Simple Life

Sabtu, 02 November 2013

The Flat 6

VI
                Air pancuran hangat membasahi kepalaku. Aku hanya berdiri dan tersenyum mengingat kejadian tadi. Dong Hae tak melepaskan tanganku sama sekali saat kami berjalan pulang. Rasanya natal yang masih seminggu lagi datang terlalu cepat. Aku sudah mendapat kado natalku, aku telah memiliki Dong Hae.
                Aku berdendang kecil saat mengusap tubuhku dengan sabun. Aku tak ingin memikirkan Yoon Ah dulu. Aku akan bersujud minta maaf padanya suatu hari nanti. Saat ini hatiku hanya penuh dengan bunga-bunga. Aku menyusuri dadaku dan kini menyentuh bagian payudara bagian bawah. Aku merasakan ada massa di bawah kulit. Hatiku mencelos. Benjolan ini lebih besar dari pada setahun yang lalu.
                                                                                                ***            
                Amplop berwarna cokelat muda selalu mampir di flatku setiap pagi. Dong Hae memasukkannya lewat celah-celah pintu setiap ia yang bangun lebih pagi. Aku memungutnya dan mencium aroma parfum pria yang biasa Dong Hae pakai. Aku menggaruk kepala. Sebenarnya aku agak sering memerotes jika ia mengirimkan surat seperti ini. Terlalu romantis dan aku alergi karenanya. Surat itu biasanya berisi kutipan buku atau orang terkenal atau pusi bikinannya sendiri yang amatiran atau hanya instruksi sok nge-bos-nya.
‘Hei tukang tidur, sudah bangun?Ke flatku ya. Ada yang ingin kubicarakan J
                Dong Hae sudah menungguku di sofa ketika aku masuk Aku langsung duduk di sampingnya dan mengambil surat berlogo Ohio State Unviersity tergeletak di atas meja.  
“Apa yang mau kaubicaran? Mau melamarku?” kataku sambil membaca surat berbahasa inggris itu.
Ia tak menjawab dan hanya melingkarkan tangan di leherku. Aku melipat surat dan menatap Dong Hae sambil menganga setelah mencerna-baik isinya.
“Kau..... KAU KEREN SEKALI!!!” aku langsung memeluknya.
“Aku begini karena kau,” katanya sambil mencium rambutku. aku terus memeluknya erat.
                Ia mengambil beasiswa S3 matematika di Ohio. Aku tahu betapa idealisnya dia dan betapa ia begitu ambisius dengan karirnya. Aku tahu aku adalah faktor X di balik keberhasilannya. Tidak mudah untuk mengembalikan semangat Dong Hae saat ia terpuruk, tapi aku berhasil. Aku selalu ada di flatnya jika ia butuh teman untuk berbagi cerita. Tentang dosennya, teman-temannya, rencana masa depan karirnya, walau belum ingin membicarakan masa depan kami. Aku membuatkannya cokelat panas sambil memegang tangannya.
                Untuk merayakannya, Dong Hae ingin membuat pesta BBQ. Ia ingin berbagi kebahagiaan bersama penghuni flat lain dan juga temannya. Maka esoknya kami berbelanja. Dong Hae sangat ceria ketika mendorong kereta barang di supermarket. Aku tak bisa menahan tawa saat meihatnya menawar sayur di pasar dan membawa belanjaan yang sangat banyak. Beberapa penjual mengira kami suami-istri. Aku memang berharap kami pasangan suami istri sekarang.
“Dong Hae-ssi,” kataku saat kami dalam perjalanan pulang. Ia mengelurkan kata ‘hmm’ yang berarti ia mendengar.
“Eomma akan datang besok,” aku memandang Dong Hae yang sedang menyetir.
“Oh ya? tepat sekali. Jam berapa ia datang? Aku akan menjemputnya,”
Aku mengabaikan kata-katanya, “Tolong bicarakan pernikahan kita dengannya”
Ia memukul kemudi mobil, “sudah kubilng aku tak mau membahasnya dulu,” katanya dingin.
***
                Aku baru saja bersiap-siap mandi untuk menemui direktur Cho ketika aku kedatangan tamu yang tak diduga. Ibuku datang dengan sebuah koper dan satu tas tangan. Perempuan itu mengernyit saat melihatku masih berantakan. Ia adalah simbol kebersihan dan keteraturan. Menjadi istri yang baik pasti benar-benar cita-citanya dulu, sayang ia mendapatkan ayahku.
“Eomma bilang akan datang dengan pesawat siang, Dong Hae kan bisa menjemput,” kataku sambil membawakan barang-barangnya. Ia mengelilingi flatku mencari sebuah kecacatan.
“Kenapa kau baru bilang padaku ada benjolan di payudaramu?” ia langsung menodong dengan pertanyaan itu. ia bahkan belum memelukku atau melakukan sesuatu yang biasa dipertontonkan ibu dan anak yang baru bertemu.
“Kau tahu betapa khawatirnya aku?” aku bisa melihat air mata di sudut matanya. Aku menunduk. Merasa bersalah. Aku baru memberitahunya ketika sering timbul rasa sakit yang menjalar dari ketiak ke lengan kiriku.
“Aku akan ke dokter besok. Eomma, aku... aku takut,” air mataku jatuh. Ibuku mendekatiku dan memelukku. Aku hanya bisa sesenggukan di bahunya.
                Terakhir kali aku memeriksakan kondisiku dua bulan yang lalu. Dua bulan yang lalu saat hatiku baru saja ditumbuhi bunga dandelion milik Dong Hae. Aku pergi ke klinik dokter onkologi terkenal yang dulu tinggal di Incheon. Dokter yang juga pernah menangani ibuku dengan kasus yang hampir sama. Dokter Chung mengusap-ngusap dahinya saat melihat hasil pemeriksaan mammograph. Ia menemukan sebuah benjolan sebesar kelereng.
“Nona Kim, kita masih belum tahu apakah ini hanya tumor atau kanker. Apakah jinak atau ganas,” katanya sambil membenarkan letak kaca mata.
“Kita harus melakukan uji byopsi sesegera mungkin,” tambahnya.
“Apakah harus sekarang dokter? Aku sedang sibuk belakangan ini,” kataku. Revisi terhadap novelku memang sedang dilakukan sebelum pencetakan. Aku juga lagi sibuk-sibuknya berdiskusi dengan Lee Yong Ik –editor penerbitan besar di Amerika- tentang karirku.  Dan yang paling penting dari segalanya adala aku tak mau perasaan bahagia bersama Dong Hae lenyap begitu saja hanya karena pertumbuhan jaringan yang abnormal ini.
“Kita tentu sama-sama tak mau hal yang lebih parah terjadi padamu kan nona? Aku sarankan untuk segera melakukan byopsi agar kita bisa mengambil tindakan yang tepat. Kau tak perlu stress, ini tak seburuk kata orang jika kau mau mendengar nasehatku,” katanya sambil tersenyum ramah.
“Baik dok,” kataku hanya sekedar basa-basi.
                Setelah itu aku belum mengunjunginya lagi sampai hari ini. Aku hanya mengikuti sarannya untuk mengurangi rokok dan lebih banyak mengonsumsi makanan organik. Aku jadi lebih sering berolahraga, jogging di pagi hari bersama Dong Hae yang tak tahu sama sekali tentang keadaanku. Ia hanya menyadari berkurangnya jumlah puntung rokok yang kuhabiskan. Bahkan aku tak merokok selama tiga minggu ini. Sampai saat di mana aku menikmati daging panggang di pesta BBQ-nya, Dong Hae masih belum tahu.
                Anak-anak penghuni flat berkejaran di halaman belakang rumah. Aku tertawa melihat bocah tujuh tahun itu terjatuh. Ini adalah pertama kalinya kami berkumpul bersama menikmati hangatnya matahari musim. Dong Hae sedang sibuk memanggang daging bersama Jeong Min. Sesekali Hyo Jung menghampirinya dan mendaratkan ciuman ke pipi pemuda itu. Dong Hae yang berada di samping mereka langsung melirik ke arahku, mengedipkan mata untuk menggodaku. Aku tersipu malu. Penghuni lantai 3 sibuk bermain kartu sambil tertawa terbahak-bahak. Aku sempat bergabung bersama mereka namun kalah di set pertama. Aku mengamati ibu yang sedang ngobrol serius dengan Bae Yon Ju. Aku tahu apa yang mereka bahas begitu menangkap Yon Ju memandangku.
                Pesta ini juga mempertemukanku lagi untuk yang pertama kalinya dengan sahabatku Yoon Ah. kukira ia benar-benar telah mencoret namaku selamanya dari lembar hidupnya, tapi ia mendatangiku dengan canggung. kami ngobrol singkat menanyai kabar masing-masing hingga akhirnya ia yang minta maaf padaku. Kami berpelukan.
“Dong Hae dulu sering bilang padaku betapa kau benar-benar menyebalkan. Tapi ia juga pernah bilang betapa ia telah sangat-sangat-sangat menyukaimu bahkan sebelum kalian bertemu,” pernyataan sahabatku itu mengungkap fakta bahwa Dong Hae memang fans ku yang sangat-sangat-sangat berat sekali.
                Aku menatap halaman yang kembali sepi dari balkonku. Pesta Dong Hae baru saja berakhir satu jam yang lalu. Aku memutar kepala untuk melihat balkon Dong Hae yang sepi. Ia belum kembali ke flatnya. Aku meneguk botol air mineral di tanganku lalu mengambil sebungkus permen untuk menghilangkan rasa kering dalam mulutku yang sudah lama tak terpapar rokok. Namun permen yang berhasil kubuka itu jatuh ke lantai karena aku terdorong ke depan saat Dong Hae memeluk pinggangku.
“Merindukanku?” bisiknya.
“Oh, jangan sekarang. Aku malu,” kataku sambil berusaha melepas pelukannya. Dong Hae malah mempererat dekapannya.
“Ibumu sedang ngobrol asyik dengan Yon Ju di lobi. Sepertinya mereka membicarakan karirmu,” aku terhenyak ketika ia mengatakannya. Kemudian aku menyandingkan Dong Hae dan sebuah daging tumbuh di payudaraku.
“Dong Hae-ssi, berjanjilah padaku kau tak akan meninggalkanku apapun yang terjadi,” kataku pelan.
“Aku berjanji,” ia menggambar tanda X dengan jarinya di dadaku.
“Berjanji juga, kau akan segera kembali padaku begitu kau lulus dengan gelar doktoralmu,” ia tak segera merespon perkataanku. Kami terdiam sejenak.
“Aku tak tahu. Bila ada tawaran karir di sana, aku tak akan menyia-nyiakannya,” aku kecewa ketika mendengarnya. Dong Hae-ssi, jika suatu hari kau mengetahui keadaanku, kau akan tahu kenapa aku tak mau membuang waktu percuma, kenapa aku ingin segera menikah denganmu, kataku dalam hati.
***
                Dokter Chung menatapku murka begitu berhadapan denganku di meja dokter. Aku telah berjanji segera datang kembali untuk konsultasi tentang tes biopsi tapi aku mengingkarinya. Ibuku hanya mendengus panjang di sampingku.
“Tapi saya melakukan semua yang anda minta,” aku melakukan pembelaan, tak ahan dengan tuduhan yang terus menerus dilontarkan dia dan ibuku.
“Baiklah nona Kim, aku pasti akan kalah bila terus bedebat denganmu. Kita bisa lakukan operasi biopsi tiga hari lagi,” katanya. tiga hari lagi?
                Aku mengambil buku agendaku untuk melihat jadwalku di hari itu. wawancara dengan KBS dan diskusi bersama Lee Yong Ik lagi. satu hari sebelumnya ada diskusi membedah buku dan satu hari setelahnya ada pertemuan dengan direksi penerbitan.
“Bisa kita undur operasinya dok? Saya ada kegiatan di hari itu,” kataku. Dokter Chung mengelap mukanya dengan telapak tangan dan melihatku lekat-lekat.
“Pasien-pasienku termasuk ibumu tak pernah berani tawar-menawar denganku kecuali kau!” ia menunjuk mukaku, “Baiklah, tolong diagendakan tanggal 15 maret kau ada operasi,” aku tersenyum melihat dokter yang lucu ini. Tidak masalah jika operasinya seminggu lagi.
***
                Aku melewati hari-hari dengan perawaan was-was. Hari H operasiku makin dekat. Aku berusaha memanfaatkan waktu selama seminggu ini seefektif mungkin. Aku berusaha menyeimbangkan waktu antara kesibukan sebagai penulis dan menghabiskan waktu bersama orang yang kusayang. Aku meminta Hyo Jung mengambil izin dari asrama agar ia bisa bergabung bersama aku, ibu, Jeong Min-nya dan Dong Hae. Kedua lelaki itu sudah serasa bagian dari keluargaku sendiri. Bahkan Dong Hae sudah terbiasa memanggil ibuku eomma. Mereka selalu makan malam bersama kami. Ibu sangat menyukai Dong Hae yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri dan berharap suatu hari Dong Hae benar-benar jadi putranya.
                 Aku sedang mengamati foto kami berlima di pesta BBQ ketika seseorang mengetuk pintu dengan tidak sabar. Aku tahu dari caranya mengetuk yang sama persis saat malam percobaan pembunuhan dulu, itu adalah Dong Hae. Benar saja, ia tersenyum sumringah saat melihatku.
“Aku akan berangkat 17 maret nanti,” katanya.
“Selamat ya,” kataku sambil memeluknya. Ia akan berangkat sehari setelah operasi kecil  yang hanya memakan waktu satu hari itu. Aku sedih, tapi mau bagaimana lagi?
“Kau harus datang di pengukuhan gelar doktorku nanti, lalu kita akan membahas penikahan itu di Ohio,” sambung Dong Hae. Aku berusaha tersenyum untuk mendukungnya. Ia tak boleh tahu tentang ini karena konsentrasinya akan buyar. Walaupun aku takut setengah mati dengan diagnosis tentang penyakitku, aku harus menanggungnya sendiri. Kanker, kuharap tidak.
***
                Operasi itu berlangsung sangat cepat. Tak sampai satu jam. Mereka hanya mengambil sedikit jaringan pada benjolan itu. Aku bahkan bisa melihat alat yang digunakan untuk mengambil jaringannya, meski aku tak merasa sakit karena sudah dibius lokal. Aku berbaring di kasur rumah sakit dengan ibu di sampingku. Aku masih beum memberitahu Dong Hae, bahkan adikku tidak tahu. Kami berdua sedang asyik berbincang sampai dokter Chung masuk. Ia mengamatiku dengan seksama.
“Ada yang ingin kusampaikan,” katanya dengan nada serius.
“Kabar ini mungkin terdengar kurang menyenangkan, tapi kuingin kalian tetap tenang. Nona Kim, maafkan aku, tapi kau terkena kanker stadium awal,” kata-katanya terdengar tak masuk akal bagiku.
“Kami sudah memikirkan masak-masak, dan menympulkan pembedahan merupakan pengobatan yang tepat,” ujarnya.
                Ibu sedang berkonsultasi tentang operasiku. Mungkin besok, mungkin juga lusa. Aku berbaring di kasur rumah sakit dengan lampu yang kubiarkan mati. Aku tak ingin menyalakannya. Aku memejamkan mataku tapi tidak berusaha tidur. Aku membayangkan lagi pisau-pisau itu menempel di kulitku dan membuat bukaan besar di sana. Lalu terjadi perdarahan hebat yang membuatku tak bisa bangun lagi. Aku tak bisa mengantarkan Dong Hae ke bandara. Aku tak bisa menemuinya lagi. Bukan karena dia yang meninggalkanku, tapi aku yang melakukannya. Karena aku pergi untuk selama-lamanya.  
                Imajinasiku buyar ketika terdengar bunyi klik, dan aku merasakan cahaya merembes masuk ke mataku. Seseorang telah menyalakannya. Mungkin ibu. Ketika aku membuka mata, yang kudapati bukan ibuku, tapi Hyo Jung yang berurai air mata bersama Dong Hae yang mukanya kaku.
“Aku pulang dan tidak mendapati siapa-siapa di rumah. Aku menelepon ibu dan mendapat jawaban kau di rumah sakit,” katanya sambil menangis.
“Kenapa kau tidak katakan pada kami eonni? Kenapa kau merahasiakan benjolan itu dari kami?”
“Karena kukira ini benjolan biasa, bukan kanker!” bentakku.
“Kau bohong! Kau tahu eomma pernah sakit seperti ini juga. Harusnya kau sadar itu kanker!” ia berteriak padaku lalu pergi. Dong Hae masih yang masih terpaku, kemudian datang mendekatiku.
“Dong Hae-ssi....” aku memanggilnya. Ia berada di sampingku.
“Aku hanya tak ingin kau khawatir. Aku takut itu mengganggumu, maafkan aku,” kataku.
                Ia menatapku lekat-lekat. Matanya berusaha tegar, tapi kutahu ia menahan air mata. Ia mendekatkan bibirnya padaku dan menciumku lembut.
Dong Hae menarik kepalanya dan berbisik di telingaku, “Aku mencintaimu,” lalu ia berbalik tapi kutahan tangannya.
“Dong Hae-ssi, tetap fokus dan cepatlah kembali,” kataku.
“Cepatlah sembuh,” ujarnya dengan suara tercekat di kerongkongan lalu pergi.
                Esoknya mereka telah mempersiapkan segala sesuatu untuk operasi. Mereka akan melakukannya sore hari. Ibu menimang tanganku, meyakinkan bahwa tak ada sesuatu yang buruk terjadi. Lalu operasi berjalan begitu saja. aku bisa merasakan warna hijau ruang operasi. Suara dokter di sekitarku, dan peralatan mereka tapi aku terlalu lemah untuk bisa menyimaknya hingga akhirnya jatuh tertidur.
                Aku mimpi aneh. Aku merasakan seseorang berjalan di dekatku. aku mencium aroma parfum pria yang kukenal. Kemudian terasa kecupan di kecupan di keningku. Setelah itu aku tak merasakan apa-apa lagi sebelum beberapa saat kemudian terbangun. Jam sepuluh pagi. Astaga, sudah berapa lama aku tertidur?
                Jam sepuluh pagi. Dong Hae pasti sudah pergi. Pesawatnya berangkat jam tujuh tadi. Aku merasa kesal padanya. Aku merasa marah karena aku terlalu menyukainya dan ia pergi dariku hanya untuk gelar doktoral. Ia begitu egois. Aku merasakan air mataku jatuh.
“Ha Na, kau sudah sadar?” tanya ibuku yang baru muncul dari  kamar mandi. Aku mengangguk dan tersenyum untuk menahan tangisanku.
“Oh ya, sekitar jam sepuluh malam Dong Hae ke sini. Ia menjagamu sebelum berangkat ke Amerika dan langsung pergi ke bandara dari rumah sakit. Dan ia meninggalkan ini,” ibuku menyerahkan sekotak cokelat kesukaanku dan kotak lain berwarna merah.
                 Aku membuka kotak berwarna merah itu dan mendapat buku berbahasa Perancis miliknya, sebuah kotak kecil berisi seuntai kalung bermata berlian, dan sepucuk surat beramplop cokelat. Aku mengambil surat itu dan mencium aroma parfum Dong Hae menempel di amplopnya. Aku membukanya dan membaca suratnya.
‘Ha Na, kuatlah! Aku mencintaimu dari apapun di dunia ini. Aku tak akan meningglkanmu, aku janji. Dan aku akan kembali, pasti. Dari pria mangkokmu, Lee Dong Hae’
                Terdapat titik-titik air di beberapa bagian. Tulisannya tidak rapi seperti biasa, tangannya seperti gemetar saat menulis. Aku mencium surat itu sepuas-puasnya, meski tak tahu kapan penulisnya akan kembai lagi padaku.
***
                SEPULUH TAHUN KEMUDIAN
                Aku mempercepat langkahku menyusuri lorong hotel. Sial, mereka begitu saja memindahkan tempat konferensi persnya. Aku memasuki convention center hotel yang sudah dipenuhi wartawan. Aku tak suka kilasan blitz, penyakit lama yang tak pernah hilang. Aku melewati jalan kecil di antara microphone yang diarahkan padaku. Penuh perjuangan untuk bisa mencapai bagian depan panggung dan duduk di antara para aktor dan aktris, serta sutradara bersama produser film ini. mereka adalah sebuah tim yang baru saja menyelesaikan film adaptasi dari novelku.
“Kim Ha Na, kau terkenal dengan novel-novelmu yang meledak di seluruh dunia. Hampir semuanya terjual di atas sepuluh juta kopi. Kenapa baru sekarang kau mau novelmu mau diadaptasi?” tanya salah satu wartawan panjang lebar.
“Karena aku suka naskah yang mereka buat. Dan kukira aktor-aktor ini bisa mempresentasikan tokoh yang ada dalam novel” jawabku.
“Kabarnya novelmu berjudul ‘BBQ Party’ akan segera difilmkan oleh warner bross, benarkah?”
“Em, itu sedang dalam tahap pembicaraan,” kataku sambil tersenyum.
                Aku hanya menjawab saja berbagai pertanyan di konferensi perss itu. aku bersyukur ketika acara utama itu telah selesai dan para undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Aku dari tadi berkeliling mencari minuman tapi selalu kehabisan. Kerongkonganku kering. Aku kaget saat seseorang menepuk pundakku.
“Mau champagne?”  tanyanya.
“Lee Dong Hae??!!!” kataku tak percaya. Aku langsung memeluknya di tengah kerumunan yang tak memperhatikan kami.
“Kapan kau datang?” tanyaku.
“Dua hari yang lalu,” katanya sambil tertawa.
                Kami mengeluarkan diri dari kerumunan dan memilih untuk ngobrol di balkon hotel. Balkon, tempat yang jadi favoritku setelah bertemu Dong Hae.
“Bagaimana kabarmu professor Lee?” tanyaku. Ia mengangkat pundaknya.
“Yah, seperti inilah, masih sendiri,” ia mengakhiri kata-kata itu dengan tawa hampa. Kami diam sejenak. Suasana menjadi kaku seperti saat kami pertama kali bertemu sebelas tahun silam.
“Maafkan aku tak bisa menjaga janjiku. Aku meninggalkanmu dan tak segera kembali padamu,” katanya. ia mengerutkan dahi, seperti berpikir.
“Kau salah. Kau melunasi janjimu. Kau tak benar-benar pergi karena dirimu selalu ada di setiap ceritaku. Kau, kau masih jadi inspirasi buatku. Kau akhirnya memang kembali kan?” aku berhenti sejenak. Mataku perih menahan tangis.
“Maafkan aku karena tak bisa menunggumu lebih lama. Kau tahu, penyakit ini setiap detiknya bisa saja memburuk, dan aku hanya tak ingin membuang begitu saja waktuku. Aku.... aku ingin seperti orang lain, menikmati hidupku, menikah, punya anak, itulah sebabnya aku sering mengajakmu untuk menikah, hahaha” aku tertawa sambil mengusap air mataku.
“Aku tak tahu apakah masih bisa melakukannya jika aku menunggumu,” aku tersenyum tegar padanya. Mata Dong Hae merah. Kami diam lagi.
“Jika dia memutuskan untuk mengabaikanku walaupun dia memiliki kesempatan memilikiku, maka aku tidak akan lama-lama menyesalinya. Ha Na.... aku melakukannya. Aku melewatkanmu, aku si menyedihkan itu,” katanya sambil menyeka butir-butir perak di sudut matanya. Aku menyentuh pipinya.
“Menikahlah,” kataku. Ia menggeleng dan menarik ingusnya.
“Aku akan menghabiskan waktuku mengajar di universitas. Kurasa tak ada wanita yang bisa menolerir itu,” katanya.
“Yoon Ah masih sendiri,” kataku sambil tersenyum.
“Ia tak bisa menggantikanmu,” ia membalas senyumku.
“Eomma!!!” aku mendengar suara anak kecil yang memanggilku. Bocah lima tahun itu berlari ke arahku.
“Ada apa nak?” tanyaku.
“Appa mencarimu,” jawabnya.
“Sebentar Jae Sung. Kau harus berkenalan dengan ahjussi ini. dia professor matematika,” kataku. Dong Hae berlutut pada kakinya dan menjulurkan tangan yang disambut anakku.
“Namaku Jung Jae Sung, paman,” katanya.
“Namaku Lee Dong Hae. Kau pasti pintar, kapan-kapan kita bisa belajar matematika bersama ya,” kata Dong Hae sambil mengelus kepala putraku.
“Pergilah pada appamu, bilang eomma akan menyusul,” kataku pada Jae Sung. Anak itu seorang penurut seperti ayahnya. Ia mengangguk dan langsung pergi. Aku berbalik lagi pada Dong Hae.
“Aku harus pergi, Jung Yong Hwa menungguku. Kami harus mengunjungi acara yayasan kanker,” kataku. Kami saling berjabat tangan.
“Jaga dirimu baik-baik,” bisikku, kemudian aku mendaratkan ciuman di pipinya.
                Aku meninggalkan pria mangkok itu sendirian di balkon. Aku sudah berada pada masa depanku dan berusaha tak membalikkan badan untuk melihatnya lagi meski hatiku sakit.  Perasaanku pada Dong Hae? Aku tetap merasakan cintaku padanya mengalir setiap aku menulis novel. Ia selalu menjadi inspirasiku. Tak ada yang bisa menggantinya walau sekarang aku mencoba dengan keras untuk menyayanginya sebatas kakak.
                Yong Hwa sedang berbincang dengan direktur Cho. Ia menggendong Jae Sung kecil yang memukul-mukul ayahnya saat melihatku datang. Aku tersenyum saat menghadapi anak dan suamiku yang melambai padaku dengan ceria. Seluruh jiwa, raga dan hatiku adalah milik mereka sekarang.


-----

The Flat 5


V
Korea mulai memasuki musim dingin. Penerbit telah memintaku untuk membuat presentasi tentang novel terbaruku. Aku agak jengkel karena Dong Hae lebih banyak menghabiskan waktu dengan Yoon Ah dari pada denganku. sebenarnya Yoon Ah yang harus kusalahkan. Ia merusak begitu saja harmoni kehidupanku dengan merebut Dong Hae di saat aku membutuhkannya untuk membaca kembali novel ini. Tapi ia sahabatku. Mau bagaimana lagi?
Aku duduk di balkon sambil menikmati susu panas. Aku memeluk kuat-kuat tubuhku sendiri yang terbalut jaket tebal. Dong Hae di balkon sebelah dan melakukan hal yang sama. Kami melihat satu sama lain yang mengigil, lalu tertawa.
“Hei lihat!” ia menghembuskan napas dan membentuk kabut tebal.
“Bisa membuat yang lebih tebal?” tanyanya. Aku melakukannya tapi punyaku tak lebih hebat darinya.
“Aku bisa lebih baik melakukannya dengan asap rokok, hahaha,” kataku. Lalu kami diam. Aku memandang langit malam yang tak ditaburi bintang. Kukira Dong Hae melakukan hal yang sama, tapi ternyata ia memandangku.
“Ha Na,” panggilnya.
“Ne?” jawabku.
“Apa yang akan kau lakukan jika besok mereka menyetujui script mu?”
“Hal yang pertama kulakukan adalah berterima kasih pada editorku,” aku melirik ke arahnya. Mengedipkan sebelah mata.
“Bagaimana caramu berterima kasih?”
“Hmmm, pernah pacaran?” tanyaku. Ia menggeleng. Sudah kuduga.
“Kalau kencan?”
Ia berpikir sebentar, mulutnya manyun “Jalan-jalan kita selama ini tak tergolong kencan?”
“Bukan babbo, hahahah,” kataku. Ia menyipitkan mata tanda tak suka.
“Oke, kalau mereka setuju mencetak naskahku, akan kuberi kau pelajaran privat. Aku akan mengajarimu caranya menghadapi perempuan. Kita akan kencan oppa,” tantangku dengan suara manis.
Ia tak mau kalah, “Baik, kau akan jadi pacarku selama sehari”
Tok...Tok...Tok...Tok...Tok...
                Perhatianku teralih ketika mendengar suara ketukan di pintu.
“Baiklah. Kau yang bayar film dan makannya ya,” kataku meninggalkan Dong Hae yang melongo
Kubuka pintu dan kudapati wanita resepsionis berwajah menyenangkan. Nama wanita ini adalah Nyonya Park. Ia mondar-mandir saat pintu flatku terbuka.
“Nona, pria yang waktu itu datang ke sini ada di depan rumah. Sudah sejak tadi pagi. Ia terlihat kedinginan tapi enggan masuk. Apa kau mau menemuinya?”
                Aku segera turun ke teras untuk menemui Yong Hwa. Ia berdiri di seberang jalan tanpa menggunakan jaket, hanya setelan biasa yang bersih. Berbeda dengan penampilan saat ia datang dulu. Seseorang sepertinya telah mengurusnya. Jambang di wajahnya telah dicukur habis. Aku melihat wajah tampan itu lagi, namun terlihat mengerikan karena sangat pucat. Aku menghampirinya.
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku khwatir.
“Hanya mencoba melihatmu. Tak lebih,” jawabnya. Matanya masih menyiratkan penyesalan saat memandangku.
“Masuklah,” kataku.
“Aku sudah cukup puas,” katanya sambil tersenyum. Ia berbalik arah menuju mobil. Sayang, tubuh itu terlalu lemah untuk menopangnya. Ia ambruk.
                Aku yang panik segera menolong. Kubantu ia berdiri. Kulitnya sedingin es. Kuselimuti ia dengan jaketku, kukaitkan lenganku ke lehernya, lalu kubopong ia menuju flatku. Aku menidurkannya di kasurku. Kututup tubuhnya dengan tiga lembar selimut tebal dan kupasang termometer di ketiaknya. Ia memejamkan matanya dan bibir itu terlihat biru. Aku segera membuatkan sup panas.
“Makan ini,” kataku saat menyuapkan sup. Ia menurut. Aku memegang dahinya. Demam. Kuambil termometer dari ketiaknya. Tiga puluh delapan derajat.
                Aku terus menyuapinya sampai sup di mangkok habis. Lalu kupasang kompres di dahinya dan memberi Yong Hwa obat penurun panas. Ia tertidur pulas sambil sesekali mengigau. Ia menyebut terus namaku. Aku menatap sedih wajah Yong Hwa. Aku kasihan padanya. Aku tahu seharusnya kubalas perasaannya. Sudah kucoba sejak kulihat tatapan penyesalan di mata itu. Aku mencoba menyukainya lagi tapi tak bisa. Aku menitikkan air mataku.
“Maaf,” kataku sebelum tertidur di sisinya.
                Aku kaget ketika melihat tak ada Yong Hwa di kasur. Aku segera berlari keluar kamar tetapi langsung berhenti ketika mendengar seseorang tengah memasak.
“Selamat pagi,” sapa Yong Hwa dengan wajah pucatnya.
“Pagi,” balasku.
                Aku membantunya membuat pancake untuk sarapan. Aku membuat pancake berlebih karena ingin kuberikan pada Dong Hae dan si lelaki tua. Bahkan aku kepikiran membuatkan untuk Jeong Min dan ayahnya. Setelah itu kusiapkan susu untuk Yong Hwa dan kopi untukku. Ia sempat oleng saat berjalan dan segera kutahan. suhu tubuhnya masih tinggi, tapi ia bersikeras kalau ia baik-baik saja. kami makan dalam diam.
“Jadi, kita memang sudah tidak bisa memulainya dari awal?” tanya tiba-tiba. Aku mengangguk pelan.
“Kupikir aku bisa melupakanmu, tapi aku salah. Aku sudah memulai hidup normal lagi, tapi saat melewati flat mu, aku berhenti dan hanya bisa memandanginya,” katanya. Aku tersenyum. Yong Hwa menatapku lekat-lekat.
“Hei, ada apa dengan senyummu?” ujar Yong Hwa.
“Seseorang telah merubahnya,” kataku ceria. Aku teringat Dong Hae.
***
                Aku berada di ruang bundar ini setelah hampir tiga tahun tak pernah memasukinya lagi. Aku berdiri di ujung meja  di depan sebuah layar yang menampilkan presentasiku. Para pimpinan penerbitan berada di bagian meja yang lain, muka mereka serius saat memandangku. Termasuk Yong Ju. Ia mengisyaratkan kata ‘awas saja kau’ saat memandangku dengan mata elangnya. Direktur Cho ada di ujung sana. bibirnya terlihat sangat tipis saat mempersilahkan aku memukau mereka.
                Mereka menginterupsi saat ada hal-hal yang tak masuk akal terlintas di kepala orang-orang tua ini. Bae Yong Ju menggeleng padaku saat aku akan mulai membantah. Aku mengangguk paham. Dengan hati selapang lapangan bola, kuterima masukan mereka untuk mengubah beberapa bagian novel. Ini adalah lompatan besar dalam perkembanganku karena biasanya aku tak mau sama sekali menerima saran dari siapapun. Para penguji menatapku dengan puas. Direktur Cho mengetuk-ngetukkan bulpen di tepi mejanya.
“Nak, Stephenie Meyer tak lebih hebat darimu,” katanya.
                Aku berlari menaiki tangga. Lantai satu, lantai dua, lantai tiga, aku tak berhenti menyunggingkan senyum saat bertemu gerombolan pekerja kasar di lantai tiga yang menggodaku, lantai empat, aku terus menaiki tangga, melangkahi langsung dua anak tangga, sampai akhirnya tiba di lantai lima. Kuketuk pintu bernomor 36 itu. Dong Hae mengulurkan kepalanya dari pintu.
“OPPPA!!!” aku berteriak sambil menghambur ke arahnya. Kupeluk ia erat-erat. Semula ia ragu, tapi ia balas memelukku. Bagian baik dariku tak pernah memanggilnya oppa,baru kali ini. Aku pernah sekali memanggilnya oppa, tapi saat itu bagian jahat dari diriku yang melakukannya, saat di lift beberapa bulan lalu.
“Oppa?” ia menggerutu.
“MEREKA AKAN MENCETAK NOVELKU, HAHAHA!”
                Terkadang menjadi bahagia akan menjerumuskanmu ke dalam ketidakpekaan. Perhatianku hanya tertuju pada Dong Hae, tanpa memperhatikan Yoon Ah yang melihat dalam kebisuan. Aku segara melepaskan pelukanku saat Yoon Ah makin dekat ke arah kami sambil menggotong ranselnya.
“Dong Hae-ssi, terima kasih atas pelajarannya. Aku harus pergi, ada janji,” kata Yoon Ah. kemudian ia melihat padaku, “Kerja yang baik kawan” ia tersenyum sambil menepuk pundakku. Lalu ia pergi begitu saja.
                Kejadian tadi terus terputar di otakku begitu saja. Aku tak bisa menghilangkan senyum ganjilnya dan kalimat ‘kerja yang baik kawan’. Jelas ia meledekku. Aku menghubunginya tapi tak diangkat. Aku menggaruk kepalaku bukan karena gatal, tapi bingung. Aku tak bermaksud apa-apa saat memeluk si pria mangkok. Hanya menyalurkan kegembiraan saja. dan aku makin gembira saat dalam pelukannya. Oh yang benar saja, ia sudah kuanggap sebagai saudara sendiri. Masa bodoh dengan Yoon Ah jika ia menganggapku sebagai pengkhianat. Kalau kau memang suka dia, kenapa tak langsung kau katakan?
                Aku hanya bisa menutup mata tanpa bisa tidur. Jam 1 dini hari. Aku mengubah posisi tidurku untuk kesekian kali. Pria yang akan kencan denganku besok tepat tidur di atas kepalaku, kami hanya dipisahkan tembok. Astaga, belum pernah kencan sama sekali. Aku terlau bosan hingga akhirnya memukulkan tanganku ke tembok.
Dug....
                Barangkali jika ia mendengar suara pukulanku di tembok, mimpi indahnya bisa menjadi agak mengerikan. Aku terkikik. Aku melakukannya lagi.
Dug... Dug...
                Aku memandang langit-langit kamarku selama beberapa detik sampai tiba-tiba...
Dug...Dug...
                Aku tersentak. Jantungku mencelos. Aku memfokuskan pendengaranku lagi agar lebih sensitif. Ada yang membalas dari sebelah. Mungkin suara itu hanya khayalanku saja. Dong Hae pastinya sudah tidur. Aku menunggu suara di tembok lagi tapi tak ada. Aku mengecek lagi dengan memukul tembok.
Dug... Dug... Dug....
                Orang di sebelah membalas..
DUGGGG...DUUUGGGGG....
                Ommo, jelas orang itu marah. Jangan-jangan penjahat. Apa yang mereka lakukan pada Dong Hae? Ya Tuhan, sebenci-bencinya aku padanya, tolong lindungi dia. aku bergidik ngeri dan menaikkan selimut melewati kepalaku. Ada apa denganku? aku baru saja berdoa pada Tuhan! Sesuatu yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Kengerianku karena orang yang memukul tembok di sebelah dan kekagetanku karena diriku sendiri bertambah besar saat ada yang mengetuk pintu flatku. Jantungku berdegup kencang. Aku takut. Tapi ketukan itu tak berhenti, malah semakin keras dan sering. Pasti orang dari sebelah. Aku menelan ludah. Jika, ia bisa melumpuhkan Dong Hae yang berbadan atletis itu, tentu tak mudah baginya untuk menghabisiku. Cepat atau lambat ia akan masuk kemari, begitu pikirku.
                Maka kuputuskan untuk mengecek orang yang mengetuk itu. aku siap dengan pisau dapur. Jika dia melawan, aku yang akan menghabisinya duluan. Toh jika akhirnya aku yang jadi korban, aku akan mati terhormat karena pernah melawan sebelumnya. Sekali lagi aku berdoa, Ya Tuhan, jika ini memang akhir hidupku, tolong jaga adik dan ibuku. Aku menelan ludah saat berhadapan dengan pintu yang terus digedor itu. aku sudah memegang pegangan pintu, memutar kunci, dan jika orang itu menyerang, aku akan menusuknya.
JEBRET!!
                Kubuka pintu dan secara refleks mengarahkan mata pisau pada orang yang berada di depanku. Aku terbelalak saat mengetahui siapa sebenarnya orang itu. Aku berusaha menghentikan tanganku, tapi tak bisa. Dia secara sigap menahan pisauku dengan tangan kanannya. Aku melihat darah menetes dari tangan Dong Hae. Pisauku hampir saja menembus perutnya.
“Kau tak papa? Ada siapa di dalam?” tanyanya khawatir. ia tak memikirkan tangannya yang luka. Aku berharap ada alat penyedot yang bisa menghisapku hidup-hidup saat ini.
“Tak ada siapa-siapa. Aku yang memukul tembok tadi,” aku nyengir. Ekspresinya mengisyaratkan ia akan menelanku bulat-bulat malam ini juga.
                Aku membersihkan luka Dong Hae di meja makan. Menyiramnya dengan larutan NaCL. Tangannya masih berdarah walau tak sebanyak 10 menit yang lalu. Aku menutup alur luka dengan kassa setelah memberinya obat dan membebat tangannya dengan bandage. Darah masih merembes melewati kain itu. mata Dong Hae mengawasiku saat aku mengerjakan pertolongan pertama pada kecelakaan ini. Untung aku sempat ikut PMR saat SMP dulu.
“Kau hampir membunuhku,” katanya galak.
“Aku tahu,” aku hanya menunduk, tak berani memandang calon korban pembunuhanku. Aku tak bisa membayangkan jika akhirnya aku benar-benar membunuhnya. Editor, teman, manajer, merangkap kritikusku yang berharga bisa saja menghilang tiba-tiba dariku. Ia sangat berharga, apapun itu julukannya....
“Jangan menangis,” katanya tiba-tiba.
“Aku tak menangis,” aku membela diri. Tapi ia benar, air mata mengalir di pipiku dan tahu-tahu aku sudah tersedu sedan.
“Huuuahhhhh, aku tak bisa membayangkan bila kau mati di tanganku!!! Aku bisa masuk penjara, karirku hancur! Bagaimana dengan ibu dan adikku!! Dan yang paling parah adalah aku akan kehilangan kau....!!! huhuhuhu...” tangisku. Aku tak tahu kenapa aku menempatkan Dong Hae pada posisi di mana ia yang paling penting di antara segalanya.
“Oh, berhentilah,” ia segera menggeser kursinya ke arahku dan merangkulku.
                Yang terjadi pada malam itu hanyalah usahanya untuk membuatku diam. Aku akhirnya berhenti menangis bukan karena tepukannya di punggungku, tapi karena aku kelelahan. Ia sepertinya lelah juga hingga akhirnya kami tertidur di atas meja makan.
                Aku terbangun keesokan paginya dengan pemandangan yang kulihat pertama kali adalah wajah Dong Hae. Ah leherku sakit. Aku meregangkan tubuhku sebentar. Aku segera beranjak dari kursi dan membuka gorden. Mata hari sudah tinggi. Tumpukan salju di jalanan sudah dibersihkan.
“Dong Hae, bangun. Sudah siang,” kataku sambil mengguncang-guncang tubuhnya.
“Hmmm....” ia hanya menggumam tak jelas lalu kembali tidur. Dong Hae terlihat nyaman-nayaman saja tidur dalam posisi seperti ini. Barangkai ia sudah terbiasa tidur di meja belajarnya.
“Bagaimana dengan kencan kita?” tanyaku. Pertanyaan itu cukup berefek padanya. Ia mengangkat kepala, lalu perlahan-lahan bangkit dari kursi. Matanya masih menutup dan berjalan pelan menuju pintu. Aku melihat tangannya yang luka menggantung lemah di sebelah kanan. Kain itu benar-benar basah karena darah.
“Hei, kita ke rumah sakit dulu ya,”
“Tak perlu,” jawabnya.
“Lukanya bisa infeksi,” kataku.
“Apa pedulimu?” sahutnya. Aku mengerutkan kening.
“Apa peduliku? Ya sudah batalkan saja kencannya,” kataku sambil bersedekap. Dasar keras kepala.
Ia berhenti lalu berjalan kembali ke arahku, “Kau benar-benar menyebalkan ya?” katanya.
“Kau sudah tahu itu kan?” jawabku cuek.
                Kami akan ke rumah sakit dulu sebelum ke tempat kencan yang belum kami rencanakan sama sekali. Dong Hae memakai pakaian yang casual hari ini. Ia terlihat sesuai untuk umurnya, tidak seperti hari-hari biasanya yang terlihat tua untuk pria berumur 24 tahun. Aku baru sadar betapa tampannya ia. Kami berlari kecil menuju mobil Dong Hae. Jejak langkah kami tercetak di salju yang cukup tebal. Aku meniup tanganku yang kedinginan. Aku mencapai mobil lebih dulu darinya dan menunggu di pintu bagian penumpang yang masih tertutup.
“Cepat!” kataku sambil terus meniup tangan. Ia berhenti saat melihatku.
“Lihat, aku tak bisa menyetir” ujarnya sambil menunjukkan tangan yang perbannya sudah kuganti. Ia lalu melemparkan kunci mobil kepadaku. Aku hanya bisa terperangah.
“Hei, kau membiarkan wanita yang menyetir untuk kencan? Hah,” aku mengejeknya.
“Lalu mau bagaimana?” tanyanya.
                Kami berjalan menuju halte bus yang berjarak satu blok dari rumah. Ia melirik jengkel ke arahku. Aku tersenyum. Aku menjelaskan padanya bahwa memakai kendaraan umum merupakan cara yang romantis untuk sampai ke tempat kencan. Ia melangkah dengan langkah yang sengaja dipanjang-panjangkan sehingga membuatku harus berlari kecil untuk menyamainya. Aku merapatkan tubuhku padanya dan  melingkari lenganku pada lengannya dengan susah payah.
“Dengar ya, ini yang biasanya dua orang kekasih lakukan saat mereka berjalan bersama,” kataku. Ia mendengus.
                Kami sampai di rumah sakit dan perawat yang berada di loket pendaftaran menyuruh kami untuk pergi ke UGD. Luka Dong Hae harus di jahit rupanya. Kami berjalan mengikuti perawat itu dan sempat berhenti ketika melihat ibu hamil tua yang sedang mengalami kontraksi. Ia baru saja diturunkan dari ambulans dan dibawa terburu-buru menuju ruang bersalin. Kami terpana. Lalu kami berpapasan dengan beberapa orang yang didorong dengan kursi roda, lelaki yang berjalan dengan selang infus yang masih terpasang di tangannya, dan seorang anak perempuan botak yang berlari-lari dari ibunya. Korban kemoterapi, pikirku. Aku makin merapatkan tubuhku ke Dong Hae dan Dong Hae langsung menggenggam tanganku.
                Dokter langung melakukan tindakan begitu kami tiba di UGD. Ia melepaskan perban, melakukan pembersihan lagi pada luka, menyiapkan benang dan jarum, lalu langsung menjahit  Dong Hae yang sedang duduk. Kulihat Dong Hae meringis kesakitan saat jarum yang telah berkaitan dengan benang itu masuk ke kulitnya. Aku langsung memutar kepala Dong Hae dan membenamkannya dalam bahuku. Aku tak tega melihatnya menderita.
“Maaf nona, kau siapanya tuan ini?” tanya dokter setelah selesai dengan luka Dong Hae.
“Aku pacarnya,” jawabku mantap. Aku menggerling ke arah Dong Hae dan mengedipkan sebelah mataku. Ia tertawa.
“Tuan Lee baik-baik saja. Pastikan bagian luka itu selalu bersih sehingga tak terjadi infeksi. Lalu dia bisa datang seminggu lagi untuk melepas jahitannya,” aku mengangguk ketika mendengar penjelasan itu.
“Kencan di rumah sakit cukup romantis kan?” tanyaku sambil mendorongnya ke samping. Ia tertawa.
“Kau mau ke mana?” tanyanya.
“Ke mana ya? Bagaimana dengan nonton? Lalu kita makan pasta, lalu kita makan ice cream, lalu...” aku tak sempat menyelesaikan kalimatku karena Dong Hae sudah mengacak-ngacak rambutku dengan tangannya yang sehat.
“Baiklah, kita lakukan semuanya, hahaha”
                Bus membawa kami ke daerah sekitar sungai Han. Dong Hae langsung menarikku menuju gedung Yuksam atau biasa yang disebut gedung 63. Gedung berisi teater IMAX, aquarium raksasa, tempa makan, dan toko-toko merek terkenal. Kami membeli dua tiket film romantis Hollywood yang sedang digandrungi remaja. Film tentang cinta terlarang Vampir dan seorang wanita muda. Tapi yang kami lakukan hanyalah terus mengomentari film itu sambil tertawa terbahak-bahak. Pasangan-pasangan muda di samping kami memandang tak suka. Aku jadi ingat Stephenie Meyer saat menontonnya. Haha, ia tak lebih baik dariku.
                Dong Hae menyuruhku untuk memesan makanan paling mahal ketika kami berada di restoran. Ia tak punya seeorang yang bisa ia traktir selama tinggal di Seoul. Sama sepertiku, Dong Hae meninggalkan keluarganya yang tinggal di pulau Jeju. Kami sama-sama anak pantai. Keluarga Dong Hae adalah pemilik penyewaan kapal pesiar turun temurun sadangkan keluargaku bergerak di bisnis penjualan hasil laut.
“Lalu kenapa kau memilih matematika?” tanyaku sambil memasukkan lobster ke dalam mulutku.
Ia berhenti menjilati saus spageti sebelum menjawab pertanyaanku, “Aku tak tahu harus memilih apa saat pendaftaran universitas. Jadi kulingkari matematika saja”
                Kami berkeliling mengamati etalase toko tanpa niat ingin membeli sama sekali. Kami menyusuri tiap lantai untuk menemukan hal-hal menarik. Iklan gadget-gadget  bertebaran di mana-mana. Kami masuk ke tempat permainan dan bermain tembak-tembakan virtual. Dong Hae agak susah memegang senjatanya dan langsung mati di level satu. Jadi aku sibuk melanjutkan permainan ini sedangkan ia pergi entah kemana.
                Aku memegang ice cream yang hampir meleleh saat memasuki sea world dalam gedung. Dong Hae akan ke menuju aquarium berisi hiu tutul ketika  kutahan ia. Aku menariknya  untuk mengikuti dari belakang rombongan anak SD yang sedang berwisata. Kurang lebih kami menjadi tambahan ilegal dalam daftar peserta tour. Kami ikut mendengarkan penjelasan pemandu bahkan Dong Hae mengangkat tangan secara refleks saat pemandu mengajukan pertanyaan. Aku langsung memisahkan diri darinya begitu ia melakukan tindakan yang cukup bodoh itu.
                Kami makan malam bersama di warung ramen pinggir jalan. Lalu menonton atraksi pengamen jalanan di pinggir jalan utama, dan akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke taman di sekitar sungai Han. Aku dan Dong Hae saling adu besarnya cipratan air saat melempar batu ke sungai. Sebenarnya perbuatan ini dilarang dan kami sempat dimarahi petugas kebersihan yang sedang patroli dekat sini.
                Kami akhirnya duduk di tepi sungai memandangi cahaya bulan yang memantul. Jika kami berada di sisi lain sungai, pasti cahaya bulan akan kalah bersaing dari neon-neon ibu kota. Kerak-kerak es mengalir mengikuti arus. Aku bisa merasakan cahaya itu mengenai wajahku. Udara di musim dingin ini begitu segar. Dong Hae kembali dengan membawa dua gelas kopi. Kami tak banyak bicara.
“Aku tak mau malam ini berakhir,” katanya.
“Makanya, cari pacar sana,” godaku.
Dong Hae melihat ke arahku, “Hei, ada satu hal dalam kencan dua sejoli yang belum kaulakukan,”
“Apa?” tanyaku. Ia diam sesaat. Sepertinya ragu mengatakannya.
“Cium aku,” ujarnya.
“Kau gila ya?” nadaku meninggi.
“Kau bilang padaku akan mengajarkan semua yang kau tahu tentang pacaran. Sekarang ajari aku berciuman,” katanya protes.
“Aku tidak mau,” aku memalingkan wajah darinya.
“Berarti kau mengingkari janji, ayo pulang saja,”
“Baiklah!!!” kataku jengkel. Aku menariknya kembali duduk saat ia beranjak berdiri.
Aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku. Muka kami berhadapan.
“Perhatikan ini baik-baik ya,” kataku. Aku memejamkan mata saat mendekatkan wajahnya padaku. Aku bisa merasakan napasnya pada mukaku sekarang. Aku membuka mataku dan melihat hidung kami sudah bertemu, tapi belum dengan bibir.
“Aku tak bisa melakukannya,” kataku sambil menempelkan tanganku pada wajahnya agar menjauh.
                 Ia memegang tanganku dan menarik ke arahnya dengan kasar.
“Jangan-jangan kau tak pernah ciuman ya?”
“Tentu saja pernah...”
“Kalau begitu tunjukkan padaku,”
“Aku tak bisa melakukannya denganmu,”
“Kalau begitu aku yang akan melakukannya,”
                Sekarang gantian ia yang memegang pipiku dengan kedua tangannya. Matanya berkonsentrasi pada mukaku. Aku balas melotot padanya. Kemudian ia memejamkan matanya dan mulai memajukan wajahnya. Aku melihat wajah itu semakin dekat dan aku ikut-ikutan menutup mata. Aku bisa merasakan lagi hembusan napasnya. Aku makin memejamkan mataku sampai tiba-tiba....
                Bibir kami bertemu. Bibir Dong Hae terasa lembut dan hangat. Aku membuka mataku pelan-pelan dan mendapati ia memejamkan mata menikmati pengalaman pertamanya. Aku adalah ciuman pertama Dong Hae. Aku menutup mataku lagi, membiarkan diriku dibawa olehnya.
                Bibir kami terus menempel selama beberapa menit hingga benar-benar berubah menjadi sebuah ciuman. Tanganku sudah melingkar pada lehernya dan tangannya memeluk pinggangku. Aku mengingat lagi perasaan kecewa saat melihat Yoon Ah berduaan dengannya. Aku membayangkan lagi saat aku benar-benar takut kehilangannya di hari penusukan itu. Aku menghubungkan satu-satu perasaanku padanya, dan kudapati sebuah pita merah muda panjang yang membentuk gambar hati.

“Ha Na-ssi...” panggilnya setelah bibir kami terpisah, “..aku mencintaimu.”

The Flat 4

IV
Aku terbangun saat mendengar suara orang terburu-buru di luar kamarku. Aku berada di dalam kamarku dengn pintu yang tak ditutup, kemudian sadar apa yang terjadi semalam. Aku buru-buru keluar kamar untuk memastikan  Hyong Ju tak kabur lagi. Tapi aku tak bisa teriak dan memilih berjalan terpincang-pincang. Sesampainya aku di ujung kamarku, ku dengar pintu flat ditutup. Aku terlambat. Kemudian aku berjalan ke arah sofa dan mendapati kertas bertuliskan:
‘Aku berangkat sekolah dulu. Pulang jam 7 malam. Semalam Yoon Ah eonni menjagamu,tapi ia sudah pulang. Jangan khawatirkan aku. Istirahat dan makanlah’
                Aku duduk di sofa dan melihat luka-lukaku. Sudah diobati ternyata. Pergelangan kakiku sudah difiksasi. Aku teringat si pria mangkok. Aku telah berhutang banyak padanya. Aku harus bersikap baik, setidaknya aku harus mengunjunginya.
Tok..tok..tok...
                Pintu bernomor 36 itu terbuka.
“Ada apa?” tanyanya. Ia sempat kaget saat melihatku. Ia menggunakan kaos oblong putih.
Gomawo,” kataku sambil menundukkan kepala. “Terima kasih,” aku masih menunduk ke arahnya. Ia terlihat bingung lalu cepat-cepat memintaku berdiri lurus. Kami diam beberap saat.
“Emmm, kau mau sarapan bersama?”aku mengangguk.
                Itulah pertama kalinya aku berada di tempat lain dalam rumah ini selain ruanganku. Tak banyak bedanya denga flatku ternyata. Hanya saja bagian flat ku yang berada di bagian kiri, di flatnya akan berada di bagian kanan. Sehingga kamar tidur kami hanya dipisahkan tembok. Ruangannya bernuansa merah. Dan ada lemari buku berisi banyak buku di bagian ruang tivinya.
                Kami makan dalam diam. Makanan ini adalah makanan yang pertama kali masuk sejak insiden adikku itu. Aku tak pernah selapar ini sebelumnya, tapi aku harus menjaga sikap. Maka kusendok nasi sediki-dikit laku kumasukkan ke mulutuku. Aaahhh, enak sekali.
“Ehem,” dia berdehem untuk meredam kesunyian di antara kami. Aku menatapnya.
“Well, kita belum pernah berkenalan sama sekali, aku Lee Dong Hae,” katanya sambil mengulurkan tangan. Aku menyambut tangan itu.
“Kim Ha Na,” kataku. Kami berjabat tangan lumayan lama sampai aku melepaskan tanganku.
“Oh, tentu saja. Aku menyukai bukumu. Embrace,” katanya agak kikuk. Ia berusaha tak memandang mataku.
 “Emm, kau tak keberatan jika sarapan sendiri?  Aku mau mandi,”
“Tentu,” jawabku.
Aku menyelesaikan sarapanku lima menit kemudian. Aku mengelilingi flatnya dan tertarik untuk melihat pemandangan melalui balkon Dong Hae. Kutarik napas panjang dan kuhembuskan pelan-pelan. Oh hidup, pikirku. Kemudian aku berjalan ke ruang tivi yang dikelilingi lemari buku. Aku terkesima melihat koleksi bukunya. Aku membaca beberapa judul tua di sana. Beberapa judul fiksi yang kuambil adalah The Little Price dan Dream of Red Chamber. Kemudian aku beralih ke bagian lain lemari saat menemukan buku berbahasa perancis ‘Vingt Ans Après’.  
“Koleksiku tak cukup banyak,” kata Dong Hae tiba-tiba. Ia sudah selesai mandi dan telah mengenakan setelan rapinya yang biasa. Berjas tapi tak berdasi.
“Tak cukup banyak? Ini sangat banyak,” kataku tak menyembunyikan rasa kagum.
“Tak cukup banyak bila di bandingkan perpustakaan di fakultasmu?”
“Oh ya? Dari mana kau tahu? Aku bahkan belum pernah benar-benar menelusuri isi perpustakaan itu!” kataku.
“Yang benar saja?” kata Dong Hae sambil tertawa kecil. Aku menangkap kesan mengejek dibalik perkataan singkatnya itu. kemudian kuingat buku berbahasa perancis miliknya. Keningku berkerut.
“vous voudriez vraiment lire. Je n'ai jamais rencontré ce titre auparavant. menceritakanya pour me voulez-vous?” kataku sambil menunjuk buku berbahasa perancis itu. Dong Hae menatapku dengan mulut sedikit terbuka.
“Maaf?” katanya.
“Meanhe, kukira kau bisa berbahasa perancis,” kataku sambil mengayunkan buku itu. skor kita 1:1 oppa, kata suara dalam kepalaku.
“Well, aku hanya suka mengoleksinya,”  katanya datar. Aku merasa bersalah. Aku baru saja berkenalan dengan orang yang sudah menyelamatkan hidupku dan aku sudah berani mengejeknya secara tidak langsung. Ia bisa saja benci padaku.
Kami berbincang sebentar sebelum aku kembali ke kamarku.
“Terima kasih atas sarapannya,” kataku di depan pintu flat nya. Aku berdiri sambil meremas tanganku. Sebenarnya aku masih gugup jika berhadapan dengan pria mngkok ini.
“Sama-sama,” katanya. Kami diam sebentar.
“Maaf atas mangkok itu,” aku mengingat kejadian tiga bulan lalu.
“Aku sudah melupakannya,”  ia tersenyum, melambaikan tangan, berbalik dan pergi.
***
                Aku duduk menghadap jendela di dalam kamarku. Laptop sudah kunyalakan dengan segelas susu panas di sampingnya. Aku melihat ke arah jam yang masih menunjukkan pukul 3. Aku masih kenyang dengan sarapan bersama tetanggaku itu tadi pagi. Aku lupa menanyai pekerjaannya. Aku jadi ragu apakah ia hanya karyawan biasa atau sales. Si pria mangkok itu terlihat terlalu intelek untuk kedua profesi tersebut. Aku menatap ke arah layar laptop yang sudah kutatap setengah jam. masih kosong. Aku belum menulis apapun.
                Apa yang akan kutulis? Roman picisan biasa? Cerita cinta penuh tragedi? Revolusi kehidupan? Drama keluarga? Komedi? Bagaimana dengan roman picisan biasa yang penuh tragedi di tengah revolusi hidup dan penuh dengan intrik keluarga yang senang komedi?   Aku melihat pantulan wajahku di layar komputer. Aku memainkan ekspresi di wajahku yang kaku. Hmm, tak sekaku biasanya. Aku mencoba tersenyum, memamerkan gigik-gigiku, tapi apa kulihat...
“AAARRRGGGHHH....!!!!” aku menjerit sejadi-jadinya. Kututup layar laptopku yang masih menyala.
                Napasku saling berkejaran. Saling sambung. Aku memegang dadaku. Kurasakan denyut jantungku cepat sekali. Ya Tuhan, apa itu aku? Aku menatap ngeri pada laptopku. Kuraba wajahku, mencari apa yang salah di sana. Aku berjalan menyeret kakiku yang masih sakit karena kejadian semalam. Kupandangi diriku lekat-lekat. Kutarik napas panjang, dan kucoba tersenyum lagi. beberapa detik kemudian kudekap mulutku agar tak berteriak. Senyum itu seperti senyum pada labu halloween.
Tok..Tok.. tok..
                Aku agak tersentak saat mendengar pintuku diketuk. Kubuka pintu dan Yoon Ah menyodorkan sekotak delimanjoo ke mukaku. Kotak itu langsung kuambil dan kuayunkan pintuku agar tertutup.
“Terima kasih ya,” kataku sambil tertawa kecil.
“Hei, jadi kau lebih mementingkan delimanjoo ketimbang sahabatmu,” katanya sambil berusaha menahan pintu.
“Hahaha, aku bercanda sayang,” kataku sambil melebarkan pintu lagi. mukanya cemberut.
“Ayo masuk. Aku ingin bercerita sesuatu padamu,” kutarik tangannya tapi ia tak bergerak. Aku ingin menceritakan senyumku yang mengerikan.
“Aku harus segera pergi Ha Na. Aku datang hanya untuk menjengukmu sebentar. Kau tak apa-apa kan?” tanyanya sambil melihat luka di tanganku. Mulutku manyun.
“Ada apa sih memangnya?”
                Aku mendengar hapenya berbunyi. Ia cepat-cepat mengangkatnya.
“Anyeonghaseyo. Ne. Aku akan segera ke sana. Baiklah Lee Seung Gi, hahaha. Aku tahu,” ia menutup teleponnya. Aku memberikan tatapan penuh tanda tanya.
“Apa?” tanyanya padaku.
“Tak apa-apa nyonya Lee,” aku menggodanya.
“Aiiisshh, kami tak punya hubungan....”
“Sssttt, cepat pergi. Ia sudah menunggumu,” aku mendorongnya menjauh. “Bye...” aku menutup pintu menghiraukannya yang berusaha memberikan penjelasan.
                Aku meletakkan kotak delimanjoo di meja makan dan berjalan menuju balkon. Aku tak pernah benar-benar menikmati balkon karena kehadiran Dong Hae pada saat-saat aku ingin berada di sana. Tapi kukira sekarang kami telah berteman dan ia tak terlalu mengerikan rupanya. Aku meregangkan badanku dan menarik napas panjang menikmati suasana di atas sini. Tak terlalu buruk rupanya.
                Dari sini aku bisa melihat halaman belakang rumah. Ada ayunan dan macam-macam permainan lain di sana. Alat panggang barberque, meja dan kursi panjang di bawah pohon-pohon rindang. Barangkali dulu para penghuni suka berkumpul bersama. Aku tak pernah lebih dari lima menit menikmati suasana di sini. Aku takut bertemu Dong Hae. Kudengar suara pintu digeser dari balkon sebelah. Benar saja, Dong Hae yang keluar. Mulutnya yang penuh sedang asyik mengunyah sesuatu. Di tangannya ada sepotong delimanjoo. Kebetulan sekali, pikirku.
“Hai,” sapanya. Ia memasukkan seluruh delimanjoo ke mulut dan duduk di kursi kebesarannya. Mengelus-ngelus perutnya.
“Kau sudah pulang?” tanyaku kaku. Yah, kami baru saja berkenalan hari ini secara resmi dan kuakui kami masih canggung untuk saling berinteraksi.
“Aku hanya kuliah sebentar saja hari ini,”
“Kuliah?” tanyaku lagi. Agak heran. Ia mengangguk.
“Matematika. Tak terlalu berguna, hahaha,”  ia mengakhiri dengan tawa renyah. “kenapa memangnya?” sekarang ia yang balik bertanya.
“Oh, kukira kau sales atau semacamnya,” ia menatapku tak percaya. Lalu tertawa terbahak-bahak. Aku tak mengerti apa yang lucu.
“Cinca? Aku mesti merubah penampilanku,”
“Hahaha, ya benar sekali...” aku mengatakannya sambil tertawa. Lalu kuhentikan tiba-tiba. Teringat wajahku di cermin. Ia melihatku. Sepertinya dia tahu ada yang tak beres.
 “Em, aku mau bertanya sesuatu,” aku tak seharusnya bertanya padanya. Kami baru saja berkenalan. Tapi dia benar-benar menyenangkan. Ia bangun dari kursinya, menuju ke arah balkonku, mendekatkan badannya.
“Apa itu?” tanyanya dengan suara rendah. Aku mendekatkan wajahku padanya. Ragu-ragu.
“Jawab dengan jujur. Apa senyumku mengerikan?” aku bertanya dengan suara yang lebih rendah darinya. Ia mengerutkan kening beberapa saat. Lalu mengangguk dengan mantap.
                Aku membayangkan jantungku terbuat dari kaca, lalu pecah karena jawaban sederhananya itu. Aku mundur dan bersandar pada pintu dan meremas pagar balkon.
“Mau kujari cara tersenyum?Aku punya buku tentang itu,” katanya.
“Kapan-kapan aku mampir ke tempatmu untuk membacanya,” aku masuk ke flatku. Meninggalkannya sendiri.
“Kutunggu..” aku mendengar sayup-sayup jawabannya.
                Jung Yong Hwa, seandainya kau tak pernah mengkhianatiku pasti tak akan seperti ini akhirnya. Aku memberi terlalu banyak kepercayaan padamu, dan sepertinya aku salah. Yong Hwa, aku sebenarnya sangat bahagia denganmu. Terlalu bahagia. Dalam setiap ceritaku sejak kau datang dalam hidupku lima tahun yang lalu, kau selalu jadi pangerannya dan aku si Cinderella itu. aku butuh cinta seorang ayah dan kau memberinya. Kau tampan, kaya, pintar, sangat luar biasa. Aku? Cinderella yang keluar dari peraduan karena karya fiksi inspiratif yang dicinta orang. Benar, kau menghujaniku dengan cinta. Sampai-sampai tumpukan kertas bernama novel itu hanya berisi cerita cinta juga. Lalu semua mulai berubah sejak dua tahun yang lalu. Aku harap tidak terjadi, tapi kau memang berubah. Aku tak tahu masih mencintaimu atau tidak. Dan akhirnya aku tak tahu apa yang harus kutulis. Aku kehilangan inspirasi.
                Aku  berdamai dengan Hyo Jung malam ini. Kami berpapasan di dapur saat ia pulang. Aku tahu ia ingin menghindariku. Sebenarnya aku terlalu gengsi untuk minta mengatakannya, tapi hanya kata itu yang keluar saat aku bertemu dengannya.
“Maaf..” kataku dengan suara berat. Kerongkonganku sakit saat mengatakannya. Ia menatapku tak percaya. Lalu ia berhenti sebentar dari kegiatannya memasak ramen dan memelukku.
                Kami akhirnya makan ramen bersama. Ia membagi hasil masakannya denganku dan menceritakan kronologis saat ia menghilang. Ia tak tahan aku melarangnnya bertemu Jeong Min. Tak tahan saat aku mengoceh tentangnya. Adikku itu yang mengajaknya kabur walau Jeong Min tak setuju. Tapi adikku keras kepala. Jeong Min akhirnya mau asal mereka tinggal di rumah ibu Jeong Min yang telah bercerai dari ayahnya. Ia mengatakan fakta sebenarnya bahwa bukanDdong Hae yang berhasil meyakinkannya. Tapi Jeong Min sendiri. Dong Hae bahkan tak sanggup mengejar adikku, namun Jeong Min yang mampu mengejar Hyo Jung dan membujuknya untuk pulang.
                Maka hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang normal. Minggu ini adalah minggu terakhir adikku tinggal bersamaku. Asrama sekolahnya telah selesai direnovasi dan Dong Hae berjanji akan membantu saat hari pemindahan. Aku akhirnya mengenal baik Dong Hae. Hyo Jung sering bertamu ke tempatnya untuk menanyakan matematika. Kami sudah tak sekaku hari pertama saat berkenalan secara resmi. Dua minggu yang lalu. Ia cukup sibuk untuk ukuran anak kuliah dan ia penuh humor. Sayangnya ia suka meremehkanku. Aku sering tak sependapat dengannya dan sekarang kuanggap dia sebagai si pria mangkok penuh ke-sok tahu-an. Bahkan saat ini aku sedang bertengkar dengannya. Sejak aku berkunjung ke flatnya dan ia mengajariku cara tersenyum yang benar. Waktu yang cukup singkat bagi dua orang yang baru kenal untuk saling membenci. Benci?  Tidak, hanya saling mempertahankan ego masing-masing. Aku jadi sangsi apakah ia jadi mengantar Hyo Jung ke asramanya.
                Sepertinya aku masih menjadi yang paling bodoh di kelas. Aku mengerjakan semua tugas tapi tetap saja nilaiku C. Teman-temanku heran, kenapa direktur Cho masih mau mempertahankan orang yang mendapat nilai jelek di mata kuliah sastra korea. Aku hanya tersenyum kecut. Akan kuperjuangkan nilai A+ untuk setiap mata kuliah bila itu bisa membuat novelku meraih national best selling. Dan stigma bodoh yang diberikan untuk Kim Ha Na, akhirnya mengantarkanku ke perpustakaan untuk kelima kalinya seumur hidup.
                Aku berjalan di antara rak penuh buku-buku. Aku iseng ke salah satu bagian dan mendapatkan novelku di sana. Embrace. Sisa satu yang tersisa. Aku bersyukur karena masih ada yang mau membaca novel setebal 300-an halaman tersebut. Aku terus menyusuri jalan kecil ini sampai bertemu dengan orang yang rasanya kukenal di bagian sastra klasik. Ya, dia memang kukenal!
“PRIA MANGKOK!!!” aku berteriak dan langsung mendekap mulutku. Semua mata memandang ke arahku. Kurasa aku telah melupakan adab berada di perpustakaan. Orang yang kupanggil terkejut dan berbalik. Bingung. Ia menunjuk dirinya. Aku mengangguk dan melambai.
“Apa maksudmu dengan pria mangkok?” tanyanya saat kami duduk di salah satu kursi.
“Hahaha, hanya nama itu yang ada dalam otakku,” kataku. Ia mengusap dagunya dan menatapku curiga.
“Apa???” tanyaku. Ia menggeleng. Aku menarik salah satu buku yang ia pegang. Kartu mahasiswanya terjatuh dari satu halaman buku itu.
“Kau mahasiswa S2 ya? kenapa tak bilang padaku?” tanyaku dengan suara yang agak keras. Aku terkejut. Dong Hae memandang pengunjung di sekelilingnya yang mendesis menyuruh diam.
“Itu tak penting kan?” katanya sok, “Oh ya, aku ini asisten dosen juga loh,”sambungnya sambil menunjuk dada. Aku mendengus.
“Pride and Prejudice karya Jane Austen. Hmm, aku ingat salah satu kutipannya ‘jika dia memutuskan untuk mengabaikanku walaupun dia memiliki kesempatan memilikiku, maka aku tidak akan lama-lama menyesalinya’ indah bukan?” tanyaku. Ia bengong.
“Aku tak akan seperti itu, itu menyedihkan,” katanya. Aku tertawa. Tak pernah sebahagia ini.
“Sebentar, kau mengikuti nasehatku ya? Senyummu... manis sekali,” katanya.
“Kau menggodaku ya? Hahaha,” aku tertawa.
“Tidak. Ini serius,” kami diam.
                Ia yang mentraktirku tiket bis saat kami pulang bersama. Kami bergelantungan karena kehabisan kursi. Sebenarnya bukan suatu kebetulan aku bertemu dengannya. Ia sering meminjam buku dari perpustakaan fakultasku. Novel, kumpulan puisi, roman klasik, dan sebagainya. Hanya saja kami baru bertemu saat ini.
“Kau tahu, mereka bilang kita bisa menguasai dunia dengan matematika dan bahasa,” katanya dalam bis.
“Memangnya kau mau menguasai dunia?” tanyaku.
“Mungkin kalau sendiri akan sulit. Tapi kalau kita berdua bersatu, itu cukup mudah,”  ia tersenyum nakal.
“Oh, berhentilah menggombal,” aku memukul lengannya.
“Kita sudah berdamai kan?” tanyanya ragu. Aku teringat pertengkaran itu. Aku mengangguk.
                Kami bersenda gurau sepanjang perjalanan. Yang kulakukan hanyalah tersenyum sepanjang perjalanan itu. Kepada pak polisi yang sedang bertugas, kepada resepsionis berwajah menyenangkan, kepada mereka yang berpapasan denganku, bahkan kepada penghuni lantai 3. Aku baru sadar betapa bahagianya bisa terseyum tulus. Ya, tulus. Aku telah lama tak melakukannya. Kami mampir sebentar ke flat lelaki tua di sayap seberang. Aku mengerti kenapa Dong Hae sering mengantarkan mangkok berisi makanan padanya. Lelaki tua itu berjalan dengan tongkatnya. Sekitar 69 tahun. Mantan guru. Ia tak mau dipindahkan pemerintah ke panti jompo karena flat ini adalah satu-satunya kenangan bersama sang istri. Kami mengobrol sebentar. Banyak nasehat yang diberikan lelaki tua itu pada kami. Dan aku sangat menghargainya. Pertemuan dengannya membuka sebuah ruangan dalam hatiku yang telah lama tertutup. Aku merasa iba.
“Dia seperti kakekku,” kata Dong Hae sebelum kami berpisah.
Kami saling mengucapkan salam sebelum masuk ke flat masing-masing. Kuketuk pintu dan adikku membukanya. Wajahnya gusar.
“Halo,” kataku sambil tersenyum.
“Eonni, kita kedatangan tamu,”
                Aku bisa melihat dari sini, Jung Yong Hwa berdiri di belakangnya. Tatapannya  kosong.
***
                Aku merasa ruangan ini menyempit dan udara terhisap habis ke dalam mata yang menatap lurus ke arahku. Napasku sesak, aku tak tahu apa yang terjadi dengannya. Tubuhku tak leluasa bergerak, serasa ada yang menggenjetku. Aku berjalan mendekatinya dan berhenti semeter darinya. Aku tak bisa mendekat lagi, ada penghalang tak terlihat di antara kami.
                Laki-laki itu hanya berdiri. Tak bergerak. Rambutnya berantakan, jambang memenuhi mukanya, kantung matanya membesar, dan wajahnya makin tirus. Ia memakai setelan yang sepertinya sudah dipakai selama lima hari tanpa ganti. Ia tak memasukan baju ke dalam celana. Celana itu terlihat melorot, Yong Hwa bertambah kurus. Aku bisa mendengar suara napasnya yang berat dari sini, bahkan mencium bau mulutnya. Bau minuman keras.
“A....” aku mendengar suara keluar dari mulutnya. “Aku mencarimu kemana-mana,” ia melanjutkan sambil mengelilingiku.
“Aku bertanya pada semua orang, namun tak ada yang mau memberi tahu. Tapi aku terus mencari. Cuti dari pekerjaanku selama beberapa bulan. Enam bulan ini aku hanya mencarimu. Kau tahu Ha Na..” ia sekarang berdiri di depanku.
“KAU AKAN MEMBUATKU GILA!!!” ia berteriak keras sambil mengguncang-guncang tubuhku. Air liurnya sampai ke wajahku. Ia tersenyum tiba-tiba.
“Aku baru bilang ‘akan’ loh,” ia menyeringai. Ia mendekatkan mulut ke telingaku dan berbisik, “Aku mencintaimu.”
“Kau yang memulainya,” kataku.“Kau berubah selama 2 tahun ini. Aku selalu berusaha untuk ada di sampingmu tapi kau tidak. Aku memasukkan dirimu di setiap ceritaku tapi kau tak pernah melakukannya dalam hidupmu. Kau berubah oppa. Aku tahu ada yang lain dalam hatimu. Kau menggantiku karena aku tak pernah MAU TIDUR DENGANMU,” tambahku sambil memandang mata yang merah dan berair itu.
“Aku minta maaf,”
“Aku tak bisa menghitung sudah berapa kali kau minta maaf,” aku berjalan meninggalkannya.
“Maafkan aku,” ia mengikutiku dari belakang. Aku tak menggubris.
“Maafkan aku,”
“Maafkan aku,” kali ini ia meraih tanganku dan menancapkan kukunya yang tajam. Aku meringis.
“Lepaskan atau aku akan berteriak,” kataku datar.
“Maafkan aku,” ia masih belum melepaskannya.
“AAAAAHHHHHHHH!!!!!!!!!!” aku berteriak sejadi-jadinya. Ia melepas tangannya.
Aku mendengar pintu menjeblak terbuka. Dong Hae masuk bersama wanita repsionis bermuka menyenangkan.
“Tuan, tolong pergi sekarang. Kau mengganggu ketenangan penghuni lain,” kata si resepsionis tegas. Yong Hwa menurut tanpa banyak komentar. Ia berjalan gontai. Saat berhadapan dengan ketiga orang itu, aku melihat Yong Hwa mendelik kepada si resepisionis, lalu berjalan keluar.
“Kau tak apa-apa nona?” tanya si repsionis. Aku menggeleng.
“Pulanglah,” kataku. Aku melirik pada Dong Hae. Ia menatapku. Ada rasa kasihan di sana. Aku menunggu mereka keluar dan menutup pintu.
“Apa perlu kuberitahu eomma?” tanya Hyo Jung.
“Tak perlu,” jawabku singkat, langsung masuk kamar dan tidur.
***
                Yoon Ah langsung datang menemuiku ketika kuberi tahu Yong Hwa datang semalam. Ia duduk di sampingku dan mengelus pundakku. Tapi aku sama sekali tak sedih. Mungkin karena sudah tak ada lagi yang tersisa untuk Yong Hwa.
“Aku tahu sulit bagimu untuk memaafkannya. Tapi ia sangat mencintaimu,” katanya. Aku menggeleng.
“Aku sangat mencintainya saat kuminta ia berhenti bertemu si Jalang itu. Tapi ia terus melakukannya,” kataku.
“Tak usah memikirkanku. Aku tahu kau sibuk,” aku menambahkan saat melihatnya membawa ransel besar. Ia sedang mengurus sebuah proyek sebelum wisuda.
Ommo. Aku hampir lupa. Aku membelikan ini untukmu,” ia menyerahkan sekotak delimanjoo. “Aku pergi dulu ya,” katanya sambil memelukku sebelum pergi.
                Aku memasukkan sepotong delimajoo bulat-bulat ke dalam mulutku. Aku masuk ke kamar dan menyalakan laptop. Aku mulai menulis.
‘Chapter 1. Aku adalah daun yang kau bawa terbang bersamamu. Aku tak pernah melihatmu tapi selalu kurasakan kehadiranmu. Kukira kau tak nyata. Mungkin hanya seperti hantu. Aku menyukai saat kau mengayunkanku di dahan pohon. Kau sering berdesir di atas permukaanku dan sesekali berbisik. Aku mulai percaya kau nyata. Aku makin meyukaimu, suka sekali. Kupikir aku telah jatuh cinta. Lalu ketika matahari telah berada pada garis lintang yang berbeda, lalu musim berubah, kau jadi marah. Kau menghempaskanku dari ranting-ranting pohon. Kau membiarkanku mati. Lalu membusuk.....’
                Aku membiarkan kata-kata itu terus mengalir dari otakku dan hatiku. Menumpahkan seluruh isi jiwaku ke dalamnya. Aku tahu tulisan ini akan sama jeleknya seperti tulisan-tulisan sebelunya. Tapi aku hanya ingin terus mengetik. Kurasakan air mataku menetes. Makin deras. Lalu aku menangis sejadi-jadinya.
                Esok paginya aku terbangun di meja kerjaku. Laptopku dalam keadaan sleep. Selimut melingkupi tubuhku. Hari ini adalah hari pindahan Hyo Jung. Aku sama sekali tak membantunya beres-beres semalam. Ia tak berani menggangguku saat melihat aku mengetik sambil berurai air mata. Ia hanya membuatkanku cokelat panas yang sama sekali tak kusentuh. Aku menyalakan lagi laptopku. Chapter 1 telah selesai dan aku sudah menulis seperempat chapter 2. Tujuh puluh halaman dalam sepuluh jam. Ini bukan kemampuan terbaikku.
“Eonni, kau sudah bangun? Bergegaslah jika mau mengantarku. Oppa sudah menunggu dari tadi,” kata Hyo Jung. Aku berbaik dan mendapati adikku bersama Dong Hae. Oppa?
                Pindahan Hyo Jung cepat saja. ia hanya membawa dua koper dan satu ransel. Asramanya tak begitu buruk. Aku berpelukan dengannya sebelum meninggalkannya. Hyo Jung dan ibu adalah makhluk paling berarti dalam hidupku. Ia bilang Jeong Min akan mampir hari ini. Suka atau tidak, aku mulai menerima pemuda itu menjadi bagian dari keluargaku.
“Datanglah setiap akhir pekan,” kataku.
“Pasti,”
                Kami meninggalkan Hyo Jung yang berada di gerbang asrama. Aku melambaikan tangan padanya, ia membalas.
“Kau mau ke mana habis ini?” tanya Dong Hae. Aku tersadar akan kehadirannya.
“Mau minum kopi?”
                Kami pergi ke tempat biasanya aku dan Yoon Ah pergi. Di jantung kota Seoul. Letaknya tak jauh dari jalan utama utara Seoul  yakni di Seoul Jongno-gu Hwa-dong. Aku memesan secangkir coffe latte sedangkan ia memesan cappucino dingin dengan ice ream di atasnya.
“Aku punya ini untumu,” aku menyerahkan hasil print-an chapter 1.
                Ia membacanya sambil sesekali menyedot minumannya. Mata bergerak dari kiri ke kanan. Makin lama mukanya terlihat makin serius. Kemudian ia menurunkan script itu dan menatapku. Ia menunjukkan dua jempolnya padaku.
“Selesaikan ini dan namamu sebagai penulis terbaik Korea akan segera pulih,” katanya singkat.
                Maka, Dong Hae adalah orang pertama yang menyukai karyaku sejak namaku tenggelam dalam tulisan-tulisan orang lain. Ia ikut mengoreksi jika ada kesalahan bahasa, membuat ceritaku kembali ke dalam jalurnya, mengembalikan idealismeku dalam menulis, menyemangatiku, mengatur pola makanku, dan juga mencaci maki bila ada sesuatu yang tidak rasional dalam karangan ini. Dong Hae adalah teman, fans, editor, manajer, merangkap kritikus.
                Dong Hae sering mengajakku ke tempat-tempat menarik. Kemarin ia mengajakku ke kuil di balik gunung. Sejak ayahku pergi begitu saja, ini adalah pertama kalinya aku ke kuil lagi. Setelah perginya ayah, ibu meminta aku dan adikku untuk dibaptis. Namun kami tak pernah sekali pun ke gereja.
                Aku selalu berkunjung ke tempatnya setiap selesai menulis. Meminta persetujuannya. Yoon Ah baru mampir ke sini tadi. Tapi ia segera pamit, ada sesuatu yang harus ia kerjakan. Seperti beberapa kunjungannya yang lalu, ia membawakan sekotak Delimanjoo. Aku sedang menyiapkan script ku dan bergegas pergi mengunjungi Dong Hae. Namun hari ini aku agak berbaik hati. Aku tak hanya akan meyodorkan scrip saja, tapi juga melengkapinya dengan setengah kotak delimajoo pemberian Yoon Ah.
                Aku sudah sampai di depan pintunya namun ragu ingin mengetuk. Jika aku langsung membukanya dan memang tak terkunci, maka itu adalah rezekiku. Aku memegang gagang pintu dan mendorongnya ke dalam. Tak terkunci. Sayup-sayup aku mendengar suara yang tak asing. Dong Hae dan seseorang sedang duduk di sofa depan tivi. Aku masuk lebih dalam dan melihat punggung wanita di samping Dong Hae.
“Jika aku menggunakan sudut sebesar 45 derajat, maka ia akan tetap kuat berdiri dan juga memberikan niai artistrik lebih pada bangunannya,”
“Tapi lihat pada sisi yang lain, kau harus membuatnya lebih datar,”
“Yoon Ah?” aku memanggil perempuan itu. Ia berbalik. aku agak kaget melihatnya duduk di sana.
“Ha Na!” serunya.
 “Aku tak tahu kalian saling mengenal,” kataku sambil mendekati mereka. Aku melihat coret-coretan gambar segitiga-segitiga kecil yang saling menumpuk membentuk bentuk abstrak aneh. Di sampingnya ada sekotak delimanjoo seperti yang kubawa. Hanya saja punyaku tinggal setengah.
“Ada apa?” tanya Dong Hae.
“Oh, nanti saja. selesaikan dulu urusan kalian. Aku pulang ya,” ada nada kecewa dalam suaraku.
“Aku akan ke tempatmu habis ini,” kata Yoon Ah. aku tersenyum. Agak memaksa tersenyum tepatnya. Aku keluar dari flat Dong Hae bersama delimanjoo-ku.
***
“Kenapa tak beritahu aku kalau kau kenal dengannya?”
“Aku takut kau marah padaku. Kau kan dulu tak suka dia,” jawab Yoon Ah. Aku teringat beberapa bulan silam. Aku mendengus.
“Aku beberapa kali berpapasan dengannya saat mau ke flatmu. Kami ngobrol dan akhirnya aku tahu dia pintar dalam matematika dan fisika. Sebenarnya aku selalu mengunjunginya setelah aku mengunjungimu untuk berkonsultasi tentang simetrisitas bangunan,” katanya. sekarang kutahu kenapa hari itu Dong Hae memegang delimanjoo di hari yang sama Yoon Ah memberiku cemilan itu.
“Ha Na, aku tahu ini lebih dari itu....” ia terhenti.  Yoon Ah tersenyum sendiri memandang delimanjoo yang tak jadi kuberikan pada Dong Hae. Mukanya merah seperti kepiting rebus.
“Aku menyukainya,” ia menutup mukanya dengan tangan. Kata-kata itu merambat lambat sampai aku bisa mencernanya. Menyengat suatu bagian di otakku. Mulutku menganga.
“Jangan beri tahu dia ya”