menjagamu,tapi ia sudah pulang. Jangan khawatirkan aku. Istirahat dan makanlah’
                Aku duduk di sofa dan melihat luka-lukaku. Sudah diobati ternyata. Pergelangan kakiku sudah difiksasi. Aku teringat si pria mangkok. Aku telah berhutang banyak padanya. Aku harus bersikap baik, setidaknya aku harus mengunjunginya.
Tok..tok..tok...
                Pintu bernomor 36 itu terbuka.
“Ada apa?” tanyanya. Ia sempat kaget saat melihatku. Ia menggunakan kaos oblong putih.
Gomawo,” kataku sambil menundukkan kepala. “Terima kasih,” aku masih menunduk ke arahnya. Ia terlihat bingung lalu cepat-cepat memintaku berdiri lurus. Kami diam beberap saat.
“Emmm, kau mau sarapan bersama?”aku mengangguk.
                Itulah pertama kalinya aku berada di tempat lain dalam rumah ini selain ruanganku. Tak banyak bedanya denga flatku ternyata. Hanya saja bagian flat ku yang berada di bagian kiri, di flatnya akan berada di bagian kanan. Sehingga kamar tidur kami hanya dipisahkan tembok. Ruangannya bernuansa merah. Dan ada lemari buku berisi banyak buku di bagian ruang tivinya.
                Kami makan dalam diam. Makanan ini adalah makanan yang pertama kali masuk sejak insiden adikku itu. Aku tak pernah selapar ini sebelumnya, tapi aku harus menjaga sikap. Maka kusendok nasi sediki-dikit laku kumasukkan ke mulutuku. Aaahhh, enak sekali.
“Ehem,” dia berdehem untuk meredam kesunyian di antara kami. Aku menatapnya.
“Well, kita belum pernah berkenalan sama sekali, aku Lee Dong Hae,” katanya sambil mengulurkan tangan. Aku menyambut tangan itu.
“Kim Ha Na,” kataku. Kami berjabat tangan lumayan lama sampai aku melepaskan tanganku.
“Oh, tentu saja. Aku menyukai bukumu. Embrace,” katanya agak kikuk. Ia berusaha tak memandang mataku.
 “Emm, kau tak keberatan jika sarapan sendiri?  Aku mau mandi,”
“Tentu,” jawabku.
Aku menyelesaikan sarapanku lima menit kemudian. Aku mengelilingi flatnya dan tertarik untuk melihat pemandangan melalui balkon Dong Hae. Kutarik napas panjang dan kuhembuskan pelan-pelan. Oh hidup, pikirku. Kemudian aku berjalan ke ruang tivi yang dikelilingi lemari buku. Aku terkesima melihat koleksi bukunya. Aku membaca beberapa judul tua di sana. Beberapa judul fiksi yang kuambil adalah The Little Price dan Dream of Red Chamber. Kemudian aku beralih ke bagian lain lemari saat menemukan buku berbahasa perancis ‘Vingt Ans Après’.  
“Koleksiku tak cukup banyak,” kata Dong Hae tiba-tiba. Ia sudah selesai mandi dan telah mengenakan setelan rapinya yang biasa. Berjas tapi tak berdasi.
“Tak cukup banyak? Ini sangat banyak,” kataku tak menyembunyikan rasa kagum.
“Tak cukup banyak bila di bandingkan perpustakaan di fakultasmu?”
“Oh ya? Dari mana kau tahu? Aku bahkan belum pernah benar-benar menelusuri isi perpustakaan itu!” kataku.
“Yang benar saja?” kata Dong Hae sambil tertawa kecil. Aku menangkap kesan mengejek dibalik perkataan singkatnya itu. kemudian kuingat buku berbahasa perancis miliknya. Keningku berkerut.
“vous voudriez vraiment lire. Je n'ai jamais rencontré ce titre auparavant. menceritakanya pour me voulez-vous?” kataku sambil menunjuk buku berbahasa perancis itu. Dong Hae menatapku dengan mulut sedikit terbuka.
“Maaf?” katanya.
“Meanhe, kukira kau bisa berbahasa perancis,” kataku sambil mengayunkan buku itu. skor kita 1:1 oppa, kata suara dalam kepalaku.
“Well, aku hanya suka mengoleksinya,”  katanya datar. Aku merasa bersalah. Aku baru saja berkenalan dengan orang yang sudah menyelamatkan hidupku dan aku sudah berani mengejeknya secara tidak langsung. Ia bisa saja benci padaku.
Kami berbincang sebentar sebelum aku kembali ke kamarku.
“Terima kasih atas sarapannya,” kataku di depan pintu flat nya. Aku berdiri sambil meremas tanganku. Sebenarnya aku masih gugup jika berhadapan dengan pria mngkok ini.
“Sama-sama,” katanya. Kami diam sebentar.
“Maaf atas mangkok itu,” aku mengingat kejadian tiga bulan lalu.
“Aku sudah melupakannya,”  ia tersenyum, melambaikan tangan, berbalik dan pergi.
***
                Aku duduk menghadap jendela di dalam kamarku. Laptop sudah kunyalakan dengan segelas susu panas di sampingnya. Aku melihat ke arah jam yang masih menunjukkan pukul 3. Aku masih kenyang dengan sarapan bersama tetanggaku itu tadi pagi. Aku lupa menanyai pekerjaannya. Aku jadi ragu apakah ia hanya karyawan biasa atau sales. Si pria mangkok itu terlihat terlalu intelek untuk kedua profesi tersebut. Aku menatap ke arah layar laptop yang sudah kutatap setengah jam. masih kosong. Aku belum menulis apapun.
                Apa yang akan kutulis? Roman picisan biasa? Cerita cinta penuh tragedi? Revolusi kehidupan? Drama keluarga? Komedi? Bagaimana dengan roman picisan biasa yang penuh tragedi di tengah revolusi hidup dan penuh dengan intrik keluarga yang senang komedi?   Aku melihat pantulan wajahku di layar komputer. Aku memainkan ekspresi di wajahku yang kaku. Hmm, tak sekaku biasanya. Aku mencoba tersenyum, memamerkan gigik-gigiku, tapi apa kulihat...
“AAARRRGGGHHH....!!!!” aku menjerit sejadi-jadinya. Kututup layar laptopku yang masih menyala.
                Napasku saling berkejaran. Saling sambung. Aku memegang dadaku. Kurasakan denyut jantungku cepat sekali. Ya Tuhan, apa itu aku? Aku menatap ngeri pada laptopku. Kuraba wajahku, mencari apa yang salah di sana. Aku berjalan menyeret kakiku yang masih sakit karena kejadian semalam. Kupandangi diriku lekat-lekat. Kutarik napas panjang, dan kucoba tersenyum lagi. beberapa detik kemudian kudekap mulutku agar tak berteriak. Senyum itu seperti senyum pada labu halloween.
Tok..Tok.. tok..
                Aku agak tersentak saat mendengar pintuku diketuk. Kubuka pintu dan Yoon Ah menyodorkan sekotak delimanjoo ke mukaku. Kotak itu langsung kuambil dan kuayunkan pintuku agar tertutup.
“Terima kasih ya,” kataku sambil tertawa kecil.
“Hei, jadi kau lebih mementingkan delimanjoo ketimbang sahabatmu,” katanya sambil berusaha menahan pintu.
“Hahaha, aku bercanda sayang,” kataku sambil melebarkan pintu lagi. mukanya cemberut.
“Ayo masuk. Aku ingin bercerita sesuatu padamu,” kutarik tangannya tapi ia tak bergerak. Aku ingin menceritakan senyumku yang mengerikan.
“Aku harus segera pergi Ha Na. Aku datang hanya untuk menjengukmu sebentar. Kau tak apa-apa kan?” tanyanya sambil melihat luka di tanganku. Mulutku manyun.
“Ada apa sih memangnya?”
                Aku mendengar hapenya berbunyi. Ia cepat-cepat mengangkatnya.
“Anyeonghaseyo. Ne. Aku akan segera ke sana. Baiklah Lee Seung Gi, hahaha. Aku tahu,” ia menutup teleponnya. Aku memberikan tatapan penuh tanda tanya.
“Apa?” tanyanya padaku.
“Tak apa-apa nyonya Lee,” aku menggodanya.
“Aiiisshh, kami tak punya hubungan....”
“Sssttt, cepat pergi. Ia sudah menunggumu,” aku mendorongnya menjauh. “Bye...” aku menutup pintu menghiraukannya yang berusaha memberikan penjelasan.
                Aku meletakkan kotak delimanjoo di meja makan dan berjalan menuju balkon. Aku tak pernah benar-benar menikmati balkon karena kehadiran Dong Hae pada saat-saat aku ingin berada di sana. Tapi kukira sekarang kami telah berteman dan ia tak terlalu mengerikan rupanya. Aku meregangkan badanku dan menarik napas panjang menikmati suasana di atas sini. Tak terlalu buruk rupanya.
                Dari sini aku bisa melihat halaman belakang rumah. Ada ayunan dan macam-macam permainan lain di sana. Alat panggang barberque, meja dan kursi panjang di bawah pohon-pohon rindang. Barangkali dulu para penghuni suka berkumpul bersama. Aku tak pernah lebih dari lima menit menikmati suasana di sini. Aku takut bertemu Dong Hae. Kudengar suara pintu digeser dari balkon sebelah. Benar saja, Dong Hae yang keluar. Mulutnya yang penuh sedang asyik mengunyah sesuatu. Di tangannya ada sepotong delimanjoo. Kebetulan sekali, pikirku.
“Hai,” sapanya. Ia memasukkan seluruh delimanjoo ke mulut dan duduk di kursi kebesarannya. Mengelus-ngelus perutnya.
“Kau sudah pulang?” tanyaku kaku. Yah, kami baru saja berkenalan hari ini secara resmi dan kuakui kami masih canggung untuk saling berinteraksi.
“Aku hanya kuliah sebentar saja hari ini,”
“Kuliah?” tanyaku lagi. Agak heran. Ia mengangguk.
“Matematika. Tak terlalu berguna, hahaha,”  ia mengakhiri dengan tawa renyah. “kenapa memangnya?” sekarang ia yang balik bertanya.
“Oh, kukira kau sales atau semacamnya,” ia menatapku tak percaya. Lalu tertawa terbahak-bahak. Aku tak mengerti apa yang lucu.
“Cinca? Aku mesti merubah penampilanku,”
“Hahaha, ya benar sekali...” aku mengatakannya sambil tertawa. Lalu kuhentikan tiba-tiba. Teringat wajahku di cermin. Ia melihatku. Sepertinya dia tahu ada yang tak beres.
 “Em, aku mau bertanya sesuatu,” aku tak seharusnya bertanya padanya. Kami baru saja berkenalan. Tapi dia benar-benar menyenangkan. Ia bangun dari kursinya, menuju ke arah balkonku, mendekatkan badannya.
“Apa itu?” tanyanya dengan suara rendah. Aku mendekatkan wajahku padanya. Ragu-ragu.
“Jawab dengan jujur. Apa senyumku mengerikan?” aku bertanya dengan suara yang lebih rendah darinya. Ia mengerutkan kening beberapa saat. Lalu mengangguk dengan mantap.
                Aku membayangkan jantungku terbuat dari kaca, lalu pecah karena jawaban sederhananya itu. Aku mundur dan bersandar pada pintu dan meremas pagar balkon.
“Mau kujari cara tersenyum?Aku punya buku tentang itu,” katanya.
“Kapan-kapan aku mampir ke tempatmu untuk membacanya,” aku masuk ke flatku. Meninggalkannya sendiri.
“Kutunggu..” aku mendengar sayup-sayup jawabannya.
                Jung Yong Hwa, seandainya kau tak pernah mengkhianatiku pasti tak akan seperti ini akhirnya. Aku memberi terlalu banyak kepercayaan padamu, dan sepertinya aku salah. Yong Hwa, aku sebenarnya sangat bahagia denganmu. Terlalu bahagia. Dalam setiap ceritaku sejak kau datang dalam hidupku lima tahun yang lalu, kau selalu jadi pangerannya dan aku si Cinderella itu. aku butuh cinta seorang ayah dan kau memberinya. Kau tampan, kaya, pintar, sangat luar biasa. Aku? Cinderella yang keluar dari peraduan karena karya fiksi inspiratif yang dicinta orang. Benar, kau menghujaniku dengan cinta. Sampai-sampai tumpukan kertas bernama novel itu hanya berisi cerita cinta juga. Lalu semua mulai berubah sejak dua tahun yang lalu. Aku harap tidak terjadi, tapi kau memang berubah. Aku tak tahu masih mencintaimu atau tidak. Dan akhirnya aku tak tahu apa yang harus kutulis. Aku kehilangan inspirasi.
                Aku  berdamai dengan Hyo Jung malam ini. Kami berpapasan di dapur saat ia pulang. Aku tahu ia ingin menghindariku. Sebenarnya aku terlalu gengsi untuk minta mengatakannya, tapi hanya kata itu yang keluar saat aku bertemu dengannya.
“Maaf..” kataku dengan suara berat. Kerongkonganku sakit saat mengatakannya. Ia menatapku tak percaya. Lalu ia berhenti sebentar dari kegiatannya memasak ramen dan memelukku.
                Kami akhirnya makan ramen bersama. Ia membagi hasil masakannya denganku dan menceritakan kronologis saat ia menghilang. Ia tak tahan aku melarangnnya bertemu Jeong Min. Tak tahan saat aku mengoceh tentangnya. Adikku itu yang mengajaknya kabur walau Jeong Min tak setuju. Tapi adikku keras kepala. Jeong Min akhirnya mau asal mereka tinggal di rumah ibu Jeong Min yang telah bercerai dari ayahnya. Ia mengatakan fakta sebenarnya bahwa bukanDdong Hae yang berhasil meyakinkannya. Tapi Jeong Min sendiri. Dong Hae bahkan tak sanggup mengejar adikku, namun Jeong Min yang mampu mengejar Hyo Jung dan membujuknya untuk pulang.
                Maka hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang normal. Minggu ini adalah minggu terakhir adikku tinggal bersamaku. Asrama sekolahnya telah selesai direnovasi dan Dong Hae berjanji akan membantu saat hari pemindahan. Aku akhirnya mengenal baik Dong Hae. Hyo Jung sering bertamu ke tempatnya untuk menanyakan matematika. Kami sudah tak sekaku hari pertama saat berkenalan secara resmi. Dua minggu yang lalu. Ia cukup sibuk untuk ukuran anak kuliah dan ia penuh humor. Sayangnya ia suka meremehkanku. Aku sering tak sependapat dengannya dan sekarang kuanggap dia sebagai si pria mangkok penuh ke-sok tahu-an. Bahkan saat ini aku sedang bertengkar dengannya. Sejak aku berkunjung ke flatnya dan ia mengajariku cara tersenyum yang benar. Waktu yang cukup singkat bagi dua orang yang baru kenal untuk saling membenci. Benci?  Tidak, hanya saling mempertahankan ego masing-masing. Aku jadi sangsi apakah ia jadi mengantar Hyo Jung ke asramanya.
                Sepertinya aku masih menjadi yang paling bodoh di kelas. Aku mengerjakan semua tugas tapi tetap saja nilaiku C. Teman-temanku heran, kenapa direktur Cho masih mau mempertahankan orang yang mendapat nilai jelek di mata kuliah sastra korea. Aku hanya tersenyum kecut. Akan kuperjuangkan nilai A+ untuk setiap mata kuliah bila itu bisa membuat novelku meraih national best selling. Dan stigma bodoh yang diberikan untuk Kim Ha Na, akhirnya mengantarkanku ke perpustakaan untuk kelima kalinya seumur hidup.
                Aku berjalan di antara rak penuh buku-buku. Aku iseng ke salah satu bagian dan mendapatkan novelku di sana. Embrace. Sisa satu yang tersisa. Aku bersyukur karena masih ada yang mau membaca novel setebal 300-an halaman tersebut. Aku terus menyusuri jalan kecil ini sampai bertemu dengan orang yang rasanya kukenal di bagian sastra klasik. Ya, dia memang kukenal!
“PRIA MANGKOK!!!” aku berteriak dan langsung mendekap mulutku. Semua mata memandang ke arahku. Kurasa aku telah melupakan adab berada di perpustakaan. Orang yang kupanggil terkejut dan berbalik. Bingung. Ia menunjuk dirinya. Aku mengangguk dan melambai.
“Apa maksudmu dengan pria mangkok?” tanyanya saat kami duduk di salah satu kursi.
“Hahaha, hanya nama itu yang ada dalam otakku,” kataku. Ia mengusap dagunya dan menatapku curiga.
“Apa???” tanyaku. Ia menggeleng. Aku menarik salah satu buku yang ia pegang. Kartu mahasiswanya terjatuh dari satu halaman buku itu.
“Kau mahasiswa S2 ya? kenapa tak bilang padaku?” tanyaku dengan suara yang agak keras. Aku terkejut. Dong Hae memandang pengunjung di sekelilingnya yang mendesis menyuruh diam.
“Itu tak penting kan?” katanya sok, “Oh ya, aku ini asisten dosen juga loh,”sambungnya sambil menunjuk dada. Aku mendengus.
“Pride and Prejudice karya Jane Austen. Hmm, aku ingat salah satu kutipannya ‘jika dia memutuskan untuk mengabaikanku walaupun dia memiliki kesempatan memilikiku, maka aku tidak akan lama-lama menyesalinya’ indah bukan?” tanyaku. Ia bengong.
“Aku tak akan seperti itu, itu menyedihkan,” katanya. Aku tertawa. Tak pernah sebahagia ini.
“Sebentar, kau mengikuti nasehatku ya? Senyummu... manis sekali,” katanya.
“Kau menggodaku ya? Hahaha,” aku tertawa.
“Tidak. Ini serius,” kami diam.
                Ia yang mentraktirku tiket bis saat kami pulang bersama. Kami bergelantungan karena kehabisan kursi. Sebenarnya bukan suatu kebetulan aku bertemu dengannya. Ia sering meminjam buku dari perpustakaan fakultasku. Novel, kumpulan puisi, roman klasik, dan sebagainya. Hanya saja kami baru bertemu saat ini.
“Kau tahu, mereka bilang kita bisa menguasai dunia dengan matematika dan bahasa,” katanya dalam bis.
“Memangnya kau mau menguasai dunia?” tanyaku.
“Mungkin kalau sendiri akan sulit. Tapi kalau kita berdua bersatu, itu cukup mudah,”  ia tersenyum nakal.
“Oh, berhentilah menggombal,” aku memukul lengannya.
“Kita sudah berdamai kan?” tanyanya ragu. Aku teringat pertengkaran itu. Aku mengangguk.
                Kami bersenda gurau sepanjang perjalanan. Yang kulakukan hanyalah tersenyum sepanjang perjalanan itu. Kepada pak polisi yang sedang bertugas, kepada resepsionis berwajah menyenangkan, kepada mereka yang berpapasan denganku, bahkan kepada penghuni lantai 3. Aku baru sadar betapa bahagianya bisa terseyum tulus. Ya, tulus. Aku telah lama tak melakukannya. Kami mampir sebentar ke flat lelaki tua di sayap seberang. Aku mengerti kenapa Dong Hae sering mengantarkan mangkok berisi makanan padanya. Lelaki tua itu berjalan dengan tongkatnya. Sekitar 69 tahun. Mantan guru. Ia tak mau dipindahkan pemerintah ke panti jompo karena flat ini adalah satu-satunya kenangan bersama sang istri. Kami mengobrol sebentar. Banyak nasehat yang diberikan lelaki tua itu pada kami. Dan aku sangat menghargainya. Pertemuan dengannya membuka sebuah ruangan dalam hatiku yang telah lama tertutup. Aku merasa iba.
“Dia seperti kakekku,” kata Dong Hae sebelum kami berpisah.
Kami saling mengucapkan salam sebelum masuk ke flat masing-masing. Kuketuk pintu dan adikku membukanya. Wajahnya gusar.
“Halo,” kataku sambil tersenyum.
“Eonni, kita kedatangan tamu,”
                Aku bisa melihat dari sini, Jung Yong Hwa berdiri di belakangnya. Tatapannya  kosong.
***
                Aku merasa ruangan ini menyempit dan udara terhisap habis ke dalam mata yang menatap lurus ke arahku. Napasku sesak, aku tak tahu apa yang terjadi dengannya. Tubuhku tak leluasa bergerak, serasa ada yang menggenjetku. Aku berjalan mendekatinya dan berhenti semeter darinya. Aku tak bisa mendekat lagi, ada penghalang tak terlihat di antara kami.
                Laki-laki itu hanya berdiri. Tak bergerak. Rambutnya berantakan, jambang memenuhi mukanya, kantung matanya membesar, dan wajahnya makin tirus. Ia memakai setelan yang sepertinya sudah dipakai selama lima hari tanpa ganti. Ia tak memasukan baju ke dalam celana. Celana itu terlihat melorot, Yong Hwa bertambah kurus. Aku bisa mendengar suara napasnya yang berat dari sini, bahkan mencium bau mulutnya. Bau minuman keras.
“A....” aku mendengar suara keluar dari mulutnya. “Aku mencarimu kemana-mana,” ia melanjutkan sambil mengelilingiku.
“Aku bertanya pada semua orang, namun tak ada yang mau memberi tahu. Tapi aku terus mencari. Cuti dari pekerjaanku selama beberapa bulan. Enam bulan ini aku hanya mencarimu. Kau tahu Ha Na..” ia sekarang berdiri di depanku.
“KAU AKAN MEMBUATKU GILA!!!” ia berteriak keras sambil mengguncang-guncang tubuhku. Air liurnya sampai ke wajahku. Ia tersenyum tiba-tiba.
“Aku baru bilang ‘akan’ loh,” ia menyeringai. Ia mendekatkan mulut ke telingaku dan berbisik, “Aku mencintaimu.”
“Kau yang memulainya,” kataku.“Kau berubah selama 2 tahun ini. Aku selalu berusaha untuk ada di sampingmu tapi kau tidak. Aku memasukkan dirimu di setiap ceritaku tapi kau tak pernah melakukannya dalam hidupmu. Kau berubah oppa. Aku tahu ada yang lain dalam hatimu. Kau menggantiku karena aku tak pernah MAU TIDUR DENGANMU,” tambahku sambil memandang mata yang merah dan berair itu.
“Aku minta maaf,”
“Aku tak bisa menghitung sudah berapa kali kau minta maaf,” aku berjalan meninggalkannya.
“Maafkan aku,” ia mengikutiku dari belakang. Aku tak menggubris.
“Maafkan aku,”
“Maafkan aku,” kali ini ia meraih tanganku dan menancapkan kukunya yang tajam. Aku meringis.
“Lepaskan atau aku akan berteriak,” kataku datar.
“Maafkan aku,” ia masih belum melepaskannya.
“AAAAAHHHHHHHH!!!!!!!!!!” aku berteriak sejadi-jadinya. Ia melepas tangannya.
Aku mendengar pintu menjeblak terbuka. Dong Hae masuk bersama wanita repsionis bermuka menyenangkan.
“Tuan, tolong pergi sekarang. Kau mengganggu ketenangan penghuni lain,” kata si resepsionis tegas. Yong Hwa menurut tanpa banyak komentar. Ia berjalan gontai. Saat berhadapan dengan ketiga orang itu, aku melihat Yong Hwa mendelik kepada si resepisionis, lalu berjalan keluar.
“Kau tak apa-apa nona?” tanya si repsionis. Aku menggeleng.
“Pulanglah,” kataku. Aku melirik pada Dong Hae. Ia menatapku. Ada rasa kasihan di sana. Aku menunggu mereka keluar dan menutup pintu.
“Apa perlu kuberitahu eomma?” tanya Hyo Jung.
“Tak perlu,” jawabku singkat, langsung masuk kamar dan tidur.
***
                Yoon Ah langsung datang menemuiku ketika kuberi tahu Yong Hwa datang semalam. Ia duduk di sampingku dan mengelus pundakku. Tapi aku sama sekali tak sedih. Mungkin karena sudah tak ada lagi yang tersisa untuk Yong Hwa.
“Aku tahu sulit bagimu untuk memaafkannya. Tapi ia sangat mencintaimu,” katanya. Aku menggeleng.
“Aku sangat mencintainya saat kuminta ia berhenti bertemu si Jalang itu. Tapi ia terus melakukannya,” kataku.
“Tak usah memikirkanku. Aku tahu kau sibuk,” aku menambahkan saat melihatnya membawa ransel besar. Ia sedang mengurus sebuah proyek sebelum wisuda.
Ommo. Aku hampir lupa. Aku membelikan ini untukmu,” ia menyerahkan sekotak delimanjoo. “Aku pergi dulu ya,” katanya sambil memelukku sebelum pergi.
                Aku memasukkan sepotong delimajoo bulat-bulat ke dalam mulutku. Aku masuk ke kamar dan menyalakan laptop. Aku mulai menulis.
‘Chapter 1. Aku adalah daun yang kau bawa terbang bersamamu. Aku tak pernah melihatmu tapi selalu kurasakan kehadiranmu. Kukira kau tak nyata. Mungkin hanya seperti hantu. Aku menyukai saat kau mengayunkanku di dahan pohon. Kau sering berdesir di atas permukaanku dan sesekali berbisik. Aku mulai percaya kau nyata. Aku makin meyukaimu, suka sekali. Kupikir aku telah jatuh cinta. Lalu ketika matahari telah berada pada garis lintang yang berbeda, lalu musim berubah, kau jadi marah. Kau menghempaskanku dari ranting-ranting pohon. Kau membiarkanku mati. Lalu membusuk.....’
                Aku membiarkan kata-kata itu terus mengalir dari otakku dan hatiku. Menumpahkan seluruh isi jiwaku ke dalamnya. Aku tahu tulisan ini akan sama jeleknya seperti tulisan-tulisan sebelunya. Tapi aku hanya ingin terus mengetik. Kurasakan air mataku menetes. Makin deras. Lalu aku menangis sejadi-jadinya.
                Esok paginya aku terbangun di meja kerjaku. Laptopku dalam keadaan sleep. Selimut melingkupi tubuhku. Hari ini adalah hari pindahan Hyo Jung. Aku sama sekali tak membantunya beres-beres semalam. Ia tak berani menggangguku saat melihat aku mengetik sambil berurai air mata. Ia hanya membuatkanku cokelat panas yang sama sekali tak kusentuh. Aku menyalakan lagi laptopku. Chapter 1 telah selesai dan aku sudah menulis seperempat chapter 2. Tujuh puluh halaman dalam sepuluh jam. Ini bukan kemampuan terbaikku.
“Eonni, kau sudah bangun? Bergegaslah jika mau mengantarku. Oppa sudah menunggu dari tadi,” kata Hyo Jung. Aku berbaik dan mendapati adikku bersama Dong Hae. Oppa?
                Pindahan Hyo Jung cepat saja. ia hanya membawa dua koper dan satu ransel. Asramanya tak begitu buruk. Aku berpelukan dengannya sebelum meninggalkannya. Hyo Jung dan ibu adalah makhluk paling berarti dalam hidupku. Ia bilang Jeong Min akan mampir hari ini. Suka atau tidak, aku mulai menerima pemuda itu menjadi bagian dari keluargaku.
“Datanglah setiap akhir pekan,” kataku.
“Pasti,”
                Kami meninggalkan Hyo Jung yang berada di gerbang asrama. Aku melambaikan tangan padanya, ia membalas.
“Kau mau ke mana habis ini?” tanya Dong Hae. Aku tersadar akan kehadirannya.
“Mau minum kopi?”
                Kami pergi ke tempat biasanya aku dan Yoon Ah pergi. Di jantung kota Seoul. Letaknya tak jauh dari jalan utama utara Seoul  yakni di Seoul Jongno-gu Hwa-dong. Aku memesan secangkir coffe latte sedangkan ia memesan cappucino dingin dengan ice ream di atasnya.
“Aku punya ini untumu,” aku menyerahkan hasil print-an chapter 1.
                Ia membacanya sambil sesekali menyedot minumannya. Mata bergerak dari kiri ke kanan. Makin lama mukanya terlihat makin serius. Kemudian ia menurunkan script itu dan menatapku. Ia menunjukkan dua jempolnya padaku.
“Selesaikan ini dan namamu sebagai penulis terbaik Korea akan segera pulih,” katanya singkat.
                Maka, Dong Hae adalah orang pertama yang menyukai karyaku sejak namaku tenggelam dalam tulisan-tulisan orang lain. Ia ikut mengoreksi jika ada kesalahan bahasa, membuat ceritaku kembali ke dalam jalurnya, mengembalikan idealismeku dalam menulis, menyemangatiku, mengatur pola makanku, dan juga mencaci maki bila ada sesuatu yang tidak rasional dalam karangan ini. Dong Hae adalah teman, fans, editor, manajer, merangkap kritikus.
                Dong Hae sering mengajakku ke tempat-tempat menarik. Kemarin ia mengajakku ke kuil di balik gunung. Sejak ayahku pergi begitu saja, ini adalah pertama kalinya aku ke kuil lagi. Setelah perginya ayah, ibu meminta aku dan adikku untuk dibaptis. Namun kami tak pernah sekali pun ke gereja.
                Aku selalu berkunjung ke tempatnya setiap selesai menulis. Meminta persetujuannya. Yoon Ah baru mampir ke sini tadi. Tapi ia segera pamit, ada sesuatu yang harus ia kerjakan. Seperti beberapa kunjungannya yang lalu, ia membawakan sekotak Delimanjoo. Aku sedang menyiapkan script ku dan bergegas pergi mengunjungi Dong Hae. Namun hari ini aku agak berbaik hati. Aku tak hanya akan meyodorkan scrip saja, tapi juga melengkapinya dengan setengah kotak delimajoo pemberian Yoon Ah.
                Aku sudah sampai di depan pintunya namun ragu ingin mengetuk. Jika aku langsung membukanya dan memang tak terkunci, maka itu adalah rezekiku. Aku memegang gagang pintu dan mendorongnya ke dalam. Tak terkunci. Sayup-sayup aku mendengar suara yang tak asing. Dong Hae dan seseorang sedang duduk di sofa depan tivi. Aku masuk lebih dalam dan melihat punggung wanita di samping Dong Hae.
“Jika aku menggunakan sudut sebesar 45 derajat, maka ia akan tetap kuat berdiri dan juga memberikan niai artistrik lebih pada bangunannya,”
“Tapi lihat pada sisi yang lain, kau harus membuatnya lebih datar,”
“Yoon Ah?” aku memanggil perempuan itu. Ia berbalik. aku agak kaget melihatnya duduk di sana.
“Ha Na!” serunya.
 “Aku tak tahu kalian saling mengenal,” kataku sambil mendekati mereka. Aku melihat coret-coretan gambar segitiga-segitiga kecil yang saling menumpuk membentuk bentuk abstrak aneh. Di sampingnya ada sekotak delimanjoo seperti yang kubawa. Hanya saja punyaku tinggal setengah.
“Ada apa?” tanya Dong Hae.
“Oh, nanti saja. selesaikan dulu urusan kalian. Aku pulang ya,” ada nada kecewa dalam suaraku.
“Aku akan ke tempatmu habis ini,” kata Yoon Ah. aku tersenyum. Agak memaksa tersenyum tepatnya. Aku keluar dari flat Dong Hae bersama delimanjoo-ku.
***
“Kenapa tak beritahu aku kalau kau kenal dengannya?”
“Aku takut kau marah padaku. Kau kan dulu tak suka dia,” jawab Yoon Ah. Aku teringat beberapa bulan silam. Aku mendengus.
“Aku beberapa kali berpapasan dengannya saat mau ke flatmu. Kami ngobrol dan akhirnya aku tahu dia pintar dalam matematika dan fisika. Sebenarnya aku selalu mengunjunginya setelah aku mengunjungimu untuk berkonsultasi tentang simetrisitas bangunan,” katanya. sekarang kutahu kenapa hari itu Dong Hae memegang delimanjoo di hari yang sama Yoon Ah memberiku cemilan itu.
“Ha Na, aku tahu ini lebih dari itu....” ia terhenti.  Yoon Ah tersenyum sendiri memandang delimanjoo yang tak jadi kuberikan pada Dong Hae. Mukanya merah seperti kepiting rebus.
“Aku menyukainya,” ia menutup mukanya dengan tangan. Kata-kata itu merambat lambat sampai aku bisa mencernanya. Menyengat suatu bagian di otakku. Mulutku menganga.
“Jangan beri tahu dia ya”


Sabtu, 26 Oktober 2013

The Flat 3

III
Kepalaku masih berat saat mengangkat telepon dari Yon Ju. Aku menjauhkan hape dari telingaku karena suaranya yang sangat keras. Ia marah besar. Ia berteriak-teriak dari seberang sana dengan kata-kata yang belum dapat kucerna. Aku kasihan padanya saat membayangkan ia menelepon dengan urat yang menyembul dari lehernya sementara aku, di sisi gelap kota ini, meletakkan hape di sampingku dan memejamkan mata berusaha tidur kembali. Lima menit kemudian kutempelkan lagi hape di telingaku, dan ia masih nyerocos sampai ke bagian yang paling kutunggu.
“Kau mengerti?”
“Ne,” jawabku. Telepon ditutup. Aku tak tahu apa yang ia bicarakan dan apa yang harus kumengerti. Tapi bisa disimpulkan bahwa Yon Ju mengira aku menyimak kata-katanya, dan itu bagus buatku, ia tak akan tambah murka. Aku tak bisa membayangkan ia tak berhenti bicara selama sepuluh menit tanpa memberiku kesempatan, padahal ini masih pagi. Masih pagi? Kulihat jam dinding di atas tivi, jam sebelas.
                Aku memperbaiki posisi tidurku di sofa, memandangi tiga botol soju dan satu bungkus rokok. Aku berdecap, merasakan mulutku yang pahit karena minuman keras. Sebentar, aku minum sebanyak ini tapi tak muntah? Aku bangun tidur dan duduk di sofa. Ahh, kepalaku berat sekali. Kusandarkan kepalaku di pinggiran sofa, sampai secara refleks aku mencari kamar mandi karena isi perutku yang akan keluar.
Huuuueekkk...
                Rasa pahit dan panas menjalari tenggorokanku saat cairan dari mulutku masuk ke kloset kamar mandi. Aku terus muntah-muntah selama semenit menyisakan badan yang lemah. Aku belum makan sejak tadi malam. Dengan sempoyongan kuambil air mineral dari kulkas dan kuteguk untuk mengembalikan cairan yang banyak terbuang. Aku melihat lagi ke dalam kulkas untuk mencari makanan, namun yang kudapatkan hanyalah roti tawar.
                Dalam satu jam ke depan yang kulakukan adalah membereskan puntung dan abu rokok, menyngkirkan botol-botol soju, menyiapkan checklist belanja, dan merapikan rumah. Semua kulakukan sambil berdendang untuk menunjukkan keringanan hatiku sampai bel flat ku berbunyi.
“Yon Ju?” aku kaget saat mendapatinya di depan flat ku. Mukanya merah.
“Kenapa? Bukankah sudah kukatakan lewat telepon kalau aku akan ke sini?” tanyanya menyelidik.
“Oh  tentu saja,” kataku sambil membiarkannya masuk.
                Kulihat ia mengelilingi flatku, mencari kecacatan apa saja untuk meluapkan amarahnya lagi. Kemudian ia duduk di sofa. Terlihat puas dengan inspeksi singkatnya.
“Jelaskan padaku apa yang tejadi tadi malam?” ia menatapku tajam.
                Aku mencoba mengingat kejadian semalam. Aku, Yong Hwa, Yoon Ah dan Ji Sung pergi ke pesta direktur Cho bersama. Sebelumnya Ji Sung mendandaniku di tempatnya dan aku marah karena Yong Hwa tak langsung menemuiku setelah ia sampai di Korea. Aku bertemu direktur Cho dan istrinya, hmmm, oh ya, bertemu laki-laki Korea-Amerika bernama Lee Yong Ik juga. Dikrektur Cho mengenalkan kami. Setelah itu muncul si perempuan jalang. Ia bilang Yong Hwa telah membelikannya tas dari Moskow dan langsung menemuinya sesampainya di tanah air. Aku marah besar dan langsung menonjok Yong Hwa saat kami bertemu. Ruang pesta riuh dan aku pergi begitu saja. Kemudian ada kejadian di lift. Aku benci sekali dengan lelaki yang kutabrak kemarin. Sesampainya di kamar aku langsung mengambil 3 botol soju dan mengahabiskan malamku dengan mabuk dan rokok.
Aku mengernyit setelah berhasil menyatukan puzzle kejadian semalam, “Aku menonjoknya,” jawabku. Yon Ju melihat ke arah lain setelah mendengar jawabanku. Ia kecewa. Sebenarnya aku menyesal dengan apa yang kulakukan.
“Maafkan aku. Aku tak akan berulah lagi. Sungguh. Jangan beri tahu Yong Hwa apapun tentangku. Aku butuh sendiri untuk beberapa waktu. Akan kuikuti instruksimu,” kataku sambil memeluknya. Ia mengusap kepalaku. Aku rindu ibuku.
***
                Aku menjalankan semua instruksinya. Berhasil untuk sebulan ini, aku belum mati. Menjalani rutinitas kuliah, dan ruang kelasku bergeming saat melihatku hadir lagi untuk yang pertama kali. Aku hanya nyengir.                Aku juga mulai berhemat. Jarang ke klub malam, tak pernah lagi ke restoran mahal, dan aku mulai terbiasa dengan bis. Aku sering menelepon sahabatku Yoon Ah, kurasa hanya dia tempatku ngobrol. Aku belum mengalami  kemajuan yang berarti dengan lingkungan tempat tinggalku. Perempuan resepsionis itu masih bermuka menyenangkan walau aku tak pernah merespon sama sekali sapaannya.
 Sekarang aku tahu, lantai 3 adalah bagian dari rumah susun ini yang harus kuhindari. Lantai 3 adalah milik pekerja kasar proyek pembangunan gedung di daerah ini. Mereka semua kasar, bau, dan kotor, begitu pikirku. Dan bukankah kebanyakan memang begitu kan? Mereka menggodaku setiap aku melewati wilayahnya, tapi siapa yang peduli? Aku selalu mempercepat langkahku. Hanya satu orang yang kulihat berbeda dari lantai 3. Anak muda berusia 18 tahun yang kupikir pasti salah satu anak pekerja bangunan. Ia bersih dan cukup tampan. Ia sering menyapa bila kami bertemu, tidak hanya padaku, tapi pada semua orang di rumah ini. Cukup menyenangkan. Tapi tetap saja, ia adalah bagian dari lantai 3, dan ia sama dengan mereka semua.
Bisa dibilang aku sama sekali belum mengenal semua penghuni rumah ini. Bahkan penghuni kamar 36. Aku tak kenal siapa dia, dan sepertinya ia tak mau repot-repot mengenalku. Aku sering berpapasan dengannya saat pergi kuliah. Tak pernah bicara dan tak saling sapa. Aku baru sadar, hanya tiga penghuni yang menempati lantai paling atas ini. Aku, orang yang kutabrak, dan seorang kakek tua di sayap lain. Ia tinggal sendiri.
Aku tak kenal pria di samping flatku, tapi aku sudah mengenal beberapa kebiasaanya. Ia suka berolah raga di pagi hari, dilanjutkan dengan berjemur di balkonnya. Di kursi santai. Seperti bayi saja. Aku tak pernah ke balkon bila ada dia. Dan dia sepertinya sama, tak akan keluar ke balkon saat tahu ada aku di balkon milikku. Ia sering membawa mangkok, entah berisi apa, ke flat orang tua itu. Sejak saat itu, aku menamai ia si pria mangkok. Ia selalu berpakaian rapi. Setelan kemeja dan juga jas. Tanpa dasi. Mungkin dia karyawan biasa atau mungkin sales, karena ia cukup tampan. Jelas bukan seorang eksekutif muda apalagi pengusaha muda, melihat ia tinggal di flat sejelek dan semurah ini.
                Aku mendapatkan kabar dari ibuku dua minggu lalu. Adikku akan sekolah di Seoul Girl High School. Letaknya di pusat kota. Ia akan tinggal bersamaku untuk sementara waktu sampai ia masuk asrama sekolahnya. Ibu menginginkan pendidikan terbaik bagi kedua putrinya. Tetapi mengingat aku adalah salah satu bentuk kegagalan dalam dunia pendidikan, ibu menginginkan yang lebih untuknya. Tak mengapa buatku. Aku tahu Kim Hyo Jung sangat cerdas. Jadi aku yakin ia dapat melalui dengan baik pendidikan di sini. Aku melirik jamku. Jam empat sore. Ia pasti sudah sampai di tempatku. Bis masih setengah perjalanan, aku tak sabar bertemu dengannya.
                Aku mendengar suara yang tak asing saat memasuki lobi rumah. Memang adikku, ia sedang ngobrol dengan seseorang di kursi lobi, tapi siapa?
“Hyo Jung?” kataku.
“Eonni!!!” ia langsung menghambur ke arahku. Memelukku.“kau lama sekali!!!” teriaknya.
“Maaf,” kataku. Akhirnya aku tahu siapa teman bicara Hyo Jung. Pemuda dari lantai 3. Ia tersenyum.
“Kak, katanya kau belum pernah sama sekali berkenalan dengannya? Kenalkan namanya Jeong Min. Lee Jeong Min,” kata adikku mantap. Jeong Min mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya. Kami bersalaman.
“Aku kakaknya Hyo Jung,” kataku cuek.
“Aku suka membaca tulisan anda,” ujarnya.
“Kami harus pergi,” kataku sambil menarik tangan adikku. Aku merasa Hyo Jung masih sempat berbalik dan mengucapkan selamat tinggal.
                Kami memilih melewati tangga. Sepanjang perjalanan hanya pemuda itu yang diceritakan Hyo Jung.
“Dia sangat pintar kak...” aku mendengus mendengarnya.
Percakapan kami terhenti saat tiba di lantai 3. Saat itu sekumpulan penghuni lantai itu sedang bermain kartu dan seperti biasanya, mereka menggodaku.
“Nona yang dingin datang. Barangkali ia mau bergabung bersama kita, hahaha,” kata seseorang di antara mereka.
“Nona congkak, kau kedatangan tamu ya? Wah nona cantik, semoga saja kau tidak sedingin dia, ahahahaha,”
                Adikku berhenti saat mendengar kata-kata mereka. Ia bingung, malu, dan kesal.
“Hyo Jung, kau naik duluan,” bisikku. Ia menuruti perintahku. Aku memberinya kunci flat.
Aku yang masih berada di lantai 3 berbalik kepada mereka, menunjukkan jari tengahku sebagai bentuk penghinaan. Mereka terdiam seketika. Aku melanjutkan langkahku. Memasuki flat dan mendapati adikku berkacak pinggang. Ia siap menuntut jawaban atas lingkungan ini. Aku menuju kulkas dan mengambil air. Meneguknya.
“Berapa banyak penghuni rumah ini yang kau kenal?”
“Aku tak kenal siapa-siapa,” jawabku.
“Eonni pikir bisa hidup sendiri di dunia ini? Kau menyedihkan,” katanya.
“Apa katamu? Sejak awal aku tak pernah ingin tinggal di sini kalau tidak demi karirku!!! Kau lihat orang-orang di sini? Orang pinggiran! Dan aku tidak mau jadi salah satu dari mereka!!! Dan jauhi anak laki-laki itu!” bentakku.
“Apa hubungannya dengan Jeong Min? Kapan kau berhenti merendahkan orang lain? Kaupikir apa tujuan Bibi Yon Ju menyuruhmu tinggal di sini? Bukankah untuk mengubah watakmu? Membuatmu melihat dunia lain, orang-orang lain? Tapi tetap sama saja kan, kau masih tak mau berhubungan dengan mereka yang lebih rendah darimu! Kalau memang kau tak mau merubahnya, lebih baik berhenti saja! kau akan terus tak punya inspirasi!!!!” katanya panjang lebar.
“Berani sekali kau ngomong seperti itu! Yaaa!! Mau ke mana kau,” aku mengejar Hyong Ju yang lebih dulu sampai di kamarku. Ia membanting pintu.
 “Buka pintunya!!!”
***
                Keadaan tak semakin membaik saat adikku berada di sini. Aku membuka lembar perang baru dengannya. Kami lebih banyak diam bila bersama. Dia telah memulai kegiatan sekolah dari pagi sampai malam, lalu masih sempat ingin bertemu dengan pemuda lantai 3.  Tetapi selalu kutolak dan menyuruh Jeong Min ke flat ku. Menemaninya belajar. Aku selalu mengawasinya dengan pandangan dari sudut mataku. Melihat gerak-gerik mereka, saat mereka tertawa bersama, dan saling bercanda. Aku iri? Hah! Tidak! Hyo Jung gadis yang riang, mudah baginya untuk dekat dengan siapapun. Termasuk dengan Jeong Min. Dan Hhyong Ju tahu aku membenci pemuda dari lantai 3 itu.
                Tapi untunglah ada Yoon Ah. Ia beberapa kali datang ke flatku. Kadang-kadang ia menginap. Aku sering melihat Yoon Ah dan adikku duduk berdua. Entah apa yang mereka bicarakan. Paling-paling si bocah dari lantai 3! Yoon Ah pernah bercerita tentang si pria mangkok, orang yang kutabrak itu. ia pernah minta tolong untuk diantarkan ke kamarku. Berarti si pria mangkok mengenalku? Tentu saja, aku kan Kim Ha Na yang terkenal! Tapi ia segera berhenti ketika aku memperlihatkan pandangan tak suka. Kami tak pernah membahas pria itu lagi.
                Di sisi lain aku masih berusaha untuk memulai menulis lagi. Kunyalakan laptop dan mencoba mengetik. Kata demi kata, kalimat demi kalimat, sampai kemudian kuhapus lagi. Sudah tiga jam aku mencoba menulis. Otakku buntu. Hanya ada cerita Cinderella di sana. Adikku sudah tidur dan temannya sudah pulang. Ya Tuhan, mungkin benar kata Hyong Ju. Aku menatap diriku di kamar mandi. Mencuci mukaku. Mukaku tegang dan keningku berkerut. Berpikir. Aku berusaha membentuk lengkung dari bibir itu, tapi aku selalu gagal. Muka Kim Ha Na selalu terlihat cemberut.
                Semua baik-baik saja sampai suatu hari ketenangan flat ku terusik. Hyo Jung sudah dua malam tak pulang. Ia tak bisa dihubungi. Aku panik. Kucari nomor telepon teman-temannya, menelepon mereka, namun jawabannya sama: mereka tak melihat Hyo Jung. Aku sudah ke kantor polisi kemarin, namun kata mereka belum genap 24 jam adikku menghilang, jadi mereka belum bisa mencarinya. Tenang Ha Na, tenang, kata suara dalam kepalaku. Aku berusaha duduk. Air mataku tumpah.
Apa aku perlu menelepon polisi lagi? tapi bagaimana jika dugaanku benar? Aku tak sampai hati memenjarakan pemuda yang kata adikku pintar itu. Aku sudah meng-sms Yoon Ah, namun ia sibuk dengan tugas kuliahnya. Yon Ju? Aku tak ingin merepotkannya lagi. uhuk..uhuk.. aku terbatuk. Semakin parah batukku sejak dua hari yang lalu. Aku membuka bungkus rokok keduaku.
Bagaimana bila ibu tahu tentang ini? Ayo pikirlah, barangkali Hyo Jung pernah berpamitan ke suatu tempat? Tidak sepertinya. Ayo pikir lagi!!! Anak itu! Aku tidak melihatnya belakangan ini. Jeong Min! Aku tidak pernah percaya padanya sejak awal! Ia bagian dari masyarakat lantai 3! Lalu bagaimana caraku agar dapat berhadapan dengan mereka?
                Pikirkan caranya. Aku ke balkon untuk mencari udara segar. Menghembuskan asap rokok. Menjernihkan pikiranku sampai tiba-tiba aku memandang balkon sebelah. Ruangan dalam flat itu menyala. Flat nomor 36! Mungkin tidak tahu diri bila meminta orang yang sama sekali tak kukenal itu untuk berhadapan dengan orang-orang dilantai 3. Tapi siapa lagi yang bisa kumintai tolong?
Tok..Tok..Tok...
                Pintu kamar 36 tebuka dan muncul si pria mangkok. Ia menatapku heran. Memandangi rambutku yang kusut dan mataku yang bengkak. Aku belum makan sejak pagi. Sudah tiga bulan aku selantai dengannya dan baru kali ini aku bertamu secara resmi.
“Ada apa?”
“Tolong aku, adikku menghilang. Sudah dua malam...” aku terisak.
***
                Kami mengambil langkah seribu. Aku harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah panjang yang dibuat pria ini. Kami menuruni tangga sampai ke lantai 3.
“Kau yakin dia yang melakukannya?” tanyanya.
“Ya. Apa kau pernah melihatnya dua hari ini?” yang ditanya diam.
“Tidak,” katanya kemudian.
Kami tiba di depan kamar bernomor 27. Aku melihat pria itu,  bertanya apakah pintunya harus kuketok atau tidak. Ia mengangguk.
Tok..tok...
Tok...tok...
Tok..tok...
                Aku memandangnya, menggeleng. Panik. Si  pria mangkok bergerak ke kiri dan mengetuk pintu flat di sebelahnya.  Tok....Tok.. tok...
Terbuka.
“Ya?” tanya penghuni itu.
“Aku dari lantai 5...” kata-kata pria yang pernah kutabrak berhenti saat memperhatikan pandangan penghuni lantai 3 itu beralih ke arahku.
“Wah nona congkak, ada perlu apa?” ia menyeringai padaku. Aku berlindung di balik Si  pria mangkok. Ia menyampingkan tangannya ke arahku. Berusaha melindungiku. Aku menggenggam tangannya.
“Ahjussi, kau tahu ke mana perginya penghuni kamar nomor 27,” mata itu kembali lagi pada Si  pria mangkok.
“Aku tak tahu,” ia mencoba menutup pintu tetapi Si  pria mangkok menahannya.
“Anak laki-laki itu menghilang pada saat yang sama adik nona ini menghilang. Apa kau tahu di mana dia?”
“Aku tak tahu. Maaf, saya ada kegiatan lain,”
“Saya serius. Anda tak mau berurusan dengan polisi kan?”
“Aku benar-benar tak tahu!!!” teriak orang itu. Mereka berdua saling tatap. Aku semakin memerkuat genggamanku. Namun kutahu pertarungan tatap-menatap itu dimenangkan Si  pria mangkok.
“Tunggu sebentar,” katanya. ia menutup pintu dan mengambil sesuatu dari dalam flat. Pria mangkok menatap tangan kami yang saling terpaut, lalu menatapku. Aku yang sadar, langsung melepaskan tangan.
“Maaf,” kataku. Aku berani bertaruh, tangan lelaki itu pasti kebas.
                Setelah dua menit kami menunggu, pria dari lantai 3 itu membuka pintu dan memberikan kami secarik kertas.
“Coba pergi ke alamat ini,”
                Pria mangkok menyetir mobilnya  70 km/jam! Aku bahkan belum pernah melakukannya. Aku melihat muka itu tegang. Tangannya meremas setir mobil saat mobil kami berhenti di lampu merah. Jam 8.30 pm. Kami harus pergi ke sisi barat Seoul sementara flat kami ada di bagian timur Seoul. Kami melewati sungai Han. Aku hanya bisa menangis sepanjang perjalanan. Dua hari yang lalu aku pulang jam 10.00 pm. Aku tak bertemu dengannya kukira ia sudah tidur sampai besok pagi aku mencarinya, ia tak ada. Lalu kutunggu ia sampai sekarang, aku belum tidur sama sekali.
“Kita sudah sampai,” kata pria mangkok.
“benar kan ini alamatnya?”tanyanya. Aku mengangguk.
                Kami menelusuri daerah dermaga lama ini. Sudah sejak tahun 90an tak dipakai. Dahulu adalah tempat pelelangan ikan sampai limbah industri mencemarinya. Nelayan adalah profesi turun temurun di tempat ini dulu. Dulu.
“Kita harus bergegas. Sudah jam 9 malam...” ia berhenti saat melihatku diam menatap laut. Aku tak pernah melihat laut semenjak tinggal di Seoul. Dermaga ini mengingatkan tempat lahirku di Incheon. Keluargaku sendiri adalah keluarga pengusaha produk laut. Termasuk ayahku.
“Ha Na..” aku kaget saat ia memanggilku. Ia mengulurkan tangannya dan aku meraihnya.
                Kami sampai di rumah kecil dalam perkampungan nelayan itu. Aku mengetok pintunya dan keluar seorang ahjumma. Ia menyambut kami ramah.
“Ya, ada yang bisa saya bantu?”
“Apa ini kediaman Lee Jeong Min?”
“Ne, ada apa?” kami tak melanjutkan pertanyaan ketika mendengar suara bersenda gurau yang tak asing lagi.
                Kami berbalik ke arah sumber  suara dan mendapati mereka berdua bergandengan tangan. Melihat aku dan si pria mangkok, mereka berhenti. Kini jarak kami tinggal 10 meter. Aku bisa melihat dengan jelas wajahnya.
“Hyo Jung!!!” jeritku.
Adikku lari seketika meninggalkan kami bahkan Jeong Min. Secara refleks aku melepas gandengan pria mangkok dan mengejarnya. Jeong Min yang melihatku mengejar, ikut melarikan diri. Pria mangkok tak tinggal diam. Ia ikut berlari.  Mereka berdua dan kami berdua saling adu cepat. Aku berteriak memanggil nama Hyo Jung. Aku tahu ia tak dapat berlari cepat. Aku terus berlari begitu juga si pria mangkok. Kini pria mangkok sudah lima meter di depanku.
“TANGKAP MEREKA!!!!” teriakku pada pria mangkok. “AAAHHH!!!!” aku tersandung. Pria mangkok berhenti begitu mendengarku terjatuh. Ia ingin menolongku tapi kukatakan “KEJAR SAJA MEREKA!!!” dan ia kembali ke arah sebelumnya.
                Aarrgghh! Aku berusaha bangun. Tapi pergelangan kaki kiriku terlalu sakit. Aku berjalan terpincang-pincang. Telapak tangan dan sikuku berdarah terkena karang kecil. Kira-kira sudah 20 menit insiden kejar-kejaran ini berlangsung dan si kepala mangkok belum mendapatkan mereka. Aku berusaha terus berjalan sampai kulihat si pria mangkok berjalan ke arahku. Tapi tak ada mereka bersamanya.
“Bagaimana?” tanyaku. Air mataku mulai menetes.
“Ayo kita pulang,” katanya. ia terus saja berjalan menjauh.
“MANA MEREKA???!!” jeritku. Aku menangis kembali. Ia berbalik dan melihatku berjalan pincang menuju arahnya datang tadi.
                Tapi tiba-tiba tangan Si  pria mangkok menjambret tanganku, dan dengan paksa menggendongku di punggungnya. Lalu berjalan pulang.
“TURUNKAN AKU!!!” aku berontak dalam gendongannya.
                Aku terus memberontak dan menangis sampai kami tiba di mobil Si  pria mangkok di dekat dermaga. Ia menurunkanku dan mengurungku dalam mobilnya. Aku menggedor-gedor kaca jendea, memintanya untuk membuka pintu. Tapi ia tak peduli dan kembali berjalan ke arah perkampungan nelayan. Aku menjerit dalam mobil sampai kelelahan dan akhirnya kecapaian sendiri.
                Sudah 10 menit sejak ia mengurungku dan sekarang aku melihatnya kembali. Sekarang ia tidak sendiri, melainkan bersama dua orang lagi. Jeong Min dan adikku. Aku segera menempelkan mukaku di kaca mobil dan kembali memukul kaca itu menyalurkan emosi. Aku benci adikku yang lari dari rumah begitu saja dan memilih untuk percaya pada kekasihnya, pada Jeong Min sendiri yang pasti menyuruhnya untuk lari, dan Si  pria mangkok yang meninggalkanku sendirian. Berbagai makian sudah tercatat dalam otakku. Siap untuk dikeluarkan pada mereka. Siap berteriak-teriak lagi.
                Namun itu hanya rencana. Aku terlalu lelah. Jam 11 malam. Kami kembali ke rumah dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku melihat lewat kaca depan mobil dan mendapati adikku sedang bersandar di bahu Jeong Min dan saling menggenggam tangan. Aku menggigit bibirku namun segera menghentikannya. Sakit. Bibirku ternyata luka.
                Jam 12 malam kami sampai di flatku. Kami ada di ruang makan dan aku siap menghakimi mereka. Hyo Jung duduk di hadapanku sedangkan Jeong Min berdiri di belakangnya. Aku melirik ke arah Si  pria mangkok yang berada dekat tempat cuci piring. Asyik berdiri sambil menonton konfrontasi kami. Aku diam beberapa menit sampai kemudian aku berjalan ke arah Jeong Min. Berhadapan dengannya. Dan.....
PLAAKKK...
                Aku menamparnya.
“EONNIII!!!!!” jerit adikku. Ia berdiri serta merta dan memposisikan dirinya berhadapan denganku. Menantang. Bibir Jeong Min berdarah. Si  pria mangkok sudah berada di sampingku.
“Aku akan lapor eomma,” kataku datar.
“LAPOORR SAJA. KAU JADI BEGINI KARENA JAE SUNG OPPA MENIGGALKANMU KAN??? LALU KAU TAK SUKA KARENA ADIKMU BAHAGIA DENGAN ORANG YANG IA SUKAI, BUKAN BEGITU????”  aku sudah bersiap dengan tamparanku ketika si kepala mangkok menahanku. Si  pria mangkok menggeleng ke arah adikku dan adikku meninggalkan kami, masuk ke dalam kamarku.
                Aku menatap murka Jeong  Min. Jeong Min melihat ke arah Si  pria mangkok yang memberinya isyarat untuk pergi. Aku begitu lemah dan segera rubuh ke Si  pria mangkok. Menangis. Ia memelukku dan membelai rambutku. Aku merasa sekelilingku gelap dan aku hanya bisa bersandar padanya.

***

The Flat 2

II
                Aku tiba di cafe tempat janjianku dengan Yoon Ah. Butuh satu jam dari tempat tinggal baruku untuk sampai di pusat kota ini. Yon Ju, kau benar-benar ingin aku mati ya? Aku segera masuk ke dalam cafe dan mencari kawanku itu. Nah, itu dia. Calon arsitek dengan wajah mirip salah satu anggota girlband itu sedang menyeruput kopinya. Aku melambai ke arahnya.
“Ha Na!!” teriaknya. Aku mendekat dan kupeluk dia.
“Bagaimana dengan flat barumu? Kau suka?” tanyanya saat kami sudah duduk masing-masing.
“Menurutmu?” tanyaku.
“Oh Ha Na....” katanya sambil meremas tanganku. “Aku tahu ini pasti terbaik yang manajemen buat untukmu,” katanya menguatkan. Aku terseyum kecut.
“Setidaknya aku masih punya niat untuk jadi penulis terkenal, jadi aku mau menjalankan ide gilanya itu,” kataku lalu kami berdua tertawa.
“Kau memang penulis terkenal Ha Na,” ujarnya. Benarkah? Ya, dulu.
                Aku ingat saat pertama kali bertemu dengan Yoon Ah. Saat kami masih menjadi mahasiswa baru di Universitas Korea. Mahasiswa baru wajib tinggal di asrama selama tahun pertama mereka. Dia adik kelas Yong Hwa saat masih SMA di Busan. Kami sama-sama dari luar kota dan itu memperkuat persahabatan kami. Bahkan Yoon Ah yang memperkenalkanku dengan Yong Hwa.
Saat tahu aku menjadi teman sekamarnya, ia girang bukan main. Ia mengaku sebagai fans-ku. Dan pada malam pertama kami sekamar, yang kami bicarakan adalah bagian dari novel-novelku yang tidak ia sukai. Mulai dari endingnya, pasangan dari peran utamanya, dan sebagainya. Entahlah sekarang. Sejak masa-masa kejatuhanku, kami membicarakan hal di luar karya-karya gagalku. Kurasa Yoon Ah sudah bosan membaca karyaku yang hampir mirip konsep ceritanya. Konsep Cinderella.
Kami langsung pergi begitu kopi Yoon Ah habis. Aku tak ingin menghabiskan sesenpun hanya untuk minum kopi. Aku langsung mempraktekkan instruksi Yon Ju. Tapi aku ragu karena alasan itu atau karena perutku yang memang sedang bergejolak saat ini. Aku akan bertemu dengan Yong Hwa nanti. Dan aku belum siap.
                Aku berada di tempat seorang fashion stylist favoritku, Jung Ji Sung. Aku menengok arlojiku. Sudah tiga jam aku di sini. Masih dua jam lagi kira-kira waktu untuk membuat semuanya beres. Mempersiapkan tubuhku –spa, pijat refleksi, dan sebagainya-  rambutku, dan juga busanaku. Lima jam. Sebenarnya butuh waktu lebih lama untuk persiapan seperti ini di hari-hari sebelumnya, bisa tujuh sampai delapan jam.
“Sayang, apa yang kau pikirkan? Lihat wajahmu, begitu tegang. berhentilah cemberut. itu akan membuatmu cepat tua. Santailah sedikit,” ujar Ji Sung saat mulai menata rambutku.
“Oh ya? Meanhe oppa, kukira ekspresiku biasa-biasa saja,” kataku. Ia membelai rambutku dengan halus dan tersenyum kepadaku melalui kaca. Lalu melanjutkan lagi pekerjaannya.
 Oh, di mana laki-laki itu? aku sebenarnya tak ingin peduli dengannya, tapi aku tahu masih ada sedikit sayang di dalam hatiku. Yong Hwa. Aku masih menyukaimu.  Aku tersentak ketika hapeku bunyi. Pesan dari Yong Hwa akhirnya.
Jantungku berdegup cepat. Adrenalinku meningkat. Tepat sekali ia mengirimkan pesan di saat aku memikirkan dia. Lalu kubuka.
‘Ha Na, aku sudah sampai di bandara. Aku tak bisa langsung ke tempat hyung. Akan kujemput kau nanti untuk ke pesta. Aku harus ke suatu tempat. Urusan penting. Sampai jumpa jam tujuh. Ich liebe dich‘
                Aku gemetaran membaca pesan yang diakhiri emoticon hati itu. Kuletakkan dengan kasar hapeku di atas meja rias. Setengah kubanting. Oh, siapa yang peduli kau pergi? aku teringat pertengkaran terakhir sebelum ia ke Moskow. Aku tak ingin membuat pertengkaran lain. Aku bertekad akan akur dengannya hari ini, besok, dan seterusnya. Aku tak mau kehilangan dia walau aku tahu, hanya ada bulir-bulir kecil cintaku padanya. Dan aku benci karena masih ada yang tersisa untuknya.
“Sayang, kenapa kau?” tanya Ji Sung terdengar khawatir.
“Tidak apa-apa oppa. Yong Hwa tak jadi ke sini,” jawabku sambil membuka mata pelan-pelan. Kudapati diriku tersenyum di kaca. Senyum dipaksakan yang cukup mengerikan.
                Aku berdiri di depan kaca. Berputar-putar. Ji Sung dan Yoon Ah mengamatiku sambil berdecak kagum. Aku berusaha menghilangkan ekspresi aneh itu, tapi ia tetap saja ada di sana. Yang kubutuhkan saat ini adalah teriak! Yoon Ah tak jauh elegannya dariku. Ia menggunakan gaun dan aksesoris yang dipilihkan sendiri oleh Ji Sung
                Perhatian kami teralih dari kaca saat pintu berderit dan seseorang masuk. Kami menoleh ke arahnya dan mendapati Yong Hwa berdiri dengan setelan tuksedonya. Ia tersenyum sambil menunjukkan bunga. Yoon Ah dan Ji Sung yang melihatku terdiam, mendorongku pelan-pelan sampai aku berada satu meter di hadapan Yong Hwa. Aku langsung menghambur ke pelukannya
“Berani-beraninya kau.....” kataku.
“Maaf. Kau cantik sekali,” ia mempererat dekapannya. Aku balas memeluknya. Tak seerat pelukan dua tahun yang lalu.
                Kami berangkat bersama-sama ke pesta pesta bosku. Yong Hwa yang menyetir, serta Yoon Ah dan Ji Sung duduk di belakang. Mobil kami melaju mulus di jalanan ibu kota sambil bersenda gurau di dalamnya. Yong Hwa bercerita tentang pengalamannya selama di Moskow. Perjalanan itu merupakan perjalanan dinas pertamnya dan duta besar Korea langsung tertarik dengan pesona Yong Hwa untuk membantu menjalin kerja sama di antara kedua negara. Tak heran karir Yong Hwa meroket di usianya yang masih muda. Ia adalah anak diplomat senior yang sedang bertugas di Uzbekistan.
Lalu topik berpindah ke masalah Yoon Ah, kawanku yang juga model itu.
 “Entahlah, laki-lak banyak yang takut padaku,” katanya sambil tertawa.
Dan selanjutnya kami berada dalam diam. Aku menatap Yong Hwa yang sedang menyetir. Banyak yang berubah selama dua tahun ini.
“Ladies, kita sampai,” kata Yong Hwa ketika mobil kami berada di depan hotel bintang empat itu.
                Seperti pesta-pesta lainnya, pesta direktur Cho –nama bosku- adalah wahana berkumpulnya kaum atas industri hiburan Korea. Para aktris dan aktor yang tampan-tampan itu, para produser, model, pemilik manajemen artis, beberapa pejabat pemerintahan, anak-anak dari para pejabat pemerintahan, pasangan-pasangan mereka, dan tentu saja penulis-penulis papan atas negeri ini. Termasuk aku tentunya.
                Yong Hwa menyebut pesta seperti ini sebagai show room. Orang-orang datang untuk mempertunjukkan kekuasaannya, hartanya, ketampanan dan kecantikan mereka, bahkan tubuh mereka. Ya, sudah menjadi rahasia umum kalau persaingan industri hiburan Korea sangat kejam. Memperoleh kemasyuran tidaklah mudah, apalagi mempertahankannya. Mereka berbakat dan menarik. Tapi ada yang lebih berbakat dan lebih menarik. Bahkan ada yang sangat berbakat dan sangat menarik! Dan tidak heran beberapa pelakon industri ini melakukan hal-hal yang menurunkan derajat mereka sebagai seorang manusia.
Kau tak akan heran jika melihat para manajer artis berkeliling ruangan menawarkan artis mereka yang susah bersaing kepada bos-bos gendut itu. Dan memang benar, akhirnya mereka akan nampang di televisi, memainkan satu atau dua drama, atau iklan, atau menelurkan album musik, namun mereka akan membayar dengan sangat mahal. Setahuku perbudakan sudah sangat ditentang di seluruh dunia, tapi tidak dengan dunia gemerlap ini. Aku berani bertaruh, artis-artis itu, yang manajernya sedang sibuk berkeliling ruangan untuk menawarkan mereka, akan berakhir di ranjang malam nanti bersama bos-bos itu jika mereka telah mencapai kesepakatan.
Aku sudah hampir setengah jam menelusuri ruangan ini. Bertegur sapa dengan orang-orang, terlibat percakapan singkat dengan beberapa orang, lalu kembali berjalan menikmati keriuhan. Aku berpisah dengan mereka yang datang bersamaku. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Kulihat Yong Hwa sedang ayik ngobrol dengan seorang anggota parlemen. Oh, tidak di sini oppa kalau kau mau membahas masalah politik negeri ini. Lalu di tengah ruangan kulihat Yoon Ah sedang berdansa dengan Jun Gae Suk yang katanya sedang dekat dengannya. Yoon Ah tak pernah mau mengaku setiap aku bertanya. Kami hanya teman, itu jawabannya. Ji Sung? Aku tak tahu di mana orang nyentrik itu.
Aku sedang mencari direktur Cho, dan pasti direktur sedang mencariku juga. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku masih menghormatinya sejak rapat pimpinan penerbitan yang banyak menghasilkan statement pedas tentang diriku. Dan aku menunjukkannya dengan kehadiranku ini.
“Ha Na!!!” suara direktur Cho memanggil. Aku berbalik.
“Kim Ha Na! Kukira kau tak akan hadir!” ia terlihat sumringah di tengah kerumunan orang-orang. Ia pantas bahagia. Kedatangan direktur Cho diikiuti dengan istrinya, lalu seseorang yang tak pernah kukenal.
“Direktur Cho! Aku mencarimu dari tadi. Wow, 30 tahun! Pasti tak mudah untuk mencapai usia pernikahan sepanjang itu!” kataku sambil tertawa. “Nyonya Cho,” sapaku sambil menjabat tangan perempuan cantik itu.
“Kurasa strategi Yon Ju berhasil. Baru hari pertama dan apa yang kulihat! Kau makin luar biasa sayang,” kata direktur Cho. Ia memandangku dengan mata kebapakannya. Aku tersenyum. Ia tahu aku. Ia pikir aku tak akan hadir karena rapat itu.
“Hahaha, kuharap seperti itu juga direktur,” aku sadar ada nada sarkastik dari kalimat itu. Namun aku segera mengendalikan suasana “Yon Ju tak bisa hadir, ia tak enak badan,” sambungku.
“Ya, di sudah mengabariku. Well, langsung saja, aku ingin memperkenalkanmu dengan tuan Lee Yong Ik. Dia adaah salah satu editor di penerbit Amerika terkenal, Arthur A. Levine Books. “
“Kim Ha Na,” kataku sambil menjabat tangannya.
“Lee Yong Ik,” katanya sambil tersenyum.
“Ha Na, semua orang tahu tentang dirimu, tak terkecuali tuan ini, hahaha. Jika kau mau, dia bisa membantumu menembus industri sastra dunia!”
“Aku tahu bakatmu nona Kim. Aku telah lama memantaumu. Aku sempat menyukai karya-karyamu dan aku menanti karya besar lagi darimu,” ujarnya. Aku menggaris bawahi kalimat sempat menyukai karya-karyamu. Aku menjawabnya dengan senyuman.
“Oke tuan Lee, kurasa Ha Na ingin melanjutkan lagi pestanya, ayo kita pindah. Aku ingin mengenalkanmu pada Yo Yeong Seong,” katanya. Sebelum beranjak, ia sempat berbisik padaku “Ingat anakku, kau punya kesempatan satu setengah tahun di mulai dari sekarang. Dunia sedang menunggu karyamu nak. Kau akan sejajar dengan J.K. Rowling jika kau mau,” ia menepuk pundakku, lalu pergi.
                Sejajar dengan J.K. Rowling? Apa kau gila? Sekarang saja buku-bukuku tak laku di pasar Korea. Kekagetanku belum reda benar ketika ada yang memanggilku lagi. Perempuan itu. Han Chae Young. Dia salah satu bentuk keberhasilan promosi manajer kepada bos-bos gendut itu. Dia adalah penulis milik penerbitan yang menjadi rival penerbitan milik direktur Cho. Tapi tidak dengan perempuan ini. Ia terlalu rendah untuk bisa kupanggil rival. Yang berhasil ia lakukan hanyalah menulis sampah dan memperbesar payudara. Entah kenapa ia selalu datang mengganggu.
“Menikmati pesta Ha Na?” tanyanya.
“Kurasa begitu,” jawabku asal.
“Hm, aku lupa menyampaikan beberapa hal kepada Yong Hwa oppa. Aku suka sekali tas dari rusia itu. Aku sampai tak enak hati, ia langsung mengantarkannya ke apartemenku begitu sampai di Korea. Kau tak keberatan kan meyampaikan itu padanya?” tanyanya dengan suara dimanis-maniskan.
“Dengan senang hati,” aku tak tahu ekspresi apa yang kutampakkan saat ini. Yang kutahu hanyalah aku ingin memberikan senyum paling busuk yang pernah dilihat orang.
“Terima kasih,” katanya sambil lalu.
                Aku berjalan sambil membentuk tinju di tanganku. Kukepalkan kuat-kuat. Aku mengatupkan rapat-rapat mulutku. Aku ingin teriak, tapi tak di sini. Kepalaku berdenyut sakit. Aku tahu kemarahan ini menyulut sarafku untuk membuat aliran darah semakin cepat dan jantung tak mau kalah bersaing dengan aliran darah itu. Kau harus bisa menahannya Ha Na, kata suara dalam kepalaku. Ingat image-mu. Aku mencari pintu keluar dari ruangan ini. Aku mau pulang.
                Namun siapa sangka orang yang menjadi subyek pembicaraanku dengan wanita jalang itu muncul dihadapanku. Yong Hwa dengan girangnya menirukan posisi orang berdansa. Ia ingin mengajakku menikmati alunan musik Waltz yang mengalun. Tapi aku tak bisa melawannya, tak bisa. Tinjuku sudah kuayunkan sekuat-kuatnya ke perut Yong Hwa. Air mataku tumpah.
                Ruangan riuh melihat insiden itu. Yong Hwa berlutut sambil memegangi perutnya yang kesakitan habis kena tonjokan. Aku berlari meninggalkan ruangan. Terus berlari sepanjang lorong hotel dan berhenti sebentar untuk menangis.
“Ha Na...” aku kaget saat mendengar suaranya. Aku berhenti tidak sebentar rupanya. Ternyata cukup lama sampai Yong Hwa pulih dari kesakitan dan mengejarku.
“Apa yang terjadi?” tanyanya menuntut penjelasan.
“Apa yang terjadi? Tanya dirimu apa yang terjadi. Kau mau semua ini berakhir? Tak masalah, akhirilah. Kalau kau lebih memilih mengantarkan oleh-olehmu untuk perempuan itu dari pada bertemu denganku, lakukanlah,” kataku sambil menunjuk dada dan mendorongnya. Ia tampak bingung.
“Aku tak mengerti,” ujarnya berusaha mengehentikanku. Aku berbalik dan menatapnya menantang.
“Oh satu hal lagi. Ia suka tasnya... oppa,” kataku dengan nada mengejek saat menyebut oppa. Yong Hwa terdiam.
***
22.30
                Aku tak tahu apa yang akan dikatakan Yon Ju saat mengetahui aku pulang sendiri selarut ini ke pinggiran Seoul yang tak seramai bagian lain kota. Aku sudah berhenti menangis saat menaiki taksi. Satu setengah jam yang lalu. Aku malu kepada supir taksi. Bayangan-bayangnya saat mengejarku, permintaanya agar aku tinggal dan mendengar penjelasannya, hal-hal itu yang terus bermain di otakku. Oh Yong Hwa, kau brengsek. Dan aku benci karena terus memikirkannya sampai taksiku tiba di depan rumah susun murah itu.
                Aku memasuki lobi setelah memperbaiki gaun malamku. Berusaha menghapus jejak-jejak tangisan di wajahku, walau mungkin untuk menghilangkan maskara agak sedikit susah. Ada lima orang yang sedang menunggu lift. Dua dari lima orang lelaki itu mabuk. Lalu dua temannya berusaha menyokong mereka. Lelaki yang satu lagi sepertinya bukan bagian dari kelompok itu karena ia tak ikut dalam kesibukan. Enam orang ditambah aku.
                Lift sangat penuh saat kami masuk. Kami membentuk tiga baris dalam lift. Aku berada di baris kedua, di samping pria yang sedang menahan temannya yang mabuk di depannya. Kukira hanya perasaanku saja sampai kudapati memang benar pria di sampingku melirik ke arah dadaku sejak kami masuk. Dia mengalihkan pandangannya saat tahu aku sadar.
“Nona, kau mau bertukar tempat denganku?” tanya pria yang bukan dari kelompok itu. Aku menurutinya dan pindah ke belakang, di samping seorang pria teler. Pria yang tadi di sampingku menatap pria yang berganti posisi denganku dengan kecewa.
                Lift telah sampai di lantai 3, kelompok itu segera keluar dengan susah payah. Bau minuman keras menghilang dari dalam lift juga, menyisakan aku dan pria yang bertukar posisi denganku.
“Aku tak akan berkeliaran selarut ini dengan gaun malam seseksi itu kalau aku jadi wanita,” ujarnya datar. Aku tersinggung. Aku tak suka caranya meremehkanku dan aku berusaha melawan.
“Hahahaha,”aku tertawa “kalau kau mau, kau bisa ikut melihatnya, tampan,” godaku dengan tatapan nakal. Pandangan pria itu tetap ke depan.
“Aku pantas mendapatkan lebih dari sekedar melihat itu. Aku hanya ingin permintaan maaf,” katanya. aku bingung maksud perkataannya.
“Memangnya apa yang telah kuperbuat padamu oppa? Apakah aku mengenalmu?”  tanyaku manja.
“Sekarang belum. Tapi kita akan saling mengenal nanti, tetangga,” ujarnya saat pintu lift terbuka dan ia langsung keluar meninggalkanku. Tetangga? Aku mengikutinya dari belakang dan melihat ia masuk ke flat nomor 36. Ia adalah pria yang kutabrak tadi pagi.

***

Jumat, 25 Oktober 2013

The Flat 1

Mobil ini terus saja melaju di jalanan  Seoul yang becek sejak tiga puluh menit yang lalu. Aku tak tahu mau dibawa ke mana. Hari ini mendung. Begitu pula hatiku, karirku, dan masa depanku. Kami baru saja pulang dari kantor penerbitan, aku dan wanita yang menyetir di sebelahku ini. Wanita 45 tahun yang selama dua belas tahun ini kuanggap sebagai ibuku, namun tidak lagi sejak vonis hukuman itu dijatuhkan tepat tiga puluh menit sebelum mobil kami melaju.
“Kau tidak bisa melakukan ini padaku,” kataku sambil menatapnya dingin. Ia diam saja.
“Kau dengar aku?” tuntutku. Ia masih diam. Aku tak tahan lagi. Kugenggam tanganku dan kugedor kaca jendela mobil sekeras-kerasnya. Air mataku jatuh dan emosiku meluap.
“KALAU BEGITU PUTUSKAN SAJA KONTRAKNYA!!!! APA KAU MAU MEMBUATKU GILA DENGAN MENGISOLASIKU DI PINGGIRAN KOTA!!!” 
Yes, kata-kataku manjur. Ia segera menepikan mobilnya dan memelototiku. Aku membalasnya dengan tatapan tak kalah murka. Dadanya naik turun cepat sekali. Kutahu ia marah. Tapi dengan cepat ia mengendalikan diri, memandang ke depan sebentar, menari napas, lalu menghadapiku lagi. Mukanya jauh lebih tenang.
“Dengarkan aku. Aku sedang berusaha menyelamatkanmu sekarang, menyelamatkan karirmu! Ha Na, kau sudah mengenalku selama dua belas tahun ini sejak aku menjadi mentormu. Kau tak perlu pusing-pusing memikirkan pemutusan kontrakmu karena mereka akan segera melakukannya setahun lagi jika kau tak berubah! Kau terlalu binal kata mereka dan tulisanmu terlalu biasa selama dua tahun ini. Nak, kau punya potensi, aku tahu. Namun sayang, sekarang kau minim inspirasi,” katanya sambil menatapku teduh. Tangannya mengelus pundakku. Aku tahu, masa pengasinganku tiba. Aku terisak.
***
                Kami tiba di depan rumah susun sewa itu. Lima lantai dengan dinding bata merah yang tak diplester. Kuamati jalan di hadapannya. Tak banyak lalu lalang seperti bagian lain di kota ini. Tak ada pencakar langit.
“Ayo masuk,” ajak mentorku. Aku mengikutinya.
                Kami memasuki ruangan kecil yang mentorku sebut sebagai lobi. Tak salah juga, karena memang ada meja resepsionis dengan wanita bermuka menyenangkan yang kutebak sebagai resepsionisnya. Ada sofa dengan mejanya. Tangga terletak di belakang meja resepsionis dan ada lift! Kuanggap semua ini terlalu berlebihan untuk ukuran rumah susun sewa dengan harga semurah ini.
“Selamat datang nona,” katanya sambil tersenyum ramah.
“kamarnya sudah disiapkan nyonya Lee? Ha Na yang akan menempatinya,” kata mentorku sambil tersenyum.
“Tentu saja sudah kusiapkan. Kamar itu memiliki pemandangan yang paing bagus di antara yang lain, hahaha. Nona, anak-anakku suka sekali membaca novelmu,” lanjutnya.
“Terima kasih,” jawabku seadanya.
                Kami memutuskan untuk lewat tangga saja sambil melakukan orientasi terhadap tempat tinggalku yang baru. Rumah ini terdiri dari dua sayap. Masing-masing sayap memiliki empat kamar alias flat di tiap lantai sehingga terdapat empat flat. Sepanjang perjanan kami sempat bertemu dengan beberapa penghuni. Ada beberapa yang mengenalku dan berjingrat-jingkrat, ada yang tersenyum saja, ada yang tak memberikan respon. Mungkin tak mengenalku. Aku sempat mengumpat dalam hati karena flat ku terletak di lantai paling atas. Lantai lima.
“Selamat datang di rumahmu yang baru! Kau mungkin mau berkeliling sebentar?” tanyanya.
                Aku berjalanan meyusuri ruang tamu. Ada ruang tivi lengkap dengan sofa dan mejanya. Dekat ruang tamun terdapat jendela transparan besar yang jika digeser, terdapat balkon yang mengarah ke belakang rumah. Di sisi lain ada dapur beserta perlengkapannya dan meja makan. Aku mengecek keran cuci piring, airnya mengalir. Aku menuju ke bagian paling vital rumah bagiku, kamar. Oke, cukup baik. Flat ini kecil, tapi cukup nyaman.
“Panas sekali. Apa mereka tak memasang ac di sini?” tanyaku.
“Kalau kau mau kau bisa memasangnya sendiri nak. Dan kau mesti menambah biaya listriknya,” dahiku berkerut, alisku menyatu. Mentorku tertawa melihatnya. Aku sudah cukup miskin dengan pembatasan uang yang dilakukan mentorku itu.
“Kau bisa menempati flat ini besok. Sebelum ke pesta ulang tahun pernikahan direktur pastikan barang-barangmu sudah siap semua di sini. Mulai dari awal hidupmu. Lebih sederhana, pahami hidup. Buatlah image baru tentangmu. Kau bisa nak, kau punya potensi. Hanya butuh sedikit inspirasi,” katanya sambil menyibakkan rambut di depan mataku. Aku memeluknya.
“Kau tak akan menahan mobiku kan?” tanyaku dengan tatapan memohon.
“Kurasa kita harus memakirkan si merah di garasiku dulu,” jawabnya sambil tersenyum.
“Tapi....”
“Jalur bis di sini lancar. Kau harus menghemat karena aku akan memotong uang bulananmu. Barangkali kau bisa meminta oppa mu menjemput? Bukankah ia akan senang?” godanya. Aku mendengus panjang.
***
                Nomor 35 dari kuningan menandai nomor flatku. Aku baru saja selesai membereskan barang-barangku sampai yang tersisa hanya foto-fotoku dengan Jung Yong Hwa. Aku sempat menggantungya di ruang tivi tadi. Tapi kulepas. Entahlah, aku hanya tak ingin menggantungnya. Aku menatap gambarnya. Jung Yong Hwa. Aku tak pernah berhubungan selama ini dengan laki-laki, kecuali dengannya. Lima tahun. Dan kali ini ia tak cukup bisa memberi Kim Ha Na –penulis yang karirnya mulai redup ini- inspirasi.
                Namaku Kim Ha Na. Dunia menulisku sudah dimulai sejak aku masih TK. Masih amatiran. aku tak bisa menghitung berapa banyak karyaku. Jika kau mengunjungi rumahku di Incheon, maka kau akan mendapati selemari penuh piala lomba menulis sejak TK-SMA. Namun bintangku mulai bersinar saat aku menelurkan novelku yang pertama. Dua belas tahun lalu. Novel tentang keluarga, cinta, dan persahabatan. Novel berjudul ‘Embrace’ yang berhasil terjual satu juta kopi di seluruh Korea. Novel yang berhasil mengantarkanku menerima penghargaan dari Cheong Da Wae alias Blue House. Novel yang mengantarkanku ke puncak popularitas. Novel yang mempertemukanku dengan Bae Yon Ju, mentorku itu.
                Lalu kenapa aku bisa sampai di Seoul? Sebenarnya kalau bukan demi karir, aku tak akan mau pergi dari Incheon. Penerbit memintaku untuk meanjutkan kuliah di Jurusan Sastra dan Literatur Korea. Mereka ingin membentukku menjadi penulis yang di masa depan dapat menjadi seorang maestro. Seorang professor. Yang nanti akan menjadi peraih nobel sastra. Mungkin. Dan Be Yon Ju adalah salah satu senjata mereka. Almamaternya sama denganku, Universitas Seoul. Dari jurusan yang sama pula. Dan ia diutus untuk memolesku menjadi penulis yang handal sejak aku menandatangani kontrak pertamaku dengan penerbit terbesar di Korea itu.
Dan sekarang apa yang telah diatur untukku akan hancur  kalau aku tak mengubah sifatku. Well, kurasa itu fase yang normal dalam kehidupan manusia. Fase remaja, fase pergolakan. Kuliahku belum selesai, aku sering jadi bahan gosip di media, tukang pesta, dan yang jadi masalah terbesarku adalah kualitas tulisanku yang semakin menurun!
Aku inga kata-kata bos penerbitku saat itu:
“Ha Na, aku merasa ada sesuatu yang salah denganmu. Selama 2 tahun terakhir penjualan bukumu turun dan kualitas tulisanmu sangat buruk. Kami ingin kau berhenti menulis cerita tentang cinta remaja tanggung dan mengubahnya ke topik yang lebih berbobot. Kau seorang wanita muda sekarang bukan seorang remaja yang sibuk dengan kisah asmara terus! Kami mengharapkan kau dapat menjadi sastrawan besar nanti, bukan seorang tukang pesta dengan tempramen mengerikan! Ada banyak bibit penulis hebat di luar sana, dan jika kau tidak bisa membuktikan bakatmu selama satu tahun ke depan, kami bisa menendangmu,”
Kalimat itu masih terus ternginang di telingaku. Aku merinding. Kubuka bungkusan baru rokok, menyalakan satu batang, dan menghisap dalam-dalam. Kupejamkan mata menikmati asap yang mengepul dalam mulut. Yang kupikirkan sekarang adalah lelaki itu. Ayah. Ayah yang sejak umur 8 tahun tak kulihat lagi. Aku menghembuskan asap pelan-pelan bersama kenangan tentangnya. Memori terakhir tentangnya yang dapat kuingat adalah ayah memukul ibu, lalu terdengar tangisan adikku yang masih berumur 2 tahun. Ibu menjerit dan ayah pergi begitu saja. Aku tak pernah kenal siapa lelaki itu,kecuali tempramennya, tak beda jauh dariku.
Aku kaget ketika hapeku berdering. Yoon Ah. Astaga, aku lupa telah janjian dengannya.
“Anyeonghaseyo. Ne. Aku akan segera ke sana. Tunggu oke?  Bye,”
                Sial, kenapa aku sampai lupa? Kuganti pakaianku. Dan kuambil langkah seribu. Aku keluar dari flatku dengan tergesa-gesa, menguncinya , mulai berlari ketika pintu di depanku terbuka dan aku menabrak pemilik flat di samping flatku.....
PRAAANGG!!!

                Mangkok yang dipegangnya jatuh ke lantai. Aku tak memiliki banyak waktu, jadi langsung kutinggal saja ia. Toh aku tak sengaja. Aku terus belari sampai di belokan menuju lift aku berbalik untuk melihat keadaannya. Pria itu mematung dengan mata melotot ke arahku. Aku tak peduli dengannya, lagi pula itu kecelakaan, siapa suruh tak melihat orang yang sedang terburu-buru?