23 April 2018
Aku berbaring di dalam kamarku, baru saja kesal dengan teman yang menggampangkan sekali keadaanku saat ini. Tidak pernah sebelumnya aku curhat di blog. Malu untuk cerita lagi. Ingin cerita ke teman, tapi aku rasa mereka terlalu sibuk. Atau barangkali aku terlalu sungkan juga untuk cerita ke mereka. Mungkin mereka sudah lelah mendengarkan curhat2 seperti ini. Atau mereka tak punya waktu. Atau kadang mereka membuatmu malah merasa lebih buruk. Lebih baik ngobrol sama tembok di twitter. Namun sekarang twitter jadi ramai lagi. Tapi sungguh, sendirian dengan beban ini di dalam kamar hanya membuatmu semakin sedih. Karena hanya ada kamu dan sesuatu yg kamu sebut masalah ini. Aku kini mulai menyadari beberapa orang yang katanya suka menangis sendiri di kamar. Dulu aku merasa aneh benar dengan orang-orang macam itu. Ih, dasar secara emosional tidak stabil, mengerikan! Dan sekarang aku takut aku akan menangis atau mengalami gangguan secara psikis. Wkwk, lebay amat ya. Kadang aku membayangkan akan jadi hikikomori karena terlalu lama menganggur dan sendirian. Jadi aku luapkan saja semuanya di sini. Aaaaakkkkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!??!!??5?5/9/5=5/4@!48=hahaghHAUANA
Aku, 23 tahun, baru saja lulus ujian dokter, sedang menunggu sumpah mei nanti. Namun saat ini, selama 23 tahun lebih kehidupanku, aku berada pada kondisi yang menganggap diriku paling tidak berguna. Ya, semua orang pasti akan bilang "kamu harus bersyukur". Namun orang-orang itu secara de facto memiliki kondisi lebih baik dariku. Aku tahu harus bersyukur, tapi bukan itu respon yang kuharapkan. Aku bisa mengingatkan diriku berjuta kali untuk bersyukur. Tapi apa lagi yang bisa kau beri agar aku merasa lebih baik? Aku saat ini berada di bawahmu, aku berharap kamu dapat membantuku naik agar bisa sejajar denganmu. Atau cukup tegarkan lah hatiku. Jangan ceramahi aku untuk menerima semua ini! Aku juga ingin maju, tapi memang kepercayaan diriku tidak sebagus itu. Itulah kenapa kata Karl Marx "Agama adalah candu". Bersyukur aja terus! Toh di agama dikatakan "Kejarlah dunia seakan kau akan hidup 1000 tahun lagi. Kejarlah akhirat seakan kau akan mati besok". Hm.
Aku tahu aku harus menerima semua nikmat Allah ini dengan syukur. Aku bahkan yakin Allah punya rencana yang lebih baik. Namun kalau hanya berakhir di situ? Oh, poor me. Aku berharap bisa mengejar pintu rezeki yang lain, namun di saat aku ragu dengan pilihanku kamu seharusnya bisa menegakkanku lagi. Banyak sebenarnya jalan di luar sana. Namun sekali lagi, terkadang dorongan dari teman itu yang jadi amat penting! Bukan ceramahi aku. Aku sudah cerita bagaimana pikiranku saat ini, aku harap kamu mengerti. Kadang aku merasa anak FK itu tidak terlalu sensitif dengan hal-hal seperti ini. Padahal kami dikatakan harus empati.
Orang selalu bilang saat ini kondisiku lebih baik dari beribu-ribu orang lain yang menganggur dengan masa depan tidak lebih jelas dariku. Lagipula kondisiku saat ini tidak buruk-buruk amat. Bukannya sejak S1 aku memang ingin hidup yang lempeng-lempeng saja? Yeah, tapi memang tekanan sosial di sekelilingku membuatku berharap dapat melakukan lebih. Tapi memang mungkin aku yang terlalu malas, kenapa ogah sekali mengejar kesempatan yang ada? Dan kadang heran juga kenapa jadi orang kok terlalu rendah diri? Tidak ada ambisi-ambisi seperti orang lain. Tapi di satu sisi jadi takut juga dengan masa depan nanti, aku bakal jadi apa ya dibanding teman-teman yang lain? Tapi sekali lagi, aku tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki kualitas diri. Wkwk, ingin menertawakan diri sendiri.
Yeah itu saja. Aku mencoba menyerahkan kembali pada Allah Yang Maha Pemurah. Semua kembali pada-Nya. Aku tahu itu. Dan mungkin mulai saat ini, kamu akan jadi tempat sampahku ya blog! Wkwk, kamu ga pernah bantah aku yang cuma pengen buang sampah ini. Dan walaupun tidak ada kata2 menyemangati darimu atau saran2 untukku agar lebih baik, aku tetap suka deh! Wkwkwk
Simple Life
Senin, 23 April 2018
Selasa, 31 Oktober 2017
PRASANGKA
Dada bapak naik
turun kejar-kejaran. Bapak kehilangan cukup banyak darah katanya, bapak anemia
katanya, bapak kini terbaring lemah dengan masker oksigen. Tidak ada yang tahu
kondisi bapak. Bapak memang hanya tinggal sendiri, tidak mau merepotkan
anak-anaknya untuk menemani setelah kematian ibu. Tidak heran juga kenapa ia
tidak mau karena seketika muka-muka anaknya pada berkerut.
“Repot juga kalau mau urus Bapak.
Anak-anak masih kecil,” ujar kakak iparku. Kakak laki-lakiku hanya diam membeo
ucapan istrinya.
Aku
hanya mendesah, tidak mungkin kubawa bapak tinggal bersamaku di luar kota, aku
hanya pegawai magang yang tinggal di kos-kosan kecil. Sehingga bapak akhirnya tinggal seorang diri di rumah. Maka
pagi itu bapak diketahui muntah dan berak darah. Bapak kemudian terkapar lemas
di kursi ruang tamu, putus asa menanti anak-anaknya yang tak kunjung datang
setelah ditelepon. Kakakku dan istrinya hanya saling pandang ketika ditanya
dokter, tidak tahu bagaimana kondisi bapak dan juga sejak kapan perut bapak
mulai membesar seperti sekarang. Aku langsung memacu motorku dari kota yang
berjarak 2 jam, mengutuk diri sendiri karena tidak pernah menaruh pehatian pada
bapak.
Seorang
perempuan tiba-tiba masuk kamar, membangunkanku dari lamunan. Mukanya terlihat
kucel, berbeda dari seorang lagi yang datang sebelumnya. Ia langsung memasang
manset tensimeter di lengan bapak, lalu sambil menguap menyebutkan hasil
pemeriksaannya. Di sudut tempat tidur itu aku merengut. Seenaknya saja ia masuk
kamar bapak dan memasang alat-alat itu. Tanpa ba bi bu meraih jari bapak dan
menjepitnya dengan alat kecil.
“Eh, bapak saya mau kamu apakan?”
gertakku. Wajah sembab itu menoleh padaku.
“Saya harus cek kondisi bapak,
bapak sempat sesak kan tadi?” katanya datar.
“Kenapa tidak permisi dulu?” Ia
tak menjawab pertanyaanku, “Bapak saya kenapa?”
“Kami observasi dulu ya Mas”
“Dari tadi jawabannya observasi
terus...”
“Saya kerja dulu ya Mas!”
potongnya kasar. Aku tertegun. Diam, melotot sebesar mungkin padanya.
Perempuan
itu mengulum bibirnya. Tidak bisa mengeluarkan kata-kata di ujung lidahnya,
memilih untuk menelannya bulat-bulat. Suaranya berubah sengau ketika ia
kemudian minta maaf dan minta izin untuk melanjutkan pekerjaannya. Dari nama di
baju jaganya itu, ketahuan si Lulu adalah dokter muda. Setelah menyelesaikan
tugasnya, Lulu menyeret kakinya menuju pintu. Tak menjelaskan apapun,
meninggalkanku dengan beribu tanya tentang kondisi bapak dan perasaan dongkol
pada sosok menyebalkan itu.
Aku
tak pernah suka suasana rumah sakit. Mulai dari baunya yang bau orang sakit,
atmosfernya yang penuh duka, lorong-lorong panjang yang redup, dan
obrolan-obrolan keluarga pasien lain tentang pengobatan alternatif. Pasien di
sebelah tempat tidur bapak kini sedang ditanya-tanyai. Untung bapak itu memang
gemar bercerita. Sudah lebih dari sekali pagi itu ia ditanyai oleh sekelompok
orang berjas putih, dengan ukuran lengan jas yang berbeda dan degradasi warna
putih yang beragam, dari yang seputih salju sampai yang seputih gading. Kamu jadi
bisa tahu mana yang sudah dipakai lebih dari setahun, mana yang baru dipakai tidak
sampai seminggu.
“Tidak bosan, Pak?” tanyaku pada
bapak pengidap kanker usus itu. Dokter bilang kankernya tak bisa diangkat,
sudah terlanjur menyebar ke jaringan lain, sehingga dikemoterapi saja.
“Hahaha,” ia menggeleng, tulang-tulang
tampak menonjol di wajahnya, “Selama ini saya tidak pernah ditanyai kondisinya
selengkap itu. Mumpung di rumah sakit. Kalau sudah pulang siapa yang mau tanya?
Anak saya? Capek dia dengerin saya.”
Pemilik
ranjang yang lain berbeda lagi. Ada pria seusia bapak yang sudah tidak sabar
ingin pulang. Setiap perawat memasuki ruangan berisi enam ranjang itu, todongan
pertanyaan ‘kapan pulang’ selalu menggema dalam ruangan. Pria setengah baya di
bagian kamar lain berbeda lagi isi pikirannya. Mukanya sejak bapak datang di
sini selalu tidak santai. Tagihan rumah sakit pasti akan membengkak sepanjang
ia terus tinggal di sini, mungkin seperti itu pikirannya. Pasien yang ranjangannya
dekat pintu mengatakan ia belum sempat membuat asuransi yang digadang-gadang
pemerintah, sialnya ia terlanjur masuk rumah sakit karena sesak nafas. Dokter
bilang karena kebiasaannya merokok selama 20 tahun.
Aku
tidak pernah suka suasana rumah sakit. Apalagi makanannya. Sisa sarapan bapak
masih tergeletak di atas meja. Aku mengambil mangkok berisi bubur itu dan
memakannya pelan-pelan. Bapak masih tergolek lemah. Belum mau bicara banyak
padaku, barangkali masih kesal karena anak-anaknya datang terlambat. Kali ini
seorang laki-laki muda, barangkali teman perempuan semalam, datang untuk
memeriksa. Ia tersenyum sopan meminta izin, kemudian mulai menempelkan
stetoskop. Sesekali ia menyeka rambutnya yang terjuntai walapun telah diberi
pomade. Dandanannya parlente. Harga jam tangan yang berkilau itu pasti di atas
satu juta. Aromanya yang harum menerobos bau-bau orang sakit di sini.
“Kondisi Bapak sudah mulai baik
ya, Mas. Tadi sudah masuk 4 kantong darah, hemoglobinnya sudah naik.” katanya
sambil memperbaiki kacamata.
“Jadi untuk mengetahui penyebab bapak muntah
darah.....” aku tak bisa mengingat kata-katanya selanjutnya. Aku hanya
mengangguk asal saja, ingin pamer pada keluarga pasien lain yang melihat ingin
tahu ke arah kami. Sok tahu.
Pendidikanku
tidak cukup tinggi untuk mengerti kata-kata seperti suspek hepatitis kronis,
sirosis, keganasan dan sebagainya. Dokter muda itu tersenyum lagi, lalu menjelaskan tentang prosedur USG
yang harus dijalani bapak. Aku hanya mengangguk setuju, kemudian diminta ke
sebuah ruangan bertemu dokter yang lebih tua. Aku teringat doker muda yang
menjawab dongkol semalam. Barangkali akan sia-sia juga ia bercerita tentang
kondisi bapak saat kumintai penjelasan.
Ruangan itu berada
di bagian depan bangsal. Terdapat semacam tirai tidak terlihat antara bagian depan
-yang merupakan tempat berkumpul perawat dan dokter- dan bagian belakang yang
berisi para pesakitan. Batas antara dua bagian itu cukup ditandai dengan
samar-samar suara tawa yang sesekali muncul dari sebuah ruangan. Bagian depan
itu terdiri dari 3 ruangan, yaitu nurse station, sebuah ruangan tempat
munculnya suara tawa bertuliskan ‘Ruang Diskusi’, dan ruangan lain bertuliskan
‘Ruang konsultasi’. Ruang terakhir adalah tempatku menunggu dokter tua yang
dijanjikan. Dokter-dokter muda dengan jas yang lebih menjuntai ke bawah hilir
mudik keluar masuk ruang Diskusi sambil meredam tawa.
Dari bilik ini
aku bisa mendengar cerita dokter-dokter muda itu. Ceritanya cukup menarik
untukku sampai aku harus menempelkan telinga cukup dekat ke dinding walau cuma
terdengar samar-samar. Ada yang baru pulang liburan dari Lombok, ada yang dibelikan
mobil baru, cerita tentang pasien yang membandel, tentang pengidap kanker usus
di kamar bapak yang harapan hidupnya tidak lama lagi, gosip-gosip tentang teman
mereka sendiri, sampai ke hal-hal lain yang sama terlarangnya untuk diketahui
olehku.
“Kasihan sekali yang jaga
semalam,”
“Kenapa?”
“Tidak bisa tidur. Empat pasien
butuh pengawasan. Satu harus dipijat jantung,”
“Siapa saja yang jaga?”
“Rara dan mantannya Doni,”
“Hanya berdua? Kasihan sekali,
pasti capek,”
“Kasihan mantannya Doni. Dia
habis dibantai konsulen pas maju kasus, sampai nangis. Kamu tahu, dia belajar
mati-matian semalaman sebelum berhadapan dengan konsulen. Lalu jaga malamnya
perlu bolak-balik ke lab dan nganterin obat. Kamu harus liat mukanya tadi pagi.
Muka orang tidak istirahat seharian! Untung aku sempat nyuruh dia tidur
sebentar sebelum visite pasien,”
“Oh iya, dia bilang semalam juga
habis diomelin keluarga pasien,”
“Kok bisa?”
“Dia lupa minta izin ke
keluarganya buat periksa, hahaha,”
“Ih, jahat banget ngetawain. Kalau
kondisiku juga sama lelahnya dengan dia, aku juga bakal nggak mikir mau izin
ini itu, jelasin ini itu, yang penting cepat selesai. Kasihan memang si Lulu,”
Aku
tertegun mendengar nama itu. Dokter muda yang mukanya kucel semalam, yang
sembab seperti habis menangis. Perutku tiba-tiba terasa tidak enak.
“Bapak
akan ‘diteropong’ dan juga di USG besok,” begitu kata dokter yang lebih tua,
yang sudah kutunggu kedatangannya.
Setelah hampir
2 jam menunggu akhirnya aku bisa duduk berhadapan dengannya. Rasa bosan sempat
muncul saat menunggu sosok pendek itu, apalagi saat ruangan sebelah mulai
ditinggalkan para dokter muda. Tidak ada lagi cerita yang terdengar. Semua kembali
pada kesibukannya. Berdasarkan cerita dari ruang ‘diskusi’ di sebelah, dokter
yang kunanti ini baru saja kehilangan anaknya seminggu yang lalu. Tapi di
depanku ia selalu tersenyum, berusaha membesarkan hatiku, dan mungkin hatinya,
melalui cerita-ceritanya tentang Tuhan Yang Maha Mengatur, Tuhan Yang Maha
Baik. Tidak ada yang tahu seberapa besarnya kesedihan lelaki itu. Jarinya yang
gemuk menunjuk bagian mana yang harus kutandatangani sebagai tanda aku setuju
untuk tindakan medis yang lain. Kemudian tangannya menepuk pundakku, memintaku
berdoa dan bersabar.
Aku
tak pernah suka rumah sakit, kecuali bagian di mana sesama keluarga pasien
saling menyemangati dan barangkali ketika beberapa dokter serta perawat yang
manis-manis melewatimu. Kakakku dan istrinya belum juga datang untuk menggantikan
aku menemani bapak. Aku tak perlu pendapat mereka tentang prosedur USG dan
‘teropong’ itu. Tak ada bedanya mereka tahu, begitu jawabku ketika dokter tua
itu bertanya pendapat anak bapak yang lain.
Tempat tidur bapak kini ditutupi tirai ketika
aku bejalan masuk kamarnya. Bapak dengan kanker usus sedang menatap kosong ke
depan. Kali ini loyo, tidak seperti tadi pagi saat ia begitu bersemangat menjawab
pertanyaan yang diulang-ulang. Mungkin rindu keluarganya. Mungkin seperti bapak
yang rindu aku. Hatiku mencelos ketika
mata kami bertemu. Tatapan dari mata cekung itu mungkin tak akan bertahan lebih
lama. Bapak yang kukira mungkin kesusahan biaya rumah sakit kini tertawa terbahak
bersama istrinya. Mungkin habis menang lotere. Pasien yang ranjangnya paling
dekat pintu memanggilku.
“Bapakmu habis muntah darah
tadi,” katanya. Aku mengangguk padanya sambil tersenyum.
Dari
balik tirai itu aku bisa mendengar bapak bercakap-cakap, sesekali disisipi
gelak tawa seorang perempuan. Yang pasti itu bukan kakak iparku. Tak pernah ada
yang tahan mendengar cerita bapak sebelumnya, termasuk aku. Kusibak sedikit
tirai, kudapati wajah bapak yang bersemangat. Seseorang berdiri dengan baskom
berisi muntahan berwarna merah, masih menyimak cerita bapak, lalu memberikan
ucapan semangat untuknya. Aku mengenali orang itu sebagai dokter muda yang aku pelototi semalam. Tiba-tiba ia menoleh padaku, aku
membalas senyumnya sambil menggaruki kepala. Merasa tidak enakan setelah
menghakimi orang seenaknya.
Senin, 13 Oktober 2014
TEMAN LAMA
Mataku
memindai dari kiri ke kanan pemandangan di depan. Suasana kali ini begitu aneh.
Dunia terasa tidak begitu cerah seperti hari biasa yang terang benderang, tidak
begitu gelap seperti saat hujan turun, ingin turun, dan sudah turun. Aku
menangkap kesan seakan ada pencahayaan khusus. Aku merasa seperti berada dalam
tayangan film bioskop. Aku memandang wajah-wajah tegang di sekitarku, hingga
aku tersadar sudah memakai baju renang. Desir angin mengenai bagian bolong baju
renang di punggungku.
Sambil ngos-ngosan, aku tersenyum. Aku
memenangkan kejuaraan itu meski aku tak tahu sejak kapan aku bisa berenang. Dari
lintasan renang, kini aku berada di tengah jalan tol, mengendarai mobil kijang
Rover tua milik ayahku. kuinjak pedal gas sepenuhnya, melintasi laut Jawa yang
memisahkan pulau Kalimanatan dan pulau Jawa. Sekelebat pikiran muncul dalam
kepalaku, sejak kapan ada jalan tol yang menghubungkan kedua pulau?
Lalu, sekarang aku berada di dalam rumah orang tuaku.
Semua yang ada di sini berwarna putih, bahkan pakaian yang kami kenakan. Aku
memperhatikan orang-orang yang sibuk lalu lalang di depan, sementara aku hanya
duduk manis di sini. Sebagian dari mereka membawa kotak-kotak sambil tersenyum
padaku, sebagian lagi cuek saja. Ibuku masih memendam wajahnya di pundak
ayahku, menangis tersedu-sedu. Di dalam kebingungan aku melirik adik
laki-lakiku yang berjalan mendekat. Dengan seringai di mukanya, laki-laki yang
selalu bertengkar denganku itu berbisik.
“Akad nikahnya sudah selesai,”
“Hah? Siapa yang menikah?”
“Kamu,”
Aku mendelik kesal, mulutku baru mau kubuka untuk
memarahinya, namun adegan telah berubah lagi. Seorang wanita yang tidak kukenal
menarikku dengan paksa, melewati orang-orang yang duduk melantai. Dari sini,
aku bisa melihat ibuku masih menangis sesenggukan. Kami berjalan mendekati
bagian tengah ruangan yang ditempati ayahku dan beberapa orang lain. Semua mata
tertuju padaku kecuali seseorang yang masih terus memunggungiku. Bahkan ketika
aku sudah duduk di sampingnya pun ia masih saja menatap ke depan mengacuhkanku.
Dari balik kain putih tranparan yang menutupi sebagian wajahku, aku melirik
ingin tahu padanya. Mulai dari tangannya yang putih kekar, lalu naik ke atas,
kini lehernya, dagunya yang bersih, hidungnya, dan aku langsung saja berjengit
ketika mendapati mata siapa yang masih belum mau menatapku itu.
“IQBAL????!!!!!!!!!!!!”
Allahu akbar.. Allahu akbar...
Gambaran tadi lenyap sudah. Alunan adzan mengembalikan
lagi rasionalias yang sempat hilang. Degup jantungku seirama dengan nafasku
yang ngos-ngosan. Akal sehatku mulai menjawab, bahwa aku tak mungkin
memenangkan lomba renang karena aku tak bisa berenang, tol yang menghubungkan
pulau Kalimantan dan Pulau Jawa tidak pernah dibangun di dunia ini, dan pernikahan
tadi... Aku masih memejamkan mataku, menyusun adegan-adegan itu sebelum aku
melupakannya, tentu saja tidak akan mungkin terjadi.
***
Foto yang diunggah kawan kecil lamaku di instagram itu
menjadi pangkal dari mimpiku. Foto yang diambil ayah Radit ketika Radit
berulang tahun yang ke-10. Kami berempat memang berteman dekat sehingga hanya
aku, Bobi, dan Iqbal saja yang diminta menemani Radit di depan ketika ia akan
meniup lilin. Aku adalah yang paling muda, sekaligus satu-satunya venus yang
dikerubungi mars. Namun bukan berarti aku yang paling lemah, karena aku tidak
pernah menjadi yang terakhir yang harus berjaga di pos permainan petak umpet.
Aku juga tak pernah kalah cepat berlari dibanding mereka ketika bermain
bentengan. Tetapi tetap saja mereka menganggapku sebagai anak bawang, dan
karenanya setiap bermain permainan beregu, aku selalu berada satu tim dengan
Iqbal, anak paling tua di genk kami -yang kami anggap sebagai ketua genk.
Mungkin bukan karena aku yang benar-benar kuat, tetapi karena bersamanya lah
aku bisa menjadi lebih hebat. Aku bahkan sempat berpikir, hidupku tidak akan
menjadi lebih buruk kecuali ia meninggalkanku.
Ide-ide masa kecil kembali terbit lagi saat aku membuka
foto untuk yang kesekian kali. Senyumku terus saja mengembang, melihat
wujud-wujud kami yang masih imut. Iqbal tetap yang paling tinggi dan yang paling
putih, Bobi yang paling montok, Radit
masih dengan giginya yang ompong, dan anak paling kecil berambut pendek mirip
laki-laki itu aku. Jemariku memainkan scroll mouse, menurunkan halaman web
untuk membaca komentar-komentar mereka.
Radit : Nih, kita masih kelihatan unyu
di sini, hahaha.
AmandaS : Diiiittt, kangen!!!!!!!! :’)
Bobi Delayota : Dit, jangan senyum lebar-lebar, ketahuan lo
gak punya gigi, wkwkwkwk
Radit : Sial lo Bob -_- Inget gak Bobi
itu yang paling sering jaga kalo main petak umpet. Larinya paling pelan, haaha.
AmandaS : Jahat banget Dit -_- Kita kan dulu
sering dijajanin Bobi, hihihi
dr. Iqbal : Hahaha, kok baru di upload sih? Gak
kerasa udh 12 tahun ya guys. Manda banyak berubah btw J.
.....
Aku tidak melanjutkan membaca komentar berikutnya. Meski
kami memiliki nomor hape satu sama lain, sudah saling mengikuti akun media
sosial, baru kali ini kami berkomunikasi lagi. Iqbal, laki-laki pertama selain
ayahku yang bisa memberikan rasa aman. Setelah 12 tahun kami berpisah karena
ayahnya melanjutkan sekolah ke luar negeri, aku baru menyadari hanya dia yang
membuatku merasa seperti itu. Aku menelan ludah, mungkin setelah kembali
membaca komentarnya, aku bisa memimpikannya sekali lagi, tidak peduli kalau
terakhir kali aku melihat status hubungannya di facebook, ia sudah menjalin
kasih dengan perempuan lain. Tidak peduli juga... ya sudahlah.
***
Libur semester genap ini ibu memintaku untuk pulang
kampung lebih awal. Katanya biar bisa berpuasa lebih lama di
kampung halaman. Rencanaku untuk naik
gunung bersama pemuda-pemuda gondrong anggota mahasiswa pecinta alam akhirnya
dibatalkan. Dengan penerbangan paling pagi dari Yogyakarta, aku mendarat di
bandara Sepinggan dua jam kemudian. Dafa, adik laki-laki semata wayangku, menjemput
dengan mobil kijang Rover tua milik ayah. Bocah yang baru kelas 2 SMA itu
dengan bangga mempersilahkan aku masuk. Tentu saja ia ingin menyombong karena
aku tak bisa menyetir mobil. Awalnya semua terlihat meyakinkan, mulai dari ia
menyalakan mobil sampai mobil berjalan hingga 100 meter. Namun dahiku mulai
mengernyit ragu ketika bemper mobil menabrak pembatas jalan saat kami ingin
berbelok keluar dari area bandara.
“Kamu udah ada SIM belum sih?”
“Belum lah. KTP aja belum ada,”
“Terus kenapa ayah bolehin bawa mobil?” tanyaku tak
terima.
“Loh, kan aku cowok, hehe,” katanya sambil menyeringai. Ekspresi
mukanya langsung berubah saat menangkap rasa kesalku atas obrolan gender yang
diskriminatif ini, “Errr, ngomong-ngomong Kak, Om Rizal sekeluarga udah balik
loh,”
“Oh udah balik. Hah??? Om Rizal udah balik dari Australia???”
tanyaku tak percaya, “Sekeluarga?” adikku mengangguk.
Matahari
Balikpapan mulai sampai di puncak. Hawa panas di hari ketiga puasa diperparah
dengan mobil kami yang tidak ber-AC. Tamparan angin kering yang menerobos lewat
jendela menampar wajahku. Sebulan yang lalu laki-laki yang baru pulang bersama
keluarganya itu menyelinap di dalam mimpi. Rasa rindu yang mulai merambah
kalbuku ketika memandang foto kami berempat tidak kuasa kumanipulasi. Rinduku tidak
bisa kubagi sama rata, melainkan hanya untuk dia seorang. Mobil kami akhirnya memasuki
gerbang perumahan tempat kami tumbuh besar. Aku melirik rumah pertama berwarna
putih di blok A. Tanda-tanda kehidupan sudah tampak di sana. Bahkan aku sempat
membalas lambaian Ibu Iqbal yang tersenyum di saat mataku bergerak liar mencari
putranya yang tak terlihat.
Aku
tak berani keluar rumah. Tidak, sebenarnya lebih tidak ingin bertemu dengannya.
Setelah tiga hari berada di rumah, aku hanya bisa mengintip lewat jendela
ketika Iqbal sedang lari sore menjelang buka puasa. Aku bersembunyi di balik
dinding, menghindari Iqbal yang menoleh ke arahku. Menahan perasaan yang
menggebu-gebu, aku menolak ajakan Dafa untuk bertamu ke rumah Om Rizal. Kecuali
Iqbal yang pertama kali menemuiku, aku tidak akan menemuinya! Maka sama seperti
liburan-liburan sebelumnya, nasibku berakhir di depan televisi saja.
Program
liburan yang telah kusiapkan sebelum pulang kampung hanya sebatas wacana. Aku
yang berniat menguasai berbagai keterampilan wanita selama di rumah hanya bisa
menjadi penonton ketika ibuku memasak. Bukan karena seseorang, tetapi entah
mengapa panggilan untuk bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga muncul begitu
saja ketika usiamu semakin meninggi. Ibu selalu menggiringku keluar dapur
ketika aku ingin membantu. Yah, mungkin ibu berusaha melindungi segalanya;
melindungi masakan agar tak gosong, melindungi perabotan agar tak pecah, dan
melindungiku agar tak terkena cipratan minyak panas. Aku sih tahu diri saja, karena terakhir kali
aku membantu, opor ayam tak lagi terasa seperti opor ayam.
Kali ini dengan mengendarai sepeda fixie, aku hanya
ditugaskan ibu untuk mengambil pesanan ayam di pasar. Pasar yang buka hingga
maghrib itu cukup jauh dari kompleks perumahan kami, mungkin sekitar 7 km. Maka
dengan kantong plastik berisi dua ekor ayam –sudah dibubuti- yang menggantung
di stang sepeda, aku meliuk-liuk di jalan yang baru saja diaspal ini. Keringat
di pelipis mulai menetes karena matahari sore masih bersinar terik. Di depan
sana, sebuah mobil tua memantulkan cahaya menyilaukan. Tiba-tiba seorang wanita
yang kukenal melompat keluar dari mobil tersebut untuk menghentikanku. Bunyi
decit ban sepeda terdengar begitu aku meremas rem di kanan dan kiri.
“Ada apa tante?” tanyaku khawatir. Aku tidak membayangkan
jika terlambat mengerem sepeda, barangkali Ibu Iqbal sudah tertabrak olehku.
“Eh, mobil tante mogok Manda. Nak Manda kuliah di teknik
mesin, bukan?” Ibu Iqbal tersenyum malu. Aku nyengir saja mendengar basa-basi
Ibu Iqbal, lalu tanpa menjawab pertanyaannya, aku memarkir sepeda kemudian berjalan
ke kap mobil yang sudah terbuka.
“Hahaha, terima kasih Nak Manda. Tante mungkin bakal
panggil mobil derek kalau nggak ketemu Nak Manda. Si Tole nggak bisa
diharapkan, masa dari tadi udah ngutak-ngatik tapi mobilnya masih belum benar
juga? Hahaha,”
Tawa
melengking Ibu Iqbal membuatku melirik sosok yang berdiri di sampingku.
Keringat membasahi kemeja Iqbal yang sudah dibuka hingga kancing ketiga. Dada
putihnya kelihatan mengkilap. Dengan kunci inggris di tangannya, Iqbal menyapu
bulir-bulir peluh dari pelipisnya, membuat coreng-moreng baru di wajahnya.
Untuk sementara aku merasa seperti berada dalam ruangan kedap udara. Bunyi degup
jantungku lebih kuat dari seperangkat sound system yang dipasang setiap tujuh
belas agustus. Mataku berkunanga-kunang, nadiku yang berdenyut cepat seakan mau
pecah! Iqbal yang sedang menjalani semester akhirnya di Fakultas Kedokteran Adelaide
pasti tahu kalau aku terkena serangan panik.
“Manda?”
suara lembut yang terakhir kudengar 12 tahun lalu merambat lambat di telinga.
Tetapi kali ini lebih berat dan berwibawa, kecuali bagian berikutnya ketika ia berterima
kasih karena aku berhasil membenarkan mobilnya kurang dari lima belas menit.
Aku tahu ia malu karena kalah dari seorang gadis manis sepertiku, hahaha.
“Santai,
Bro! Kamu harus jadi mahasiswa semester lima dulu untuk bisa memperbaiki mobil
seperti itu, hahaha,” aku sengaja tertawa semenyenangkan mungkin. Kedua
tanganku yang masih gemetaran saling meremas di balik punggung.
Itulan
pertemuan pertama dua kawan lama setelah sekian tahun. Hari-hari berikutnya tidak
ada tanda-tanda kemunculan Iqbal. Ia tak lagi lari sore melewati rumahku ketika
sedang menantikan waktu berbuka. Aku sempat menyesal kenapa harus bertemu
dengannya dalam situasi seperti kemarin. Barangkali sosok yang menurutnya
berubah begitu drastis tidak didapatkan dari diriku. Kalau tahu pertemuan itu
akan terjadi, sebelumnya aku akan memilih memakai rok panjang ketimbang celana
training, aku akan menata rambutku lebih cantik daripada hanya sekedar
mengikatnya seperti ekor kuda, dan aku akan memilih memakai sepeda berkeranjang
daripada sepeda fixie.
Namun
kekecewaanku langsung terobati ketika beberapa hari berikutnya ayah dan ibuku
tidak ada di rumah dari pagi hingga habis maghrib. Ayah akan berbuka puasa di
kantor karena harus lembur malam ini, sedangkan ibu bersama kelompok majelis
taklimnya akan mengadakan buka puasa bersama anak panti asuhan. Ibu tidak
sempat menitipkan pesan apa-apa tentang menu berbuka puasa, sehingga tanpa
diketahui oleh Dafa, aku akan menyiapkan menu berbuka spesial hari ini. Jika
Brownies Amanda sudah biasa, maka kolak Amanda tentu luar biasa!
Maka
sekitar jam dua siang, aku menggenjot sepedaku menyusuri jalan yang aspalnya
masih mulus. Jarak ke pasar menjadi lebih dekat karena semangat kolak yang
menggebu sepanjang perjalanan. Setelah melakukan penelusuran di semua sudut
pasar, aku berhasil mendapatkan kolang-kaling, kelapa parut, singkong, pisang,
gula merah, dan bahan-bahan lain dengan harga yang sukses kutawar. Sesampainya
di rumah, aku menggelar seluruh bahan dan mulai melakukan eksperimen pertama. Santan
yang telah kuperas selanjutnya kupanaskan hingga mendidih, kemudian kutambahkan
potongan singkong, pisang, kolang-kaling, gula merah, garam, dan seikat daun
pandan. Tidak sampai 30 menit, panci yang tutupnya kuangkat mengepulkan uap
tebal.
Setelah
memastikan masakan pertamaku sudah matang, aku melirik jam. Mulutku menguap
besar-besar. Masih jam lima, aku akan tidur dulu sampai waktunya berbuka. Ya,
awalnya hanya ingin tidur setengah jam saja, namun apa mau dikata, sensasi
gelap langsung merayapi mataku ketika aku terbangun. Astaga, sudah jam setengah
tujuh? Aku buru-buru bangkit dari tempat tidur, berlari ke dapur, meminum
segelas air untuk membatalkan puasaku. Aku baru saja ingin menyendok kolak ke
dalam mangkok ketika kulihat tv di ruang tengah menyala. Dafa pasti tidak
mematikan televisi setelah bermain playstation, pikirku.
Namun
langkahku tiba-tiba terhenti ketika melihat pintu depan tidak ditutup. Bocah
itu! Awas saja! Aku berjalan dengan kaki yang sengaja kuhentakkan keras-keras
di lantai. Dari sini aku bisa melihat siluet orang yang sedang duduk di kursi
teras. Kalau pun maling atau penerobos rumah orang yang akan kuhadapi, aku tak
takut! Modal sabuk biru taekwondo sudah cukup untuk meremukkan tulang mereka. Aku
siap untuk menghardik orang itu namun niatku luntur seketika. Yang kudapati
bukan penyamun atau semacamnya, melainkan Iqbal yang sedang duduk manis sambil
menyendok kolak ke dalam mulut. Aku meleleh ketika melihatnya tersenyum.
“Dafa
pergi sebentar menjemput Ibumu,” kata Iqbal.
“Kok
bisa kamu di sini? Disuruh Dafa jagain rumah ya? Hahaha,” aku tertawa sambil
meremas tangan yang lagi-lagi bergetar.
“Jagain
kamu maksudnya? Hahahaha.” Semburat merah terbit di wajahku. Aku yakin tampakanku
akan menjadi lebih mirip kepiting rebus kalau saja Iqbal tidak menambahkan
pernyataan lain, “Bercanda Non, aku tadi ke sini untuk main playstation. Terus
ibumu minta dijemput. Karena kamu lagi tidur aku akhirnya harus jaga rumahmu
sebentar,” Iqbal mengakhirinya dengan senyum simpul. Aku tidak tahan untuk
membalas senyumnya, lalu melirik sebentar ke arah mangkok yang isinya sudah
ludes.
“Ngomong-ngomong
enak nggak kolaknya?”
“Wah,
ini kolak paling enak yang pernah aku makan!”
“Oh
ya? Kalau gitu tambah lagi ya?” aku tak bisa menyembunyikan binar bahagia di
mata. Iqbal menyerahkan mangkoknya yang sudah kosong. Semenit kemudian Iqbal
kembali melahap kolak yang baru pertama kali kubuat itu.
“Masakan
ibumu enak ya?”
“Masakan
ibuku? Hahahaha, itu masakanku, Bal,” Iqbal berhenti mengunyah seketika.
“Seriusan?”
tanyanya. Aku mengangguk.
“Aku
nggak pernah diizinkan masak sebelumnya. Ternyata cuma mitos keluargaku aja
kalau makananku nggak enak. Kamu orang pertama yang menyukai masakanku loh,
hahaha” kataku sambil memukul pundaknya. Aku mengehentikan tawaku karena Iqbal
hanya diam. Angin malam melewati celah antara aku dan dia. Astaga! Aku
seharusnya tidak memukulnya sekeras tadi!
“Apa
aku juga yang pertama kali bilang aku menyukaimu?” ujar Iqbal setelah beberapa
menit membisu.
“Hah?”
“Aku
suka kamu,” suaranya makin tegas. Selintas pikiran mengerikan lewat.
“Kamu
nggak keracunan kolak, kan?” tanyaku pelan. Iqbal hanya tersenyum tipis.
Tatapannya tiba-tiba melayang padaku.
“Sejak
kita masih kecil, kamu tahu kenapa aku selalu mau satu tim dengan kamu? Aku pengen
melindungi kamu. Bahkan setelah Papa berangkat ke Australia, aku sempat
menyesali kita masih terlalu kecil untuk cinta-cintaan. Aku belum bisa bilang
aku suka kamu,” Iqbal berhenti untuk menelan ludah sebentar, “Amanda, sebelum
aku kembali ke Australia aku mau kamu tahu sebelum terlambat.” Kami diam lagi.
Iqbal masih belum menurunkan intensitas tatapannya. Wajahku makin panas, kini
ditambah mataku.
“Bro,
kamu memang sudah terlambat,” leherku tercekit ketika bicara. Aku berusaha
untuk balas menatapnya, kini sambil tersenyum, “Dari foto-foto profil media
sosial apa kamu nggak lihat aku selalu foto dengan seseorang? Dia mengatakannya
lebih dulu dari kamu.”
“Ku..
kukira dia temanmu atau semacamnya,” aku bisa mendengar suaranya bergetar, “Manda
kan memang suka main sama anak cowok. Apalagi sekarang kuliah di teknik mesin.
Kukira kamu belum pernah suka sama seseorang...”
“Aku
suka kamu, loh. Suka sekali. Semenjak kamu marah sama Radit karena dia jahil
padaku,” aku mengusap butir-butir bening yang mulai menetes, “Tapi sekarang
berbeda. Kamu milik orang lain sedangkan aku milik yang lain juga,”
“Aku
sudah putus. Sudah lama...”
Kami
diam lagi. Sekumpulan laron mengerubungi lampu teras, sebagian terbang di atas
kami berdua. Kedua tanganku masih saling menggenggam. Iqbal tak berani
menatapku lagi. Entah berapa menit yang kami habiskan dengan pikiran
masing-masing. Ingatanku kembali ke setahun yang lalu. Setelah tahu Iqbal menjalin
kasih dengan seseorang, aku tak menolak ajakan Bayu untuk jalan bersama. Walau
tak ada yang bisa diharapkan dari Bayu, namun usahanya membuatku luluh. Bukan
rasa suka melainkan iba yang kuharap akan menjadi lebih. Namun setelah setahun
ini, Bayu hanya tetap Bayu.
Kukira
gerombolan anak-anak yang lewat di depan rumah telah mengembalikan kesadaran
Iqbal lagi, karena kini ia sudah berdiri dari posisinya. Tanpa menoleh, ia
berjalan menuju pagar rumahku.
“Oh,
sudah jam segini. Aku pulang dulu, mau tarawih,”
“Iqbal,
temui ayahku dan aku akan memberimu jawaban berbeda,” aku sudah terlanjur
menangis kali ini. Berhenti! Jangan Pergi! Aku hanya bisa menjerit dalam
kepala.
“Manda,
kamu ingat 12 tahun yang lalu? Hahaha, kita masih sebesar anak-anak yang lewat
ini. Kita bisa saling bergandengan tangan tanpa rasa bersalah.” Katanya sebelum
benar-benar menghilang.
Aku
bisa merasakan kehampaan dalam tawa datarnya. Aku ingin menghentikannya namun
tak bisa. Untuk pertama kali dalam hidupku, kalau tangisan karena murka ayah
tak dihitung, hanya dia laki-laki yang berhasil membuatku bersedu sedan seperti
ini. Sisa malam ini kuhabiskan meratap dalam kamar. Aku tak peduli dengan
jeritan adikku ketika tahu aku yang memasak kolak (“Harusnya aku nggak
ngebiarin Mas Iqbal makan kolak!!!”), tak peduli dengan ajakan tarawih ibu (“tentu
saja tidak, ternyata aku menstruasi Bu!”).
Hari-hari
berikutnya aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Sama seperti Bayu, barangkali
Iqbal terlalu takut untuk memintaku secara langsung pada ayah. Aku tak tertarik
mendengar kabar apapun tentangnya. Bahkan kabar tentang Iqbal yang diare
setelah menghabiskan kolak buatanku pun hanya lewat begitu saja. Lebaran yang
ditunggu-tunggu hanya menjadi lebaran biasa. Aku masih belum bertemu Iqbal,
hanya bertemu orang tua dan dua adiknya. Barangkali ia terlalu malu untuk bertemu
denganku, mungkin juga karena trauma setelah tragedi kolak itu. Yang pasti, di
saat aku sudah kembali ke kota pelajar sedangkan ia belum kembali ke Australia,
aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Aku tahu mimpiku beberapa waktu lalu tak
akan pernah terwujud.
Yah,
namun hidup harus terus berjalan bukan? Beberapa saat lalu Bayu menemuiku.
Dengan rambut acak-acakan ia bersimpuh di depanku sambil menangis. Aku hanya
bisa melongo mendengar pengakuaannya bahwa ia lelaki pengecut, bahwa ia tidak
bisa lebih baik dariku, bahwa ia merasa tertekan bila terus bersamaku. Sebenarnya
aku lebih ingin tertawa daripada menangis ketika ia memintaku untuk putus
dengannya. Dan ketika vonisku keluar, Bayu langsung tertawa kegirangan.
Sendiri mungkin lebih nyaman untuk saat ini.
Aku mulai berani untuk melihat foto yang diunggah Radit lagi. Bukan hanya foto
ulang tahun, namun foto-foto lain juga. Banyak sekali, lebih dari seratus! Misalnya
saat kami sedang berlibur di pantai, atau saat Bobi jadi pengantin sunat, dan
sebagainya. Kali ini aku berusaha untuk menekan perasaan saat memandang anak
paling tinggi dan paling putih. Termasuk mimpi beberapa waktu lalu, sebaiknya
kulupakan saja. Ya, mereka semua sama, mereka kakak-kakakku. Ponselku tiba-tiba
berbunyi di saat aku asyik menyusun memori lagi. Kenapa ayah menelepon
malam-malam begini?
“Halo,
Manda,”
“Halo,
Yah?” aku mengernyitkan kening ketika mendengar keraguan dalam suara ayah.
“Dengar,
aku tidak tahu harus mulai dari mana tapi... Ini sungguh mengejutkan,”
“Apa?”
“Begini,
sebelum dia berangkat ke Australia, Iqbal datang menemuiku. Dia bilang...”
ayahku berhenti.
“Hmmm?”
Ayah
menarik napas panjang, lalu mengucapkan kalimat berikutnya dalam sekali napas, “Dia
bilang dia ingin menikahimu dan kujawab ‘ya’”
Butuh
beberapa detik sampai aku bisa mencerna maksudnya. Sebaiknya ini benar,
sebaiknya ini benar! Lalu seperti yang sudah-sudah, kupikir aku kena serangan
panik!
“AYAH
TIDAK BERCANDA KAN????!!!!”
Kosan
pak Taji, Senin 13 Oktober 2014 21.40
Minggu, 07 September 2014
BISIK-BISIK TETANGGA
Sore itu sama seperti sore-sore lain. Anak-anak belarian
ke sana ke mari, menerbangkan debu di jalan yang tak beraspal. Maklum, sekarang
masih musim kemarau dan tukang es lilin laku benar jualannya. Di depan salah
satu rumah, Pak Topo si tua-tua keladi, sedang sibuk mengipasi dirinya yang
kepanasan. Kaos dalam putih yang berlubang tampak lengket menempel padanya. Apalagi
barusan cucunya, yang baru saja ia belikan hape berkamera, menunjukkan video
yang membuat Pak Topo tak berhenti berkeringat sampai saat ini.
Salah
satu bagian terpenting dari sore di kampung antah berantah ini adalah
sekelompok ibu-ibu yang asyik berdiskusi. Kali ini mereka berkumpul di depan
warung, sambil sesekali berteriak memanggil pemiliknya untuk ikut bergabung.
Seseorang dari kelompok itu adalah ibu muda yang kewalahan mengejar anak
balitanya, lalu cepat-cepat kembali ke kelompok untuk menyimak. Meski anggota
mereka kurang seorang, tapi itulah syarat agar topik kali ini bisa dibicarakan.
Terdengar semua yang hadir berjengit ketika Jeng Rani selesai bercerita tentang
tetangganya yang absen itu.
“Keterlaluan.
Benar-benar keterlaluan ibu-ibu,” kata Jeng Rani sambil membenarkan
kacamatanya.
“Benar
Bu, Lala juga bilang begitu. Ini bukan sekali dua kali loh. Masa kata Lala
waktu dia makan di kantin sekolah, ada ulat di sambal baksonya!” kerumunan
ibu-ibu itu langsung berdengung.
“Coba
lihat saja ke dapurnya! Iiiihh, jorok banget. Lantainya lengket dan tumpukan
panci-panci berhari-hari belum dicuci!” suasana makin riuh ketika Ibu Marlina
berkomentar, “Nah, sekarang saya nggak habis pikir, kenapa dia tega melakukan
hal itu ke anak-anak kita?” ibu-ibu itu langsung mengangguk sambil bergumam
mengamini pimpinan mereka.
“Tapi-tapi,
anak saya si Toing kok nggak komentar ya setelah makan nasi kotak MOSnya?”
celetuk ibu Rosyidah yang dari tadi diam sambil berpikir.
“Hahahaha,
Jeng Idah, Jeng Idah kayak nggak tahu si Toing aja. Segala makanan kan diembat
sama dia. Iya nggak ibu-ibu? Hahahahaha,” tawa keras Ibu Ratih membahana.
Ibu
Rosyidah masih tetap diam. Kali ini bukan karena sedang mencari alasan untuk tidak
menuduh tetangga sebelah rumahnya, melainkan karena kesal putra kebanggaan
satu-satunya yang gembul dan menggemaskan itu diledek habis-habisan.
***
Awalnya semua berasal dari
jeritan seorang siswi saat ia membuka nasi kotak makan siang di hari pertama acara
orientasi siswa baru. Siswa yang lain jadi ikut panik ketika mendapati serbuk
putih seperti parutan kelapa yang ternyata adalah ulat pada ikan mereka. Guru
yang mengawas langsung mengecek ke ruangan yang lain dan ia mendapati hal yang
sama. Kemudian guru itu bercerita kepada guru yang lain, sementara murid-murid
juga aktif berceloteh kepada sesama mereka, lalu kepada orang tua mereka
sesampainya di rumah. Guru-guru pun tak mau kalah karena kini pasangan mereka
juga sudah tahu apa yang terjadi. Dari semua percakapan mengenai ulat di kotak
nasi, hanya ada satu nama yang terus disebutkan, yaitu Ibu Nurlela.
Malam
hari di rumah Ibu Marlina pun saat ini masih dibahas janda beranak dua yang membuat
heboh itu. Dugaannya pasti benar. Ia tak hanya dapat kabar dari Tito, anaknya
yang mengikuti orientasi, tapi juga dari suaminya yang menjadi guru PPKN di
sana. Sambil menyeterika pakaian untuk anaknya besok, Ibu Marlina masih terus
membahas kejadian tadi pagi, meski harus adu volume suara dengan sinetron yang
diputar keras-keras.
“Desas-desus
yang dulu itu ternyata terbukti kan Pak?” tanya Ibu Marlina. Suaminya hanya
menggumam, sibuk menonton opera sabun yang sudah dua tahun tak kunjung tamat.
“Ckckckck,
tapi Ibu Nurlela itu kok nggak sadar ya? padahal udah banyak yang komplain ke
dia, tapi tetap saja nggak mau ngaku. Waktu itu Ibu Menik pesan cake, eehh
ternyata cake-nya bantet. Awalnya dikira kebetulan, tapi pas pesan lagi
ternyata cake-nya bantet lagi, ckckckck, aku nggak habis pikir loh,”
“Hmmmm...”
“Pak,
pihak sekolah udah komplain ke dia belum?”
“Hmmm...”
“Terus
dia bilang apa?”
“Katanya
dia pakai ikan yang segar,”
Ibu
Marlina geleng-geleng kepala, “Kok begitu terus alasannya? Kalau yang masak Ibu
sih pasti terjamin kualitas bahan bakunya. Oh iya Pak, kantin sekolah yang
megang masih dia?” Suaminya hanya menggeleng, “Bagus itu, harusnya dari dulu
diganti. Aduh, kalau Tito jajannya di dia, Tito bisa keracunan. Coba kalau Ibu
yang ngurusin kantin, pasti terjamin kebersihannya. Eeeehh, tapi Bapak kan
nggak mau KKN. Urusan yang banyak duitnya malah dikasih ke orang lain, istri
sendiri cuma dikasih orderan bakwan untuk MOS . Itu pun cuma untuk besok aja....”
“Sssssttt... Ibu ribut saja dari tadi! Bikin bakwan aja
repotnya bukan main, apalagi kalau disuruh masak besar? Sudah-sudah, Bapak mau
nonton lagi!”
Ibu Marlina hanya merengut. Pantas saja mereka tidak
kaya-kaya, padahal suaminya merangkap juga sebagai bendahara sekolah. Kalau saja
pelajaran yang ia ajarkan bukan PPKN, telinga Ibu Marlina tidak perlu kepanasan
mendengar pidato suaminya tentang korupsi dan nepotisme. Suaminya masih terus
saja setia dengan idealismenya di saat yang mereka punyai di dapur hanya tempe
dan tahu. Bahkan karena omong kosong suaminya pula Tito tak bisa bersekolah di
sekolah swasta terkenal. Biayanya terlalu mahal, begitu kata suaminya. Ibu
Marlina melirik cincin yang terakhir ia beli sepuluh tahun lalu. Harusnya bapak
Tito mengajar ekonomi saja!
Esok paginya keributan terjadi di rumah mungi itu. Ibu
Marlina harus setengah mati membangunkan Tito yang tak mau bangkit. Bukan salah
Tito juga kalau ia berperilaku seperti ini. Jika saja semalam Ibu Marlina tak
memaksa Tito begadang hingga jam tiga pagi untuk membantunya membuat bakwan,
Tito akan mudah saja dibangunkan. Namun Ibu Marlina punya pembelaan tersendiri.
Ia akan melirik jengel pada suaminya yang sudah berpakaian dinas.
“Nanti akan ada orang dari sekolah yang menjemput kuenya.
Bapak akan repot kalau membawanya sendiri,” suaminya berusaha mengalihkan topik.
“Baiklah, akan ibu tunggu. Ibu sudah siapkan teh di meja.
Sarapannya sama bakwan aja ya, ibu nggak sempat bikin yang lain.... Hei Tito!
Ayo bangun!!!!”
Suami Ibu Marlina bergeming ketika istrinya menyebut
bakwan sebagai menu sarapan. Matanya perlahan mencari kue bundar itu. Semalam
Ibu Marlina menyuruhnya membeli telur yang harganya sedang naik untuk adonan bakwan.
Ia terbelalak ketika Ibu Marlina memecah telur yang dibelinya. Kuning telurnya
tak lagi bulat dan sudah mulai memerah. Kedua pasangan itu saling tukar
pandang, lalu membaui telurnya. Suami Ibu Marlina baru saja mengatakan ‘ganti
saja dengan yang baru’, namun ia terlambat karena telur yang tampak mulai rusak
itu sudah bercampur dengan tepung terigu, air, dan sayur mayur.
“Telurnya masih bagus kok, belum busuk,” katanya.
Maka dengan hati yang tak tenang, suami Ibu Marlina
menjalankan tugasnya sebagai pengawas orientasi. Hatinya berdenyut menyakitkan
melihat bakwan yang sudah datang dibungkus dalam plastik bening bersama kue-kue
lainnya. Obrolan rekan guru lain yang masih membahas tragedi kemarin membuat
ngilu kupingnya. Apalagi waktu pembagian snack
pagi dilakukan. Ia saja tak mau memakan bakwan itu, kenapa ia tega membiarkan
orang lain memakannya? Suami ibu Marlina nelangsa. Hanya doa dalam kengerian
yang bisa ia lakukan, semoga tragedi baru tidak terjadi.
Satu jam, dua jam, suami Ibu Marlina terus mengawasi
murid-murid yang baik-baik saja. rekan gurunya pun demikian. Suami Ibu Marlina menghembuskan
napas panjang, mungkin memang bakwan istrinya aman. Ia berjanji dalam hati akan
memakan bakwan istrinya sepulang sekolah nanti. Suami Ibu Marlina kini dengan
hati riang memberikan tanda tangan untuk murid-murid baru, sampai kemudian
terdengar teriakan.
“ADA YANG MUNTAH!!!!!!!”
Suami Ibu Marlina dengan gelagapan segera menyusul
orang-orang yang berlarian ke aula. Anak yang dikabarakan muntah itu
dikelilingi yang lain. Suami Ibu Marlina kembali cemas. Ia menerobos agar
sampai di samping anak itu. Celaka, sungguh celaka, batin suami Ibu Marlina.
Ya, benar-benar celaka, karena yang menjadi korban pertama bakwan Ibu Marlina
adalah anaknya sendiri!
Tito terbaring lemah, mukanya pucat. Seorang guru memijat
kepalanya, lalu Tito muntah lagi. Tak butuh waktu lama, sesuai prediksinya,
anak-anak lain juga ikut keracunan, kemudian disusul rekan gurunya. Suami Ibu
Marlina menepok jidat, barangkali masa orientasi sampai hari ini saja. Panitia
dan peserta, hampir semuanya terbaring tak berdaya.
***
Sore ini sama seperti sore-sore lainnya. Anak-anak masih
berlarian ke sana ke mari dan Pak Topo yang memakai kaos singlet putih terus
mengipasi dirinya yang kepanasan. Di bagian yang lain, elemen terpenting dari
sore hari di kampung antah berantah ini masih berlangsung. Di depan sebuah
warung, sekelompok ibu-ibu asyik berdiskusi. Ibu muda mengejar anak balitanya,
lalu kembali lagi ke kelompok untuk menyimak. Meski anggota mereka kurang
seorang, tapi itulah syarat agar topik kali ini bisa dibicarakan. Terdengar semua
yang hadir berjengit ketika Jeng Rani selesai bercerita tentang tetangganya yang
absen itu.
“Keterlaluan.
Benar-benar keterlaluan ibu-ibu,” kata Jeng Rani sambil membenarkan
kacamatanya.
“Benar
Bu, anak saya juga bilang begitu. Kemarin dia yang jadi panitianya. Untung dia
lagi puasa untuk bayar hutang Ramadhan, jadi nggak ikut nyicipi. Saya nggak
nyangka Ibu Marlina tega masukin telur busuk ke adonan bakwannya. Tapi Ibu
Marlina kalau masak memang kurag sip. Eh, sekarang berani ngirimi bakwan ke
acara MOS,” kata Ibu Nurlela. Tragedi kemarin ternyata sudah terhapus dari
memorinya. Ibu Nurlela tak sadar dijadikan tersangka pada diskusi sebelumnya.
“Tapi-tapi...”
“Tapi
apa Bu Idah? Toing nggak keracunan lagi, ya? Hahahahaha,” tawa Ibu Ratih
membahana.
Ibu Rosyidah diam. Kali ini bukan karena sedang mencari
alasan untuk tidak menuduh tetangga sebelah rumahnya, ataupun karena kesal
putranya yang gembul dan menggemaskan itu diledek habis-habisan. Ibu Rosyidah diam
karena ingin tahu apa yang akan dibicarakan tetangganya ketika ia punya masalah.
Yogyakarta,
kosan Pak Taji, Minggu 7 Sepetmeber 2014 14.28
Jumat, 29 Agustus 2014
KISAH MADA
Kereta yang kami
tumpangi mulai memelankan lajunya begitu bangunan stasiun terlihat. Aku
menjulurkan kepala keluar dari jendela merasakan angin daerah asing yang belum
kukenal ini menampar wajahku. Deretan pohon pisang, kemudian pepaya, lalu berganti
lagi dengan pohon lain yang aku tak tahu pasti namanya berbaris sepanjang rel
kereta, memagari rumah-rumah penduduk yang menunjukkan tampak belakang dan baju-baju yang dijemur terpanggang panas matahari jam sepuluh pagi ini. Aku
memincingkan mataku lagi, menangkap bangunan bata merah dengan orang-orang yang
berubah posisi dari duduk ke berdiri
ketika kereta kami memasuki stasiun.
“Shinta, kita
sudah sampai!” kataku sambil mengguncang perempuan yang kepalanya menempel pada
jendela, tertidur.
Aku lupa nama kota
kampung halaman Shinta ini. Entah mengapa, mungkin karea namanya terlalu asing
untuk telinga orang dari Indonesia timur sepertiku. Yang pasti diawali huruf P dan terletak di ujung selatan pulau Jawa. Aku menggendong ransel kecil miliku,
lalu melakukan sedikit peregangan punggung, mengingat aku harus duduk selama
enam jam di atas kereta ekonomi AC yang tempat duduknya keras dan tidak bisa
kau atur posisinya, membuat tubuhmu sangat tak nyaman.
Shinta memimpin mencari
jalan keluar dari stasiun yang katanya sudah beroperasi sejak zaman Belanda.
Pedagang asongan meneriakkan dagangannya, salah satu mendekatiku, menawarkan
sebungkus tahu sumedang yang plastiknya beruap. Aku hanya tersenyum dengan agak
menyesal karena tidak membeli dagangan anak laki-laki yang hidungnya kotor itu.
Aku berjalan mengikuti Shinta yang ranselnya kini di taruh di depan dada.
“Banyak copet,
taruh tasmu di depan,” aku tiba-tiba teringat nasehatnya.
Aku akan menghabiskan
liburan semester ini di tempat kawanku, Shinta. Walau agak sedih karena tidak
bisa pulang ke kampung halaman sendiri, tetapi Ibu Shinta yang gempal dan ramah
itu sangat menyenangkan saat pertama kali aku bertemu dengannya di hari-hari
awal masuk perguruan tinggi. Ajakannya untuk ikut berlibur dengan putrinya di
tempat antah-berantah ini langung ku-iya-kan saja.
Perjalanan kami belum
selesai, kami harus melanjutkan dengan angkot untuk sampai ke desa Shinta.
Mobil berwarna biru langit itu bergoyang-goyang begitu melewati jalan
berkerikil. Halusnya aspal jalanan sudah tidak kami rasakan sejak kami memasuki
jalanan kampung, sekitar 10 km dari kota yang sampai sekarang berusaha kuingat
namanya. Belum tampak rumah-rumah, pemandangan yang ada masih pohon-pohon
lebat, sungai, lalu pematang sawah. Beberapa orang bersepeda onthel dengan
jerami di tempat duduk belakang. Aku memberi tatapan bosan pada Shinta yang
duduk di hadapanku.
“Sebentar lagi,”
katanya sambil tersenyum, “Kita akan melewati satu belokan lagi untuk sampai.
Nah itu belokannya!”
Angkot di sini berhenti di
posnya, membuat kami harus berjalan kaki sendiri menuju rumah Shinta yang
berjarak 200m lagi. Orang-orang makin ramai berlalu lalang. Anak-anak
berlarian, itik-itik berbaris, kambing-kambing mengembik. Sekumpulan remaja
putra yang sedang bermain bola berteriak dari tengah lapangan begitu melihat
kami. Aku memandang Shinta yang namanya diserukan penjaga gawang botak di bawah
gawang bambu. Shinta tersenyum.
Kami sampai di depan
sebuah rumah yang berbeda dari rumah di sekitarnya. Hanya rumah ini yang dikelilingi
pagar besi tinggi, dengan dua patung makhluk bertaring memegang pentungan di
kiri kanannya. Di
bagian lain halaman terdapat pendopo yang kutebak sebagai tempat
nongkrong-nongkrong saja. Aku mengerutkan kening melihat dua mobil yang
terparkir di depan garasi. Kenapa ia tidak meminta orang rumah untuk menjemput?
Shinta yang memiliki gelar roro di depan namanya masih memukulkan gembok besi
pada pagar sambil berteriak.
Aku mengamati lagi
lingkungan sekitarnya sampai mataku terpaku pada sebuah rumah diseberang rumah
Shinta. Rumah itu rumah kedua dari batu bata selain rumah Shinta yang kulihat
di sini. Pohon-pohon rindang besar menutupi halamannya. Dinding bercat putihnya
sudah ditumbuhi lumut. Langit-langit di nagian depan rumah sudah rusak sebagian,
tripleks berjamur menggantung dari sana. Rumahnya memiliki cerobong asap,
seperti rumah di negara dingin saja. Rumah tua bergaya Belanda itu pasti
mengerikan di malam hari, membayangkannya saja sudah membuatku merinding,
apalagi saat aku melihat sesuatu mengintip dari jendelanya.....
“AAAARRRRGGGHHHH!!!!!!!!!!!!!!”
***
“Jadi kamu
melhatnya?”
Aku mengangguk pelan.
Tanganku masih gemetaran saat memegang gelas teh manis. Aku menjulurkan lidahku
yang kelu karena kepanasan. Ayah Shinta menghembukan asap tebal dari cerutunya,
lalu membiarkan cerutu itu terjepit di antara telunjuk dan jari tengahnya,
mengabaikan putrinya yang pura-pura batuk. Ayah Shinta menengok sebentar rumah
tua itu dari balik jendela ruang tamu, lalu ia memandangku sambil tersenyum
tipis. Aku memukul jidatku sendiri karena jeritan histerisku tadi, jeritan yang
berhasil memanggil pembantu Shinta untuk membuka gerbang rumah, dan
memnbangunkan ayah Shinta dari tidur siangnya.
“Walau
mengerikan tetap saja anak-anak itu setiap sore berdiri di depannya, menatap
ingin tahu apa yang ada di dalam. Ingin lihat Mbak Mada.”
“Hah?” tubuhku
seperti kena sengat listrik, “Memang di sana benar-benar ada sesuatu om? Saya
bukan salah lihat?”
Ayah Shinta mengangguk
ragu-ragu, “Mungkin. Saya juga belum pernah lihat. Ada cerita dari rumah itu,”
“Cerita? Jadi
ada ceritanya?”
“Ayo makan dulu.
Nak Tari belum pernah makan rica-rica enthok kan?” Ibu Shinta yang makin gempal
itu menyela.
Pantas saja seluruh
anggota keluarga Shinta berbadan tambun. Begitu mencium aroma masakan olahan
unggas blasteran ayam dan itik itu,langsung saja air liurku menetes. Tidak
salah lagi, Ibu Shinta memang pintar memasak. Aku hanya bisa memejamkan mata,
menikmati rica-rica enthok yang baru pertama kali kumakan seumur hidupku. Aku
menyendok lagi nasi putih hangat pulen sambil mendengarkan ayah Shinta yang
mulai mendongeng setelah meniupkan asap cerutunya.
“Jad begini....”
***
Kaki ramping yang
putihnya seperti porselen meniti dengan hati-hati tangga delman sampai akhirnya
ia berhasil menjejak tanah dengan selamat. Matanya dengan liar mengikuti
anak-anak yang berlarian dengan kaki telanjang, anak-anak pribumi. Kaki-kaki
dengan jari-jari manis yang menyembul dari selopnya sudah tidak sabar menjejak
kampung halamannya. Gadis manis ini menarik napas dalam-dalam. Setelah sekian
lama bersekolah di dataran Eropa, lalu melalui perjalanan panjang di atas
samudera, Mada kembali ke Hindia Belanda. Mada memang sudah rindu pada ayah dan
ibunya, juga sudah tidak sabar untuk menemui seseorang.
Tahun itu ia berusia 16
tahun dan desas desus dari orang di sekitarnya mengabarkan organisasi bernama
Boedi Oetomo telah berdiri. Mada sedang duduk di belakang meja kerjanya,
menuliskan dengan hati-hati huruf-huruf tegak bersambung. Setelah membubuhkan
tanda tangannya dan memasukkan kertas ke dalam amplop merah jambu, Mada
menciumnya berkali-kali, menitipkan kasih dan rindunya pada sepucuk surat.
DI ruang depan Mada bisa
mendengar ayahnya mengumpat dalam bahasa Perancis saat jongos di rumah lupa
memoles senapan berburunya. Tidak perlu heran, karena ayah Mada memang orang
Perancis. Mata biru dan rambut pirangnya diturunkan pada anaknya yang seorang itu.
Ibu Mada sendiri adalah wanita Jawa berkasta, yang sempat mendapat picingan
mata tidak mengenakkan dari kerabatnya karena menikahi lelaki pemburu berkulit
putih itu. Tidak jauh berbeda dengan istrinya, Monsieur De Nicholaus harus rela
dibuang jauh-jauh dari komunitas Eropanya karena dianggap merendahkan diri
melalui pernikahan dengan pribumi.
Tapi tidak masalah bagi
Tuan Perancis begitu dibuang oleh teman-teman sesama Kaukasian. Ia memang sudah
jatuh cinta benar pada istrinya, pun dengan tempatnya mendapat buruan Harimau
Jawa ini. Tuan Perancis lebih senang berblangkon dan bersarung ketimbang berjas
dan berdasi. Bahkan dalam bercakap-cakap dengan keluarganya, Tuan Perancis akan
bebahasa Jawa dengan fasih,kecuali saat ia mengumpat. Maka begitulah, dengan
mengabaikan perbedaan darah yang mengalir dalam nadinya, Monsieur de Nicholaus
telah menjadi seorang Jawa. Totalitas dalam berbudaya Jawa juga ditunjukkan
oleh Mada, yang sehari-hari berkebaya dan berkonde.
Kini Mada hanya bisa
berbaring sambil nyengir dalam kamarnya. Tadi ia menitipkan suratnya pada supir
delman yang akan melalui rumah Kanda Pram-nya. Sudah banyak yang tahu tentang
keduanya. Ayah ibu Mada pun sudah tahu, begitu juga Raden Kartosasmito, ayah
kekasihnya. Mada hanya bisa tersenyum mendengar pernyataan iri teman-teman
gadisnya yang lain. Saat kawannya harus meninggalkan cinta dan menerima lamaran
laki-laki lain lewat perjodohan, Mada memang menjalin kasih dengan laki-laki
yang tanpa ia ketahui sebelumnya, memang akan dijodohkan dengannya. Ia tidak
peduli dengan latar belakang perjodohan mereka, yaitu agar Raden Kartosasmito
dapat menjalin hubungan keluarga dengan Bupati daerah sini, yaitu paman Mada
sendiri. Ya, perjalanan cintanya memang mulus kecuali mendapatkan restu dari
Ibu Pram, wanita Jawa konservatif yang memandang Mada bukan dari turunan
bangsawan murni, dan juga Mada yang bersekolah jauh dari pengawasan keluarganya
menimbulkan kecurigaan dalam hatinya kalau Mada tak lagi perawan.
“Siapa yang tahu
apa yang dia lakukan di Eropa sana?” tanya Nyonya Kartosasmito dengan suara
tinggi.
Tetapi Pram akan menggenggam
tangannya erat-erat dan menentramkan hatinya dengan menjelaskan bahwa semua
akan baik-baik saja. begitu juga saat ini, saat ia sedang bermain tenis dengan
kawan-kawan Belandanya, supir delman yang mampir sebentar memanggil dari
pinggir lapangan. Mada merobek amplop yang sudah ditunggu selama 14 jam sejak
kemarin malam. Matanya menyisir kertas dari kiri ke kanan, lalu senyumnya
mengembang.
“Ia akan ke
rumahku besok bersama orang tuanya,”
“Itu bagus,”kata
nona berrok merah yang tidak peduli latar belakang kawannya itu.
“Tapi...” air
muka Mada kini berubah.
“Tapi apa?”
“Ibunya ingin
tahu apakah aku bisa memasak. Ia ingin aku memasakkan sesuatu untuknya. Kau
tahu, ayah dan ibu sangat ingin pikiranku berkembang seperti wanita di Eropa,
tetapi mereka lupa untuk mengajarkanku keterampilan di dapur,”
Keempat orang itu
saling berpandangan, dan tak sampai lima menit kemudian Mada berlari kecil
menuju rumah. Ia mencari-cari ibunya yang sedang menjahit, ditunjukannya surat
itu, lalu ia meminta agar diajarkan memasak. Keduanya sangat bersemangat
menyambut kedatangan tamu besar esok hari, kecuali Monsieur yang duduk merajuk
karena takut sang putri kecipratan minyak panas atau pun jari putrinya teriris
pisau. Terlalu berbahaya, begitulah komentar singkatnya.
Mereka mencoba berbagai
resep yang dikuasai Ibu Mada, sampai mereka tiba pada kesimpulan apa yang akan
dimasak untuk besok.
“Rica-rica enthok
membuat ayahmu tidak bisa berhenti mengunyah. Tenang nduk, semua akan baik-baik
saja besok,” katanya sambil mengelus rambut Mada.
Maka esoknya mereka
bersiap-siap. Rumah bercerobong asap khas negara-negara dingin itu sudah sibuk
pagi-pagi sekali. Rumah disapu, halaman dibersihkan. Di dapur Mada dan ibunya
sudah menyiapkan bahan-bahan; bawang merah, bawang putih, cabai, asam jawa,
daun bawang dan lain-lain. Enthoknya? Ibu Mada meminta agar dipotong nanti saja
ketika calon menantunya datang. Enthok segar adalah salah satu rahasia
kelezatan menu ini.
Mada sendiri masih saja
mondar-mandir, mengecek apakah bahan-bahan sudah siap, lalu ia akan berkeliling
lagi, mengucapkan tanpa suara tahapan memasak yang benar dan mengingat lagi
bentuk bahan yang akan ia masukkan. Ditengoknya enthok gemuk yang juga sama gelisahnya
karena mau dipotong.
“Sebaiknya kau
benar-benar enak enthok!” ancam Mada.
Derap langkah kaki kuda
membangunkan Mada dari lamunannya. Mada segera berlari ke depan dan mengintip
dari tralis jendela, calon suami dan calon mertuanya sudah tiba. Sesuai rencana,
setelah sedikit basa-basi, Mada dan
Nyonya Kartosasmito tidak butuh waktu lama untuk menuju dapur. Mada berusaha
mengingat-ngingat kembali apa yang sudah dipelarinya kemarin, mulutnya
komat-kamit menyebutkan tanpa suara bahan-bahan dari masakannya. Tangan Mada
bergerak-gerak di atas alat yang akan diambilnya. Pisau! Kau butuh pisau untuk
mengupas bawang!
Mada mulai mengupas
bawang satu per satu, lalu mengirisnya dan..
“Aduh!” Mada
meringis sebentar, kemudian cepat-cepat menghisap darahnya sendiri, sebuah
tindakan yang tidak luput dari pengamatan calon mertuanya.
“Apa kau masih
bisa melanjutkan?”
Mada mengangguk
kuat-kuat, diambilnya bawang lagi. jantungnya berdegup makin kencang, tidak ada
yang bisa ia dengar selain suara Nyonya Kartosasmito dalam khayalannya.
Perempuan itu melotot padanya, kini ia membentak keras-keras agar Mada mengiris
bawang-bawang itu makin cepat sementara tepat di sampingnya, Nyonya
Kartosasmito di dunia nyata menatap gadis itu dengan heran. Beberapa kali
Nyonya Kartosasmito memanggil, tetapi Mada hanya mengangguk atau menggeleng,
dan wanita bersanggul tinggi itu berpikir calon mantu yang terpaksa dipilihnya
itu tidak ingin diganggu.
Mada kemudian membentak
seorang jongos untuk menyalakan tungku, lalu ia meletakkan belanga besar,
menuang minyak, setelah itu mulai menumis bumbu sampai harum. Beberapa meter
jauhnya di ruang tamu sana, Pramono beserta kedua orang tuanya dan juga empat
adiknya, ditambah Monsieur de Nicholaus dan istrinya mengendus aroma harum
tumisan bumbu. Ibu Mada melirik ke calon besannya yang memejamkan mata,
kemudian bersin.
“Sepertinya sedap
sekali,” ujar Tuan Kartosasmito sembari mengusap hidungnya yang berair. Jelas
ia mulai tergoda.
“Kau terlalu
banyak memasukkan garamnya!” bisik Mada pada dirinya, “Tidak, tidak, santannya
jangan sampai pecah! Oh tidak! Enthok? Mana enthok???!!!”
Enthok yang benar-benar
baru dipotong itu dicelupkan ke dalam air panas agar bulunya mudah dilepas.
Mada yang pikirannya dipenuhi Tuan dan Nyonya Kartosasmito melirik arloji emasnya.
Keringat mengujur di dahinya, menuruni pelipis, kemudian sampai di pipi. Tangan
Mada saling meremas, jantungnya terasa tertarik. Udara yang dihirupnya terasa
sangat kering, sampai ia merasa gelagapan karena tak bisa bernapas.
“Kau tidak bisa membubutinya
lebih cepat?” bentak Mada.
“Sebentar non,
bulunya masih susah dicabut,” kata jongos ketakutan.
“Tidak usah kau
bubuti! Langsung kuliti saja!”
Kini Mada sedang
berhadapan dengan enthok utuh tanpa kulit. Tangan kanannya menggenggam
gemetar pisau daging besar. Mada mengangkat pisaunya dan mulai memotong tapi
tidak juga berhasil. Sepertinya butuh tenaga lebih untuk memotong daging
beserta tulang-tulangnya ini. Mada mengarahkan ujung tajam pisau yang mengkilap
memantulkan sinar matahari ke matanya, memberinya tekad untuk mengayunkan
pisaunya lebih kuat. Sekali lagi Mada mengangkatnya, dan ya berhasil! Bagian
pahanya kini sudah terpisah. Mada yang ngos-ngosan menyeringai bahagia. Ia makin
bersemangat untuk memotong enthok menjadi bagian-bagian kecil. Yah,
enthok-enthok yang masih segar mengeluarkan darah begitu mata pisaunya
dihantamkan ke badan enthok. Banyak sekali darahnya, berarti enthok-enthok ini
segar benar, begitu pikirnya.
Maka ia mengangkat
pisau, lalu memotong. Mengangkat, memotong. Terus saja sampai semuanya menjadi
kecil, setelah itu dimasukkannya ke dalam belanga berisi santan mendidih
berwarna merah. Mada mengambil spatula, tidak peduli dengan tangannya yang
berlumur darah. ia mengaduk-ngaduk
masakannya sampai matang, mengamati warnanya yang menjadi sangat merah,
lebih merah dari hasil percobaan mereka kemarin. Namun Mada tak peduli. Bahkan
ia membiarkan saja tangannya yang masih berlumuran darah itu menata rica-rica
enthok di piring saji.
“Mbok Ijah,
letakkanlah makanan ini di meja makan. Ayah dan Ibu serta tamu sudah di sana.
Aku mau cuci tangan dulu. Darah enthok terlalu banyak,” perintah Mada yang
langsung dituruti oleh jongosnya.
Mada meringis merasakan
keanehan pada tangan kirinya.
“Mungkin karena aku
memegang enthok teralu kuat, tangan kiriku jadi kebas begini,” batinnya.
Baru saja Mada berjalan
menuju kamar mandi, celotehan Tuan Kartosasmito menghentikan langkahnya.
“Ini enak
sekali!” ujarnya.
Tidak perlu menunggu
lama sampai Mada juga mendengar pujian dari calon suaminya kemudian diikuti
ayah dan ibunya sendiri. Namun Mada masih termangu, menunggu pernyataan dari
sosok yang masih memandangnya sebelah mata.
“Panggil Nduk
Mada ke mari, dia harus memakannya juga. Dia harus sering membuatkanku ini,”
Sayup-sayup Mada
mendengar wanita ningrat itu memuji masakannya. Mada tak tahu lagi apa yang
bisa membuatnya lebih bahagia dari ini. Ia melompat-lompat kegirangan,
kekhawatirannya berganti dengan rasa bahagia yang luar biasa. Mada cepat-cepat
berlari ke kamar mandi, menyiram tangannya yang berwarna merah, menggosok
tangannya dengan sabun, menggosok sela-sela jari, yang kanan dan kiri, yang
kanan dan.....
Dunia Mada terhenti
untuk sementara waktu. Matanya melebar setelah mendapati penyebab rasa kebas
yang ia rasakan. Darah yang sudah disiram terus mengucur dari sumbernya. Jemari
kanannya terus meraba mencari sesuatu yang hilang, sementara pandangannya tetap
lurus ke depan, ke arah tembok kamar mandi, tidak berani menengok ke bawah. Ia
tidak merasakannya lagi! tidak mungkin!
“TIIDDDAAAKKK!!!!!!!!!!!!”
Mada menjerit sejadi-jadinya.
***
Ayah Shinta mengakhiri
ceritanya dengan jeritan menyerupai wanita. Aku hanya termangu setelah
mendengarnya. Walau kini suara Ayah Shinta sudah kembali ke semula, suaranya
dalam kengerian saat bercerita tadi masih terngiang di telingaku. Kisahnya
masih terputar di dalam otakku, tidak mau berganti dengan yang lain. Aku
memandang tiga wajah di depanku yang tampak tenang-tenang saja, bahkan
cenderung girang. Mulut mereka masih mengunyah nasi dan enthok rica-rica. Aku
menelan ludahku, merasa jijik dengan apa yang kualami kurang dari tiga jam ini,
mulai dari sebuah tatapan di rumah tua itu, cerita Ayah Shinta, dan kini
ekspresi keluarga Shinta.
“Jadi, rumah tua
khas Belanda itu milik Mada om?” tanyaku pelan. Yang ditanya hanya mengangguk.
“Terus apa yang
terjadi padanya?”
“Orang-orang
bilang mereka mencari jari ke-2, ke-3, dan ke-4nya di dalam piring saji. Tapi
yang ditemukan hanya telunjuknya. Tidak ada yang tahu ke mana sisanya, masuk ke
perut siapa dua jari itu.”
“Dia jadi nikah
sama Pramono?” aku memaksakan diri untuk bertanya meski merasa mual.
“Ada yang bilang
jadi, ada yang bilang tidak. Versi yang ‘jadi’ mengatakan Mada akhirnya tetap
menikah dan hidup bahagia. Ia menemukan bakat terpendam dalam memasak dan
berhasil meluluhkan hati mertuanya, apalagi saat itu dia cacat. Kemudian ia
meninggal, lalu dikremasi dan abunya ditaruh di rumah itu. Versi yang lain
mengatakan ia tak menikah karena malu atas kecacatannya meski Pramono terus
menyatakan cinta dan niatnya untuk menikahi Mada. Mada hanya mengurung diri di
kamar, depresi, hingga akhirnya meninggal. Ayahnya yang sangat sayang padanya
langsung mengambil senapan angin dan menembak kepalanya sendiri. sedangkan
ibunya tidak ada yang tahu.”
Ayah Shinta berhenti
bercerita sebentar untuk menghisap cerutu yang baru ia nyalakan. Kepulan asap
bulat keluar dari mulutnya. Aku memandang Shinta yang sedang menyeruput kuah
rica-rica enthok berwarna merah itu.
“Memang akhir
kisahnya masih simpang siur. Bahkan rumah yang katanya angker pun masih jadi
pembicaraan juga. Namun yang pasti Mada telah mewariskan sebuah cerita
cinta luar biasa dan yang terpenting
adalah.... ia telah menurunkan sebuah resep lezat,”
Aku terpaku menatap
asap bulat yang terus mengepul dari mulut Ayah Shinta. Butuh waktu beberapa
saat sampai aku bisa mencerna kata-katanya. Perlahan aku memandang piringku,
menatap potongan daging yang sudah sebagian kumakan. Dengan sendok dan garpu
yang gemetaran, aku mencoba memutar posisi daging. Hatiku mencelos. Perutku terasa
terkocok-kocok ingin memuntahkan seluruh isi perut yang baru kumasukkan.
Kepalaku pening mencium aroma berempah kuah rica-rica yang memenuhi ruangan.
Aku melirik Shinta yang sedang menyeringai kepadaku. Mulutnya yang penuh makanan
menelurkan tanya.
“Enak bukan?”
Langganan:
Postingan (Atom)