Simple Life

Sabtu, 01 Maret 2014

Kejutan di Minggu Siang



            Klik...
            Lampu kamar akhirnya menyala juga. Tari berjalan terhuyung-huyung menuju kasur, lalu melemparkan diri di atasnya. Ia tak menyangka tiba di rumah jam segini. Astaga, satu jam di dalam bis Trans. Tari memijat pelipisnya, ingin menghilangkan rasa pusing yang ia dapat pada saat-saat terakhir. Tari berusaha mengingat apa yang terjadi. Tari berguling-guling di atas kasurnya, memikirkan sesuatu yang mengerikan. Reno membangunkannya ketika Tari tanpa sengaja bersandar. Astaga, pipi Tari bersemu merah. Semoga saja tak terjadi. Semoga anak itu tidak memperhatikan kalau Tari sempat ngiler dan ngorok dalam tidurnya. Sungguh memalukan.
            Perutnya tiba-tiba bergejolak melihat menu makan malam. Betapapun Tari adalah pecinta ayam goreng, memakan hampir lima potong ayam Reno sore tadi cukup membuatnya mual. Kini ditambah ayam tepung buatan Mbak Jum yang mejeng di atas meja, Tari hanya bisa menebak rasa nikmat ayam mbak Jum hanya akan terasa seperti buntalan kapas tawar. Aaahhh, belum lagi dengan bahaya kolesterol yang mengintai sehabis mengonsumsi frenchise dari Amerika itu, Tari akhirnya hanya mengambil tempe dan menuang sayur asem ke dalam piring.
“Ayamnya kok nggak dimakan, Tari?” kata mama dari balik papan liquid metal yang selalu dia bawa kemana-mana. Jemarinya sibuk memencet layar.
 “Tempe aja Ma. Ayamnya buat si Reza aja, biar dia nggak keder kalau berdiri di antara teman-temannya,” seringai Tari terbentuk saat melirik adiknya yang pendek dan gemuk itu.
“Nggak masalah kalau aku makannya banyak. Aku nggak bakalan berdiri di depan kaca, meratapi lemak-lemak yang ada di perut dan paha,” kata Reza cuek.
“Oi! Tutup mulut ya! Dasar tukang ngintip!”
“Beeeeeekkk!!!!” Reza menjulurkan lidah mengejek Tari yang sudah berdiri dari kursi.
“Sssssstttt.... Jangan berkelahi terus! Kalau papa sampai tahu kalian kayak gini, darah tingginya bakal naik lagi,” mama menurunkan gadget-nya, mengawasi mereka satu per satu, kemudian kembali asyik memandang layar tipis itu, “Mbak Jum, ini loh ada resep baru. Kambing Muda Merinding Disko namanya. Hmm, kayaknya enak nih. Ini resep dari chef Haryo, tolong besok dibikinin ya,”
“Ma, ingat loh Papa darah tinggi,” kata Tari.
“Ya Papamu jangan makan dagingnya, biar dia makan tomat sama wortelnya aja,”
            Tari tersedak kacang panjang dalam sayurnya. Hah, kasihan papa yang makin mirip kelinci itu. Tidak boleh makan ini dan itu, tersandera gula dan tekanan darah tinggi. Tari menatap kursi kebesaran papanya yang masih kosong. Papanya hanya laki-laki biasa yang terjebak cinta dengan perempuan ningrat. Sama seperti Tari, papa hanya seorang jawa yang hampir kehilangan identitas. Papa adalah pengguna pasif bahasa Jawa, hanya bisa mendengarkan tanpa bisa berbicara. Tari selalu merasa lucu kalau menyimak papanya yang mencoba mengatakan satu dua kata kromo inggil lewat lidah kaku miliknya. Papa sejak kecil memang mengikuti orangtuanya yang merantau ke Sumatera. Tari jadi ingin tahu bagaimana papanya bisa meyakinkan ayah mama, eyang yang kumisnya seperti sherrif Amerika itu.
Sebenarnya mama termasuk orang yang cukup keras dan bangga dengan identitasnya sebagai priyayi Jawa. Tapi siapa yang tahu cinta? Tidak peduli darah apa yang mengalir dalam nadimu, semenjak dia ikut masuk dalam hembusan napas, cinta menjadi semacam noda kopi yang susah dihilangkan dari seragam putih SMA. Walau banyak kesenjangan yang susah untuk dikaburkan, gengsi mama akhirnya luntur juga untuk lelaki itu. Semuanya berani mama korbankan kecuali satu: Karir.
“Aku sudah tiga tahun capek-capek kuliah, lalu mesti magang pula biar dapat sertifikat advokat, sekarang kamu seenak jidat menyuruhku untuk menjaga anak dan mengurus dapur doang, hah? Pulangkan saja aku pada orang tuaku sekarang!”
            Tari menggeleng kuat-kuat, menghapus imajinasi liar tentang mama yang suara nyaringnya menggema di sebuah ruang interogasi, memarahi karyawan bank swasta yang jarang sekali dapat promosi, yang kini resmi jadi suaminya. Bahkan setelah menikah bertahun-tahun kesenjangan itu pun tetap ada, antara pengacara cemerlang yang sering masuk koran, dan kepala bagian penagihan kredit yang biasa-biasa saja.
 “Papa kemana sih? Kok belum pulang?”
“Hmm, dia lagi nemenin anak buahnya nagihin utang. Habis imlek gini pengusaha-pengusaha banyak alasannya,”
“Papa nggak nyewa debt collector?” kata Tari sambil menyeruput kuah sayur asem. Ngeri \juga membayangkan papanya datang ke rumah customer didampingi orang-orang berbadan hitam besar.
“Halah, mana berani papamu. Dia takut masuk penjara kalau ada kejadian macam-macam,” mama akhirnya selesai dengan gadget-nya, lalu menyendok nasi merah ke dalam piring, “Tar, mama mau bikin rumah kaca,”
Kening Tari berkerut, “Mama jadi nanam tulip?”
“Siapa yang mau nanam tulip? Mama mau budidaya strawberry. Ibu-ibu ngomongin strawberry terus setelah pulang arisan dari cafe strawberry. Oh ya, tolong cariin info tentang rumah kaca ya,”
“Emang mama mau bikin sendiri?”
“Kalau bisa kenapa enggak?” ucapan terakhir mama seperti menyedot muka Tari ke dalam piringnya yang masih penuh sayur. Astaga, mama muncul lagi dengan obsesi gilanya.
            Tari mengucek matanya yang mulai lelah dan merah karena radiasi komputer. Jemarinya memutar scroll mouse, menurunkan halaman pada website yang hanya dibacanya sekilas. Rencananya mama akan membangun rumah kaca impiannya di halaman belakang, berukuran 4x4 meter, dengan atap segitiga yang melengkung pada bagian atas. Mama akan menjadi arsitek dadakan, dan barangkali Tari akan jadi buruh dadakan juga. Astaga, entah apa yang akan dikatakan papa jika medengar biaya yang harus dikeluarkan. Tidak murah untuk membeli acrilyc sebagai dinding transparan yang membatasi lahan garapan strawberry dari lingkungan sekitar yang terlalu panas untuk tempat tumbuh. Belum untuk bibit, pupuk, dan juga alat-alat canggih yang sudah masuk daftar belanja mama.
            Hujan lagi malam ini, gemuruh makin keras di luar. Rasa dingin dari udara yang merambat melewati ventilasi mulai merayapi kulit Tari. Rambut-rambut di tangan dan tengkuknya menegak, entah karena hawa yang adem atau suasana malam jumat yang bikin merinding. Gadis ini tiba-tiba bergidik, teringat kisah misteri dibalik Jogja yang mistik. Tari langsung saja duduk tegap, jantungnya saling buru, pendengarannya jadi awas ketika kaget sendiri mendengar suara pesan masuk dari smartphone berlogo apel yang sudah digigit. Sial.
            Tari beranjak menuju kasurnya, menarik tasnya yang masih tergeletak di dekat bantal. Tangannya merogoh ke dalam kompartemen tas paling depan yang cukup luas. Tari mengeluarkan smartphone yang masih berderit-derit, seiring dengan pesan yang masuk terus-terusan. Layar sentuh yang langsung disapu Tari dengn telunjuk itu menunjukkan tiga pesan masuk, dua dari nomor tidak dikenal dan satunya lagi dari Dita. Pesan pertama yang ia baca adalah dari nomor tak dikenal, pesan paling baru yang ia terima.
“Tari apa kamu menerima sms-ku? Kamu bisa membalas dengan segera?” received 21.38
            Jari Tari bergerak lagi, menyentuh tombol keluar dan mencari pesan yang lain. Barangkali si pengirim telah mengirimkan pesan sebelumnya. Tari membuka pesan yang masuk lebih dulu, namun yang ia dapati hanya promosi dari provider seluler dan Dita yang menanyakan tugas kimia.  Tari jadi tergelitik, ingin tahu siapa yang tiba-tiba menodongnya dengan pertanyaan seperti itu. sepertinya orang yang tak dikenal punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan, namun sampai akhirnya Tari meletakkan kembali smartphone berlogo apel digigit miliknya dan beralih mencari-cari buku dalam tasnya, sms dari orang tak dikenal itu terlupa begitu saja.
            Tari mengeluarkan lima buku catatan yang disampul bening, buku paket matematika dan kimia, dan buku blok hijau berisi ringkasan biologi yang baru dikembalikan Reno. Keningnya kembali berkerut begitu melihat kertas yang nampak dari sisi kanan buku agungnya sudah kelihatan tidak mulus lagi. Sejak kapan kertas bukunya jadi keriting seperti ini? Dasar tidak tahu diri, sudah baik-baik diberi pinjaman malah merusak buku orang! Hati Tari remuk redam ketika mengecek kerusakan apa saja yang terjadi karena anak itu.
Lembar per lembar mulai dia buka sampai ke halaman terakhir yang dia tulis. Tari sudah siap meledak saat merasakan ganjalan dari halaman di belakangnya. Ada sesuatu yang cukup besar sudah diselipkan di sana. Tari menyibak halaman yang hanya dia tulisi setengahnya itu dan mulutnya ternganga  menemukan sesuatu di baliknya. Seseorang telah menulis dan menyisipkan sesuatu di bukunya. Mata Tari melebar saat mendapati huruf-huruf yang membentuk kata, lalu jadi kalimat yang memiliki arti dalam bahsa Indonesia itu. Hanya beberapa baris yang sudah cukup menarik rahang bawah Tari agar terbuka. Wajahnya mulai panas, dan tangan Tari cepat-cepat meremas kertas yang membuatnya malu setengah mati. Ia ingin merobeknya, lalu membakar dan melarung abunya ke laut.
Namun Tari bimbang. Gadis kecil yang sembunyi di balik tirai merah muda kalbunya kini tersipu. Bukan hanya karena kalimat manis yang berhasil membuatnya ketar-ketir, tapi juga setangkai bunga layu yang meninggalkan noda merah pada kertas yang membuatnya gemas. Tari pelan-pelan melepaskan genggamannya, lalu meratakan kertas yang sudah dia kucek-kucek itu. Tari mengambil kembang di tengah buku, membenarkan tiap helai kelopak yang tidak lagi tegak. Tari membaca kembali dengan malu-malu, meresapi setiap tetesan tinta yang tertuang. Lagi, ia membaca dari atas, mengabaikan senyum yang tidak mau menghilang dari wajahnya. Barangkali ia akan membiarkan saja tulisan bocah itu di sana. Walau acak-acakan dan banyak coretan di sana-sini, Tari tak sanggup untuk mengomel tentang matanya yang jadi sakit setelah memindai huruf-huruf alfabet yang tertera. Hatinya kini terasa lapang begitu tahu Reno bisa memakai otaknya juga.
Hai, terima kasih untuk tulpi tulipnya. Sudah layu, tapi tetap saja berarti. Aku tidak tahu mau membalas dengan apa saat itu, alasan yang membuatku menahan bukumu lebih lama. Sebaiknya kamu bilang secara langsung, jadi aku tidak perlu sampai repot-repot pusing-pusing berburu bunga di pasar kembang. Ini mawar, agak murahan memang. Tiidak ada hubungannya dengan masalah maaf-memaafkan. Tapi ini, mawar, tanda maaf yang tumbuh dari kerak-kerak batu dalam kepala. Susah awalnya, tapi permintaan maafmu sudah diterima.
Reno
***
            Decit-decit sol sepatu basah di atas lantai berubin abu-abu, suara nyaring orang-orang yang saling bertanya jawab, keriuhan di waktu istirahat yang jarang sekali terjadi, mengiringi waktu yang terus terpotong sampai ujian akhir semester satu yang kurang dari tujuh hari lagi. Tari makin merapat ke dinding sekolah. Dingin dinding makin menembus punggung Tari. Sesekali ia melihat ke arah pintu. ia tidak berusaha menghindari teman-temannya yang selalu bertanya keroyokan belakangan ini, tapi ia hanya enggan menampakkan diri di depan Reno yang sekarang sedang mengerjai Gideon lagi. Tari menyembunyikan wajahnya begitu Reno menoleh. Wajahnya memerah, kalau saja bukan karena tulisan itu, ia mungkin akan memaki Reno seperti biasa. Tari berjengit ketika suara suram yang dibisikkan perlahan dari belakang mengagetkan Tari. Ia mendekap mulutnya dan langsung memelototi Pak Agus yang ekspresinya datar.
“Sugeng siang mbak,”
“Pak Agus! Jangan ngegetin!”
“Mbak Tari ngopo’e sembunyi neng kene?”
“Siapa yang sembunyi?” kata Tari tak sabaran.
 Pak Agus seperti beberapa minggu terakhir, masih sama sendunya. Senyuman genitnya, sapaan sok akrabnya, dan basa-basi lain yang biasa dilambungkan setiap bertemu siswa putri tidak keluar kali ini. Pak Agus menghela napas lalu menggeleng dan pergi. Bukan hanya dia, tapi juga kelompok gangster berudu yang sedari tadi tertawa melihat Gideon berputar-putar di tempat, kini diam sebentar memperhatikan Pak Agus yang berjalan dengan pundak naik turun. Apa gerangan yang membuatnya seperti itu? Apa dia patah hati lagi? Setahu Tari laki-laki berkepala tiga yang suka menggoda kaum hawa itu sedang sibuk pedekate dengan Mbak Munawaroh, pedagang gado-gado yang membuka los di kantin.
“Hei Tari! Kamu nolak Pak Agus lagi ya? Hahahaha,” tawa Viktor yang menular pada kroni-kroninya yang lain, menusuk-nusuk lapisan tipis gendang telinga Tari.
 Sinyal-sinyal listrik yang sampai pada pengolahan informasi dalam otak telah menyalakan kembali kemarahan permanen yang selalu ada untuk kelima orang ini. Tari berjalan garang mendekati mereka, bibir dan tatapan matanya berlomba menjadi semakin tipis. Viktor tahu, dia telah mengorek singa betina yang sedari tadi diam
“Tutup mulutmu,”
Seringai Viktor makin lebar, ia telah mendapat mainan baru, “Gak mau. Cewek galak koyok kowe syukur-syukur ono seng gelem. Mbok yo Pak Agus ojo ditolak meneh, ahahah,”
            Diam, ia hanya memandangi satu per satu dari mereka dalam diam. Tari tak pernah mengerti bagaimana mereka bisa menertawai guyonan yang tidak pernah terasa lucu olehnya. Anak-anak di depannya tertawa terbahak-bahak, menenggelamkan Tari yang berbalut amarah. Tari mendapati Reno yang sama girangnya, menepuk-nepuk lutut dan memeluk perutnya sendiri. Anak itu kembali jadi menyebalkan, meninggalkan Tari yang malu karena sempat tersipu dengan coretan-coretan Reno semalam. Gideon yang menundukkan wajah makin merepet pada Tari, menyadarkan gadis ini kalau dia adalah sandera mereka. Tangan Tari yang dari tadi gatal ingin membekap mulut anak-anak itu kini bergerak cepat menyambar tangan kecil Gideon.
“Dion, ayo pergi. kalau lama-lama di sini kamu bisa ikut-ikutan sinting juga,”
            Mereka berdua baru saja berjalan ketika Tari merasa tangan Gideon menahannya. Tari menatap marah Gideon yang menggeleng, menjelaskan kalau ia tak bisa bergerak. Tari lalu menarik tangan Gideon dengan kasar sebelum tahu kalau di sisi yang lain, Reno sedang menahan dengan menarik ikat pinggang Gideon. Gideon meringis, kesakitan karena pergelangan tangannya yang terus ditarik dan diremas Tari, juga Reno yang membuat rasa perih pada kulit di pinggangnya. Dalam beberapa detik kemudian Tari kaget karena terjorok ke depan, membebaskan usahanya yang tertahan, ditambah dengan Gideon yang menubruk dari belakang begitu Reno berhenti memegangi ikat pinggangnya.
            Semburat merah muncul dari pori-pori wajah Gideon yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Mereka tak pernah sedekat ini. Tari menunduk, berusaha mengelak dari Gideon yang menatapnya ingin tahu. Kembali anak-anak nakal itu tergelak-gelak, sementara teman sekelasnya yang lain, yang dari tadi hanya menonton, terperangah. Sebagian ikut terbahak. Tari memicingkan telinganya, menyaring tawa yang sepertinya terasa kurang. Ia menoleh ragu-ragu ke belakang, mendapati Reno yang hanya nyengir. Bel tanda istirahat selesai telah berbunyi, menyadarkan Tari kalau ia cukup lama hanya berdiri di depan kelas, lalu tanpa pikir panjang berlari ke kursinya, duduk manis dengan kedua tangan bersedekap di atas meja.
“Tari, kamu nggak apa-apa to? Mereka keterlaluan banget tadi,” tanya Dita.
“Nggak apa-apa. Mereka akan kena batunya nanti,”
Sejak tadi bulpen Tari tak lepas dari genggamannya, menari-nari di atas bukunya. Yang dikerjakannya tidak sama dengan soal matematika yang sedang dikerjakan Gideon di papan. Dita menatap penuh selidik setiap Tari menghembuskan napas keras-keras, melampiaskan isi hati dan otaknya. Rasa penasaran akhirnya mengundang Dita untuk melihat lebih dekat ke buku Tari, dan dia hanya bisa berjengit. Dita tahu kenapa Tari tidak maju ke depan untuk menyelesaikan persamaan, karena gadis itu sibuk menggambar lima orang dengan berbagai skenario mengenaskan.
 Tari melirik Dita, lalu melayangkan senyum kecut. Awalnya Dita mengira Tari bermain hangman, sampai Dita cukup yakin lima orang yang sedang digantung adalah sosok penghuni baris belakang yang sudah dijadikan model dalam karyanya. Ya, karena Tari dengan sengaja menulis nama di atas tiang gantungan sosok paling menderita, dengan luka dan cipratan cairan di mana-mana, memperjelas kalau dia Reno.
“Menyebalkan. Sangat menyebalkan,” kata Tari sambil menusuk-nusuk gambar kepala yang dinamai Reno dengan bulpen.
            Hari jumat selalu terasa pendek, mungkin karena waktu pulang sekolah yang lebih awal dari hari-hari biasa, perpustakaan yang tutup lebih cepat, loket layanan sipil yang sudah tutup sebelum jam dua, dan orang-orang yang solat jumat. Bahkan tanpa melakuka kegiatan apapun jumat selalu terasa sekilas saja lewat, sebuah peralihan dari hari sibuk menjadi hari libur. Ya, sabtu masih masuk dalam jadwal sekolah sih, tapi Tari lebih suka menyelipkannya dalam kelompok ‘tanggal merah’ karena pada hari itu mama dan papa akan ada di rumah, makan siang satu meja bersama Tari dan adiknya, pergi bersama naik mobil tanpa tujuan, atau hanya nonton tivi saja berempat. Sabtu, cuti bersama untuk pegawai swasta dan pegawai negeri juga, tetapi Bu Nanik selau merasa tidak adil dan sempat protes.
“Lah, terus guru itu apa? Kita juga statusnya PNS. Kalau mau adil ya juga diliburkan. Toh anak-anak juga senang-senang saja kalau tidak sekolah,”
            Tangan Tari tergantung bebas di sofa ruang tengah dengan tangan sebelahnya menutup mata. Dia sudah berbaring di sana sejak pulang sekolah, masih memakai pakaian sekolah lengkap, yang hari jumat berupa seragam pramuka. Dia punya waktu empat jam sampai jam 3 nanti sebelum guru privat musiknya datang untuk mengajar. Tari menggoyangkan kaki yang masih terbungkus kaos kaki hitam, mengikuti musik Tchaikovsky yang bermain di kepalanya, sementara pikirannya terus bekerja mencari ide, bagaimana caranya menghentikan Reno.
            Dertt.. derrtt... dertt...
            Tari meraih smartphone-nya yang berlogo apel digigit, lalu membuka pesan yang baru masuk. Keningnya mengernyit, dari nomor yang tidak dikenal lagi. Astaga, dia lupa membalas pesan dari nomor yang sama kemarin. Mungkin orang ini punya berita penting.
“Tari, kamu nerima sms-ku yang semalam? Bisa tolong kamu jawab? Bisa kita ketemuan?” sent 12.14
            Ia baru mau menjawab ketika ponselnya berderit lagi, kali ini diiringi nada konvesional telepon sedunia. Tebakannya salah ketika membca nama yang tertera di layar. Bukan nomor yang tidak dikenal melainkan Dita.
            Kriiingg...
“Halo Dit,”
“Oi Tari, aku mau ke tempatmu. Mau nanya matematika. Boleh kan? Aku ke sana ya, bye.. byee.. eh, udah makan siang belum? Kubawain burger ya, hehe. Dada... tut...tut..tut...”
            Tari mengehembuskan napas sekuat mungkin. Dia bahkan belum mengiyakan apa-apa dan Dita membuat keputusan sepihak seperti itu. Mau bagaimana lagi? sahabatnya dalam perjalanan ke sini. Tidak apa-apalah mengorbankan waktu istirahat siang untuk membantu Dita yang kepalanya selalu berasap setiap berhadapan dengan matematika. Toh dia juga bisa sekalian belajar untuk ujian semester yang kurang dari seminggu. Tari beralih pada ponselnya lagi, mengetikkan ‘Maaf, dengan siapa ya?’ Sampai Dita akhirnya muncul, nomor yang sama belum membalas. Penasaran, ya, Tari mulai penasaran.
“Tar, habis kayak gini terus gimana?” Dita menunjuk soal yang baru dikerjakan setengah dengan pensil, sementara mulutnya sibuk mengunyah burger.
Tari mengambil pensil yang dipegang Dita, lalu mulai meneruskan, membagi yang perlu dibagi, mengurai tangen, membaginya lagi, lalu mendapatkan hasil yang diberi  dua garis di bawahnya. Setelahnya, Tari kembali memandangi layar ponsel, menunggu pesan dari nomor tak dikenal yang belum datang juga.
 “Tari, aku cuma nanya gimana, apa udah bener atau belum. Aku nggak nyuruh kamu ngerjain”
“.....”
“Tari....”
“Ya?” Tari mengalihkan perhatiannya pada Dita yang kini bersedekap dan cemberut.
“Kamu ngapain sih? Itu hape dari tadi di depan mukamu terus,” Dita bertanya menyelidik.
“Oh, ada orang nggak dikenal yang sms semalam. Tapi baru kujawab tadi. Udah lima pesan yang terkirim tapi nggak dibales juga sama dia,”
            Dita tanpa permisi langsung merebut smartphone Tari, dan mulai melakukan penyidikan, membuka berkas-berkas pesan sahabatnya. Matanya bergulir dari kiri ke kanan, lalu jarinya menyapu layar ke atas. Dahinya kemudian berkerut, lalu Dita merogoh ponsel miiknya yang jadi saingan berat merk apel digigit. Dita menengok ponselnya, lalu kembali kepada ponsel Tari.
“Tari...” panggil Dita. Suaranya seperti cenayang yang berhasil memecah rahasia masa depan.
“Hmmm...”
“Sepertinya ada yang nge-fans sama kamu,”
Tari tertawa kecil. Merupakan rahasia umum kalau banyak yang jatuh hati padanya dan dia sendiri tahu itu. Baiklah, ternyata ini bukan hal penting, dia seharusnya tidak perlu berlaku konyol seperti tadi, menanti jawaban dari nomor tak dikenal. Hanya sekedar fans yang lain ternyata.
“Hahaha, siapa lagi Dit?”
“Tari, ini nomor Kak Bram!”
“Hah??????!!!!”
***
            Smartphone itu tergeletak berantakan; tutup belakangnya sudah terlepas, baterainya tercabut, dan SIM card-nya kini ada dalam genggaman Tari. Tari melakukan hal yang sama pada ponsel biasa berisi nomornya yang lain. Setelahnya Tari keluar dari semua akun media sosial, offline untuk beberapa saat. Ia sudah memutuskan, menghindar dari seseorang yang selalu membuatnya tertawa sendiri selama hampir satu semester. Sejak terakhir kali Kak Bram mengajaknya ke kantin, mereka belum pernah bertemu lagi.
            Tari menyandarkan kepalanya yang puyeng pada spring bed. Kalau saja Kak Fanny tidak datang dan mengacaukan segalanya... Tapi dia tak bisa disalahkan juga, Kak Bram lah yang terlalu cemerlang untuk menawan keduanya. Senyum Kak Bram tiba-tiba terlintas. Ini benar-benar tidak adil. Tari sudah berusaha untuk menghindar, melupakan Kak Bram yang selalu bisa membuat hatinya serasa mau pecah, memberi kesempatan pada Kak Fanny untuk berdekatan lagi dengan laki-laki itu. Hati Tari terasa nyeri lagi, pantas saja tidak pernah ada wanita yang mau dimadu. Sulit ternyata berbagi laki-laki. Orang bilang cinta tak harus memiliki, aaahhh, semuanya omong kosong!
            Sampai minggu pagi ini pun sama, Tari masih terisolir dari dunia maya dan tidak bisa dihubungi lewat ponselnya. Sesekali ia hanya menyalakan smartphone-nya lagi jika ingin meminta jemputan dari papa atau supir kantor papa. Papa tak punya cukup uang untuk menyewa supir pribadi meski mama sudah mendesaknya sejak mereka masih di Jakarta. Teman-temannya banyak yang protes kemarin, mengomel karena Tari tak menjawab pesan ataupun mention mereka di Twitter. Tari hanya tersenyum saja, mengatakan kalau dia puasa berkomunikasi lewat media apapun sampai ujian semester selesai.
 Tari kadang-kadang tergoda untuk menyalakan lagi smartphone-nya, mengecek apakah Kak Bram membalas pesannya atau tidak. Kenapa dia tidak langsung membalas sms Tari saat itu? Apakah Kak Bram marah karena Tari membalasnya terlalu lama? Aahh, bukannya itu memang tujuan Tari sejak awal? Tari menggeleng kuat-kuat, ia tak bisa membiarkan Kak Bram mendekatinya sementara sang kapten sudah siap untuk membuat konfilk baru dalam tim. Berusaha menghindar dari Kak Bram untuk menyelamatkan karirnya di tim estafet, membiarkan Kak Bram menghibur Kak Fanny yang merengek di lintasan balap, Tari memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Huueekk, Tari ingin muntah melihat kapten estafetnya yang bermental tempe. Walau sebenarnya tak tega melihat Kak Fanny yang merana, tapi sekali lagi ia bertanya, kenapa mesti ia yang berkorban?
Tok... tok.... kriieett...
Sebuah kepala bulat menyembul dari balik pintu. Reza menengok ke kiri dan kanan, mencari Tari yang duduk nelangsa di atas tempat tidur.
“Mbak Tari, dicari Mama,”
            Cahaya yang masuk lewat ventilasi di sepanjang lorong menuju ruang makan memantulkan warna hijau yang masuk ke dalam jaras penglihatan Tari. Suara kaki yang melompat di antara lari-lari kecil teredam karpet yang membentang. Sayup-sayup suara dari ruang makan di lantai satu sudah kedengaran saat Tari mencapai tangga kelima yang memutar dari atas. Sejenak ia berhenti. Merupakan hal yang biasa jika kedua orang tuanya berdebat. Meski hanya mempersengketakan hal-hal konyol, suara meninggi keduanya yang saling sahut penuh emosi sesaat tetap menggganggunya. Sedewasa apapun dia, Tari tak cukup kuat untuk menyaksikan kedua orang tuanya berseberangan.
“Mama sudah bilang mau nemenin Papa kan?”
“Tapi ada telepon penting dari Pak Tampubolon,”
“Alah, ini lebih penting dari kumpul-kumpulmu itu!”
            Tari makin mendekat ragu-ragu ke arah sumber suara. Tari bisa melihat papa yang sudah rapi dengan batik khas kondangan, berjingkrat-jingkrat meminta mama untuk menemaninya ke arisan kantor. Tas tangan mama sudah bertengger di bahunya, sedang ia masih terus berkaca dan membubuhkan bedak pada bagian yang terlihat noda-noda hitam, sebuah kodrat yang harus diterima wanita yang makin menua. Mama menutup kotak bedaknya begitu sadar Tari sedang menonton dua pasangan tua yang masih kekanakan.
“Tari, mana menurutmu yang lebih penting? Pergi bertemu rekanan untuk membicarakan nasib klien yang dituntut seumur hidup karena kasus narkoba atau pergi ke acara makan-makan arisan kantor?”
“Emm..” Tari menggaruki kepalanya. Dengan menjawab pertanyaan ini, Tari secara tidak langsung sudah berpihak ke salah satu dari orang tuanya. Astaga, “Emm, bertemu rekanan?” jawabnya ragu-ragu.
“Cerdas sekali, Nak. Nah Pa, mama pergi dulu ya,”
Papa menghadang mama yang baru berjalan, “Tapi Papa belum pernah ngenalin Mama ke teman-teman kantor!”
“Ya sudah, lain kali kita bikin arisan di sini saja,” mama ngotot, matanya mendelik.
“Itu ngerepotin! Kamu ini, jangan bikin kerjaan!”
“Kalau gitu kita tunggu arisan berikutnya. Nanti Mama pasti ikut, Pa. Mama janji,” mama menunjukkan kelingking yang dipandangi papa penuh curiga. Kumis tipisnya bergerak-gerak, Tari tahu mama berhasil membungkam papa. Ajakan mama akhirnya disambut papa, kelingking saling bertaut dan mama sudah mengikrarkan janji.
“Oke,”
“Gitu dong, Pa,” mama menepuk-nepuk pipi suaminya sambil tersenyum, lalu beranjak pergi, “Jangan kenyang-kenyang makannya loh, Mama nyuruh Mbak Jum buat bikin Kambing Merinding Disko. Oh iya, Mama sekalian mau ngecek bahan-bahan rumah kaca,”
“Hei, kita belum sepakat tentang rumah kacamu!”
“Kalau begitu aku akan membuatmu sepakat. Da..da Papa..” mama berseru dari depan pintu.
Tidak lama kemudian deru sedan Altis Mama sudah terdengar, lalu menghilang perlahan-lahan. Papa masih berdiri di tempatnya, tidak percaya dia kalah lagi dari istrinya. Entah karena mama yang terlalu mempesona sebagai wanita atau karena profesinya sebagai advokat yang menuntut mama untuk pintar berbicara, papa selalu takluk.
“Apa yang kamu tunggu? Ganti baju sana!” Papa akhirnya bicara setelah sekian lama termenung.
            City car yang gasnya meraung-raung membawa paksa Tari yang sebenarnya enggan ikut. Apa yang bisa dia lakukan di acara perkumpulan orang tua? Tari menengok ke arah papa yang serius mengemudi. Mobil terus bergerak ke timur, melewati perempatan lampu merah, dekat kantor pos dan kantor BNI tua yang masih aktif digunakan. Siang-siang begini lalu lintas di salah satu kawasan wisata ini tidak terlalu padat. Delman-delman masih ketiplak-ketipluk di jalan, sedangkan di pinggiran jalan yang saling berseberangan, terdapat dua ironi nyata yang terlihat jelas. Di salah satu sisi terdapat gedung megah Bank Indonesia yang berdiri, sedangkan di sisi lain orang-orang penjual jasa penukaran uang receh bertebaran. Mendekati musim libur seperti ini, mereka seakan muncul dari ketiadaan, semakin banyak seperti jamur di musim hujan.
            Mobil terus melaju melewati jembatan Sayidan. Tari ternganga ketika membaca billoboard besar di jalan yang mereka lalui sekarang. Gambar binatang dengan  tulisan ‘Gembira Loka’ di atasnya.
“Arisannya di Kebun Binatang?” yang ditanyai hanya tersenyum.
“Ya bukanlah. Rumah boss dekat sini,” Papa membanting setir ke kanan ketika menemui perempatan. Tari membaca plangnya, Jalan Kenari.
            Jalan raya tidak sebesar yang tadi, sekarang lebih sempit dan makin sempit lagi ketika mobil sudah memasuki kawasan perumahan. Papa menyetir mengikuti tanda peringatan yang hanya memperbolehkan kecepatan 10 km/jam. Rumah di sini hampir sama semua, bergaya mediterania dengan dua lantai dan juga halaman yang luas. Mereka berbelok, lalu papa menyuruh Tari memperhatikan nomor rumah yang mereka lalui satu per satu.
“Itu Pa,” Tari menujuk mobil-mobil yang berderet di depan jalan sebuah rumah. Benar, ini blok D 5 nomor 35.
            Seorang bapak langsung datang menyambut mereka berdua yang baru turun dari mobil. bapak yang agak botak itu menyalami papa dan langsung membuat obrolan singkat, lalu mereka tertawa bersama. Tari mendengus, prediksinya tidak salah. tamu yang datang cukup banyak sampai si tuan rumah membuka pintu garasi dan menambah kursi-kursi di luar. Kebanyakan mereka datang berpasangan, beberapa membawa anak kecil, dan terlibat aktif dalam perbincangan. Bunyi piring dan sendok yang saling adu, ditambah dengan suara decap orang yang makan sambil mengobrol membuat Tari mengernyit, ia ingin pulang sesegera mungkin.
            Hal yang menarik perhatian Tari hanya air mancur khas Jepang di depan rumah. Tidak seperti rumahnya yang penuh tumbuhan hijau milik mama, yang ada di halaman ini hanya rumput teki, dan beberapa pot tanaman, yang menurut Tari, tidak bisa dibandingkan dengan tanaman mama yang berharga. Yah, walaupun hanya sekedar mengikuti kebanyakan temannya yang suka berkebun, mama cukup bisa dibanggakan untuk yang satu itu.
            Awalnya Tari mengira bapak botak itu lah si pemilik rumah, alias boss papa, tapi dugaannya salah ketika mereka diarahkan menuju seorang wanita yang masih cukup muda, dengan rambut pendek hitam tanpa uban, memakai kacamata berpigura cokelat kecil. Wajahnya wajah milik wanita berintelektual tinggi, dan ketika ia tersenyum, Tari berpikir siapa pun yang bekerja pada wanita ini hanya akan bisa terbengong ketika diberi perintah. Selain mama, wanita ini adalah salah satu sosok nyata wanita mandiri yang sukses mempraktekkan emansipasi. Boss papa kelewat cantik dan terlalu muda untuk seorang kepala cabang.
“Pak Hanang!!!!” seru perempuan itu ketika melihat mereka datang.
“Bu Marni, maaf saya terlambat,” kata papa sambil menjabat erat tangan wanita yang dipanggil Bu Marni. Tari memandang papa dengan galak sampai papa jadi salah tingkah dan melepaskan genggamannya.
“Wah, nyonya-nya mana pak?”
“Oh, dia lagi banyak kerjaan, lagi rapat,”
“Dengar-dengar kasus narkoba ya Pak?”
“Yah, seperti itu. Bukan sekali dua kali dia nangani kasus kayak gitu, di Jakarta pernah lebih parah, kasus anaknya menteri, ahahahah,”
“Oh, hebat ya, Pak,”
“Ya begitulah,” kata papa sambil membusungkan dada, ikut bangga dengan wanita yang tadi pagi mendebatnya. Mereka berdua sempat terkekeh sejenak sebelum Bu Marni beralih pada Tari.
“Ini putranya ya Pak?”
            Tari mengangkat sebelah alisnya? Putra? Apa dia kurang jelas menunjukkan tanda-tanda seksual sekunder wanita? Tari menyelipkan anak rambut yang terbang-terbang ke dalam sela-sela telinga, memberi isyarat kalau dia gadis remaja tanggung yang memiliki rambut panjang berkilau, buah dada yang berkembang baik, lekuk tubuh yang indah, dan pantat yang cukup montok.
“Ya, ini anak saya yang pertama. Adiknya satu, tapi nggak mau ikut ke mari,”
“Halo dek, namanya siapa?” tanya Bu Marni yang tersenyum ramah. Tari menyambut tangan wanita yang terjulur ini, bersalaman.
“Tari tante,”
“Waaahh, pasti Bu Hanang cantik ya, anaknya cantik begini, ahahahah,” Bu Marni tertawa sambil menutupi mulutnya, “Tari kelas berapa?”
Tari nyengir, dia merasa konyol diperlakukan seperti anak kecil. Tapi Bu Marni wanita yang cukup menyenangkan, jadi Tari meladeni dengan saja. Lagipula ia harus memberikan kesan baik untuk mempermudah promosi papa.
“Kelas 1 SMA, Tante,”
“Oh, anak tante juga kelas 1 SMA,” Bu Marni kemudian menoleh ke belakang ketika seseorang menepuknya untuk pamit, “Mau pulang Bu? Ya, hati-hati ya. Yuk Pak Hanang, kita ngorbrol di dalam aja,”
Tari sempat berbisik pada papanya, “Pa, kok putra sih?”
“Putra artinya anak,”
“Anak cowok?”
“Bukan cuma anak cowok, semua jenis anak ya bahasa Jawanya putra,”
“Ooohhh...”
            Tari dan papa mengikuti Bu Marni yang berjalan di depan sambil sesekali manyapa tamunya. Mereka memasuki pintu depan rumah, dan keramaian di dalam ruang tamu sama meriahnya dengan di luar. Perhatian Tari tercuri oleh gambar lukisan besar anggota Angkatan Darat yang memakai baju loreng-loreng, dengan baret merah, sedang memegang senjata laras panjang. Di sisi lain ruangan terdapat foto keluarga berpigura keemasan. Laki-laki yang ada dalam foto sama dengan yang ada di lukisan, namun kali ini dia tidak memakai baju perang. Seragamnya berupa pakaian dinas cokelat dengan tanda pangkat warna-warni. Dari dua balok yang ada di pundaknya, Tari bisa menebak pangkat suami Bu Marni adalah letnan satu. Laki-laki itu kelihatan tersenyum lepas sambil berdiri berdampingan dengan wanita muda, yang Tari tebak Bu Marni, menggandeng bersama seorang anak kecil berumur empat tahun yang mukanya serius, beda dari kedua orang tuanya.
            Mereka bertiga kini duduk di ruang tengah, dekat tivi plasma yang dibiarkan menyala. Tari sibuk menyendok agar-agar dalam es buahnya sementara papa dan bosnya berbincang-bincang. Dari banyaknya orang yang Tari temui tadi dia belum menemukan sosok laki-laki tegap dalam foto. Yang dia dapati hanya foto-foto lain bergambar sang prajurit dan keluarganya. Tari juga belum menemukan anak kecil yang ikut serta jadi modelnya. Hmm, kata Bu Marni anaknya seumuran dengan dia. Tari mengusap dagunya, bapaknya aja cakep, pasti anaknya nggak beda jauh, batin Tari sambil senyum-senyum sendiri.
“Mbak Tari sekolah di mana Mbak?” tanya Bu Marni. Tari menelan pepaya sebelum menjawab.
“SMA  212 Jogja, Tante,”
“Wah, sama dong dengan anak Tante. Nggak semua orang bisa mauk ke sana loh, hahaha. Ngomong-ngomong kenal nggak sama Ochan?”
“Ochan?” Tari mengulang namanya, takut salah dengar. Bu Marni mengangguk. Kening Tari mengernyit, mencoba mengingat nama itu.
“Ochan...!!!! Ochan...!!!! Ke sini dulu, Nak! ” Bu Marni berseru memanggil anaknya.
Tari masih berusaha mengingat-ngingat nama ‘Ochan’ sambil menyeruput kuah es buah. Papa baru saja pergi ke sisi lain rumah, menemui temannya di beranda, meninggalkan Tari dengan Bu Marni yang bersemangat bercerita tentang anaknya. Mulai dari anaknya yang suka membantu, anaknya yang pintar memasak, anaknya yang berprestasi, dan anaknya yang ini-itu. Tari hanya mengangguk sambil tertawa kecil, penasaran dengan orang yang diceritakan bos papa ini. Tari seketika menyemburkan kuah es buah yang belum semua ditelannya saat tahu siapa yang dipanggil Bu Marni. Anak itu berpakaian kemeja rapi, rambutnya disisir ke belakang dengan bantuan gel rambut, membuatnya agak sedikit culun.
“RENO????!!!!” Tari tak bisa menahan diri untuk berteriak, “Hahahahahahah!!!!”
Kekagetannya bercampur kelucuan  melihat Reno yang wajahnya merah, hanya menunduk memandangi lantai. Bu Marni memandang mereka secara bergantian, bingung dengan Tari yang masih tertawa. Reno hanya berdiri mematung, berusaha untuk mengabaikan Tari yang membuatnya malu. Reno menarik napas dalam-dalam kemudian berbicara pada ibunya seakan-akan Tari tidak ada di antara mereka.
“Ndalem Bu?” kata Reno pada Bu Marni. Yang diajak bicara hanya bengong.
Tari mengatur napas yang masih disela tawanya sendiri, “Dia teman sekelas saya, Tante,”
            Bahkan setelah lima belas menit mereka duduk bersebarangan seperti ini, Tari masih menatapnya lekat-lekat, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Reno menjadi pribadi yang berbeda sekarang, sungguh lain dari sosoknya yang urakan di sekolah. Peraturan sekolah tidak akan bisa membuatnya untuk duduk kalem, tapi sekarang Reno hanya manggut-manggut menuruti dan mengiyakan perkatakan ibunya dengan takzim. Bu Marni yang duduk di sebelah Reno sesekali merapikan rambut anaknya yang berantakan di bagian depan. Tari masih tidak percaya yang dihadapinya sekarang adalah Reno yang sering mengacaukan kelas.
“Ibu nemuin tamu yang lain dulu ya,” kata Bu Marni yang disambut jawaban ‘Nggih’ dari Reno, “Tari, tante permisi dulu ya, monggo dimakan lagi kuenya,”
“Iya Tante,” Tari masih belum bisa menyembunyikan kegelian dalam suaranya.
            Reno celigak-celinguk tidak lama setelah Bu Marni menghilang, kemudian mengacak-acak rambutnya, dan mengelurkan kemeja yang tadi dimasukkan ke dalam celana. Reno mengambil tisu dan mengelap tangannya yang berminyak karena gel rambut, sambil melirik Tari yang berusaha menahan tawa.
“Apa yang lucu?” gertak Reno.
Tari menggeleng pelan, “Nggak ada yang lucu, Ochan, hahaha,”
“Hei dengar ya,” Reno menuding Tari dengan telunjuknya, “Jangan sampai anak-anak lain tahu,”
“Kenapa? Kamu tadi... Aku hampir nggak bisa ngebedain kamu dari Gideon, Ochan, ahahaha,”
“Jangan manggil aku Ochan!”
“Lah, itu emang namamu kan? Hahaha,”
“Ggggggggggrrrrrrrr......”
***
            Tari masih senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan pulang. Semua tentang Reno yang dikenalnya selama hampir satu semester ini berubah karena kunjungan arisan tadi. Reno yang berbeda sampat Tari temui walau tak sampai setengah jam, kemdian dia berubah lagi menjadi anak menyebalkan yang suka meledek orang lain. Tak lama memang, karena kemudian Reno bertransformasi lagi menjadi anak baik ketika ibunya datang. Dari sana Tari tahu, Reno tak sebusuk yang dia kira. Anak itu adalah anak tunggal Bu Marni, yang berusaha untuk tampil menjadi apa yang ibunya inginkan. Berpura-pura menjadi anak manis dan penurut, menggunakan kata-kata halus saat berbicara dengan orang lain. Dibalik kelakuan Reno yang kekanak-kanakan, tak ada yang tahu dia begitu dewasa, menjadi tempat bersandar bagi ibunya yang sempat labil karena kehilangan suami di usia muda.
            Berawal dari sebuah pertanyaan yang sempat disesali Tari kenapa sampai keluar. Ayah Reno adalah anggota kopassus, meregang nyawa saat bertugas di tengah-tengah konflik Aceh tahun 2003 lalu. Sebuah perang tak akan pernah membawa kebahagiaan, baik untuk pihak yang menang sekalipun. Pemberontakan yang sempat terjadi itu lebih banyak membawa nestapa dan luka perih, meniupkan trauma pada jiwa-jiwa, kecacatan, kematian dan kehilangan bagi orang yang disayangi. Ayah Reno hanya orang yang sekedar lewat saja, namun ikut terenggut juga. Orang tua itu terambil paksa dari anaknya yang baru berusia lima tahun, meninggalkan istri yang shock setengah mati.
            Esok paginya, matahari senin mengundang keringat untuk keluar sepanjang upacara bendera. Suara cekikikan di baris belakang terdengar lagi. Tidak perlu diterka punya siapa itu, jelas sekali Reno and the gank sudah menggeliat tidak sabaran untuk keluar dari barisan. Kesan yang berbeda tentang Reno tiba-tiba muncul, antara simpati, kesal, dan lucu.
Dan kini Tari punya senjata untuk membungkam Reno sekali tembak. Seperti tadi, ketika upacara baru saja selesai dan anak-anak lain berlarian menuju kelas untuk mencari kesegaran dari moncong air conditioner. Reno dan beberapa kawannya melakukan tradisi biasa, memutar-mutar Gideon di depan kelas. Reno sudah menatap Tari dengan awas begitu melihatnya dari ujung lorong. Tari tetap mengembangkan senyum dan berjalan santai mendekati mereka, tanpa teriakan dan kemarahan yang biasa tertumpah setiap melihat gerombolan berudu ini. Anak-anak itu sempat kaget ketika Tari menghampiri Reno cukup dekat dan berbisik di telinganya.
“Hai Ochan, selamat pagi,” suara Tari kedengaran pelan dan lembut.
            Setelahnya, Reno berhenti memutar-mutar Gideon dan menatap Tari dengan ngeri. Tari menyunggingkan senyum, lalu melewati Reno yang was-was, jangan sampai anak lain tahu rahasia apa yang dia punya. Hari-hari berikutnya, ketika Reno kembali berulah, Tari hanya perlu memanggilnya lagi dan anak itu akan berhenti. Asal orang lain belum tahu, Reno akan selalu menurut.

Sabtu, 15 Februari 2014

Dilema di Ujung Tongkat



“Terus dribbling Tari!”
“Awas Tar! Hati-hati di belakangmu!”
            Bola basket itu masih tetap dalam kendali Tari. Tari terus membawanya sendiri melewati teman, yang untuk sementara waktu, menjadi musuhnya saat pelajaran olah raga ini. Seringai mulai muncul saat jaraknya mulai dekat dengan ring. Tari memutari pemain lawan terakhir...
“Tari! Over ke Dita!!!!”
            Siapa pula yang teriak menyuruhnya itu? sok tahu saja! Tari mengabaikan perintah untuk meng-over ke temannya yang berada di ujung, lebih dekat ke ring dibanding dia. Dia akan melompat sekarang! Belum pernah lihat Tari melakukan slam dunk kan? Tari menyiapkan kuda-kuda, melesatkan kakinya dari tanah, dan ia merasakan tubuhnya melayang. Tari fokus pada ring, tangannya sudah dalam posisi memasukkan bola, dan teriakan ‘uuuuhhh’ dari teman-temannya yang terpana membuat Tari makin bersemangat. Yap, dan bola memang sudah masuk, terpantul-pantul sementara Tari masih menggantung pada keranjang bola. Poin lagi untuk timnya.
            Tari mengusap keringat dengan punggung tangan, menebarkan pesonanya yang terbawa angin sepanjang lapangan saat ia berjalan keluar arena. Peluit dibunyikan tanda babak pertama yang sudah berakhir. Tari santai saja saat bergabung dengan teman-temannya yang duduk di pinggir lapangan, yang cuma jadi cadangan selama pertandingan. Tari meneguk dengan rakus air mineral dingin dari botol, sementara teman setimnya tadi masih ada di lapangan, saling bisik dengan seru. Nada mereka terdengar kesal saat membicarakan orang yang memonopoli game pertama dan kedua, mungkin juga game ketiga dan keempat nanti. Ia mencetak hampir setengah dari keseluruhan poin, dan itu masalahnya! Tari tak seharusnya bermain individual seperti tadi.
“Tar...” Dita berjalan sempoyongan, lalu duduk di sampingnya. Tari menyerahkan botol air berisi 1,5 liter itu pada sahabatnya.
“Kamu nggap capek ya?” tanya Dita setelah mengusap air yang menempel di bibirnya.
Tari menggeleng, “Belum, hehe,”
“Bukannya kamu nanti sore ada latihan estafet?”
“Oh, aku masih sempat istirahat kok, tenang aja,” kata Tari sambil tersenyum.
Tari langsung berdiri begitu gurunya meniupkan peluit babak ketiga. Dita hanya menghela napas karena maksud yang tersembunyi dibalik perkataan dan mata sendunya tidak bisa dimengerti Tari. Tidak Cuma Dita, tapi juga teman-teman lain yang menunggu giliran masuk lapangan. Mereka sampai lumutan sekarang. Hah Tari, gantian dong sama yang lain...
“Pemain putri yang lain di mana ya? Kok yang main yang ini terus...”
            Langkah Tari terhenti begitu mendengar selorohan orang, cukup yakin yang dimaksudkan adalah dia. Tari membalikkan badannya, kemudian berjalan berlawanan dari arahnya tadi, mendekati Reno yang berdiri dekat ring.
“Masalah buat kamu?”
Reno mengangguk, “Bosen lihat kamu,”
“Cuma kamu aja tuh,”
“Moso’? Coba tanya yang lain satu per satu. Kayaknya banyak juga yang pengen main. Trus itu bola punyamu apa? Kamu terus yang megang,”
            Mata Tari menyapu sekelilingnya. Teman-teman putrinya tidak ada yang mengangguk maupun menggeleng. Tapi Tari agak kaget saat menemukan Dita yang duduk selonjoran di luar lapangan, diganti oleh Rina yang tadi sudah melakukan pemanasan. Tari merasa seakan dikocok-kocok. Ia akan keluar lapangan dengan cara menyakitkan seperti ini, karena diledek seseorang. Tari melirik Reno lagi. Tari heran benar, orang ini sibuk sekali mencampuri urusan Tari, padahal urusan teman-temannya yang lain dia hiraukan begitu saja. Mau orang lain membakar sekolah, Reno tak peduli, kecuali yang melakukannya adalah Tari.
            Bibirnya bergetar, sama juga dengan tangannya. Tari memungut bola basket yang tidak jauh darinya, lalu melempar sekeras mungkin pada Reno. Anak itu bisa menangkap dengan mantap, meski harus mundur beberapa langkah karena lemparan Tari yang luar biasa keras. Tari tak berpikir dua kali untuk meninggalkan lapangan, menyusul Dita untuk duduk di sampingnya.
Dia hanya jadi penonton kali ini. Tari mengangkat wajahnya menghadap langit, berusaha agar air matanya tidak tumpah, atau barangkali biar matahari bisa mengeringkannya. Kenapa teman-temannya tidak bilang saja kalau mereka mau bermain? Toh dia akan bersedia diganti kalau ada yang ingin. Tidak perlu merasa tidak-enakan padanya, atau pun rela memendam rasa kesal untuk Tari. Tentang ia yang selalu menguasai bola, itu wajar saja kan? Dia ingin mencetak banyak skor, dan temannya yang lain sepertinya susah untuk melakukan hal yang sama. Teknik mereka saja terkadang salah!
Mungkin mereka harusnya berterima kasih pada Reno yang repot-repot mengingatkannya untuk berhenti. Tapi kenapa mesti dia lagi? Anak itu benar-benar tidak tahu diri! Omongannya tadi seperti menggambarkan Tari sebagai orang yang paling menjengkelkan sedunia. Dia tidak sadar apa? Orang-orang di kelas banyak mengeluh tentang Reno yang nakal dan suka mengganggu, dan tadi dia berani mengatai Tari seperti itu?
“Tar, lapar nggak? Ke kantin yuk?”
Kerongkongan Tari rasanya sakit saat ingin menjawab pertanyaan Dita. Dita sebenarnya hanya ingin memulai percakapan agar mereka tidak diam-diaman seperti ini. Tari tak segera menjawab dan mukanya jadi keras. Maka Dita kembali memandang pertandingan,  membiarkan sahabatnya sibuk dengan pikirannya sendiri.
Di sudut lain lapangan, ada yang sembunyi-sembunyi memperhatikan mereka. Bukan mereka sih, tapi salah satu dari mereka, Tari tepatnya. Saat temannya asyik mengomentari Rachel yang lari dengan pantat megal-megol, Reno sesekali mencuri pandang ke arah lain. Ada rasa sesal di dalam dadanya ketika mendapati Tari yang matanya berkaca-kaca.
            Aroma collogne dari ujung belokan ruang ganti putri sudah tercium dalam radius lima meter. Tari sudah mengganti pakaian olah raganya yang basah kuyup dengan batik sekolahnya yang berwarna abu-abu dan rok putih selutut. Ia memasukkan kaki ke dalam sepatu pan tofel hitam berhak tipis setelah memakai kaos kaki setinggi mungkin. Rambutnya ditarik tinggi-tinggi lalu dikucir seperti biasa, kuci ekor kuda, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih. Lehernyalah bagian utama tubuhnya yang menyebarkan keharuman sandalwood, mengusik hidung setiap orang untuk menoleh sebentar padanya.
            Mereka sudah kembali bicara, Tari dan Dita, walaupun agak aneh memperbincangkan cuaca yang sejak pagi cerah-cerah saja. Kelas-kelas lain yang mereka lewati masih sibuk dengan proses belajar mengajar sebelum bel istirahat akhirnya berbunyi beberapa menit kemudian. Pelajaran olah raga memang menyenangkan, selalu selesai lima belas menit sebelum waktunya, memperpanjang waktu istirahat mereka yang berlangsung selama setengah jam
Tari dan Dita berjalan bersisi-sisian, lalu makin merapat saat anak-anak kelas lain mulai menghambur keluar. Sesekali Dita kembali memandang Tari, tidak tahu kalau Tari masih berpikir keras tentang kejadian tadi. Mungkin sebaiknya Tari meminta maaf kepada yang lain, tetapi kenapa harus dia? Dia tidak salah apa-apa! Tidak! Kenapa ia harus minta maaf ketika ada orang yang sudah terang-terangan menyakiti perasaan yang lain, namun tetap saja cuek? Reno... Tari ingin mematahkan tulang-tulangnya sekarang juga!
Matanya memang melihat lurus ke depan,  tetapi sesungguhnya ia tidak memperhatikan apa-apa di hadapannya. Anak-anak yang berlarian, guru-guru yang lewat, suara cekikian sepanjang jalan, bahkan Kak Bram yang sudah berdiri siap saat mereka berdua makin mendekat. Dita hanya bisa menganga ketika Tari mengabaikan Kak Bram yang tersenyum kepada mereka. Dita menoleh lagi kepada Kak Bram, mencari apa yang salah dengan kakak kelasnya, membalas tersenyum pada laki-laki itu, lalu cepat-cepat menjambret tangan Tari agar dia berhenti.
“Tar, Kak Bram,” bisik Dita.
“Hah? Apa?” Tari bertanya gelagapan, lalu memalingkan muka ke belakang, ke arah yang sama dengan Dita. Semu merah mulai menjalar di pipi Tari setiap Kak Bram mendekat selangkah.
“Mau ke kantin ya?” tanya Kak Bram.
Tari memilah-milih jawaban dalam otaknya yang sedang mumet. Ini tidak sesuai rencana, karena Tari dan Dita akan kembali ke kelas untuk mengembalikan baju olah raga. Tari melirik sahabatnya, mana mungkin ia mementingkan diri sendiri lagi? Oh, yang benar saja, bukannya Dita juga akan senang kalau ke kantin bersama Kak Bram? Barangkali kesempatan ini sama langkanya seperti melihat komet Halley yang terlihat dari bumi setiap 75 tahun sekali.
“Errrr... Iya Kak,”
“Bareng yuk,” ajak Kak Bram.
“Tar....” bisik Dita.
Tari melempar tatapan awas pada Dita, lalu berdesis. Kamu tahu maksudku kan Dit? Kita bisa makan bareng sama dia. Yang diajak berkonspirasi hanya menghela napas saja. Dahi Dita berkerut, lalu memandang bolak-balik Kak Bram dan Tari. Senyum nakal mengembang di bibir Dita.
“Duluan aja Tar, aku mau ke kamar mandi dulu,”
“Kita bisa tungguin temanmu kan Tari?”
“Nggak usah Kak. Saya bakal lama, soalnya mau BAB,”
“Dit...”
Tari menahan tangan kawannya saat gadis itu mau ngacir meninggalkan Tari. Ini bukan yang diinginkan Tari, ia butuh Dita sebagai penengah! Paling tidak ia butuh Dita ketika mereka berdua tidak punya topik lagi untuk dibicarakan. ia tidak mau momen kebersamaan pertamanya akan diakhiri dengan desing jangkrik di tengah kantin. Dita mendekatkan mulut ke telinga Tari lalu berbisik.
“Ganbatte kudasai ne,”
            Lalu dalam satu kerlingan mata, Dita sudah menghilang di balik kerumunan, meninggalkan Tari yang berdiri berhadapan dengan Kak Bram. Sial, awas saja dia. Aku tak akan membagi jawaban PR kimia untuk besok. Tari rasanya ingin mencak-mencak karena kepanasan ketika suara Kak Bram yang lembut tapi berwibawa itu memintanya untuk segera bergerak.
“Ayo,”
            Isi mangkok bergambar ayam jago itu hanya diaduk-aduk. Ia bingung bagaimana menghabiskan tiga pesanan yang satu per satu mulai datang, es buah, bakso, dan batagor. Ia cuma punya dua pilihan, membiarkan Kak Bram cepat pergi atau mempertahakan Kak Bram selama mungkin di hadapannya. Ia memilih yang kedua dan mengorbankan image-nya, berpura-pura rakus untuk kali ini saja. Tari ingin meneteskan air mata setiap memasukkan batagor pelan-pelan ke dalam mulut. Pelan-pelan saja Tari, kalau bisa sampai bel masuk baru kamu menghentikan ini semua. Kak Bram menyapu bersih gado-gado di piringnya sebelum kembali memperhatikan Tari.
“Kamu makannya banyak juga ya?” godanya.
“Nggak kok, saya lagi lapar aja, tadi habis olah raga,”
“Hahaha, aku suka cewek yang makannya banyak,”
Kelontang.....!!!
            Garpu terlepas dari genggamannya. Darahnya berdesir cepat, mengisi kompartemen jantung yang mulai kosong setiap degupnya. Sebagian pengunjung kantin yang duduk dekat mereka menoleh ingin tahu. Keberadaan Tari di samping Kak Bram memang menarik perhatian sejak mereka datang. Telinga-telinga mulai memicing, tidak ingin kelewatan kelanjutan dari serangan Kak Bram. Jika Kak Bram menembaknya sekarang, ia akan mengangguk kuat-kuat. Tari mengangkat kepalanya perlahan, mendapati Kak Bram yang sedang tersenyum. Tari menanti sampai makanannya habis, tapi Kak Bram tidak mengatakan apa-apa lagi.
“Aku yang traktir..”
“Tidak usah Kak, biar saya bayar sendiri,”
            Pak Bambang hanya bisa garuk-garuk kepala melihat Kak Bram dan Tari yang berebut untuk membayar. Tangannya sudah menyambut rupiah yang terulur, namun uang itu segera ditarik lagi oleh yang lain. Pak Bambang kembali menyembunyikan tangan yang sudah gatal ingin menerima pembayaran di balik kalkulator. Keributan kecil di depan kasir menimbulkan dengung-dengung yang mencoba menerka hubungan di antara keduanya, dan Tari, suka atau tidak suka, dia memang menyukainya.
“Aku memang berniat mau nraktir, Tari. Aku ulang tahun kemarin,”
“Hah? Serius Kak?”
Kak Bram mengangguk, lalu menggeser Tari ke samping, “Ini Pak,”
“Maaf Kak, saya nggak tahu kalau Kakak kemarin ulang tahun,”
“Santai aja. Aku juga nggak tahu kapan kamu ulang tahun,”
            Tari jadi merasa tidak enak setelah memesan tiga porsi makanan, bukan karena Cuma perutnya yang bergejolak kepenuhan, juga gara-gara Kak Bram yang harus membayar lebih banyak. Padahal tadi Kak Bram hanya memesan goda-gado Mbak Munaworoh. Hari ini, 10 Desember, lima belas hari sebelum natalan, Tari akan melingkarinya dengan tinta merah jambu. Hari ulang tahun Kak Bram tidak akan dia lewati lagi tahun depan. Kak Bram mengedipkan sebelah matanya seusai membayar, lalu mereka membalikkan badan bersamaan, mendapati seseorang yang sepertinya telah lama menunggu di belakang.
“Kak Fanny,”
Tari menyapa sambil tersenyum kepada orang yang menundukkan kepala dari tadi. Kedua tangannya disembunyikan di belakang.  Tari agak heran karena kapten estafetnya itu tak segera menyahut, lalu ia melirik pada Kak Bram yang juga tak merespon apa-apa. Tatapan Kak Bram berbeda dari yang biasa Tari lihat, Kak Bram benar-benar kelihatan serius kali ini.
“Fanny...”
“Kak Bram selamat ulang tahun,”
            Mulut Tari ternganga begitu melihat Kak Fanny menyodorkan kado berbungkus kertas merah muda dengan pita merah marun yang diikat rumit di atasnya. Sebuah keterampilan wanita dalam membuat simpul yang tidak akan pernah dikuasai Tari. Rasanya Tari ingin segera mengambil bingkisan itu, lalu membuangnya jauh-jauh. Bukan cuma kado yang membuat Tari kaget, tapi juga nada bicara Kak Fanny yang seolah menahan sesuatu. Tari yakin ia sempat mendengar ingus yang disedot dari orang yang terus menunduk ini.
“Maaf, saya baru bisa ngasih kado sekarang...”
“Tidak masalah,” Kak Bram sudah memegang pemberian Kak Fanny di salah satu sisinya.
“Saya pergi dulu,”
            Bulir-bulir air mata terpantul saat Kak Fanny menyeka matanya, dan Tari berharap tangisan yang terjadi bukan karena Kak Bram, melainkan karena uang jajannya yang terkuras habis untuk kado yang mahal-mahal dia beli. Kak Bram belum mengatakan apa-apa sampai Kak Fanny benar-benar berbalik dan berlari di antara orang-orang yang lalu lalang, serta meja dan kursi yang memenuhi ruangan. Tubuhnya mungilnya yang ringan itu cepat saja menghilang, diantar kaki-kaki yang lincah bergerak seperti kilat. Sekarang Tari tahu, mengapa sekolahnya selalu punya alasan untuk memenangkan lomba estafet dan lomba lari sprint setiap tahunnya.
“Tari, kamu tidak keberatan kembali sendiri kan?” kata Kak Bram setelah sekian lama diam.
“Ya....”
            Kata-katanya belum keluar semua, namun Kak Bram sudah terlanjur pergi. Dari caranya berbicara tadi, Tari tahu Kak Bram cemas. Meski sangsi apakah Kak Bram bisa menyusul perempuan paling cepat di sekolah itu, Tari merasa Kak Bram akan berlari sungguh-sungguh. Meninggalkan kantin begitu saja, meninggalkan Tari, dan meninggalkan kekhawatirannya terhadap Kak Fanny yang masih menempel di lantai depan kasir, yang mulai menular ke Tari secara perlahan. Tari benar-benar khawatir sekarang, ada apa di antara keduanya?
***
            Tim estafet putri sekolahnya terdiri dari sepuluh orang pelari, dibagi ke dalam tim Alfa, tim Bravo, serta tim Camat. Tim Alfa merupakan tim utama yang berisi empat siswi paling cepat, lincah, lentur, tidak peduli kamu pendek atau tinggi, kalau kamu bisa merebut pita finish duluan, kamu akan terpilih. Tim Bravo adalah pelapis tim Alfa, hanya sedikit kurang beruntung karena mereka masih kalah sepersekian detik dari pelari Alfa. Empat pelari dari tim Bravo biasa digunakan sebagai cadangan pengganti anggota Alfa yang cidera, sakit, ada kepentingan keluarga, maupun meninggal dunia. Terkadang tim Bravo ikut serta sebagai tim utama jika sekolah perlu mengirimkan dua tim langsung dalam perlombaan. Dan seperti biasanya, tim Bravo masih belum bisa mengalahkan tim Alfa.
Yang terakhir adalah tim Camat. Hanya berisi dua orang yang dipilih unuk menggenapkan kuota menjadi sepuluh orang. Disiapkan untuk menggantikan pemain Bravo yang tidak bisa mengisi kekosongan di tim Alfa. Seperti namanya yang merupakan akronim untuk ‘Cadangan Mati’, sepanjang sejarah terbentuknya tim ini, mereka belum pernah ikut bertanding. Hanya menjadi cadangan selama hidupnya. Bisanya mereka menempati bangku pemain paling belakang, lebih memilih mengawasi timeline twitter dari pada mengamati kawannya bertanding. Mereka juga biasanya ditugaskan untuk berjaga di tribun penonton, diminta pelatih untuk memastikan dukungan bagi pelari di track-nya. Terinspirasi oleh penonton alay di stasiun televisi.
Tiga jenis seragam berbeda yang dipakai masing-masing tim merupakan aroma menyengat kasta yang telah terbentuk berpuluh-puluh tahun. Kesenjangan di antara tiga tim bisa juga terlihat dari jadwal latihan dan fasilitas yang mereka pakai.  Tim Alfa dengan pakaian merah bermotif garuda selalu latihan paling awal dan pulang paling cepat, mendahului kedua tim lainnya yang terkadang baru pulang ketika adzan maghrib berkumandang.
            Loker bernomor lima akhirnya terbuka. Tari mengeluarkan sepatu lari, lalu mengurai talinya. Tari berdiri dan menatap dirinya dalam seragam merah melalui kaca kecil di dalam loker, memperbaiki kuciran ekor kudanya yang agak longgar. Kaca dengan sticker Kangmas Garuda, maskot tim Alfa berupa garuda yang memakai blangkon, memantulkan beberapa orang di belakang Tari yang memperhatikannya.
“Tari, boleh bicara sebentar?” kata Kak Jessica.
Tari menoleh pada anak kelas XI itu, “Ya?”
“Ini tentang Kapten, tentang Fanny. Dia terlambat sepuluh menit dari jadwal latihan. Kamu tahu kira-kira dia kenapa?”
Kening Tari berkerut. Kenapa mereka menanyakan Kak Fannya padanya? Pikiran Tari kembali pada kejadian istirahat tadi. Dia yang berbahagia walau hanya sekejap, Kak Bram yang bibirnya melengkung tiba-tiba berubah menjadi lempeng perak datar, dan Kak Fanny yang muncul mendadak lalu menghilang dalam sekejap. Tari ingin mengangguk, tapi kepalanya hanya bisa menggeleng. Tari tahu, sesuatu telah terjadi di antara keduanya.
“Tidak, saya nggak tahu Kak,”
“Kata Amanda kamu makan siang sama Kak Bram?”
“Iya,”
“Terus kalian ketemu Fanny?”
“Iya,”
Kak Jessica menghela napas, “Tari dengar baik-baik. Aku mau kamu memikirkan apa yang telah dan sedang terjadi. Fanny itu mantannya Kak Bram. Mereka jadian di awal semester dua angkatan kami. Tetapi sejak jadian, prestasi akademik Fanny menurun. Bagaimana tidak, setiap jam pelajaran yang ditulis hanya namanya Kak Bram. Kak Bram merasa bersalah pas ngelihat nilai raport Fanny, terus mutusin untuk berpisah aja, biar Fanny bisa konsentrasi belajar. Emang benar sih nilai Fanny membaik. Tapi mereka berdua memandang perpisahan itu melalui dua perspektif yang berbeda. Kak Bram berpikir kalau mereka memang berakhir dan tidak ada ikatan lagi, sedangkan menurut Fanny mereka hanya berada dalam status quo, yang artinya mereka bisa kembali jika prestasi akademik Fanny mulai membaik.”
Kening Tari berkerut, “Lalu?”
“Sejak awal semester ini Fanny berusaha terus ngedeketin Kak Bram, meski udah aku ingatkan kalau Kak Bram udah nggak punya perasaan lagi. Tapi anak itu emang keras kepala, apalagi setelah kejadian kamu nabrak Fanny sebulan yang lalu, terus Fanny digendong Kak Bram. Dia pikir Kak Bram masih suka sama dia. Tari, kalau memang sesuatu telah terjadi di antara kamu sama Kak Bram, tolong jangan anggap itu serius..”
“Loh, kenapa?”
“Karena itu bisa membuat tim jadi tidak kondusif! Fanny akan menganggap kamu merebut Kak Bram dari dia! Tari, kita harus terus kompak! Lombanya tiga bulan lagi dan kita ditargetkan untuk meraih juara nasional!”
“Kenapa aku yang harus mengalah?” teriak Tari tidak mau kalah.
“Tari! Kamu jangan egois! Lagipula kamu belum tahu bagaimana Kak Bram yang sebenarnya! Dia suka gonta-ganti pacar, dan lagipula siapa yang tahu kalau dia ngedeketin kamu biar bisa jauh dari Fanny....”
“Ehem...”
Seseorang yang tidak diharapkan berdehem dari pintu masuk. Kak Fanny akhirnya datang dengan mata yang bengkak. Matanya menelusuri semua anggota tim, tapi langsung melompati Tari, tidak mau memandangnya. Suaranya terdengar dari dunia yang jauh saat berbicara, terasa basah dan dingin saat meminta tim untuk berlatih. Tari tetap berdiri menantang, seolah tidak terjadi apa-apa. Gigi Tari terasa ngilu setiap kata-kata Kak Fanny numpang lewat di telinganya. Ia tak mau mengalah, tak akan.
            Tanda-tanda tidak beres mulai terasa ketika latihan. Sungguh kondisi yang tidak menguntungkan karena mereka berada pada posisi berurutan, ketiga dan keempat. Tari sudah fokus untuk berlari, menuggu aba-aba untuk ditiupkan. Ia berharap Sang Kapten akan bersikap profesional, meniadakan konflik yang terjadi di antara mereka. Maka Tari memejamkan mata sampai aba-aba terdengar, menanti tongkat untuk datang padanya.
Tari langsung berlari menyusuri jarak 100 meter yang memisahkannya dari pelari keempat, bersiap untuk menyelipkan tongkat ke tangan Kak Fanny. Namun mata Tari terbelalak saat mendapati tangan Kak Fanny yang menggenggam udara kosong. Tangannya terkepal. Tari sudah menyentuhkan ujung tongkat padanya, namun Kak Fanny tak bergeming. Ia tidak mau menerima.
“Kenapa harus kamu?” tanya Kak Fanny tiba-tiba.
            Tongkat estafet jatuh berkelontangan. Tari melepaskan ujung tongkat yang tidak disambut pelari di depan. Ia hanya bisa terhenyak, mendengar kaptennya yang mulai terisak. Pelari yang lain berteriak memarahi Tari yang akan membuat tim terdiskualifikasi jika mereka sedang ada dalam perlombaan benaran, sebagian mendekat ingin tahu kenapa aktivitas terhenti. Pembina olah raga mulai tidak sabaran, lalu ikut campur.
Semua beralih pada kakak kelasnya, membiarkan Tari berdiri sendiri di tengah lintasan atletik. Ia mulai menggigil karena sikap dingin Kak Fanny, juga karena angin sore yang menerbangkan daun-daun. Selama perhatian mereka teralih, Tari memutuskan untuk kabur dari latihan. Dengan berbagai pikiran yang berkecamuk, Tari menggondol tas dalam loker tanpa mengganti seragamnya.
Tari melewati kanopi pohon trambesi kerdil hasil mutasi klub biologi. Daun-daun rindang yang menutupi langit sepanjang 30 meter di sebelah barat, berakhir sampai jalan kecil dekat parkiran motor. Sensasi biru mengganti kesegaran hijau yang disukai mamanya. Tari menghembuskan napas kuat-kuat, berusaha mengelurkan beban berat di hatinya. Semakin berat bebannya, maka hatinya yang ringkih akan makin gampang untuk merengek lagi. Tari tak tahan lagi, ia butuh kamar untuk bersedu sedan sekarang.
“Tari...” suara yang tidak asing terdengar begitu Tari keluar dari gerbang sekolah.
Ia menengok ke kanan, mendapati orang menyebalkan yang baru keluar dari shelter bis Trans dekat sekolah. Baju batiknya dibiarkan keluar dan kancingnya terbuka sampai kancing keempat dari atas. Anak itu mendekat sambil menggaruki kepalanya yang ditumbuhi rambut lebih dari tiga centi meter, yang berarti telah melanggar peraturan sekolah. Anak itu tersenyum, Tari tahu dia terpaksa untuk menimbulkan kesan baik pada dirinya. Tapi tetap saja Tari eneg setiap bertemu dia. Reno akan selalu pahit! Titik!
“Hai...”
“Pulanglah, ini sudah jam lima,” kata Tari dengan suara tercekat.
“Aku nungguin kamu,”
“Apa maumu?”
“Em, well..” Reno menggaruki kepalanya lagi, “Soal yang di lapangan basket tadi.... Aku... Aku minta maaf,”
Tari menaikkan sebelah alis, “Kamu tidak perlu minta maaf untuk apa pun,”
“Kata-kataku tadi kasar. Sampai bikin kamu... nangis,”
“Hah? Siapa yang menangis?”
“Kamu,”
Mata Tari melotot, “Aku tidak menangis!” bentaknya.
“Ya kamu menangis! Aku lihat tadi!”
“Aku tidak akan menangis hanya karena hal seperti itu!!!!”
“Hah? Lalu kenapa kamu menangis sekarang???!!!” kata Reno ngotot.
Tari merasakan air mata yang mulai meleleh di pipinya. Mukanya memerah, ia tidak mau menangis di depan orang ini. Terlalu memalukan. Tapi ia memang tidak bisa menahannya lagi, dan tanggul Tari akhirnya jebol.
“AKU MENANGIS BUKAN KARENA KAMU BODOH!!!”
            Tari menamparnya. Ya, Tari telah menamparnya tanpa perlu melayangkan tangan. Tari berharap kalimat itu bisa ia sedot kembali, ia benar-benar tidak bermaksud mengatai Reno bodoh. Tari mengatupkan mulut, lalu menutup dengan tangan. Wajah Reno tanpa ekspresi, dia hanya berdiri diam saja. Ya Tuhan, apa lagi yang sudah dia perbuat terhadap orang ini? Debu-debu yang terbawa angin menyesakkan Tari, tapi Reno masih tetap diam. Bunyi klakson mobil, suara kernet angkot, nyanyian pengamen jalanan, dan tangisan Tari yang makin menjadi, masih tetap tidak menggerakkan Reno.
“Bismu sudah datang,” kata Tari di sela-sela isakan.
            Reno akhirnya menoleh ke arah bis jurusan 3B yang baru muncul. Ia masih belum beranjak sampai bis sudah merapat di shelter dan penumpang ada di dalam sudah keluar. Reno melirik ragu-ragu pada Tari. Jangan Reno, tolong jangan memandangku seperti itu, batin Tari.
“Tari, maaf sudah membuatmu menangis makin keras,” katanya sebelum berlari menuju bis.
            Tari hanya menganga, bingung mau melanjutkan menangis atau malah tertawa. Astaga, ia belum mengerti juga maksud Tari. Bukan kamu yang membuatnya menangis, Reno...
***
“Rr. Bestari Inggrid Kartosasmito. Seperti biasa,”
            Bu Nanik mengacungkan kertas ulangan yang segera diambil Tari tanpa banyak komentar. Sembilan puluh delapan, tidak terlalu jelek memang, tapi hasil ulangan minggu lalu itu tidak banyak membuatnya gembira. Tari menyeret kakinya kembali ke kursi, lalu merebahkan kepalanya yang berat di atas meja. Semalam matanya hanya bisa terpejam dengan kesadaran penuh. Ia tidak bisa tidur sampai pagi. Tari mengusap kantung mata hitam yang terbentuk, semua gara-gara si kapten estafet.
            Satu per satu temannya maju untuk mengambil hasil. Kebanyakan yang Tari dengar setelah mereka melihat nilai masing-masing adalah keluhan tentang soal yang susah dan Bu Nanik yang terlalu pelit memberi nilai. Termasuk Dita yang duduk di sebelah, terus mengomel tentang nilainya yang di bawah standar kelulusan, tapi tidak berani protes secara langsung pada Bu Nanik. Tari memiringkan kepalanya, tidak peduli dengan banyaknya orang yang harus remidiasi. Yang sekarang ada di pikirannya hanya Kak Bram, Kak Fanny, dan karirnya di tim estafet. Mana yang harus dia pilih, Tari masih bingung.
“Wah-wah. Ada kejutan rupanya. Kamu akhirnya bisa ngelewatin nilai KKM juga ya,” kertas hvs putih masih ada di depan mata Bu Nanik. Ia masih meniliti nama yang tertera di kertas, kira-kira benar atau salah, “Alreno Atmadja, tujuh puluh delapan,”
            Kelas jadi senyap seketika. Semua orang menahan napas begitu mendengar kabar yang mengagetkan. Tari bahkan sampai bangun dari posisi tidurnya, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Ini benar-benar geledek di siang bolong, untuk pertama kali dalam sejarah, Reno tidak ikut remidi. Mata-mata setiap kepala langung menoleh ke belakang, mencari orang yang bikin kejutan pagi-pagi. Reno sama bingungnya ketika mendengar nilai tujuh puluh delapan yang akhirnya bisa mampir juga dalam daftar nilainya.
            Reno berdiri dengan gemetaran, lalu berjalan ke depan seperti melayang. Tari jadi cemas anak ini bakal pingsan tiba-tiba. Kertas dalam genggamannya ikut bergetar dan saat Reno melewati Tari untuk kembali ke kursinya, mata mereka bertemu sejenak. Mata merah lawan mata bening, mata yang menahan kantuk lawan mata yang diselimuti kekagetan, membentuk lintasan lurus, tempat rahasia-rahasia yang mengalir di antara keduanya.
            Keajaiban belum berhenti, karena sepanjang kelas biologi, yang hari ini digunakan untuk me-review pelajaran selama satu semester sebelum ujian akhir, tidak terdengar keributan dari baris belakang. Bu Nanik tidak perlu repot-repot menegur lima sekawan yang biasanya cekikan sendiri. Barangkali si dedengkot sedang meresapi indahnya mempunyai nilai biologi bagus.
Namun harapan Tari supaya keadaan kelas tetap hening setelah jam biologi ternyata hanya angan belaka. Mafia berudu mulai beraksi kembali dalam kelas sejarah. Tari mungkin bisa menoleransi mereka kali ini, karena ia sendiri mengantuk dan tertidur saat guru pria yang sudah bungkuk itu menjelaskan apa itu kyokenmodinger. Bahkan sampai jam istirahat, suara mereka terus menguasai satu kelas, tertawa-tawa ketika main lempar penghapus papan tulis, mengganggu Gideon, dan mengambil jajan anak lain tanpa permisi. Tari masih membenamkan muka dalam lipatan tangan. Ia benar-benar masa bodoh sekarang. Ia mau tidur.
“Tari..” seseorang mengguncang tangannya.
“Hmm,”
“Dicari Kak Bram,”
            Tari mengangkat kepala. Kak Bram sudah ada di depan pintu, melambai sambil tersenyum padanya. Dada Tari rasanya sesak, ia ingin meledakkan kemarahan di depan Kak Bram, karena sudah berani membuatnya dalam posisi tertekan, di antara perasaan suka yang bisa membuatnya tertawa seperti orang gila dan kerelaan untuk melepasnya demi kesolidan tim estafet. Tawa Reno dan kawan-kawannya masih terdengar. Suara bak-buk dari lemparan penghapus papan tulis makin membabi buta. Tari, seperti biasa, hanya bisa menunduk di depannya. Ia memejamkan mata agar air bening dari sudut matanya tidak keluar, maaf Kak Bram, aku harus memilih sekarang.
“Habis pulang sekolah kamu, errr, kamu mau nemenin aku minum kopi?”
“Saya nggak bisa Kak, saya mau ke toko buku,” jawab Tari asal saja. ia tidak punya rencana untuk pergi ke sana sebenarnya.
“Oh, gimana kalau kamu ke toko bukunya yang di Mall Malioboro aja? Aku mau ngopi di sana,”
“Nggak bisa Kak,” lehernya sakit karena menahan tangis, dan kepalanya puyeng karena keibutan di dalam. Lima ekor berudu itu benar-benar menyebalkan, “Saya ada janji sama orang lain. Kita mau ke Plaza Ambarukmo”
“Sama siapa? Dita?”
Kalau menjawab Dita, maka Kak Bram gampang saja mengarahkan mereka untuk mengikutinya. Ia akan kehabisan alasan untuk menolak meski ia sebenarnya mau menemani Kak Bram-nya, kemana pun itu di seluruh dunia. Bayangan Kak Fanny yang terisak di lintasan atletik kemarin muncul lagi. haruskah dia menyerah sekarang?  Tari meremas tangan, ‘ya’. Alternatif nama lain melintas di kepalanya. Astaga, anak ini benar-benar... Tawa nyaring Reno menusuk-nusuk telinga. Reno, awas kau...
“Bukan Dita. Tapi Reno” jawab Tari ketus, “Reno, kita jadi ke Gramed kan hari ini?” suara Tari cukup keras untuk terdengar oleh anak yang langsung berhenti melempar penghapus.
“Hah?”
            Keheningan menyelimuti kelas yang hanya berisi Kak Bram, Tari, lima ekor berudu, dan Gideon yang menjadi bulan-bulanan mereka. Tari mengumpat dalam hati, ia telah menggali kuburan baru untuknya sendiri. Tapi untung saja hanya mereka yang mendengar, jadi Tari tidak perlu mati saking malunya sekarang. Muka Tari jadi merah ketika tiba-tiba ada yang nyeletuk.
“Ciiiieeee, Tari dan Reno....”
***
            Tari membuka kotak masuk pesan dalam ponsel berlogo apel yang sudah digigit miliknya. Ia menyeringai, akhirnya anak itu mau juga. Tari membaca ulang percakapan melalui pesan singkat yang sudah berlangsung sejak pelajaran kimia, dua jam sebelum kelas bubar.
‘Reno, aku udah bilang kalau aku pergi sama kamu,’ sent 12.10
‘Terus? Aku gak mau ikut campur sama urusan kalian,’ received 12.15
‘Tolong, kali ini aja. Aku takut dia bakal berubah pikiran untuk pergi ke Plaza Ambarukmo juga, dan dia akhirnya tau kalo aku bohong,’ sent 12.17
‘Bilang sama dia aku memang nganter kamu, terus aku pulang duluan,’ received12.40
‘Aku gak mau bohong. Setidaknya kamu benar-benar harus ikut ke sana,’ sent 12.41
‘Bodo amat,’ received 13.05
‘Ren, urusan kita yang kemarin belum selesai. Jangan membuatku menangis lagi sekarang,’ sent 13.06
‘Anjrit! Dasar cengeng! Jangan nangis!’ received 13.15
‘Berarti kamu ikut?’sent 13.17
‘Ya,’ received 13.55
            Reno sudah berdiri gelisah di dekat shelter. Wajahnya jadi merah saat tahu Tari sudah muncul di sebelahnya. Mungkin dia marah, Tari juga bakal begitu kalau jadi dia. Mereka langsung naik bis jurusan 1A, yang membawa sampai ke jalan Solo. Bis saat itu penuh, jadi mereka berdua haya bisa bergelantungan. Reno mengambil jarak sejauh mungkin dari Tari, pura-pura tidak saling kenal.
Bis akhirnya sampai di depan plaza. Mereka sekarang sedang berdiri di tepi zebra cross, menanti arus kendaraan agar sedikit mereda. Tari melirik taku-takut pada Reno. Anak itu masih diam sejak mereka berangkat. Mereka berdua masuk lewat pintu barat, lalu naik eskalator sampai lantai tiga. Melewati beberapa etalase baju import dan juga tempat permainan anak-anak, mereka tiba juga di depan toko buku yang dituju Tari.
“Makasih ya udah mau ngantar. Kalau kamu mau pulang sekarang nggak apa-apa,” kata Tari sambil tersenyum. Reno hanya mengangguk setelah itu menghilang. Hah, Tari kini sendirian.
            Sekarang ia benar-benar bingung. Rak-rak yang memajang buku-buku fantasi dan novel terjemahan luar negeri ini sudah dia datangi lebih dari lima kali hanya sekedar untuk membolak-balik, lalu membaca sinopsisnya. Tari membeturkan kepala pada rak kayu yang memajang trilogi Hunger Games. Bahkan jika dia tertarik pada sebuah buku, ia tak punya cukup uang untuk membelinya.
 Tari melanjutkan penjelajahan lagi pada bagian anak-anak, mendapati serial Lima Sekawan yang dulu dia gandrungi. Ia hampir punya seluruh serinya, tapi beberapa hilang saat di Jakarta dulu. Teman-temannya banyak yang meminjam, ada yang lupa, sebagian ada yang pura-pura lupa untuk mengembalikan. Tari duduk di kursi empuk yang melingkari tiang di dalam toko, menyandarkan kepalanya yang dijejali alunan Jazz ringan. Tari menguap, jam tangannya menunjukkan ia sudah satu jam berada di sini. Lebih baik ia pulang sekarang, ia mengantuk dan lapar.
            Sesosok tubuh sudah mencuri perhatiannya saat ia baru saja mau keluar. Dari sudut ini, Tari yakin ia mengenal orang itu. Ia melangkah pelan, meredam bunyi sepatu sekolah yang menapak lantai. Benar, orang itu berdiri di depan pintu masuk, memandang manusia lain yang lalu lalang.
“Reno?” panggil Tari.
“Oi,” Reno gelagapan saat menjawab.
“Kukira kamu udah pulang,”
Reno perlahan-lahan menjulurkan tangan yang ia sembunyikan di belakang punggung. Ia menggenggam kantong plastik berisi satu keranjang ayam kentucky, “Aku sekalian mau bayar utang,”
            Mereka duduk di kursi, di halaman depan plaza yang berbatasan langsung dengan jalan raya. Banyak orang yang melakukan hal yang sama, hanya sekedar duduk sambil mengobrol, ngemil, maupun merokok di bawah iklan rokok yang bertengger di lampu jalanan. Padahal iklan rokok sekarang tampil agak garang, ada gambar tengkorak dengan tulisan frontal ‘merokok dapat membunuhmu’. Petugas kamanan yang memegang penanda bertuliskan ‘STOP’ membantu menyeberangkan orang dari satu sisi ke sisi lain, menghentikan kendaraan yang seenak jidat nyelonong.
Tari meminta berhenti sebentar di sini agar ia bisa memijat kakinya yang pegal, setelah itu beralih pada keranjang ayamnya. Ia meletakkan tutup bulat putih setelah berhasil membukanya, lalu mencomot satu bagian paha dan langsung menyantapnya. Bunyi kriuk tepung garing yang ia gigit membuatnya bertambah lapar. Tari menutup mulut dengan tangan, menyembunyikan remah-remah yang melompat. Reno hanya memperhatikan dengan mulut sedikit terbuka.
“Ayo bantu,” Tari menyodorkan keranjang ayam padanya.
“Tidak, buat kamu saja,”
“Aku nggak mungkin menghabiskan ini sendiri. Ayo,”
            Reno menatap Tari yang tersenyum, lalu ikut merogoh ke dalam keranjang, mengambil bagian sayap dan memakannya.
“Ternyata kamu berbakat biologi juga ya?”
“Hmmm,” gumamnya, “Itu belum 100% kemampuanku,” kata Reno.
Seringai Tari makin lebar saat melihat Reno yang asyik menggerogoti ayam keduanya. Reno kemudian mengelap tangan dengan tisu, setelah itu mangambil tisu lain untuk membungkus ayam yang belum selesai dia makan. Ia mengambil tasnya, lalu mengobrak-abrik untuk mendapatkan sesuatu. Reno mengeluarkan buku blok berwarna hijau yang pernah dipinjamkan Tari. Ringkasan biologinya dari berbagai sumber. Catatan saktinya.
“Maaf baru kukembalikan. Ini cukup banyak membantu, makasih ya,” Reno menyodorkan buku tanpa berani menatap Tari.
Hati Tari mencelos. Ia teringat tulip putihnya. Tari memandang Reno ingin tahu, apakah anak itu berhasil mendapatkan pesannya. Tari menghela napas, ya sudahlah kalau tidak. Ia akan minta maaf suatu hari nanti secara langsung. Jadi sekarang Tari menguatkan hati, mencoba untuk berbicara lembut padanya.
“Bilang saja kalau kamu butuh sesuatu,”
            Derum bis Trans berwarna hijau yang datang terlambat lima menit mengawali perjalanan Tari menuju rumah. Bis masih sama penuhnya seperti saat mereka berangkat dari sekolah, namun kali ini mereka cukup beruntung mendapat dua kursi kosong menyamping yang menghadap pintu. Mereka sempat bertukar pandang canggung saat harus duduk berdekatan dan saling tempel seperti ini. Reno langsung membuang pandangannya ke arah supir, meski terhalang orang yang menggelantung di depannya. Sedangkan Tari sendiri hanya menatap kernet yang menyebutkan pemberhentian selanjutnya.
            Tari menikmati goncangan dalam bis, saat sesekali bis terpaksa masuk lubang kecil, maupun saat supir bis mengerem mendadak dan memasukkan persneling dengan kasar. Tari membiarkan tubuhnya mengalun, dengan suara obrolan berisik dalam bahasa Jawa, juga semilir angin yang satu dua kali lewat begitu pintu otomatis terbuka di setiap pemberhentian. Ia benar-benar bersyukur sekarang, atas hidupnya, atas hari ini, mengacuhkan masalah tentang Kak Bram dan tim estafet yang menghilang bersama asap kendaraan. Tari mengelus perutnya yang penuh terisi ayam-ayam taruhan Reno, dan mulai memejamkan matanya, terlena dengan indahnya hidup yang bisa dinikmati bahkan dalam keruwetan bis Trans Jogja sekalipun.
 Tari hanya ingin tersenyum terus sekarang, mengantar kesadarannya yang makin menurun sampai benar-benar menghilang. Kepala Tari terkulai lemah, bersandar pada pundak orang di sebelahnya. Tari sudah jatuh tertidur, tidak peduli bahwa harum melon rambutnya telah membuat panas-dingin tubuh anak laki-laki di sampingnya. Jantung Reno berdegup makin cepat saat menemukan senyum damai pada bibir lembut gadis cantik ini.